Tim Assessment MER-C Kembali ke Tanah Air Usai Rampungkan Misi Kemanusiaan di Lebanon

Jakarta – Relawan medis MER-C Indonesia pada 13 Juni 2026 kembali ke tanah air setelah menyelesaikan tugas assessment kebutuhan bantuan kemanusiaan di Lebanon. Kepulangan tim disambut oleh keluarga, relawan, dan staf MER-C di Bandara Soekarno-Hatta. Tim assessment yang terdiri dari dr. Tonggo Meaty Fransisca, dr. Arief Rachman, Sp.Rad., dan Wirsal Adiansyah Harahap, S.Kep., Ners., berhasil melakukan penilaian awal terhadap kebutuhan medis yang paling mendesak serta memetakan wilayah-wilayah potensial untuk penyaluran bantuan kemanusiaan untuk tahap selanjutnya. Selama bertugas, tim banyak melakukan koordinasi dengan Emergency Medical Team (EMT) Lebanon serta sejumlah rumah sakit di wilayah Beirut dan kawasan perbatasan Lebanon selatan. Tim juga berkesempatan masuk ke Lebanon selatan untuk melihat bukti-bukti kehancuran, bahkan merasakan langsung bagaimana suasana perang di daerah tersebut. Seluruh hasil assessment dan temuan lapangan akan dibahas di Markas Pusat MER-C di Jakarta sebagai bahan tindak lanjut, yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat terdampak serangan penjajah Israel di Lebanon. MER-C Indonesia mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah memberikan doa, dukungan, dan kepercayaan selama pelaksanaan misi kemanusiaan ini. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/reel/DafHfukzRrS/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA== Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah
Tim MER-C Saksikan Langsung Eksodus Warga Lebanon Selatan di Tengah Meningkatnya Serangan

Beirut – Tim MER-C Indonesia untuk misi kemanusiaan Lebanon menyaksikan secara langsung eksodus warga dari wilayah Lebanon selatan setelah penjajah Israel mengeluarkan perintah evakuasi. Pada 9 Juni 2026, tim MER-C akan menuju Kota Saida di Lebanon selatan untuk menyalurkan bantuan roti kepada para pengungsi yang terdampak serangan penjajah Israel. Di tengah perjalanan, tim berada di tengah kemacetan panjang akibat padatnya kendaraan warga yang meninggalkan wilayah Lebanon selatan. Ketua Tim, dr. Tonggo Meaty Fransisca, mengatakan bahwa warga Lebanon selatan berbondong-bondong pergi menggunakan kendaraan pribadi. Bahkan, sebagian warga terpaksa berhenti dan tinggal sementara di pinggir jalan. Ia menjelaskan bahwa warga berupaya menyelamatkan diri menuju Beirut akibat meningkatnya intensitas serangan di wilayah Lebanon selatan. “Hari ini penduduk Lebanon selatan berbondong-bondong pindah karena ada perintah dari penjajah Israel untuk segera keluar dari wilayah Lebanon selatan,” ujarnya. Konflik Israel–Lebanon kembali memanas sejak 2 Maret setelah meningkatnya serangan antara Israel dan Hezbollah yang memicu eskalasi militer lebih luas di wilayah Lebanon selatan hingga Beirut. Konflik ini membawa dampak kemanusiaan yang besar bagi warga Lebanon. Lebih dari satu juta orang terpaksa mengungsi, sementara banyak rumah, sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur sipil mengalami kerusakan. Warga juga menghadapi keterbatasan layanan kesehatan, tempat tinggal, dan kebutuhan hidup akibat situasi keamanan yang terus memburuk. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/reel/DaUn4iQTw83/?igsh=MXRlMHAwMGZxbGd6OQ== https://vt.tiktok.com/ZSCXR1yvM Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah
MER-C Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Serangan Israel di Lebanon Selatan

