RS Indonesia - Palestina RS Indonesia - Palestina

Rumah Sakit Indonesia, Gaza - Palestina

Uncategorised - En Sabtu, 17 Agustus 2013 00:00

 

Selain program pembangunan sarana kesehatan di wilayah konflik dan bencana di dalam negeri, Divisi Konstruksi MER-C juga tengah melakukan pembangunan RS di luar negeri, yaitu di Gaza, Palestina. Tanah RS seluas 16.261 m2 yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara merupakan wakaf dari Pemerintah Palestina di Gaza. Sementara dana pembangunan RS sampai saat ini seluruhnya berasal dari donasi rakyat Indonesia, tidak ada dana bantuan asing. Untuk itu, RS ini diberi nama RS INDONESIA (RSI) dengan harapan bisa menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina.

Pembangunan RSI dimulai sejak 14 Mei 2011. Pada akhir April 2012, pembangunan tahap 1 untuk struktur RSI selesai. Pada 1 November 2012, pembangunan tahap 2 RSI untuk  pekerjaan Arsitektur dan ME (Mechanical Elctrical) dimulai. Pembangunan tahap ini diawasi dan dikerjakan langsung oleh relawan Indonesia yang tergabung dalam Divisi Konstruksi MER-C. Pembangunan tahap 2 diperkirakan akan selesai pada awal tahun 2014. Ikhtiar selanjutnya yang dilakukan oleh MER-C adalah penggalangan dana  untuk pengadaan alat kesehatan RSI.

 

Latar Belakang

Sabtu/27 Desember 2008, Israel memulai gempuran dasyat pertamanya ke Jalur Gaza. Kamis/1 Januari 2009, Tim Medis MER-C bersama dengan tim Pemerintah RI berangkat ke Gaza guna menyalurkan bantuan kepada para korban .

Akibat agresi Israel selama 22 hari, jumlah syahid tercatat 1.366 orang yang terdiri dari 437 anak-anak, 110 wanita dan 123 lansia. Sementara jumlah cidera tercatat 5.650 orang (Data dari Kementrian Kesehatan Palestina di Gaza)

Setelah menunggu selama dua pekan di perbatasan, pada tanggal 17 Januari 2009 Tim MER-C baru berhasil memasuki Jalur Gaza. Ketika itu, wilayah Gaza masih dalam keadaan puncak serangan.

Pada fase emergency setelah Israel memuntahkan rudal dan bomnya ke wilayah Gaza Palestina, selain mengirimkan relawan medis sebagai Tim Bedah untuk membantu para korban agresi, MER-C juga menyalurkan amanah dana dari masyarakat Indonesia berupa bantuan obat-obatan dan mobil ambulans.

Selama sepekan berada di RS Asy Syifa, Gaza City, Tim MER-C masih banyak menemui korban-korban agresi dengan luka (trauma) berat bahkan harus kehilangan anggota tubuhnya akibat bom dan rudal Israel yang membabi-buta.

Tim MER-C juga melihat bahwa RS di Gaza kewalahan menampung korban agresi yang begitu banyak, terlebih lagi wilayah gaza utara yang berbatasan langsung dengan Israel. Sebagai sebuah wilayah perang, Gaza juga hanya memiliki 1 RS Rehabilitasi, yang tidak luput dari serangan Israel.

 

MER-C Tanda Tangani MOU Pembangunan RS Indonesia dengan Menkes palestina di Gaza

Jum'at/23 januari 2009, melihat kebutuhan akan sarana kesehatan khususnya yang berfokus pada Trauma dan Rehabilitasi serta jumlah donasi dari masyarakat Indonesia yang cukup besar kala itu, maka Tim MER-C didampingi sejumlah wartawan dari Indonesia bertemu dengan Menkesa palestina di Gaza, dr. Bassim Naim. Pada kesempatan yang langka tersebut, dimanfaatkan Tim MER-C untuk menyampaikan rencana pembangunan RS Indonesia (RSI) di Jalur gaza.

