Jakarta, 9 Jumadil Akhir 1435/9 April 2014 (MINA) – Masyarakat Gaza melaksanakan syariat hijab yang sangat kuat dan dididik sejak usia di bawah lima tahun (balita).

Hal itu dikisahkan oleh salah seorang relawan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), Karidi, saat ditemui MINA di Jakarta, Selasa (8/4).

 Pria asal Wonogiri itu belum lama kembali dari Gaza setelah turut membangun Rumah Sakit (RS) Indonesia di sana sekitar satu setengah tahun lamanya bersama para relawan dari jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah yang berpusat di Cileungsi, Bogor.

“Di masa balita, dari umur tiga sampai empat tahun ke atas, tidak ada anak-anak sebaya yang ngobrol atau main bareng antara anak laki-laki dan perempuan. Itu sudah sangat dijaga,” ujar Karidi.

“Jika terjadi obrolan antara anak sebaya lawan jenis, maka anak itu dianggap aib bagi keluarga,” tegasnya.

Relawan yang mengetuai bidang mekanikal elektrikal di pembangunan RS Indonesia itu mengisahkan, syariat hijab di masyarakat Gaza sangat kuat. Sejak sekolah sudah dipisah antara sekolah laki-laki dan perempuan.

Demikian pula dari segi ruangan tamu di rumah orang Gaza, sudah di tata sedemikian rupa. Ruang tamu memiliki kamar mandi sendiri. Jika tamu mau ke kamar mandi, tidak sampai nyelonong ke belakang hingga melihat ruangan-ruangan yang lain.

“Jika bertamu, kita juga tidak akan mungkin bisa melihat isteri pemilik rumah. Yang menyuguhkan makanan dan minuman adalah suaminya, bukan isterinya,” kata Karidi.

Dia melanjutkan bahwa rumah-rumah warga Gaza memiliki pagar yang tinggi dengan tujuan orang yang lewat di depan rumah tidak bisa melihat langsung ke dalam.

Demikian pula di tempat fasilitas umum, laki-laki dan perempuan sangat dibatasi.

“Masyarakat di sana sudah dididik sejak kecil, jika berjalan menundukkan pandangan. Tidak ada yang namanya berpapasan dengan lawan jenis saling tatap face-to- face,” tambahnya.

Selain itu, Karidi juga menceritakan betapa “luar biasanya” masyarakat dalam menyambut tamu, terutama terhadap para relawan yang sangat sering diundang untuk makan ke rumah warga. Terlebih ketika bulan Ramadhan saat berbuka puasa.

“Saya sangat salut sekali dengan orang Gaza, mereka sangat memuliakan tamu. Mereka sangat hebat dalam memuliakan tamu. Kalau di sini (Indonesia), mungkin cukup sediakan air putih, selesai. Di sana sampai pesan makanan, seolah-olah semua dikeluarkan.” (L/P09/R2)

Sumber : http://www.mirajnews.com/web/palestina-mb/17266-relawan-gaza-pendidikan-hijab-masyarakat-gaza-sejak-balita.html

 

 

 

 

 

 

 

 

Dukung Sosial Media Kami

Langganan Info & Berita MER-C