Saida – MER-C Indonesia pada Selasa (9/6/2026) menyalurkan bantuan 600 bungkus roti dan 100 food box di salah satu kamp pengungsi di Saida, Lebanon, yang berada di gedung yang sebelumnya dikenal sebagai Justice Building. Bantuan ini disalurkan setelah Tim MER-C melakukan asesmen dan menilai perlunya kebutuhan mendesak bantuan kemanusiaan bagi para pengungsi di kamp tersebut. Kota Saida menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi pengungsi korban serangan penjajah Israel, mengingat letaknya yang berbatasan dengan wilayah Lebanon Selatan. Kamp pengungsian ini telah beroperasi selama sekitar tiga bulan dan saat ini menampung sekitar 93 kepala keluarga, terdiri dari anak-anak hingga lansia. Selain di Saida, Tim MER-C juga menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa food box dan paket hygiene kit bagi pengungsi Palestina di Kamp Shatila. Tim juga melaksanakan layanan mobile clinic untuk membantu kebutuhan kesehatan para pengungsi. Melalui rangkaian kegiatan ini, MER-C Indonesia berharap dapat memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat yang terdampak konflik di Lebanon, khususnya dalam aspek kesehatan dan pemenuhan kebutuhan dasar. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama dengan mitra lokal serta memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kebutuhan kemanusiaan yang masih memerlukan dukungan pada masa mendatang. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/reel/DaKytloz0NM/?igsh=emtka21uemIzZnJ0 https://vt.tiktok.com/ZSCfE4VXX Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah
MER-C Salurkan Ratusan Paket Bantuan untuk Pengungsi di Kamp Shatila, Lebanon

Beirut – MER-C Indonesia menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa 100 hygiene kit, 200 paket makanan, dan 600 boks roti kepada para pengungsi di Kamp Shatila, Lebanon, pada Rabu (10/6). Paket bantuan tersebut dibagikan secara langsung oleh tim MER-C yang tengah melakukan assessment misi kemanusiaan di Lebanon. Kamp Shatila, yang didirikan sejak tahun 1949, merupakan salah satu kamp pengungsi Palestina tertua di Lebanon. Kamp ini dihuni sekitar 11.600 pengungsi Palestina yang terdaftar, sementara jumlah penduduk yang benar-benar tinggal di dalam kamp diperkirakan mencapai 14.000–15.000 jiwa, termasuk pengungsi Suriah dan kelompok rentan lainnya. Sejak meningkatnya konflik dengan Israel pada 2 Maret 2026, Kamp Shatila turut merasakan dampak krisis kemanusiaan. Meskipun bukan merupakan lokasi pengungsian resmi, kamp ini menerima tambahan keluarga pengungsi yang berasal dari wilayah Tyre (Sour), Al-Buss, Burj Al-Shemali, serta sebagian warga dari kawasan Dahiyah, Beirut Selatan, yang terdampak serangan. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/p/DaCb4rZk6EM/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA== Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah
MER-C Indonesia Gelar Pelayanan Kesehatan untuk Pengungsi di Kamp Shatila, Beirut

Beirut – Sebagai bagian dari misi kemanusiaan di Lebanon, tim MER-C Indonesia bekerja sama dengan mitra lokal Al-Shifaa for Medical & Humanitarian Services pada Rabu (10/6/2026) menggelar pelayanan kesehatan untuk para pengungsi di Kamp Shatila, Beirut. Sebanyak 77 orang menerima pelayanan kesehatan, dengan mayoritas kasus yang ditangani berupa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan batuk. Tim MER-C juga mengunjungi langsung beberapa pengungsi yang menderita penyakit kronis, di antaranya pasien pascastroke serta penderita diabetes dengan komplikasi. Mereka merupakan pengungsi dari Lebanon Selatan pascaserangan pada 2 Maret 2026. Kegiatan pelayanan kesehatan ini dilaksanakan sebagai upaya memenuhi kebutuhan layanan kesehatan dasar bagi para pengungsi di Lebanon yang telah hampir dua tahun tidak mendapatkan layanan kesehatan secara memadai. Kondisi ini semakin memprihatinkan seiring meningkatnya jumlah pengungsi di tengah serangan penjajah Israel. Melalui kegiatan ini, MER-C memberikan pemeriksaan kesehatan, konsultasi medis, serta penanganan awal terhadap berbagai keluhan kesehatan yang dialami para pengungsi. Kegiatan ini berlangsung dengan tertib dan mendapat sambutan hangat dari para pengungsi yang antusias mengikuti pemeriksaan kesehatan. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/reel/DaAOXEDTq8e/?igsh=bzB3anlsZzNyZTZk https://vt.tiktok.com/ZSCYugww1 Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah
MER-C Lihat Langsung Kerusakan RS Jabal Amel di Lebanon Selatan, Identifikasi Kebutuhan Mendesak

