Sejak dimulai pada bulan November 2017, pembangunan bangunan utama RS Indonesia yang terletak di Myaung Bwe Village, Mrauk U Township, Rakhine State, Myanmar terus berjalan. Progress pembangunan saat ini sudah dalam tahap back filling (penimbunan tanah) dan compacting (pemadatan).

y;">Gaza, Relawan MER-C Cabang Gaza yang dipimpin oleh Reza Aldilla Kurniawan mulai distribusikan secara bertahap bantuan selimut hangat dari rakyat Indonesia untuk warga Gaza.

y;">"Seperti sebelumnya, keluarga syuhada, masyarat miskin dan korban agresi milter Israel menjadi kalangan yang diprioritaskan dalam program bantuan musim dingin tahun ini," ujar Reza, relawan asal Indonesia yang masih bertugas di Jalur Gaza dan masih menempuh pendidikan di Universitas Islam Gaza.

Dalam rangka memberikan bantuan jangka panjang bagi masyarakat korban konflik di Rakhine State, Myanmar, pembangunan Rumah Sakit Indonesia tepatnya di Myaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State terus berlanjut. Ir. Nur Ikhwan Abadi, Site Manager RSI, melaporkan bahwa pekerjaan pembangunan bangunan utama RS Indonesia berukuran sekitar 2.100 m2 saat ini dalam tahap penggalian pondasi dengan progress mencapai lebih 50 persen. 

Setelah menunggu proses izin sekitar dua pekan, Jumat (20/10) Kementerian Luar Negeri Myanmar akhirnya menyetujui Tim Pembangunan RS Indonesia untuk dapat mengunjungi lokasi pembangunan yang terletak di Muaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State. Proses izin yang cukup lama ini menyusul situasi di Rakhine State yang memanas pada akhir Agustus 2017 lalu.

 

Senin (23/10) pagi, dua relawan teknis MER-C, yaitu DR. Ir. Idrus M. Alatas, MSc dan Ir. Rizal Syarifuddin langsung bertolak ke Yangon, Myanmar. Direncanakan esoknya tim akan terbang ke Sittwe dengan maskapai lokal. Dari ibukota Rakhine State ini, tim akan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat ke lokasi pembangunan RS Indonesia dengan jarak tempuh sekitar 3,5 jam.

 

Idrus yang juga merupakan Ketua Divisi Konstruksi MER-C sekaligus Penanggung jawab Pembangunan RS Indonesia di Rakhine Myanmar mengatakan bahwa tujuan kunjungan kali ini adalah untuk melakukan pengukuran dan penentuan titik-titik bangunan kompleks RS Indonesia. Pengukuran akan dikerjakan bersama dengan kontraktor lokal pemenang tender.

 

"Saya dan Pak Rizal akan melakukan pengukuran bersama kontraktor lokal pemenang tender tahap dua, sekaligus menentukan titik-titik seluruh bangunan yang akan berada di dalam kompleks RS Indonesia," terang Idrus.

 

"Setelah proses pengukuran ini, kami berharap Rakhita Ah Linn, kontraktor lokal yang kami tunjuk bisa segera memulai pembangunan tahap dua berupa rumah dokter dan rumah perawat," tambahnya.

 

Relawan yang telah berpengalaman dalam membangun rumah sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina ini juga menjelaskan bahwa agenda penting lainnya dalam kunjungannya ke Rakhine adalah pra tender pembangunan tahap tiga, yaitu pembangunan bangunan utama RS Indonesia.

 

"Target penting kami lainnya adalah untuk pra tender pembangunan tahap tiga dengan beberapa calon kontraktor lokal, sehingga setelah pembangunan rumah dokter dan perawat selesai kami harap bisa segera dilanjutkan dengan pembangunan bangunan utama rumah sakit," imbuhnya.

 

Misi tim teknis dijadwalkan berlangsung selama 5 hari hingga Jumat (27/10) mendatang.

 

Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan yang sudah dilakukan MER-C sejak mendirikan RS Indonesia di Gaza, Palestina.

 

Khusus wilayah konflik Myanmar dimulai dengan misi pertama MER-C ke Rohingya pada tahun 2012 dan dilanjutkan dengan assessment ke lokasi lahan RS Indonesia di Mrauk U pada Agustus 2015. Saat itu, Tim langsung melakukan pembelian (pembebasan lahan karena tanah adalah milik negara), tepatnya di Mrauk U, Rakhine State.

 

 

Pada Mei 2017, setelah sempat tertunda selama dua tahun, pembangunan RS Indonesia resmi dimulai. Hal ini berkat inisiasi dari Bapak M. Jusuf Kalla yang memberikan dukungan positif dan berharap RS Indonesia bisa segera terwujud dalam jangka waktu satu tahun ke depan. Ketua Umum PMI ini juga mengarahkan agar RS Indonesia menjadi program kerjasama MER-C dan PMI.

 

Serangkain rapat koordinasi antara MER-C, PMI, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian terkait lainnya sudah beberapa kali digelar baik di kantor Wakil Presiden RI dan Markas Besar PMI untuk menindaklanjuti dan mempercepat pembangunan RS Indonesia.

 

MER-C telah menunjuk tim pelaksana pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar yang terdiri dari para relawan insinyur yang sudah berpengalaman membangun RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Meskipun pembangunan diserahkan kepada kontraktor lokal, namun MER-C akan menempatkan relawan insinyur di lapangan untuk mengawasi seluruh proses pembangunan RS Indonesia di Rakhine State sampai pembangunan selesai.

