Kisah ini terjadi saat saya sedang bertugas membantu Puskesmas Pembantu (Pustu) di Desa Iwaka. Desa Iwaka berjarak lebih kurang 25 km dari posko Klinik Sosial BNI Berbagi – MER-C di Desa Karang Senang (SP 3). Desa Iwaka merupakan perkampungan yang mayoritas dihuni oleh masyarakat asli Papua, suku Kamoro. Perkampungan ini jarang dihuni oleh penduduknya, karena biasanya sebagian besar masyarakat pergi ke hutan sambil membawa sanak keluarganya. Sehingga tak heran bila SD Iwaka sering hanya dihadiri oleh separuh anak didiknya.
Pola hidup masyarakatnya masih terbelakang, baik dari segi kebudayaan, ekonomi atau pendidikan. Terlebih lagi budaya mabuk yang biasanya dilsayakan oleh kaum lelaki dewasa. Entah darimana asalnya budaya itu di masyarakat papua. Tapi menurut mereka, budaya itu tidak pernah ada dalam sejarah masyarakat asli Papua. Mungkin budaya yang salah terjadi karena pengaruh budaya asing yang diadaptasi oleh masyarakat asli hingga sekarang.
Biasanya begitu ada uang banyak, baik itu karena baru mendapatkan gaji atau mendapatkan rezeki dari hasil mendulang emas di sungai pembuangan limbah PT Freeport, secara berkelompok para lelaki dewasa ini akan berkumpul membeli minuman keras dan mabuk-mabukan. Keesokan harinya mereka bisa bergelimpangan di tengah jalan seperti gelandangan.
Seperti biasa setiap hari Senin adalah jadwal Tim Medis Klinik Sosial BNI Berbagi – MER-C Timika memberikan pelayanan kesehatan di Desa Iwaka membantu pustu yang sudah ada di sana. Senin, 12 November 2007 adalah jadwalku. Hari itu jumlah pasien tidak terlalu banyak, hanya berkisar belasan. Setelah menanti hingga jam 11 lebih, tidak ada tanda-tanda penduduk yang akan berobat juga akhirnya saya dan perawat yang bertugas memutuskan untuk kembali ke posko.Tetapi di tengah jalan ternyata ada dua orang mabuk yang sedang melintas. Salah satunya sambil berjalan mendekati motor kami sambil menunjuk-nunjuk ke arah sebuah rumah. Dari teras rumah yang ditunjuk tampak beberapa orang mama-mama (panggilan untuk ibu di papua) mengayunkan tangannya seperti memanggil. Akhirnya saya dan perawat turun dari motor mendekati rumah tersebut.
Rupanya mama-mama tersebut ingin mengobati anaknya, tetapi karena tidak tahu kalau ada petugas dari Klinik Sosial BNI Berbagi – MER-C di Pustu mereka baru memanggil setelah melihat. Hal ini disebabkan sudah beberapa minggu ini tidak ada petugas Pustu yang bertugas. Saya berdiskusi sebentar mengenai kasus pasien-pasien yang akan berobat. Tiba-tiba bapak yang sedang mabuk mendatangi rumah sambil mendekati kami berteriak ”Dokter...! Ko periksa itu dulu...Dokter!”. Dia berjalan kembali sambil jarinya menunjuk ke arah anak kecil yang ternyata anaknya, kali ini nyaris jatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
Entah mengapa tiba-tiba si bapak marah dan berjalan ke arah balok kayu yang berukuran cukup besar seperti hendak mengambil. Tetapi karena balok kayunya cukup besar si bapak tak cukup kuat mengangkatnya sehingga kembali si bapak terjatuh. Kali ini salah seorang mama yang ada di rumah tersebut mengangkat si bapak dan membawanya jauh dari kami.
Akhirnya setelah memeriksa dua orang anak kecil dan dua remaja perempuan di rumah tersebut kami kembali ke Pustu untuk mengambil obat-obatan. Di tengah jalan menuju Pustu ternyata ada satu orang lagi yang tengah mabuk jalan terhuyung-huyung. Situasi tersebut membuat kami kurang nyaman dan meningkatkan kewaspadaan. Karena sudah banyak cerita di koran lokal timika, kejahatan dipicu karena alkohol yang memabukkan.
Menjelang tiba di Pustu, masih ada satu orang bapak setengah baya yang juga menatap tajam ke arah kami sambil membawa parang. Yang ada di pikiranku saat itu adalah jangan-jangan bapak tua ini juga tengah mabuk, kami pun berlalu. Saat sedang mempersiapkan obat-obatan di Pustu, tiba-tiba bapak tua tadi masuk. ”Gawat!” pikirku saat itu. Jangan-jangan bapak tua ini jua mabuk, apalagi sambil membawa parang. ”Siang dokter. Saya mau berobat”, kata bapak tua tadi. Upps, syukurlah ternyata bapak ini tidak mabuk dan sekadar mau berobat. Setelah bapak tua di periksa dan diberi obat, si bapak tua mengingatkan agar berhati-hati saat pulang karena ada orang mabuk.
Sekembalinya dari Pustu saat hendak tiba di rumah tempat pasien-pasien tersebut berada. Tetapi saat ini bukan cuma satu orang yang mabuk, masih ada tiga orang lagi mabuk. Tapi untungnya jaraknya cukup jauh dari rumah pasien, dan bapak yang anaknya sakit tadi sedang tertidur tidak sadar di teras. Setelah memberikan obat dan menjelaskan cara minumnya, kami pun kembali ke posko diiringi ucapan terima kasih dari pasien.
Kasihan masyarakat lokal ini, kehidupan mereka rusak karena budaya luar yang tidak baik. Semoga kehidupan mereka menjadi lebih baik di masa mendatang.
*Kisah dari dr. Salkamal, Relawan Dokter MER-C yang bertugas di Klinik Sosial Timika - Papua