Rencana ini disambut sangat baik. Atas nama rakyat Indonesia yang diwakili oleh dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT dan atas nama rakyat Gaza yang diwakili oleh dr. Bassim Naim melakukan penandatanganan MOU Pembangunan RSI di Gaza. Penandatanganan ini turut disaksikan oleh dr. Sarbini Abdul Murad (Ketua Presidium MER-C), Drs. HM. Mursalin (Forum Umat Islam), Ir. Hanibal WY Wijayanta (Jurnalis ANTV), Andi Jauhari (Jurnalis ANTARA) dan para ulama Gaza.    

Keberadaan RSI ini diharapkan bias membantu menangani pasien-pasien yang mengalami trauma fisik dan merehabilitasi mereka sehingga mereka bisamandiri dan beraktifitas kembali.

 

Mengapa Dinamakan RS Indonesia?

Satu, Karena  seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia.

Dua, Rumah sakit ini kita harapkan bisa menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina.

Tiga, dengan nama dan keberadaan RS ini kita ingin memberi pesan bahwa di tanah Palestina ada aset dan sumbangan dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina.

 

Lika-liku Program RS Indonesia

 

2 Februari 2009 : Pasca penandatanganan MOU, Tim I MER-C kembali ke tanah air dan menyampaikan rencana Pembangunan RSI  kepada Menkes RS saat itu, DR. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP(K).

 

Januari - Mei 2009 : MER-C menugaskan Tim ke - II untuk menindaklanjuti MOU RSI. Selama 4 bulan melakukan assessment dan koordinasi dengan berbagai pihak di Gaza, 3 Mei 2009, MER-C mendapat surat tanah wakaf untuk RSI dari PM Palestina Ismail haniya.

Mei 2010 : Selama 1 tahun tak kunjung mendapat izin masuk Gaza, MER-C bersama aktifis dari berbagai Negara mengikuti Misi Freedom Flotilla (Armada Pembebasan Gaza) dengan menaiki kapal milik organisasi IHH Turki bernama "Mavi Marmara".

31 Mei 2010, terjadi insiden penyerangan kapal "Mavi Marmara" oleh tentara Israel yang menyebabkan 9 aktifis meninggal dunia dan puluhan luka-luka. Aklitis lain, termasuk Tim MER-C ditangkap dan ditahan oleh Israel. Harapan menginjak kaki di tanah Gaza untuk melanjutkan program RSI pun pupus.

 

Juli 2010 : Tekanan dunia Internasional yang besar pasca insiden penyerangan "Mavi Marmara" membuat pintu perbatasan menuju Gaza menjadi "agak longgar". Juli 2010, Tim MER-C dengan sejumlah media akhirnya bias kembali masuk ke Jalur Gaza.

 

Juli 2010 : Tim MER-C yang terdiri dari dokter dan insinyur menjelaskan disain RSI kepada Perdana Menteri Palestina (Ismail Haniyah) dan Menkes Palestina di Gaza (dr. Bassim Naim).  

 

Agustus 2010 : Cabang MER-C di Gaza dibuka dan mendapat pengakuan resmi dari Pemerintah setempat. Pengakuan ini diberikan bertepatan dengan acara peringatan HUT RI ke-65 yang merupakan HUT RI pertama kalinya diselenggarakan di Jalur gaza.

 

 

8 - 10 Agustus 2010 : Tim MER-C melakukan Soil Investigation Test terhadapat tanah wakaf RSI bekerjasama dengan Fakultas Teknik Universitas Islam gaza. Tes ini kemudian diikuti dengan survey lahan lebih lanjut untuk mendapatkan data kontur topografi tanah.

 

9 Desember 2010 - 6 Januari 2011 : Upaya untuk menembus dan membuka blockade Gaza terus berlanjut. Kini masyarakat Asia yang tergabung dalam "Asian People's Solidarity for Palestine" melakukan konvoi "Asian Solidary Caravan for Gaza" pada 2 Des 2010 - 6 Jan 2011 yang diikuti 160 aktifis dari 13 negara di Asia.    

Indonesia turut mengirimkan delegasinya yang terdiri dari 11 aktifis dan 2 jurnalis yang berasal dari MER-C, Voice of Palestine (VOP), Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) dan Aqsa Working Group (AWG). Sempat  terkendala izin untuk masuk ke Gaza, akhirnya konvoi ini berhasil mencapai Gaza pada 2 Januari 2011. Dua relawan MER-C di Gaza, yaitu Abdillah Onim dan Ir. Nur Ikhwan Abadi turut menyambut kedatangan konvoi ini.

