MER-C menggelar konferensi pers sebagai wujud kepedulian dan dukungan MER-C sebagai sebuah lembaga medis terhadap transparansi penanganan sampel virus flu burung. Konferensi pers diadakan hari ini Senin (10/3), bertempat di sekretariat MER-C yang berlokasi di Jalan Kramat Lontar Senen, Jakarta Pusat. Konferensi pers disampaikan langsung oleh salah satu Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT., yang didampingi oleh Divisi Humas MER-C.
Siaran Pers
MER-C MENDUKUNG UNTUK DILAKUKANNYA TRANSPARANSI SAMPEL VIRUS FLU BURUNG
Terkuaknya konspirasi dalam penanganan virus flu burung yang dikelola oleh WHO, telah membuka mata dan menyadarkan kita akan adanya ketidakadilan dalam mekanisme pertukaran sampel virus flu burung yang selama ini berlaku di dunia. Menteri Kesehatan RI yang masih aktif menjabat saat ini, dengan lugas dan berani telah menguraikan konspirasi ini secara rinci dalam bukunya yang berjudul “Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan Dibalik Virus Flu Burung”, yang diluncurkan pada awal Februari 2008 lalu.
Saat ini Indonesia adalah salah satu negara pandemi flu burung dengan kategori virus (strain virus) yang terganas dari virus yang pernah ada. Virus AI pada manusia pertama kali ditemukan di Indonesia pada pertengahan tahun 2005. Hingga 3 Februari 2008, menurut data dari situs Departemen Kesehatan RI, jumlah kasus flu burung di Indonesia sudah mencapai jumlah 126 orang dengan 103 orang diantaranya meninggal dunia. Kondisi ini tentu sangat memrihatinkan. Angka kematian yang cukup tinggi membuat kita harus bergerak cepat untuk melakukan tindakan antisipasi dan menemukan anti virus untuk mencegah penularan yang lebih besar.
Sejak pertama kali ditemukan hingga Agustus 2006, Indonesia seperti negara-negara lainnya harus mengikuti mekanisme GISN (Global Influenza Surveilance Network) yang sudah berlaku selama lebih dari 50 tahun. Indonesia harus mengirimkan specimen virus ke WHO CC yang berada di Hongkong yang tentunya memerlukan waktu yang lama untuk mengetahui hasil diagnosa virus, sehingga sulit untuk memberi pertolongan cepat kepada pasien.
Selain hasil diagnosa yang lama, tidak ada trasparansi dalam proses penanganan virus tersebut sampai menjadi vaksin. Juga tidak ada virus sharing yang jelas bagi negara pengirim virus seperti Indonesia. Spesimen virus yang seharusnya dimanfaatkan untuk penyembuhan penyakit bagi kesejahteraan umat manusia (public health), malah menjadi milik negara-negara kaya yang kemudian akan dibuat vaksin. Namun vaksin ini tidak dapat diterima negara penyumbang virus dengan mudah dan murah, melainkan dengan harga yang sangat mahal.
Bahkan lebih mengkhawatirkan lagi, spesimen virus disinyalir disimpan di Los Alamos yang selama ini dikenal sebagai laboratorium pencipta senjata biologi (biological weapon). Apa jadinya dunia ini bila mekanisme seperti ini tetap kita dibiarkan?
MER-C sebagai sebuah lembaga sosial yang berfokus dalam bidang medis, memandang perlu untuk mendukung usaha yang telah dilakukan oleh Menteri Kesehatan dalam menegakkan keadilan dan transparansi di bidang medis, khususnya dalam penanganan virus flu burung.
Untuk itu, MER-C dengan ini menyatakan :
- Menuntut diubahnya mekanisme GISN (Global Influenza Surveilance Network);
- Menuntut laboratorium militer yang memproduksi senjatabiologi (biological weapon) untuk ditutup;
- Menuntut Pemerintah Indonesia untuk mempunyai kemandirian mengelola virus;
- Menuntut Pemerintah Indonesia agar dapat membuat early and rapid diagnostic test sendiri yang sesuai dengan kebutuhan kita, yaitu strain Indonesia;
- Menuntut Pemerintah untuk membuat pabrik vaksin sendiri yang sesuai dengan kebutuhan kita Indonesia;
- Menuntut adanya transparansi dalam proses pemberantasan penyakit-penyakit menular di dunia, apabila WHO tidak bisa, maka kami menuntut agar WHO dibubarkan;
- Meminta agar dunia kesehatan tidak dijadikan ladang bisnis yang “brutal” oleh perusahaan farmasi terutama vaksin yang berhubungan dengan kesehatan banyak orang (public health);
Jakarta, 10 Maret 2008



