Segala awalan adalah sulit. Seorang bayi usia sembilan bulan harus berkali-kali jatuh sebelum bisa berlari kencang saat dewasanya. Perlu usaha, kerja keras dan doa untuk dapat sukses dalam setiap langkah awal.
Demikian pula hadirnya Klinik Sosial BNI Berbagi – MER-C di tanah Papua, awalnya merupakan sebuah kemustahilan. Namun takdir Tuhan jua yang berkehendak, dan tentunya karena usaha dan kerja keras MER-C untuk terus berjuang. Sejarah program Klinik Sosial yang merupakan kerja sama antara BNI Berbagi dan MER-C tak bisa dilepaskan dari kota Timika, ibukota Kabupaten Mimika, Papua. Karena di kota inilah, program Klinik Sosial BNI Berbagi – MER-C dibuka oleh Menteri Kesehatan RI yang saat itu diwakili oleh Dirjen Pelayanan Medis Departemen Kesehatan RI pada tanggal 11 Februari 2006.
Peresmian tersebut menandai dibukanya 60 klinik serupa di seluruh wilayah Indonesia. Setelah diresmikan oleh Menteri Kesehatan RI, bukan berarti segalanya menjadi mudah untuk memulai pengabdian di tanah Papua. Kehadiran klinik sosial dianggap tidak diperlukan oleh pemerintah setempat saat itu. Padahal hasil observasi dan survey langsung ke lokasi dan masyarakat menunjukkan fakta bahwa masyarakat mendambakan pelayanan kesehatan yang terjangkau harga dan lokasi.
Kondisi alam Papua yang dipenuhi hutan, jarak antara satu pemukiman penduduk dengan yang lainnya berjauhan, sarana transportasi dan jalan yang belum memadai membuat masyarakat sulit mengakses pelayanan kesehatan. Kondisi ini diperburuk dengan kurang aktifnya Puskesmas Pembantu (Pustus) di beberapa desa, sehingga masyarakat kehilangan rujukan untuk menikmati fasilitas kesehatan.
Atas dasar itu, klinik sosial di Timika mengawali langkahnya melalui program Mobile Clinic (M-Clinic). Program di awali dengan melsayakan observasi dan survey ke beberapa desa di Kabupaten Mimika. Pemilihan lokasi sekretariat klinik sosial juga dipilih lokasi yang paling dekat untuk mencapai tempat-tempat yang menjadi sasaran program.
Di Kabupaten Mimika terdapat beberapa desa yang menjadi pusat pemukiman bagi para transmigran yang sebagian besar warganya berasal dari pulau Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku. Desa-desa yang menjadi pusat hunian kaum transmigran itu sering disebut sebagai Satuan Pemukiman atau disingkat sebagai SP. Klinik sosial di Kabupaten Mimika sendiri berlokasi di SP 3 atau Desa Karang Senang.
Untuk memulai pengamatan dan survey ke tiap-tiap SP tidaklah mudah, terlebih buat relawan MER-C Timika yang bukan penduduk asli sehingga perlu bantuan masyarakat setempat. Akhirnya MER-C Timika melaksanakan kontak dengan pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah untuk turut membantu. Pendekatan kepada Pondok Pesantren Hidayatullah lebih didasarkan kepada jaringannya yang kuat terhadap tokoh masyarakat setempat yang tersebar di hampir seluruh wilayah Kabupaten Mimika.
Akhirnya relawan MER-C Timika mendapatkan nama Pak Nastur yang berdomisili di Desa Limau Asri (SP 5) yang berjarak lebih kurang 10 km dari sekretariat Klinik Sosial BNI Berbagi – MER-C di SP 3. Atas bantuan Pak Nastur, relawan MER-C akhirnya menemukan tokoh masyarakat lainnya di Desa Naena Muktipura (SP 6), Desa Mulia Kencana (SP 7), dan Desa Bhintuka (SP 13). Semua desa tersebut memiliki masalah yang sama, yaitu kurang hidupnya pustu-pustu sehingga masyarakat sulit mendapatkan pelayanan kesehatan, sementara untuk ke puskesmas induk terhalang oleh jarak yang jauh.