Sebanyak 5 relawan dari AWG/Pesantren Al Fatah, kemudian memutuskan untuk menetap di Gaza guna membantu program pembangunan RSI di jalur Gaza. Kesempatan memasuki Gaza juga dimanfaatkan oleh dua relawan HASI untuk melakukan survey lebih lanjut mengenai Unit bank Darah (Blood Bank Unit) yang akan melengkapi RSI.

 

Dengan bertambahnya 5 relawan, jumlah keseluruhan relawan Indonesia yang bertugas di Gaza untuk mengawal program Pembangunan RSI menjadi 7 orang, yaitu : Abdillah Onim, Ir. Nur Ikhwan Abadi, Ir. Edy Wahyudi, Ir. Ahmad Fauzi, Abdurrahman, Darusman dan Muhammad Husein.

 

 

 

Februari - April 2011 : Setelah data tanah lengkap dan seluruh disain RSI disetujui oleh Kemenkes Gaza, maka sesuai dengan prosedur dari Pemerintahan Palestina di Gaza, pada tanggal 2-3 Februari 2011 MER-C memasang iklan pengumuman tender pembangunan tahap 1 (Satu) untuk struktur RSI di Koran lokal, Felesteen. Lima kontraktor papan atas Gaza terpilih untuk mengikuti tender ini.

 

 

20 April - 20 Mei 2011 : Tim Konstruksi MER-C yang diketuai oleh Ir. Faried Thalib berangkat ke Gaza untuk menentukan pemenang tender dan melakukan kontak dengan pemenang tender. Namun hingga 1 (satu) bulan di Mesir, Tim MER-C tidak kunjung mendapat izin masuk ke Gaza. Proses penentuan pemenang tender pun dilakukan melalui telekonferens antara Tim MER-C di Mesir, Tim MER-C di Gaza dan para kontraktor di Gaza.

 

28 April 2011, kontraktor First Company ditetapkan sebagai pemenang tender pembangunan tahap 1 (satu) untuk struktur RSI.     

 

Pembangunan RSI pun Dimulai

14 Mei 2011 :  Pembangunan struktur RSI dimulai. Pembangunan struktur akan memakan waktu 9 bulan, yang kemudian akan diikuti dengan pembangunan arsitektur dan ME (Mechanical Electrical).

Dalam program ini, MER-C turut di bantu oleh Pesantren Al fatah Cileungsi yang menyediakan SDM-SDM relawan yang memiliki keahlian di bidang konstruksi.

Sementara itu, Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) juga akan melengkapi bangunan RSI dengan Unit Bank Darah (Blood Bank Unit)

 

 

 

12 - 24 November 2011, Tiga relawan insinyur MER-C yang di pimpin oleh Ir. Faried Thalib (Ketua Divisi Konstruksi) berangkat ke Gaza untuk melakukan supervise langsung pembangunan struktur RSi. Tim ini sekaligus melakukan survey ketersediaan material untuk pembangunan tahap 2, yaitu Arsitektur dan ME (Mechanical Electrical).

 

 

28 April 2012 : Alhamdulillah, atas doa dan dukungan rakyat Indonesia, pembangunan tahap 1 (struktur) RSi yang terdiri dari 2 lantai dan 1 lantai basement ditambah 1 lantai area tengah (middle area) telah selesai 100%.

Selanjutnya akan dilakukan pembangunan tahap 2 berupa pekerjaan Arsitektur dan ME (Mechanical Electrical) rumah sakit. Pekerjaan tahap ini akan melibatkan lebih banyak relawan dari Indonesia karena pekerjaan arsitektur & ME seluruhnya akan dilakukan oleh putra-putra bangsa.

