Pasca tsunami kota Palu mengalami fenomena stroke atau lumpuh sebelah, sekilas masih terlihat lalu lalang kendaraan bermotor, tetapi LISTRIK MATI, TIDAK ADA AIR BERSIH, TIDAK ADA SINYAL HP. Terlihat masyarakat sibuk menjarah SPBU, Alfamart dan toko-toko bahkan rumah-rumah korban tsunami.



Mayat masih bergelimpangan di jalan-jalan dan RS, sementara masyarakat terlihat apatis terhadap mayat tersebut tidak ada upaya penguburan, dll. Sikap apatis masyarakat Palu terhadap saudara-saudaranya yang menjadi korban menimbulkan tanda tanya bagi tim-tim bantuan. Sampai hari ketiga belum tampak evakuasi korban dari reruntuhan di dalam kota, walaupun kadang terdengar suara-suara merintih minta tolong diantara reruntuhan di Mall Ramayana terbesar di kota Palu.

Hanya terlihat kendaraan TNI yang bolak balik, hampir tak terlihat adanya polisi yang mengamankan situasi. Bahkan bandara dipenuhi oleh masyarakat yang mau mengungsi.

Kelumpuhan listrik akibat tsunami ini akibat tiang-tiang listrik yang tumbang. Sampai hari ketiga pasca tsunami listrik belum pulih, air bersih sulit didapat. Tim medis yang datang, tak bisa melakukan operasi akibat tak ada air. Akibatnya tim medis pun menjadi secondary victim.

Masyarakat sibuk menjarah, keluar masuk kota ke kota terdekatnya untuk mencari BBM dan bahan makanan tanpa peduli dengan sekitarnya.

Palu, 2 Oktober 2018
dr. Yogi Prabowo, Sp.OT
(MER-C Indonesia)


Info:
Website : www.mer-c.org
Call center : 0811990176
FB : MER-C Indonesia
IG : @mercindonesia

 

#mercpedulipaludonggala

Dukung Sosial Media Kami

Langganan Info & Berita MER-C