Istanbul - Pada tanggal 27 Maret 2014 telah diadakan sidang lanjutan atas kasus penyerangan terhadap Freedom Flotilla 2010 yang menyebabkan kematian 9 aktifis di atas kapal Mavi Marmara.
Sidang kali ini memanggil sebagian dari panitia penyelenggara Freedom Flotilla asal Turki, yaitu mereka yang bertanggung jawab mengawal kapal Mavi Marmara dan kapal kargo bernama Defne Y yang saat itu membawa di antaranya bahan bangunan untuk digunakan di Gaza, Palestina.

Dilaver Kutluay, yang berada di atas kapal Defne Y ketika penyerangan terjadi, dalam kesaksiannya menceritakan bagaimana ia dapat melihat tentara Israel menembak tanpa henti, melempar bom gas dan mengarahkan laser senjata ke arah kapal Mavi Marmara. Ia juga mendengar jeritan dari orang-orang yang berada di atas kapal Mavi Marmara yang membuat ia yakin bahwa banyak orang yang terluka di sana.

Dilaver mengingat bahwa setidaknya ada 20 orang tentara Israel yang menaiki kapal Defne Y. Dilaver juga menggarisbawahi mengenai adanya orang yang mengaku sebagai orang Yahudi yang berbicara bahasa Turki dengan sangat fasih sebagaimana orang Turki pada umumnya, yang mengaku sebagai perwakilan konsulat Turki di Israel, memaksa penumpang Defne Y untuk menandatangani sebuah dokumen sambil mengancam bahwa jika dokumen ini tidak ditandatangani maka hukumannya adalah 10 tahun penjara di Israel.

Dilaver mengaku bahwa barangnya diambil, ditelanjangi beberapa kali, dipukuli beberapa kali bahkan ketika ingin membantu kawan yang terluka di penjara Ashdod.

Dilaver menambahkan bisa bahwa ada tentara Israel yang berbicara kepada kapten Kapal Defne Y dengan menggunakan bahwa Turki yang sangat fasih, dan ketika ditanya, tentara Israel ini menjawab bahwa ia berasal dari Istanbul.

Omer, yang berada di atas kapal Mavi Marmara ketika penyerangan terjadi mengatakan bahwa sampai saat ini ia masih trauma atas kejadian yang ia alami hampir empat tahun lalu, karena ia selalu berpikir bahwa tentara Israel akan datang dan turun dari helikopter ke teras rumahnya.

Di akhir sesi kesaksian kali ini para pengacara menyatakan tuntutannya kepada pengadilan. Mereka mengatakan bahwa dalam hukum Turki kasus ini masuk ke dalam kategori penyiksaan sistematis maka para hakim harus melakukan prosedur penangkapan terhadap General Gavriel Ashkenazi, Admiral Eliezer Marom, Brigadier General Avishai Levi, dan Major General Amos Yaldin. Para pengacara juga menegaskan bahwa hak asasi manusia terletak di atas semua hukum, dan para tertuntut harus mematuhi semua perintah pengadilan dan menjelaskan alasan perbuatan mereka. Para pengacara juga menuntut para hakim untuk membekukan kekayaan ke empat orang tersebut. Para pengacara juga mempertanyakan hubungan antara kepolisian Turki dan Israel karena ketika paspor salah satu warga Turki dikembalikan setelah disita di Israel, dan ditanyakan kepada polisi, siapa yang memberikan paspor ini kepada mereka, polisi ini hanya meminta penumpang Mavi Marmara ini untuk tidak banyak bertanya.

Di akhir persidangan, hakim mengumumkan bahwa keputusan untuk melakukan prosedur penangkapan akan dilakukan di sidang berikutnya yang jatuh pada tanggal 26 Mei 2014.

 

 

 

 

 

 

 

 

Dukung Sosial Media Kami

Langganan Info & Berita MER-C