 

Pembangunan RSI Tahap 2

Divisi Konstruksi MER-C membagi proses pembangunan RS Indonesia di Gaza menjadi 2 tahap. Tahap pertama berupa pembangunan struktur, Alhamdulillah sudah selesai. Selanjutnya akan dilakukan pembangunan tahap kedua berupa pekerjaan arsitektur dan mekanikal elektrikal (ME). Berbeda dengan pekerjaan tahap pertama yang dilakukan oleh kontraktor lokal, pekerjaan tahap kedua seluruhnya akan dilakukan oleh putra-putra bangsa Indonesia, baik insinyur maupun pekerjanya.

 

20 juli 2012 : MER-C memberangkatkan 4 relawan teknisnya ke Gaza. Mereka akan bergabung dengan 3 relawan yang masih bertugas di Gaza, bertugas untuk mempersiapkan kedatangan tim teknis yang lebih besar untuk melakukan pembangunan tahap 2 RS Indonesia.

 

 

 

21 Oktober 2012 :  MER-C memberangkatkan Tim relawan terbesar ke Gaza yang berjumlah 33 orang. Tim terdiri dari 27 orang relawan (3 Insinyur, 3 Dokter, 21 tenaga teknis) dan 6 jurnalis. Sebanyak 21 relawan yang merupakan tenaga teknis akan menetap di Gaza dan bergabung dengan 7 relawan yang telah ada sebelumnya, sehingga jumlah seluruh relawan Indonesia di Gaza menjadi 28 orang. Mereka akan bertugas di Gaza hingga pembangunan tahap 2 RS Indonesia selesai.

 

 

1 November 2012 : Pembangunan tahap 2 RS Indonesia resmi dimulai dengan pimpinan proyek Ir. Nur Ikhwan Abadi. Pembangunan tahap ke-2 diperkirakan akan memakan waktu selama 1,5 tahun.

 

 

 

14 - 21 November 2012 :  Sejak kedatangan Tim relawan MER-C akhir Oktober lalu, para relawan harus mulai terbiasa dengan suara bom dan rudal Israel. Sebagai wilayah okupasi, serangan bom dan rudal adalah hal biasa, walaupun tidak bersifat massive. Begitupun dengan drone (pesawat tanpa awak) dan pesawat jet F-16 Israel yang selalu berputar-putar di langit Gaza.

 Rabu (14/11), serangan Israel telah menyebabkan Pimpinan Militer Hamas, Ahmad Al Jabari syahid. Hal inilah yang kemudian memicu kondisi Jalur Gaza menjadi memanas. Seiring serangan Israel yang semakin membabi buta ke Jalur Gaza, seluruh relawan atas instruksi MER-C Pusat Jakarta mengamankan diri di ruang basement RS Indonesia. Selama 8 hari serangan berlangsung, Alhamdulillah semua relawan dalam keadaan selamat dan tetap mengerjakan pembangunan tahap 2 di ruang basement RS. Pekerjaan sempat terhenti pada hari pertama serangan saja, Bangunan RS Indonesia juga tidak mengalami kerusakan berarti meskipun beberapakali bom dan rudal Israel jatuh tak jauh dari lokasi RS Indonesia. Hanya ada beberapa kaca RS yang pecah akibat getaran bom dan rudal tersebut.

 

15 Februari 2013: MER-C memberangkatkan tambahan insinyur ke Gaza, yaitu Ir. Edy Wahydi. Ini adalah keberangkatan kedua Ir. Edy ke Gaza. Sebelumnya ia pernah bertugas selama 1,5 tahun di wilayah terblokade ini ketika pembangunan tahap 1 RSI tengah berlangsung. Kini Ir. Edy  kembali ditugaskan ke Gaza untuk membantu mengawasi pembangunan tahap 2 RSI.

Bersama Ir. Edy, berangkat juga tiga utusan dari pesantren Al-Fatah. Selain membantu program pembangunan RSI, ketiganya akan mengikuti program Tahfidzul Quran metode Tajul Waqar di Ma’had Tahfidzul Quranul Karim was Sunnah Gaza.

 

15 Maret 2013: Tim Supervisi RSI berjumlah 7 orang bertolak ke Gaza dipimpin oleh Ir. Faried Thalib (Ketua Divisi Konstruksi MER-C). Agenda tim adalah melakukan supervisi pembangunan tahap 2 RSI. Supervisi dijadwalkan akan dilakukan secara rutin setiap empat bulan sekali.

