Berawal dari rasa ingin tahu tentang perbedaan resus, Prahadi Hermawan Marwan tergelitik untuk melakukan penelitian tentang resus. Kedua orang tuanya memiliki resus yang berbeda. Ayahnya memiliki resus positif, sedangkan ibunya resus negatif. Kedua orangnya menanti kehadirannya sebagai anak sulung selama 5 tahun. Cukup lama, bukan? Selain itu, sejak kecil ia sering sakit-sakitan sehingga keinginannya untuk menjadi dokter semakin kuat. Ternyata, Allah meridhai dan ia pun diterima di Fakultas Kedokteran UNPAD.
Karena program PTT masih wajib saat itu, setelah lulus kuliah, ia mencoba ke Depkes, tetapi gagal karena senior lebih diprioritaskan. Tak patah semangat, ia mencari informasi lewat teman-temannya.
Bermula dari salah seorang temannya, ia mulai bergabung di MER-C sebagai dokter PTT. Ia sudah mengetahui bahwa MER-C memiliki beberapa klinik di wilayah timur Indonesia. Namun, ia tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa ia ditempatkan di klinik BNI - MER-C di Timika.
“Kaget. Kaget banget,” ujarnya ketika mendengar tawaran itu. Ditambah lagi sulitnya meyakinkan orang tua. Namun, dengan niat yang baik dan dengan segenap keyakinan, ia mampu memperoleh restu kedua orang tuanya.
Kekagetannya bertambah ketika sampai di Timika. Di sana ia tidak tahu apa yang harus dilakukan karena tidak ada seorang pun dokter jaga sebelumnya, tidak ada serah terima pekerjaan, dan esok harinya harus segera melakukan pengobatan di SP (Satuan Pemukiman). Ia hanya didampingi seorang perawat (Ali). Saat itu, hanya Ali yang menjadi tempat bertanya.
Pengobatan di SP pukul 08.00 - 12.00, kemudian dilanjutkan pukul 16.00 - 21.00 di klinik. Pengobatan dilaksanakan pada beberapa tempat, seperti SP 5, SP 6, SP 7, Iwaka, Hidayatullah, dan SDIT Permata Papua.
Daerah-daerah itu berjarak jauh dari klinik BNI - MER-C. Dokter Dedi (sapaannya) dan Ali harus menempuhi jalan-jalan yang rusak, bahkan harus masuk ke hutan-hutan untuk bisa sampai ke SP. Mereka menempuh perjalanan selama 30 menit sampai 90 menit dengan menggunakan sepeda motor.
Sebenarnya, pengobatan untuk penduduk Timika telah ditangani oleh PT Freeport. Namun, hanya 7 SPdari sekian banyak SP. Itu pun hanya untuk penduduk asli Timika. Sambil memeriksa, ia bertanya pada salah seorang pasien bersuku asli Timika, “Kenapa tidak berobat di Freeport?” Pasien itu menjawab, “Saya tidak termasuk 7 suku asli Timika.” Sebelum adanya MER-C di sana, mereka berobat di Puskesmas atau rumah sakit yang jaraknya sangat jauh. Mereka harus naik ojek yang biayanya Rp 50.000. Belum lagi biaya pengobatannya mahal bagi penduduk di luar 7 suku.
Suatu ketika kami pernah dihadang oleh 7 suku dan kami di-palak. Sempat kaget, tetapi setelah kami jelaskan bahwa kami adalah dokter dan perawat yang mau menolong orang-orang yang sakit, mereka melepaskan kami. Sebenarnya, mereka baik. Hanya karena pengetahuan yang kurang saja, mereka jadi terlihat aneh.
Selain mengobati, kami juga mengurus surat-surat rujukan ke rumah sakit, bahkan harus mengurusnya sampai ke bupati. Seperti kasus Nur Rohmah yang menderita Meningocale (tumor di susunan sarafnya), ia harus dirujuk ke RSCM Jakarta.
Ketika di Timika, dr. Dedi dihubungi untuk segera berangkat ke Sorong. Ternyata, pengobatan lebih sulit di Sorong karena wilayahnya lebih luas dan jalannya masih tanah.
Posko mobile MER-C ada di beberapa lokasi yang juga sulit dijangkau. Seperti di Jeflio, untuk sampai ke sana, mereka mengendarai motor, kemudian naik perahu. Itu pun harus janjian dengan penduduk. Di Jeflio, tanahnya hitam dan lengket sehingga tidak dapat dilalui dengan motor.
“Tugas kemanusiaan MER-C tidak dapat dihitung dengan materi, tapi lebih kepada tumbuhnya rasa kemanusiaan. PTT banyak memberikan keuntungan dalam ilmu dan pengalaman baru serta bagaimana cara kita memberikan pelayanan maksimal dengan fasilitas terbatas.” tegasnya. Dokter muda ini pun siap untuk diterjunkan kembali ke daerah-daerah yang serupa.