Dengan bantuan tokoh-tokoh masyarakat tersebutlah, dilaksanakan upaya pengumpulan tanda tangan dari warga setempat untuk memberikan dukungan kepada Klinik Sosial BNI Berbagi – MER-C memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Berbekal surat tersebut, maka relawan MER-C untuk pertama kalinya memberikan pelayanan secara rutin di SP 5, SP 6 dan SP 7.
Awalnya pelayanan kesehatan dilakukan di salah satu rumah penduduk di masing-masing SP. Bahkan ada salah satu tuan rumah yang rela membenahi bengkelnya agar dapat digunakan oleh relawan MER-C untuk memberikan pelayanan kesehatan. Karena konsistensi Klinik Sosial BNI Berbagi – MER-C untuk terus memberikan pelayanan kesehatan secara rutin setiap minggunya, akhirnya warga SP dapat mengupayakan agar pengobatan dilakukan di tempat-tempat umum seperti Balai Desa atau Pustu. Sejak itu dimulailah kemitraan yang harmonis antara Klinik Sosial BNI Berbagi – MER-C dengan Dinas Kesehatan setempat, dalam hal ini pustu-pustu yang ada di tiap-tiap SP yang menjadi sasaran program.
Mempertahankan konsistensi adalah sebuah kesukaran tersendiri. Terlebih saat itu sarana transportasi yang dimiliki oleh klinik sosial belum ada. Tetapi untunglah salah satu pengurus Ponpes Hidayatullah, Pak Basuki, ikhlas meminjamkan motornya hingga klinik memiliki motor sendiri. Sementara beliau sendiri menyewa ojek untuk bepergian selama motornya dipinjam oleh relawan MER-C untuk pengobatan.
Bermula dari M-Clinic di SP lah, Klinik Sosial BNI Berbagi – MER-C Timika dapat mengembangkan program lainnya, seperti Balai Layanan Kesehatan Masyarakat (BLKM), penyuluhan kesehatan, pembinaan posyandu, pengembangan tanaman zodia, dan lainnya.
Hingga saat ini, dari program M-Clinic menyumbang angka rata-rata 40% dari total jumlah pasien di Klinik Sosial BNI Berbagi – MER-C Timika setiap bulannya. Konsistensi M-Clinic juga telah teruji hingga hampir dua tahun ini. Sehingga rasa keterikatan masyarakat semakin erat dan enggan berpaling dari program M-Clinic yang dijalankan oleh Klinik Sosial BNI Berbagi – MER-C. M-Clinic tidak hanya terpaku dengan koordinasi kepada aparat desa dan tokoh masyarakat setempat, tetapi juga dapat berkoordinasi dengan puskesmas setempat. Terlebih lagi bila banyak Pustu di daerah tersebut kurang aktif. Meskipun aktif akan jauh lebih baik bila, Pustu juga sesekali dilayani oleh petugas medis yang bergelar dokter. Klinik Sosial BNI Berbagi – MER-C Timika juga melakukan kemitraan dengan puskesmas Induk di Desa Timika Jaya (SP 2) untuk membantu pustu Desa Iwaka yang dihuni oleh masyarakat asli suku Kamoro dan membantu puskesmas keliling.
Banyak kisah menarik dari berbagai orang yang terlibat dalam program ini, baik itu dari relawan medisnya, masyarakat yang menjadi pasien, tokoh-tokoh masyarakat setempat yang sering sekali membantu program hingga hal-hal kecil yang unik dan patut dibagikan kepada orang lain. Semoga kisah-kisah ini menjadi inspirasi bagi Klinik Sosial BNI Berbagi – MER-C lainnya di seluruh Indonesia untuk terus berbagi kepada sehat tidak hanya dalam bentuk layanan kesehatan yang statis, tetapi secara aktif melaksanakankan pelayanan ke sasaran, dan yang tak kalah pentingnya adalah mempertahankan konsistensi.
*Sumber cerita berasal dari Dr. Zackya Yahya, Sp.Ok. (Kordinator MER-C untuk Wilayah Indonesia Timur dan Pak Nastur