 

 

 

23 Juli 2013: RS Indonesia yang tengah dibangun di Gaza mendapat kunjungan tamu istimewa PM Palestina Ismail Haniya, Pimpinan Tertinggi di Gaza sekaligus pemberi tanah wakaf untuk RSI.  

PM Ismail Haniya dan beberapa jajarannya menyambangi RSI khusus untuk bersilaturahim dan berbuka puasa bersama dengan seluruh relawan RSI di Gaza. Acara buka puasa bersama digelar di lantai basement RS Indonesia.

 

 

17 Februari 2014:

Seiring pembangunan RSI yang sudah mencapai akhir, MER-C kembali mengirimkan Tim yang terdiri 2 insinyur, 1 medical technologist, dan 2 jurnalis. Agenda kegiatan tim adalah melakukan Survey alat kesehatan dan supervise pembangunan RSI.

 

28 Februari 2014:

Setelah bertugas selama kurang lebih 1,5 tahun di wilayah terblokade Gaza, sebanyak 19 orang relawan yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia tiba di tanah air. Ini adalah gelombang pertama kepulangan relawan RSI dari 2 gelombang yang direncanakan. Kepulangan relawan Indonesia dimungkankan setelah pembangunan RSI yang terdiri dari 2,5 lantai dengan total luas mencapai hampir 10.000 m2 telah rampung.

 

13 Maret 2014:

Gelombang ke-2 relawan RSI berjumlah total 10 orang menyusul tiba di tanah air, sehingga saat ini tersisa 4 relawan di Gaza dengan komposisi 1 insinyur dan 3 relawan yang juga tengah menempuh studi di Universitas Islam Gaza. Mereka akan mengawal proses pengadaan alat kesehatan RSI.

 

Fakta Seputar RS Indonesia

Tanah Wakaf :  Tanah RS Indonesia seluas 16.261 m2 merupakan wakaf dari pemerintah palestina di Gaza

Dana sumbangan dari Rakyat Indonesia : Dana pembangunan RS Indonesia seluruhnya murni berasal dari sumbangan masyarakat Indonesia yang sebagian besar merupakan kalangan menengah ke bawah, tidak ada dana bantuan asing dan belum ada dana bantuan dari pemerintah Indonesia.

Dikerjakan oleh Relawan :  RS Indonesia mulai dari ide, proses disain RS yang mencakup struktur, arsitektur dan ME sampai dengan tenaga insinyurdan pekerja teknis yang terlibat dalam proses pembangunan RS Indonesia di Gaza adalah putra-putra bangsa Indonesia yang berstatus sebagai relawan. Mereka memberikan sumbangsihnya tanpa berharap imbalan dan semua dilakukan sebagai bentuk jihad profesionalnya.

Bangunan Terunik dan Terbesar : Bangunan RS Indonesia adalah bangunan terunik dan terbesar di jalur Gaza yang sebagian besar bangunan di wilayah okupasi Israel ini berbentuk segi empat.

Memecahkan Rekor di Gaza : RS Indonesia membukukan 2 kali rekor pengecoran terbesar di Gaza, yang pertama adalah pengecoran lantai 2 RS Indonesia sebesar 483 m3. Dua bulan kemudian, pada maret 2012, dilakukan pengecoran lantai 3 sebesar 500 m3 beton yang selesai dalam waktu 8 jam.

 

 

Apa Kata Mereka Tentang RSI di Gaza

 

 

"Terima kasih rakyat Indonesia atas bantuan Rumah Sakit yang saat ini sedang dibangun. Wahai rakyat Gaza Palestina yang tercinta, jangan pernah bersedih karena di belakang kalian ada rakyat Indonesia." - Ismail haniyah, PM Palestina

 

 

 

"terima kasih kepada rakyat serta pemerintah Indonesia atas segala bantuan yang telah diberikan untuk membantu rakyat Gaza. Rumah Sakit Indonesia akan menjadi Rumah Sakit Utama di Jalur Gaza, and akan menjadi sentra utama dalam memberikan bantuan kepada rakyat Gaza Utara." - dr. Mufeed Mukhalalat, Menteri Kesehatan Palestina di Gaza

 

 

