Dr. Abdullatif Al-Haj, Direktur Umum Rumah sakit se-Jalur Gaza. (Foto: MINA)

Jalur Gaza, 26 Shafar 1436/19 Desember 2014 (MINA) – Pejabat Tinggi Kementerian Kesehatan Palestina juga menjabat sebagai Direktur Umum Rumah Sakit se-Jalur Gaza, Abdullatif Al-Haj, mengungkapkan tentang kondisi Gaza yang saat ini sangat memerlukan Rumah Sakit (RS) Indonesia untuk bisa segera beroperasi.

 

Pernyataan Abdullatif Al-Haj itu disampaikan di sela-sela kunjungannya bersama para pejabat Kementerian Kesehatan Palestina ke RS Indonesia di utara Gaza, Rabu (17/12).

“Warga Jalur Gaza, khususnya yang berdomisili di wilayah utara sangat membutuhkan keberadaan Rumah Sakit Indonesia ini. Kami sangat mengharapkan Rumah Sakit Indonesia ini bisa segera beroperasi,” ungkap Abdullatif Kepada Koresponden Kantor Berita Islam Mi’raj (Mi’raj Islamic News Agency-MINA) di Gaza.

 Menurut dia, kebutuhan mendesak tersebut dikarenakan semakin parahnya krisis kesehatan yang mendera Jalur Gaza terutama setelah agresi militer pendudukan Israel atas Jalur Gaza selama 51 hari pada Juli-Agustus lalu.

Abdullatif mengatakan, sebelum terjadinya agresi militer Israel akhir-akhir ini, krisis medis yang dialami oleh seluruh rumah sakit sudah parah karena blokade yang diterapkan entitas Zionis itu selama lebih dari delapan tahun.

“Setelah agresi militer Zionis, krisisnya semakin parah. Apa lagi selama agresi berlangung seluruh sumber daya medis di Gaza terkuras habis,” ujarnya.

Dia menambahkan, kondisi parah itu semakin diperburuk oleh kebijakan pemerintah Mesir yang menutup pintu perbatasan Rafah selama lebih dari dua bulan sehingga tidak ada delegasi medis mau pun umum yang bisa masuk ke Gaza.

Dalam kunjungan singkat yang dipimpin oleh Wakil Menteri Kesehatan Palestina tersebut, Abdullatif menjelaskan di antara kendala yang menimpa sektor kesehatan di Gaza adalah minimnya biaya operasional yang masuk dan tidak sesuai dengan kebutuhan.

“Sedikitnya dibutuhkan dana sebesar 25 juta shekel (80 miliar rupiah) per bulan untuk seluruh rumah sakit di Jalur Gaza agar bisa beroperasi. Namun, kenyataannya hanya sekitar 1,5 shekel (lima Miliar rupiah) dana yang masuk dalam satu bulannya. Hal tersebut menyebabkan lebih dari 60 persen petugas medis Gaza harus bekerja tanpa gaji dalam beberapa bulan terakhir,” ungkap Abdullatif.

 

Terima Kasih Indonesia

 

Delegasi Kemenkes Palestina bersama tim relawan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. (Foto: MINA)

 Sebelum mengakhiri kunjungannya, Abdullatif menitip pesan kepada Pemerintah Indonesia bahwa rakyat Palestina sangan berterima kasih atas segala dukungan yang selama ini diberikan dan mengharapkan peningkatan bantuan serta dukungan tersebut melihat Indonesia memiliki potensi yang lebih sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.

 “Kami sangat berterima kasih kepada Indonesia yang terus komitmen dan konsisten dalam mendukung perjuangan Palestina. Harapan kami, Indonesia dapat meningkatkan dukungannya karena kami melihat Indonesia merupakan negara yang sangat besar dan kaya akan sumber daya alam. Kami yakin Indonesia dapat melakukan hal yang lebih untuk Palestina,” kata Abdullatif.

Rumah Sakit Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, utara Gaza, merupakan sebuah bangunan berbentuk segi delapan yang didirikan atas sumbangan dari rakyat Indonesia dengan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pendirian bangunan tersebut.

Bangunan yang telah selesai ini kini tinggal menunggu pengadaan alat kesehatan untuk segera beroperasi awal tahun depan.

Bangunan yang cukup unik tersebut merupakan sebuah hadiah dari rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina, dan akan menjadi sebuah sejarah tersendiri. Rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke bahu membahu memberikan yang terbaik untuk saudara-saudara mereka di Palestina.(L/K02/K03/R05)

Sumber : http://mirajnews.com/id/palestina/kemenkes-gaza-sangat-memerlukan-rumah-sakit-indonesia-segera-beroperasi/

 

 

 

 

 

 

 

Dukung Sosial Media Kami

Langganan Info & Berita MER-C