Suku Bajau Palau atau ‘gipsi laut’, begitu mereka disebut oleh masyarakat internasional, adalah masyarakat yang hidup secara nomaden di laut. Cakupan daerah pengembaraan mereka cukup luas, mulai dari perairan Malaysia, Indonesia, Filipina, sampai kepulauan di Samudera Pasifik. Budaya mengembara mereka sudah berlangsung lama jauh sebelum ada negara dan batas-batas wilayah. Dan seperti nasib suku-suku pengembara lain yang hidup menghindari peradaban, masyarakat suku Bajau Palau masih sangat sederhana sistim hidupnya, dan kepercayaan terhadap nenek moyang adalah religi mereka.

 Melalui surat bertanggal 12 Desember 2014, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI menyampaikan permohonan dukungan bantuan untuk nelayan suku Bajau di Tanjung Batu, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur kepada MER-C.

 

Masalah berawal dari ditangkapnya sekelompok perahu yang berisi suku ‘gipsi laut’, mereka yang selama ini banyak tinggal di Malaysia dan Filipina ternyata sudah memasuki perairan Indonesia tanpa izin, mengambil ikan secara ilegal, merusak terumbu karang dengan metode mencari ikan yang tidak memahami konsep konservasi.

Sebanyak 676 masyarakat Bajau Palau di’amankan’ pemerintah Indonesia dan di tempatkan di darat, lalu dilakukan pendataan dan penyelidikan. Proses ini memakan waktu 30 hari lebih karena ternyata banyak masalah administrasi terkait kewarganegaraan.

Atas dasar kemanusiaan dan menjawab surat permohonan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, maka MER-C mengirimkan Tim Relawannya untuk memberikan bantuan medis kepada warga Bajau Palau yang sudah mulai terserang penyakit. Tim berjumlah 8 orang yang terdiri dari 1 orang Dokter Spesialis Penyakit Dalam, 6 orang Dokter Umum dan 1 orang Koordinator Logistik.

Tim melakukan kegiatan kemanusiaan selama satu minggu, mulai tanggal 30 Desember 2014 sampai tanggal 3 Januari 2015. Kegiatan yang dilakukan terutama adalah Rapid Health Assesment, pemeriksaan antropometri, pengobatan kesehatan, promosi kesehatan, dan Blanket Treatment Ascariasis.

Kendala bahasa adalah tantangan terbesar yang dihadapi Tim MER-C karena suku Bajau Palau ini banyak yang tidak paham bahasa Indonesia, sehingga pemerintahan setempat seperti Puskesmas dan lembaga seperti PMI turut membantu dan mendampingi tim MER-C dengan seorang penterjemah.

Penyakit yang banyak diderita adalah ISPA, dyspepsia, diare, infeksi kulit bakteri, infeksi kulit jamur, iritasi kulit. Kasus diare mengalami peningkatan signifikan selama berada di penampungan karena masyarakat Bajau Palau yang tidak terbiasa hidup di darat.

Tidak hanya memberikan tindakan pengobatan, Tim MER-C juga mengajarkan kepada anak-anak cara mandi yang baik untuk menjaga kebersihan dan kesehatan diri. Karena kendala bahasa dan warga Bajau Palau yang tidak bisa baca tulis, maka penyuluhan tata cara mandi pun langsung dicontohkan oleh para relawan dengan memandikan beberapa anak dihadapan warga. Esok harinya, beberapa anak-anak terlihat sudah mempraktekkan cara mandi karena terlihat lebih bersih.

Di Akhir kegiatan, Tim MER-C memberikan presentasi mengenai hasil Rapid Health Assesment Tim yang diselenggarakan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan RI dan di hadiri pihak-pihak terkait seperti Departemen Kelautan, Dinas Kelautan, Kapolres, dan pimpinan daerah setempat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dukung Sosial Media Kami

Langganan Info & Berita MER-C