
Setelah berhasil membangun sebuah klinik rawat inap di wilayah pasca tsunami tepatnya di Panga Aceh Jaya, kini MER-C sedang merampungkan pembangunan sarana kesehatan di wilayah pasca gempa Yogyakarta. Fokus utama kegiatan MER-C sebenarnya adalah pengiriman relawan ke berbagai wilayah perang, konflik dan bencana, namun kini seiring dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan, pembangunan sarana kesehatan bisa menjadi program jangka panjang yang dilakukan oleh MER-C.
Klinik Rawat Inap Panga – Aceh Jaya
Untuk wilayah Aceh, MER-C mendapat tanah waqaf dari salah seorang korban tsunami yang biasa dipanggil “Bang Din”. Bang Din atas nama warga sekitar di Desa Keude Panga Aceh Jaya berharap di wilayah mereka bisa dibangun sarana kesehatan karena sarana kesehatan yang ada sudah banyak yang rusak karena tersapu tsunami. MER-C bukanlah lembaga sosial yang mempunyai banyak dana. Modal utama MER-C adalah relawan-relawan yang tangguh dan siap diturunkan ke lapangan. Untuk itu, MER-C kemudian menggandeng NGO lain bekerjasama dalam program ini. MERCY Malaysia salah satu NGO yang sudah lama bekerjasama dengan MER-C di berbagai wilayah perang dan bencana menyambut baik program ini dan bersedia membantu dana untuk membiayai pembangunan fisik klinik rawat inap di Panga. Pemerintah Aceh Jaya pun mendukung program ini, sehingga disepakati bersama bahwa MERCY Malaysia sebagai pengandang dana pembangunan, MER-C sebagai penyedia peralatan medis dan juga SDM Dokter, sementara Pemerintah Aceh sebagai penyedia SDM Perawat.
Alhamdulillah pembangunan Klinik Rawat inap berlangsung lancar dan pada tanggal 22 Maret 2006 klinik ini diresmikan. Turut hadir dalam peresmian klinik, wakil dari Departemen Kesehatan RI dan wakil dari Kementrian Olah Raga RI serta pejabat daerah setempat. Hingga kini MERC masih mengirimkan relawan dokternya secara rotasi dan berkala untuk bertugas di Klinik Rawat Inap Panga. Peralatan medis juga terus dilengkapi seiring masuknya dana bantuan dari masyarakat dengan amanah Aceh. Status Klinik Rawat Inap, oleh Pemerintah Aceh Jaya ditingkatkan menjadi Puskesmas Plus. MER-C bertekad mempertahankan program di wilayah Aceh dengan pusat kegiatan di Panga, Aceh Jaya.
Trauma Center Yogyakarta
Di wilayah pasca gempa Yogyakarta, tepatnya di Prambanan Piyungan Yogyakarta, MER-C juga tengah menyelesaikan pembangunan sarana kesehatan. Sarana kesehatan untuk wilayah Yogyakarta berfokus pada Trauma Center. Trauma center ini diharapkan bisa memberi pelayanan pada korban-korban gempa tidak hanya di Yogyakarta, tapi juga wilayah di sekitarnya. Dari 3 tingkat yang direncanakan, saat ini proses pembangunan baru akan menyelesaikan lantai 1. Bangunan lantai 1 ditargetkan selesai dan diresmikan sebelum bulan Ramadhan tahun ini. Walaupun baru 1 lantai, bangunan akan langsung dimanfaatkan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat sekitar. Apabila masih ada sumbangan dari masyarakat dan adanya pemasukan dana dari pasien yang mampu, pembangunan Trauma Center ini akan diteruskan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan.
Rumah Sakit Perintis di Galela, Halmahera Utara, Maluku Utara
Wilayah Galela pernah menjadi wilayah misi MER-C ketika konflik SARA berkecamuk pada tahun 1999 – 2000. Hingga kini, wilayah ini punya sejarah tersendiri bagi MER-C, karena konflik di Maluku kala itulah yang mendorong terbentuknya organisasi yang kemudian disebut MER-C. Rupanya tak hanya MER-C, masyarakat Galela juga masih mempunyai ikatan emosional dengan MER-C. Terbukti sewaktu MER-C membuka sebuah klinik sosial bekerjasama dengan BNI di wilayah ini, antusias masyarakat begitu besar. Mereka sangat senang dan selalu berobat ke klinik sosial MER-C walaupun jarak yang harus mereka tempuh cukup jauh dari lokasi klinik. Tapi atas dasar kepercayaan, mereka rela menempuh perjalanan jauh demi mendapat pengobatan.
Berawal dari program klinik sosial tersebut, kemudian akhir tahun lalu, salah satu warga Galela mewaqafkan sebagian tanah milik keluarganya kepada MER-C. Pemilik tanah atas nama warga Galela berharap MER-C bisa membantu memfasilitasi pembangunan dan pengelolaan sarana kesehatan di wilayah mereka. Sebuah amanah lagi bertambah dan MER-C tak mampu menolaknya.
Saat ini Divisi Konstruksi MER-C tengah membuat perencanaan dan disain bangunan sarana kesehatan yang akan diberi nama Rumah Sakit Perintis. MER-C sendiri belum dapat menjanjikan kapan rumah sakit ini akan selesai karena belum adanya amanah dana khusus untuk Galela. Segera setelah disain Rumah Sakit rampung, MER-C akan melakukan kampanye dan penggalangan dana. Untuk itu, MER-C sudah membuka satu rekening khusus bagi masyarakat yang akan mengamanahkan dananya untuk pembangunan rumah sakit ini. Masyarakat Galela juga bersedia membantu MER-C untuk melakukan penggalangan dana demi terciptanya rumah sakit di wilayah mereka.
Rumah Sakit Perintis di Timika, Papua
Bekerjasama dengan BNI, MER-C juga mengadakan program klinik sosial di wilayah Timika, Papua. Sejak dibuka pada Februari 2006, hingga kini klinik Timika selalu menempati urutan teratas atau ke-2 teratas dalam perolehan jumlah pasien. Rata-rata jumlah pasien klinik saat ini mencapai lebih dari 1.000 orang/bulan melampaui jumlah pasien di klinik-klinik sosial di wilayah Indonesia lainnya. Program mobile clinic (pelayanan kesehatan keliling) terbukti sangat efektif dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi warga di wilayah Papua dimana jarak seringkali menjadi kendala bagi pasien untuk berobat. Relawan dokter dan perawat MER-C lah yang meyambangi pasien-pasien ke Desa atau Satuan Pemukiman (SP) mereka secara terjadwal.
Hingga kini program klinik sosial sudah berjalan selama lebih dari 3 tahun. Memasuki tahun ke-4 ini, sejumlah elemen Islam yang tergabung dalam MUI Timika Papua menyampaikan akan mewaqafkan sebagian tanah mereka kepada MER-C. Seperti masyarakat Galela, masyarakat Timika juga berharap MER-C bisa membantu memfasilitasi pembangunan sarana kesehatan di wilayah mereka. Tanah waqaf seluas 2 hektar kini sedang dalam pengurusan di instansi terkait. Sekali lagi, meski tidak memiliki dana, MER-C tak mampu menolak permintaan dari warga di wilayah Papua yang sangat rawan oleh isu disintergrasi ini. Semoga keberadaan rumah sakit perintis ini nantinya bisa mempererat hubungan antara warga Papua dengan saudara-saudara sebangsanya di wilayah Indonesia lainnya.