"Lokasi ini (Bayt Lahiyah, Gaza Utara) tepat apabila diabngun sebuah rumah sakit mengingat posisinya yang berdekatan dengan penjajah Israel, saat perang korban terbanyak di daerah Gaza Utara ini. Kami lihat rumah sakit ini cantik berbentuk segi 8, secantik hati rakyat Indonesia yang telah bersungguh-sungguh dalam membantu saudara-saudaranya di gaza Palestina. Dengan segenap kesungguhan kita bersama, insya Allah akan menjadi washilah dan penyebab tercapainya pembebasan Masjidil Aqsha dan kemerdekaan Palestina." - dr. Bassim Naim, Mantan Menteri Kesehatan Palestina di Gaza

 

 

"Disain Rumah Sakitnya sangat indah. Rumah Sakit terindah di kota gaza. Disainnya berkolaborasi dengan Kubah Shakra." - Jamila Shanti, Menteri Urusan Wanita Palestina di Gaza

 

 

 

"Proyek ini (Rumah Sakit) merupakan wujud kerja keras dan kerja sama yang sangat luar biasa. Seperti inilah hasilnya jika kita bekerjasama saling menopang dan melibatkan semua elemen yang ada di jalur Gaza. RS Indonesia sebagai sebuah amanah dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina akan menjadi salah satu RS terbesar di Jalur Gaza bahkan di seluruh wilayah Palestina. RS Indonesia juga akan menjadi RS utama di wilayah gaza bagian Utara." - DR. Naji Sarhan, Wakil Menteri PU Palestina di Gaza

 

 

“Apa yang terjadi di Palestina adalah tragedy kemanusiaan yang mengetuk hati nurani kita untuk memberikan bantuan apapaun yang kita bisa. Syukur Alhamdulillah, MER-C dari Indsonesia dapat mendirikan RS Indonesia di Gaza, Palestina. MUI menghimbau kepada seluruh bangsa Indonesia khususnya umat Islam untuk terus mengulurkan tangan kedermawanan untuk menanggulangi penderitaan rakyat Gaza, rakyat Palestina. Memberikan bantuan apapun termasuk untuk mengisi RS Indonesia yang telah berdiri di Gaza namun belum memiliki alat kesehatan dan prasarana.” – Prof. DR. M. Din Syamsuddin, MA, Ketua Umum MUI

 

 

 

“RS  Indonesia menjadi bukti sejarah bahwa masyarakat Indonesia bisa mewujudkan solidaritas dalam bentuk yang nyata. Karena itu kita harus menyempurnakan apa yang sudah dicapai melalui pengadaan peralatan kesehatan RS Indonesia agar bisa berfungsi secara optimal untuk membantu kemanusiaan.” – Adi Sasono, Tokoh Nasional

 

 

 

 

“ Kita lihat saudara-saudara kita di Gaza Palestina dalam keadaan diblokade oleh Zionis Israel. Dengan izin ALLAH SWT saudara-saudara kita dari MER-C ternyata dapat membangun sebuah RS Indonesia di sana. Namun rumah sakit ini masih kosong, untuk itu mari kita bantu pengadaan alat-alat kesehatannya. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba ALLAH  yang saling membantu dan berbagi dalam Ukhuwah Islamiyah.” – Ustadz Yuke Sumeru

 

 

 

 

“Alhamdulillah kita sudah mempunyai Rumah Sakit yang telah berdiri di Gaza, yaitu Rumah Sakit Indonesia, atas upaya masyarakat Indonesia. Mari jadikan diri kita bermanfaat karena sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Para agniya’ mari kita sisihkan dana untuk pengadaaan alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Gaza karena mereka saudara kita.” – Ustadz Erick Yusuf, Ustadz Muda

 

 

 

“Gaza adalah sebuah tempat yang sudah selama ratusan atau puluhan tahun selalu bermasalah dan tidak pernah berhenti. RS Indonesia sudah berdiri di Gaza. Hari ini yang belum ada adalah alat-alat kesehatannya. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita bangsa yang besar, Indonesia, memberikan sesuatu kepada Gaza.” – Didi Petet, Seniman

 

 

