MER-C yang pernah menurunkan Tim Medisnya ke Poso ketika wilayah ini dilanda konflik pada tahun 2000 silam, kini akan kembali mengirimkan relawannya ke Poso. Hal ini dinyatakan salah satu Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT saat menghadiri pertemuan dan konferensi pers dengan Tim 13 yang digelar di Kantor Komnasham, Selasa/9 Agustus 2016.

Sebelumnya Komisioner Komnasham yang juga merupakan anggota Tim 13, Siane Indriani menawarkan MER-C untuk ikut terlibat dalam proses evakuasi 16 orang sisa kelompok Santoso, Presidium MER-C langsung merespon hal ini karena MER-C memiliki pengalaman melakukan misi kemanusiaan di wilayah konflik di Poso.

“Kita menganggap persoalan terorisme bukan lagi persoalan up to date. Program war on terror sudah banyak dipakai oleh si pembuatnya sendiri di Timur Tengah. Kita ingin di Indonesia persoalan ini juga selesai. Jangan sampai ini menjadi program yang dianggap penting di NKRI, karena di dunia lain juga sudah redup. Makanya kami ingin terlibat di sini. Ketika Ibu Siane menawarkan hal ini, kami langsung merespon ya,” tutur Joserizal.

MER-C berencana akan menugaskan 3 hingga 4 orang relawan ke Poso. Relawan yang dipilih untuk ditugaskan dalam misi kali ini adalah para relawan wanita yang akan terdiri dari dokter, perawat dan relawan non medis. MER-C akan membuka posko di Poso untuk jangka waktu 1 sampai 2 bulan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Presidium MER-C Joserizal menjelaskan bahwa fungsi relawan MER-C adalah masuk ke hutan dan menjemput 16 orang yang masih ada di hutan untuk kemudian membawanya turun. Hal ini dilakukan seandainya proses-proses operasi yang lain mengalami kebuntuan. Tim MER-C akan melakukan perawatan medis terhadap mereka jika ada yang mengalami hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan. Berdasarkan informasi, dari 16 orang tersebut juga terdapat 2 orang wanita sehingga Tim MER-C akan menyiapkan juga masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan wanita.

Hal lainnya yang penting dalam proses ini menurut Joserizal adalah jaminan amnesti bagi para DPO. “Kita perlu jaminan kalau mereka bisa diberikan amnesty. Kalau mereka tidak bisa diberikan amnesti mungkin kelompok ini bisa kita amankan tapi yang lain akan tumbuh lagi dan tingkat kepercayaan akan hilang.”

Selain mengirimkan relawan ke Poso, MER-C juga akan membantu operasi salah satu korban konflik Poso yang sampai saat ini masih terdapat peluru di badannya. Salah satu saksi hidup konflik Poso ini rencananya akan didatangkan ke Jakarta oleh Komnasham untuk menjalani pemeriksaan dan tindakan medis yang diperlukan.

Dukung Sosial Media Kami

Langganan Info & Berita MER-C