Penanganan korban Gempa Sulbar memiliki kesulitan tersendiri. Tak banyak korban yang mau dibawa ke RS akibat takut Covid. Percaya tidak percaya, mau tidak mau kenyataan dilapangan adalah stigma "dicovidkan" masih menghantui para korban gempa. Hal ini cukup menambah tingkat kesulitan penanganan Gempa Sulbar. Sementara itu ada 3 RS yang masih bisa difungsikan oleh para ahli bedah ortopedi yang datang untuk mengoperasi para korban.



Banyaknya korban yang tidak mau ke RS ini menimbulkan resiko banyaknya "Neglected Cases" yang akan berujung kepada kematian atau kecacatan. Sementara itu masih banyak jalan-jalan ke desa-desa terdampak yang sulit dijangkau.

Tim Relawan MERC dan Ukhuwah Al Fatah Rescue pun melakukan "Mobile Disaster Triage" dengan menembus ke daerah-daerah yang sulit dijangkau seperti  dusun Kassa Botteng Mamuju. Medan yang dilalui cukup berat.

Menemui para korban, melakukan penilaian diagnosis tingkat cedera yang dialami oleh korban dan membangun komunikasi agar korban mau dibawa ke RS adalah salah satu upaya tim MER-C dilapangan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Disaster Triage berupa Case Finding & Referral Activity.

Selain itu Tim Bedah MER-C yang terdiri dari spesialis Orthopedi dan Traumatologi, dipimpin oleh Dr Zecky EkoTriwahyudi, SpOT MARS dan Dr Muhammad Mulky Yasin Asshoffat, SpOT  juga berkoordinasi membantu penanganan korban di RS yang masih bisa beroperasi.


Salam Kemanusiaan,

Dr. Yogi Prabowo, SpOT
Pendiri, Presidium dan Relawan MER-C

Dukung Sosial Media Kami

Langganan Info & Berita MER-C