 

Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar dapat disalurkan melalui:

Mandiri, 124.000.8111.982

BSM, 700.1306.833

BCA, 686.028.0009

Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee

 

Info :

www.mer-c.org

 

0811990176

MINA - Di antara kita mungkin sudah ada yang mendengar nama Ryan ‘Popo’ Riyadi, salah seorang seniman jalanan atau street artist yang karya-karya muralnya banyak menghiasi tembok-tembok ibukota Jakarta. Lelaki yang akrab disapa Popo itu sering menggambar karakter ‘Popo’ dalam setiap karyanya dibumbui dengan tulisan-tulisan kritis.

Selama belasan tahun, lelaki peraih penghargaan ‘The Best Mural Artist’ pada Tembok Bomber Award 2010 ini selalu menghadirkan kritikan dalam setiap karyanya, walau tidak semua orang setuju dengan cara dia.

Bahkan, Popo pernah juga diprotes dosen di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta, lantaran hobinya corat-coret ini. Tapi siapa sangka, beberapa tahun kemudian Popo malah ikut mengajar sebagai dosen mata kuliah komunikasi visual di almamaternya itu.

Dalam sebuah wawancara khusus dengan Popo di tempat biasanya nongkrong, penulis sempat berbincang soal beberapa hal menarik dengan Duta Campaign RS Indonesia ini, salah satunya soal krisis kemanusiaan di Rakhine State, Myanmar. Popo yang cukup peka terhadap situasi di sekitarnya langsung merespon dengan pernyataan kritisnya.

“Banyak manusia hidup berdampingan, tapi sedikit yang berkemanusiaan. Ini sebenarnya kita tunjukan bagi tempat-tempat yang di mana ada banyak orang tetapi di sana tidak ada nilai kemanusiaan,” kata Popo kepada wartawan Mi’raj News Agency(MINA) Rendy Setiawan di Gudang Sarinah Pancoran, Jakarta, Jum’at (7/10).

Meskipun lahir dan besar di Indonesia, Popo cukup konsisten mengikuti perkembangan terkini yang terjadi di Myanmar maupun di Palestina. Menurut Popo, krisis-krisis yang terjadi di dua wilayah itu tak perlu terjadi apabila keberagaman dijaga sebagaimana mestinya.

“Kita sering mendengar ajakan untuk saling menghargai dalam keberagaman. Tapi di sisi lain kita melihat ada banyak krisis kemanusiaan yang terjadi, contoh di Myanmar dan Palestina. Sebenarnya bukan hanya di dua wilayah itu saja, apabila nilai-nilai kemanusiaan itu dijaga, krisis seperti itu seharunya nggak perlu terjadi,” katanya.

“Ini pelajaran dari apa yang pernah disampaikan oleh ayah saya. Jadi kalau mau menolong, harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,” katanya menambahkan.

Apabila diperhatikan lebih teliti, semua karya yang pernah diciptakan Popo, sebagian besar memuat pesan kritik sosial. Hal itu tak terlepas dari peran ayahnya yang selalu memotivasi untuk selalu memperhatikan kondisi sekitar.

“Banyak cara untuk mengekspresikan apa yang ingin kita sampaikan, salah satunya dengan komunikasi non verbal, dan melalui lukisan-lukisan mural ini salah satunya,” katanya.

Popo melanjutkan, untuk membantu orang-orang, tidak harus menunggu isu global seperti kelaparan, perang dan krisis lainnya. Cukup dengan memberikan makan kepada tetangga kita yang lapar, itu sama saja sudah menolong banyak orang.

“Kemanusiaan tidak bisa dilepaskan dari keadaan sosial di sekitar kita. Contoh gampangnya begini, kadang kita kenyang tapi ada di sekitar kita yang kelaparan. Kalau ini terjadi, berarti nilai kemanusiaan kita harus dikritik. Kritikan yang saya lontarkan secara khusus sebenarnya ditunjukkan untuk diri saya sendiri,” paparnya.

Popo berpesan, sebelum memenuhi hasrat keinginan kita, ada baiknya untuk melihat kondisi sosial di sekitar terlebih dahulu. Hal itu dilakukan sebagai cara untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan agar selalu merasa dekat dengan lingkungan di sekitar.

“Sebelum memenuhi keinginan kita, ada baiknya kita lihat dulu sekeliling kita,” pesannya.

Menurut Popo, kritik sosial atau kondisi kemanusiaan yang selalu menjadi temanya adalah sebagai cara untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan masyarakat Indonesia khususnya. “Saya pikir ini nggak  bisa lepas dari kehidupan sosial,” ujarnya.

“Harus selalu sabar ketika hidup berdampingan dalam usaha menumbuhkan nilai-nilai sosial kepada orang yang kita kenal maupun yang nggak kita kenal. Tetapi yang terpenting untuk diri sendiri,” katanya lagi.

Ketika disinggung soal ‘Popo’ yang menjadi karakter dalam setiap karyanya, Popo mengatakan, itu sudah menjadi identitas dirinya. “Popo menjadi signature, menjadi identitas saya. Jadi di setiap karya saya itu ada saya yaitu Popo,” katanya. (W/R06/B05)

 

Sumber :

www.mirajnews.com

 

Dukung Sosial Media Kami

Langganan Info & Berita MER-C