Serangan Israel di penghujung bulan Ramadan dan Idul Fitri terhadap Palestina membangkitkan reaksi warga negara Indonesia dan Internasional. Solidaritas dunia diwujudkan dalam bentuk kepedulian ingin membantu donasi kepada Palestina. Hal tersebut membutuhkan wadah penyaluran bantuan yang amanah dan memastikan bahwa bantuan benar-benar sampai.

Untuk menyalurkan bantuan ke Palestina tidaklah mudah, apalagi ke Gaza. MER-C membutuhkan waktu 5 tahun untuk merampungkan pembangunan RS Indonesia di Gaza sampai diresmikan pada tahun 2016 oleh Pak Jusuf Kalla sebagai wakil dari pemerintah. Hingga kini genap 5 tahun RS Indonesia di Gaza memberikan banyak manfaat bagi warga Gaza untuk menolong korban-korban konflik dan peperangan.


Suka duka pembangunan RS Indonesia di Gaza begitu mewarnai perjuangan relawan MER-C. Mulai dari pengumpulan donasi yang berasal dari seluruh rakyat Indonesia baik yang miskin hingga yang kaya, dari majlis taklim, ibu-ibu arisan, tabligh akbar, hingga gereja-gereja ikut mendonasikan. Kisah-kisah anak-anak sekolah SD, SMP yang mengumpulkan uang recehan untuk disumbangkan, tukang-tukang kaki lima yang ikut menggalang dana demi terwujudnya RS Indonesia di Gaza.


Pembangunan RS Indonesia adalah pertolongan Allah SWT semata, bukan karena kehebatan manusia. Tak terbayangkan membangun RS di Gaza, suatu tempat yang diisolasi dan penuh dengan konflik. Untuk masukpun tidak mudah apalagi membangun RS. Untuk datangnya pertolongan Allah SWT tersebut tentu ada syaratnya, keikhlasan, kesungguhan, upaya keras, menjaga amanah harus dilakukan. Para sukarelawan harus "stay" di dalam 1 - 2 tahun untuk melakukan dan mengawal proses pembangunan.


Proses pembangunan dimulai dengan melakukan lobi yang alot kepada pemerintah Palestina di Gaza. Rasa curiga warga Gaza yang tinggi terhadap orang asing yang baru masuk membuat upaya tidak mudah. Bisa dipahami mengapa rasa curiga mereka tinggi. Selain banyak spionase yang menyamar organisasi kemanusiaan, juga banyaknya orang-orang yang "jualan" penderitaan rakyat Gaza untuk menarik donasi tanpa jelas penyaluran amanahnya. Mereka ini para broker, bisa perorangan solo karir, bisa juga berupa organisasi. Sementara itu mereka tahu bahwa animo warga dunia untuk membantu Palestina sangat besar, namun tidak bisa masuk ke Gaza atau Palestina.


Alhamdulillah MER-C sudah melalui ujian tersebut dan mendapatkan tempat di hati warga Gaza, karna wujud nyata bantuan berupa RS megah di Gaza. Untuk mendapatkan tanah tempat dibangunnya RS juga memerlukan lobi yang alot. Tidak akan bisa kalau kita hanya transfer dana mempercayakan kepada orang lokal untuk mewujudkan RS. Tarik menarik, tawar menawar mulai dari posisi tanah, status tanah, tender pekerjaan dll harus dihadapi dengan keteguhan hati dan tekad membaja. Setiap pekerjaan harus dikawal sendiri oleh para sukarelawan, walaupun ada juga memperkerjakan orang lokal


Akhirnya alhamdulillah di penghujung tahun 2015 RS tersebut rampung, menjadi kebanggaan rakyat Indonesia. Jadi sebagai hikmah pelajarannya dalam mendonasikan dan membangun apapun di Palestina :


1. Harus "stay" di dalam Palestina, mengawal
2. Jangan menggunakan broker-broker solo karir tanpa audit atau organisasi yang banyak beriklan sementara tidak ada wujud nyata bantuan
3. Mengetahui situasi geopolitik di Palestina, status kepemilikan tanah dll
4. Berjamaah, bahu membahu dengan para sukarelawan
5. Niat ikhlas, tangguh dan istiqomah


Semoga niat-niat baik rakyat Indonesia dalam membantu warga Palestina bisa terealisasikan dengan baik dan amanah.


Dan mudah-mudahan para dermawan yang mendonasikan untuk pembangunan RS Indonesia di Gaza mendapat pahala selayaknya para pejuang Palestina


Aamiin YRA


Salam Kemanusiaan

Dr. Yogi Prabowo, SpOT
Pendiri, Presidium dan Relawan MER-C

Dukung Sosial Media Kami

Langganan Info & Berita MER-C