Pagi itu, rabu 14 November 2007, merupakan jadwal dr. M. Ulil Amri dan dr. M. Fikry Firdaus untuk turun ke lapangan menjalankanMobile Clinic (M-Clinic). Hari itu juga merupakan hari pertama bagi mereka berdua untuk terjun ke lapangan, karena mereka belum genap satu minggu di Timika. Dengan mengendarai sebuah motor Honda dan sebuah motor Suzuki yang getarannya terasa seperti naik bajaj, kedua dokter relawan ini berangkat bersama seorang perawat laki-laki bernama Herdi menuju ke Desa Naena Muktipura (SP 6).
Tiga minggu terakhir ini, M-Clinic selalu kebanjiran pasien. Normalnya rata-rata jumlah pasien hanya berkisar 30-40 orang, tetapi tiga minggu terakhir meningkat hingga mencapai 55 orang. Hal ini disebabkan sejak pasca lebaran Puskesmas Pembantu (Pustu) tidak pernah aktif. Sehingga pasien menumpuk, menunggu pelayanan kesehatan M-Clinic dari Klinik Sosial BNI Berbagi – MER-C datang setiap hari Rabu. Tak heran bila petugas M-Clinic minggu sebelumnya baru kembali ke posko dari pengobatan di SP 6 pukul 15.30 WIT.
Seperti diduga, hari itu pasien sudah banyak menunggu. Seketika itu juga nomor antrian yang dibagi sudah mencapai angka empat puluhan. Dengan tim medis yang terdiri dari dua dokter dan satu perawat, petugas mencoba bekerja secepat dan setepat mungkin. Setiap pasien dipanggil sesuai nomor urut antrian. Bila ada nomor antrian yang setelah tiga kali dipanggil tidak datang, terpaksa dilewatkan oleh petugas agar pasien berikutnya cepat dilayani.
Hingga sampai panggilan pasien dengan nomor antri 45 sebanyak tiga kali, pasien tidak muncul-muncul juga. Menurut keterangan salah satu warga, pasien yang merupakan seorang masyarakat lokal sedang berada di Balai Desa menunggu pembagian uang. Di Papua, masyarakat lokal biasa disapa dengan sebutan ”meno” yang artinya adalah sahabat. Setelah panggilan ketiga, pasien tidak juga muncul-muncul. Tim medis pun melanjutkan pengobatan dengan pasien selanjutnya.
Hingga pasien nomor antri 50, perawat Herdi berinisiatif menanyakan ke salah seorang pasien meno. Meno tersebut seorang laki-laki berusia lebih kurang 40 tahun. Ternyata pasien tersebut adalah pasien dengan nomor antri 45 yang sempat dilewatkan dan baru kembali. Mengetahui bahwa nomornya telah dilewati, tiba-tiba pasien tersebut berdiri dan berteriak ”Saya sudah menunggu lama ini, kamu sudah dibayar sama pemerintah, dibayar sama Freeport bekerja tidak becus. Bodo. Bodo!” Rupanya bapak tersebut berpikir bahwa M-Clinic itu adalah dikelola oleh Pustu ataupun MalCon (lembaga Malaria Control yang dikelola oleh PT Freeport). Mungkin itu wujud kekesalannya terhadap pelayanan Pustu dan Malcon yang kurang aktif. Kemudian Herdi membujuk pasien tersebut untuk masuk ke ruang periksa guna mendapatkan pelayanan. Akan tetapi bapak tersebut sudah terlanjur marah, karena merasa dilewati begitu saja, padahal saat dipanggil bapak tersebut tidak ada karena sedang berada di Balai Desa.
Tiba-tiba bapak tersebut keluar kemudian mengambil sebongkah batu berukuran 1,5 kepalan tangan orang dewasa. ” Saya tidak marah ini. Saya benar”, teriak bapak tersebut sambil berputar-putar di depan Pustu. Bapak yang sedang marah ini seperti sudah kehilangan kontrol sehingga bermaksud melemparkan batu tersebut ke arah Pustu.
Seorang bapak meno berusia lanjut mendatangi bapak yang sedang marah ini dan berusaha menenangkannya. Sementara di dalam Pustu, pengobatan terpaksa bubar. Pasien tersisa yang masih menunggu terpaksa tidak dapat diobati. Perawat dan dokter bergegas membereskan peralatan dan obat-obatan seadanya. Saat itu yang ada di pikiran hanyalah menjaga keselamatan dan keamanan.
Saat keluar dari Pustu kondisi cukup tenang. Bapak yang sedang mengamuk berada 100 meter dari Pustu. Saat petugas M-Clinic sedang mengendarai motor keluar dari areal Pustu, tiba-tiba bapak tersebut berjalan ke arah petugas sambil tetap membawa bongkahan batu. Secara spontan petugas segera kabur dari SP 6, demi menyelamatkan diri.
Banyak hikmah dari peristiwa ini, sehingga membuat tim Klinik Sosial BNI Berbagi – MER-C mengevaluasi segala kelemahan program M-Clinic sehingga dapat memberikan pelayanan lebih baik lagi untuk masyarakat.
*Seperti dikisahkan oleh dr. M. Ulil Amri dan dr. M. Fikry Firdaus
(Relawan Dokter MER-C yang bertugas di Klinik Sosial Timika - Papua)



