Selain menyalurkan bantuan kepada korban konflik dan pengungsi di Rakhine State, Tim ke-2 MER-C untuk Myanmar juga mengunjungi nelayan Indonesia yang saat ini ditahan di Yangon. Nelayan Indonesia yang berjumlah 55 orang ditahan otoritas Myanmar karena melanggar batas wilayah perairan Myanmar. Sudah satu tahun lebih para nelayan ini ditahan dan KBRI di Yangon tengah mengupayakan pembebasan mereka.

 Kunjungan ini dimungkinkan setelah Kedutaan Besar RI di Yangon memfasilitasi izin bagi Tim MER-C. Awalnya Tim MER-C berharap dapat melakukan juga pemeriksaan kesehatan kepada para nelayan asal Indonesia tersebut. Namun ternyata hal ini belum memungkinkan karena diperlukan waktu lebih lama untuk pengurusan izin untuk pemeriksaan kesehatan.

Rabu (25 Februari 2015), sekitar pukul 2 siang, didampingi staf KBRI Yangon, Tim MER-C menuju lokasi penahanan 55 nelayan Indonesia. Pada kesempatan tersebut, Tim MER-C juga membawa bantuan berupa 70 paket tikar dan kaos kaki yang akan dibagikan kepada para nelayan. Bantuan ini diharapkan dapat sedikit membantu para nelayan Indonesia ini melawan dinginnya ruang tahanan.

Sekitar satu jam, Tim MER-C yang diketuai dr. Meaty Fransisca bertemu dan berbincang dengan para nelayan asal Indonesia.

“Sebenarnya para nelayan tersebut tidak mengetahui kalau mereka telah melanggar batas perairan,” ujar dr. Meaty yang telah dua kali mengikuti Misi Kemanusiaan MER-C ke Myanmar. “Kami turut prihatin dan berharap Pemerintah Indonesia melalui KBRI Yangon dapat segera membantu proses pembebasan para nelayan ini,” lanjut dr. Meaty.

Dr. Meaty juga menambahkan bahwa pada pertemuan tersebut para nelayan meminta bantuan buku-buku bacaan berbahasa Indonesia, khususnya buku-buku yang dapat meningkatkan keimanan mereka.  “Bahan bacaan sangat diperlukan untuk mengisi waktu selama dalam tahanan. Sudah setahun lebih ini mereka tidak menemukan bahan bacaan berbahasa Indonesia. Selama dalam tahanan juga nyaris tidak ada yang bisa dikerjakan. Apabila hal ini terus berlanjut mereka khawatir bisa menjadi stress,” ungkap dr. Mea, sapaan akrab dr. Meaty.

Untuk itu, usai kepulangan Tim dari Myanmar, MER-C langsung mengirimkan satu paket buku-buku melalui staf Kemenlu RI yang akan berangkat ke Myanmar. Menurut info dari KBRI Yangon, paket buku-buku tersebut sudah diterima oleh para nelayan Indonesia di Yangon.

 

 

 

 

 

 

 

 

Dukung Sosial Media Kami

Langganan Info & Berita MER-C