“ Kami di wanadri belajar tentang kebijaksanaan dari alam. Alam tidak pernah membeda-bedakan siapa diri kita. Hujan, panas, dingin tidak peduli siapa kita, kita rasakan sama. Disanalah kita belajar tentang esensi kemanusiaan. Mari bantu pengadaan alat kesehatan Rumah sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Cukup 50 ribu rupiah, kita bangun semangat kemanusiaan dunia yang lebih baik.” – M. Ilham Fauzi, Ketua Dewan Pengurus WANADRI

 

 

Para Artis Dukung Pengadaan Alat Kesehatan RS Indonesia

 

“Ayo bantu pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Cukup 50 ribu rupiah. Loe harus gerak! Sekarang!” – SLANK

 

“Ayo bantu pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Cukup 50 ribu rupiah. Insya Allah berkah. Makin banyak donasi, lebih berkah.” – WALI

 

“Ayo bantu pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, Palestina, cukup 50 ribu rupiah.” – Jihan Fahira

 

“Ayo bantu pengadaaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Cukup 50 ribu rupiah. Allahu Akbar!” – Ombat,  Tengkorak Band & Pengacara

 

“Sejujurnya sebaik-baiknya manusia adalah ketika mereka bermanfaat bagi orang lain. Ayo bantu pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Cukup menyumbang 50 ribu rupiah, Anda bisa membuat perubahan.” – Vadi Akbar, Penyanyi Muda

 

“Memberi itu sungguh sangat indah dan menyenangkan. Oleh karena itu, ayo kita bantu pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, Palestina, cukup dengan 50 ribu rupiah.” – NAIF

  

“Mari kita bantu pengadaan alat kesehatan untuk RS Indonesia di Gaza, Palestina, cukup dengan 50 ribu rupiah.” – SORE

 

“ Ayo bantu pengadan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, Palestina, Cukup 50 ribu rupiah.” – White Shoes and The Couples Company 

Deskripsi RS Indonesia

Tipe RS                      : Trauma Center & Rehabilitation

Lokasi RS                   : Bayt Lahiya, Gaza Utara

Status Tanah              : Wakaf dari Pemerintah Palestina

Luas tanah                 : 16.261 m2

Kapasitas RS              : 100 tempat tidur

Jumlah Lantai             : 2 lantai dan 1 lantai basement

Berdasarkan kebutuhan dan permintaan langsung dari Pemerintah palestina di Gaza pada bulan Juli 2010, maka bangunan RS Indonesia yang semula hanya terdiri dari 2 (dua) lantai, maka sekarang di tambah dengan 1 (satu) lantai basement.

Atas doa dan dukungan rakyat Indonesia, pembangunan fisik RSI yang akan menjadi monumen sejarah dan silaturahmi Rakyat Indonesia - Palestina dijadwalkan selesai akhir tahun ini. 

Ikhtiar selanjutnya adalah pengadaan alat kesehatan dan interior RSI. Meskipun membutuhkan dana besar namun MER-C menutup bantuan asing untuk program RSI karena kami yakin rakyat Indonesia mampu mewujudkan amanah ini.

 

Salurkan Dukungan & Bantuan Anda :

Bank Syariah Mandiri (BSM), cabang Kramat, Acc. No. 700.1352.061

Bank Central Asia (BCA), cabang Kwitang, Acc. No. 686.0153678

Bank Negara Indonesia Syariah (BNI Syariah), cabang Jakarta Timur, Acc. No. 081.119.2973

Bank Muamalat Indonesia, cabang Rawamangun, Acc. No. 301.00521.15

Bank Mandiri, Cabang Tebet, Acc. No. 124.000.8111925

Bank Rakyat Indonesia (BRI), Cabang Kramat, Acc. No. 033.501.0007.60308

Atas nama Medical Emergency Rescue Committee

Baca 6906 kali Terakhir diubah pada Rabu, 22 Juni 2016 10:14

Alamat MER-C

{google_map}60.1705,24.9384{/google_map}

 

Jl. Kramat Lontar No. J-157 Senen, Jakarta Pusat Indonesia 10440
Telp            : (021) 3159235
Fax             : (021) 3159256
Call Center  : 0811 99 0176
E-mail : office@mer-c.org