Press Conference conducted by Freedom Flotilla Coordinator

Istanbul – Today (28/3) was conducted a press conference by koordinator Fredoom Flotilla’s coordinator and lawyers representing prosecutors in a case of Israeli’s army attack toward the crew of Freedom Flotilla. Adnan Wirawan of TPM ( Muslim’s Lawyers team) has questioned on what to do if Turkey’s court decided to close the case, and IHH Chairman Bulent Yildirim has answered the fact since the beginning Freedom Flotilla has won the case. He also mentioned that Turkey’s law also has provided clear foundation that in a case like this, the four Israeli Generals would be immediately arrested. According to Bulent, a “public case” could not be covered according to Turkey’s law since each court’s session conducted would show to the world that the case has still been going on. Bulent also said if only the case was closed by the judges, therefore it only showed the defeat of Turkey, since the case is a great opportunity to show its national law power. And even if the case was closed, the Mavi Marmara ship is still available and ready to be used in re-sailing to Gaza.
Hakim MA : Bantu Palestina Lebih Utama Karena Belum Merdeka

Jakarta, 27 Jumadil Awwal 1435/28 Maret 2014 (MINA) – Hakim Tinggi Mahkamah Agung Pri Pambudi Teguh menilai rakyat Palestina seharusnya lebih utama mendapat bantuan dari rakyat Indonesia karena negeri itu satu-satunya yang belum merdeka di dunia hingga sekarang. Hal itu disampaikan oleh Pri Pambudi kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) seusai menyalurkan donasinya untuk rakyat Palestina melalui lembaga kemanusiaan di bidang kegawatdaruratan, MER-C (Medical Emergency Rescue – Committee) di Jakarta, Jumat. “Alasan saya berdonasi untuk rakyat Palestina, karena mereka belum merdeka. Jika di negara-negara lain, Muslimin sudah merdeka tapi mereka teraniaya di negerinya. Berbeda untuk Palestina, selain mereka teraniaya, mereka juga sedang memperjuangkan kemerdekaannya,” kata Hakim Tinggi yang juga mengajar di beberapa universitas itu. Pri mengaku, dirinya sudah lama simpati dengan perjuangan rakyat Palestina dan secara pribadi ia hanya bisa berdoa kepada Allah. Baru pada kesempatan ini ia akhirnya mendonasikan sebagian hartanya untuk rakyat Palestina melalui MER-C. Menurut pria asli Jawa Tengah itu, sudah sepatutnya rakyat Indonesia mendukung dan membantu perjuangan rakyat Palestina, karena jauh sebelumnya, rakyat Palestina sudah membuat dukungan terbuka bagi kemerdekaan Republik Indonesia. “Itu wujud nyata pengorbanan rakyat Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia,” kata Pri. Ia mengungkapkan, sebelum Indonesia merdeka, sudah ada pengusaha kaya raya Palestina yang mengorbankan hartanya untuk kemerdekaan Indonesia. Pri juga menyampaikan apresiasinya kepada MER-C yang dinilainya telah memberikan sumbangsih terhadap apa yang dibutuhkan oleh masyarakat Gaza dengan pelaksanaan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza yang merupakan rumah sakit traumatologi khusus untuk korban perang. “Pembangunan rumah sakit traumatologi yang diprakarsai oleh MER-C adalah tepat sasaran. Sebab, setelah Perang Gaza 2008-2009, di mana wilayah yang terblokade digempur habis-habisan oleh Israel, hampir tidak ada rumah sakit yang sanggup menangani trauma akibat perang itu,” katanya. Pembangunan Rumah Sakit Indonesia oleh MER-C yang bekerjasama dengan relawan dari jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah se-Indonesia, telah selesai dalam pembangunan. Kini memasuki tahap ketiga, yaitu pengadaan alat kesehatan. Dana pembangunan tersebut murni berasal dari rakyat Indonesia yang mayoritas dari kalangan menegah ke bawah. Meski dibangun di daerah konflik yang sewaktu-waktu penjajah Israel menembakkan roket, namun sejak pembangunan dimulai pada 14 Mei 2011, rumah sakit tidak pernah mengalami serangan. Melalui MINA, Pri juga menghimbau para donatur yang lain agar tidak pernah berhenti membantu saudara-saudara mereka di negeri lain, khususnya bagi rakyat Palestina. “Meskipun hanya sekedar doa di dalam hati. Saya juga melihat, ada saudara-saudara kita yang hanya bermodal tenaga, dengan ikhlas meninggalkan keluarganya untuk membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza sesuai dengan keahliannya,” tambahnya. (L/P09/P04/EO2). Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/nasional/16748-hakim-ma-bantu-palestina-lebih-utama-karena-belum-merdeka.html
Laporan Tim MER-C Terkait Konferensi Pers Penyerangan Freedom Flotilla di Turki

Istanbul – Pada hari ini (28/3) telah diadakan konferensi press oleh koordinator Fredoom Flotilla dan pengacara yang mewakili para penuntut atas kasus di mana tentara Israel melakukan penyerangan terhadap awak Freedom Flotilla. Adnan Wirawan dari TPM ( Tim Pengacara Muslim) bertanya apa yang akan dilakukan jika peradilan Turki memutuskan untuk menutup kasus ini, dan dijawab oleh ketua IHH Bulent Yildirim bahwa sebenarnya sejak awal pihak Freedom Flotilla telah memenangkan kasus ini. Hukum yang ada di Turki pun sebenarnya sudah menyediakan landasan yang jelas bahwa dalam kasus seperti ini ke empat Jenderal Israel yang dituntut segera ditangkap. Sebuah “public case” tidak dapat ditutup menurut hukum yang berada di Turki. Setiap sidang yang dilaksanakan menunjukkan kepada dunia bahwa kasus ini masih berjalan. Jika pun kasus ini akhirnya ditutup oleh para hakim, maka ini hanya menunjukkan kekalahan dari pihak negara Turki, karena kasus ini merupakan kesempatan besar untuk menunjukkan kekuatan hukum negaranya. Dan kalaupun kasus ini ditutup, maka kapal Mavi Marmara ada, dan dapat digunakan untuk kembali berlayar menuju Gaza.