Istanbul - pada tanggal 25 Maret 2014 telah diadakan konferensi  Mavi Marmara Search for Justice, "Not the law of the strong but justice for all" di Ali Emiri Kultur Merkezi, Istanbul, Turki.  Konferensi yang digagas oleh IHH ini bertujuan untuk menyatukan misi dan visi dalam usaha menuntut Israel atas kejahatannya di kapal Mavi Marmara khususnya dan Freedom Flotilla pada umumnya.

 

Pada sesi pembuka, ketua IHH Bulent Yildirim mengatakan bahwa walaupun terdapat banyak sekali tantangan yang dihadapi dalam menuntut Israel, di mana bahkan para hakim di Turki menolak kasus pembunuhan atas Furkan Dogan, akan tetapi ini adalah untuk pertama kalinya Israel dituntut oleh berbagai negara untuk kasus yang sama, yang mana ini berarti bahwa Israel sedang mengalami gangguan terbesar dalam sejarah penjajahan mereka.

Sementara itu, Dror Feiler, yang merupakan mantan warga negara Israel menegaskan bahwa sudah seharusnya Israel diseret ke Mahkamah yang juga telah membawa Milosevich di Den Hague.

Ahmet Dogan, ayahanda dari Syahid Furkan Dogan mengatakan bahwa anaknya yang merupakan warga negara Amerika Serikat sekalipun tidak mendapatkan keadilan di Mahkamah Amerika Serikat, karena hukum di Amerika Serikat tidak memungkinkan dilakukannya tuntutan kriminal atas negara Israel, karena belum ada kesepakatan dengan negara tersebut sampai saat ini.

Greta Berlin menceritakan asal mula gerakan pelayaran menembus Gaza yang dipelopori antara lain oleh Greta sendiri bersama empat orang lainnya di tahun 2008.

Dimitri Plionis menjelaskan bahwa harus ada kesamaan persepsi bahwa Freedom Flotilla merupakan inisiasi internasional yang terdiri dari 36 negara, bukan hanya inisiasi negara Turki.

 Ziyad Patel yang merupakan pengacara dari Gadija Davids (Afrika Selatan) membandingkan sistem Apartheid yang terjadi di Afrika Selatan Adam yang sedang berlangsung di Palestina. Ziyad mengatakan bahwa kolonialisme internasional sangat dikecam oleh masyarakat internasional dan hal ini dapat diangkat dalam tuntutan terhadap Israel.

Prof Dr Ali Emrah Bozbayindir menjelaskan bahwa ada dua hal yang dapat membuat kasus ini menjadi lebih strategis, yaitu bahwa penyerangan terhadap bala bantuan kemanusiaan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang serius, sementara apabila kita dapat membuktikan bahwa pembunuhan dilakukan dengan cara "excecution style", ini dapat menghilangkan alibi Israel bahwa mereka melakukan sela defence di kapal Mavi Marmara.

Hadir juga sebagai pembicara di antaranya Ismail Bilgen, anak dari Syahid Ibrahum Bilgen, Ugur Yildirim, Yasin Samli, Ahmet Turk dari Palestina, Gonzales Boye dari Spanyol, Gilles Dever dari Perancis dan Gulden Sonmez dari IHH.

 

 

 

 

 

 

 

 

Dukung Sosial Media Kami

Langganan Info & Berita MER-C