Beirut – Tim MER-C pada Sabtu (6/6/2026) meninjau langsung kondisi Rumah Sakit Jabal Amel di Kota Tyre, Lebanon Selatan, yang terdampak serangan penjajah Israel. Tim menyaksikan kerusakan parah akibat serangan tersebut. Sejumlah fasilitas seperti laboratorium medis, ruang perawatan intensif (ICU), dan area parkir mengalami kerusakan berat, dengan puing-puing berserakan dan langit-langit yang jebol. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan 4 orang dan melukai 127 orang, dengan sebagian besar korban luka merupakan tenaga medis rumah sakit. Selain meninjau kondisi rumah sakit pasca serangan, kedatangan Tim MER-C juga bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang diperlukan oleh Rumah Sakit Jabal Amel yang merupakan salah satu pusat layanan medis utama di Kota Tyre, Lebanon Selatan. Selengkapnya di link ini ____________________ Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah
Kunjungi Kamp Shatila di Beirut, MER-C Soroti Krisis Kemanusiaan dan Kepadatan Pengungsi

Beirut — Tim MER-C Indonesia pada 1 Juni 2026 mengunjungi Kamp Pengungsi Shatila di Beirut, kamp pengungsian Palestina tertua di Lebanon yang berdiri sejak tahun 1949. Tim juga sempat mengunjungi makam para syuhada korban pembantaian Israel pada tahun 1982. Kamp Shatila turut merasakan dampak krisis kemanusiaan di tengah meningkatnya konflik sejak 2 Maret 2026. Meskipun bukan lokasi pengungsian resmi, kamp ini menerima tambahan keluarga pengungsi dari berbagai wilayah, di antaranya Tyre (Sour), Al-Buss, Burj Al-Shemali, serta sebagian warga dari kawasan Dahiyah, Beirut Selatan, yang terdampak serangan. Bahkan saat kunjungan Tim MER-C, Kamp Shatila kembali menerima pengungsi dari wilayah Dahiyah akibat adanya seruan evakuasi menyusul ancaman serangan bom di kawasan tersebut. Selama kunjungan, Tim MER-C meninjau kondisi permukiman, pusat layanan kesehatan, serta berdiskusi dengan pengelola kamp. Dari hasil pemantauan, ditemukan sejumlah tantangan yang dihadapi, antara lain: 1. Kepadatan penduduk yang sangat tinggi.2. Keterbatasan akses air bersih dan sanitasi.3. Meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan primer serta ketersediaan obat-obatan.4. Tingginya angka kemiskinan dan ketergantungan terhadap bantuan kemanusiaan.5. Meningkatnya kebutuhan dukungan psikososial, khususnya bagi anak-anak dan perempuan yang mengalami trauma akibat konflik. Kondisi ini semakin memperkuat perlunya dukungan kemanusiaan yang berkelanjutan, terutama dalam bidang kesehatan, pangan, sanitasi, serta perlindungan bagi kelompok rentan. Saat ini, Shatila dihuni sekitar 11.600 pengungsi Palestina yang terdaftar. Namun, jumlah penduduk yang benar-benar tinggal di dalam kamp diperkirakan mencapai 14.000–15.000 jiwa, termasuk pengungsi Suriah dan kelompok rentan lainnya. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/p/DZwnvEfEyTS/?igsh=MTUxMnMxaHZoNm5tZQ== https://www.facebook.com/share/p/18cJGLXxed/?mibextid=wwXIfr https://vt.tiktok.com/ZSQ74CQ7u/ https://x.com/mercindonesia/status/2067877928785133907?s=46 ____________________ Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah
Tim MER-C Tinjau Kebutuhan Layanan Luka Bakar di Turkish Hospital di Lebanon

Saida – Tim MER-C untuk misi kemanusiaan Lebanon pada Sabtu (6/6/2026) mengunjungi Turkish Trauma and Emergency Hospital di Saida, Lebanon Selatan. Kunjungan ini untuk meninjau secara langsung kebutuhan bantuan di unit luka bakar (burn unit) rumah sakit tersebut, yang saat ini menerima banyak pasien trauma seiring meningkatnya eskalasi konflik dengan Israel. Direktur rumah sakit, dr. Noura Shakaroun, menjelaskan bahwa burn unit di Turkish Hospital telah tersedia, baik dari sarana maupun sumber daya manusia (SDM). Pada awal tahun, rumah sakit menerima bantuan peralatan serta pelatihan penanganan trauma luka bakar dari lembaga amal Inggris. Saat ini, rumah sakit juga memiliki satu dokter spesialis bedah rekonstruksi dan telah siap menangani pasien luka bakar yang dirujuk ke fasilitas mereka. Dr. Noura menuturkan, kebutuhan yang sebenarnya ingin dikembangkan lebih luas adalah departemen pediatrik secara menyeluruh, baik untuk penanganan kasus trauma, termasuk luka bakar, maupun kasus non-trauma. Rumah sakit bahkan telah menyiapkan ruangan khusus untuk departemen anak, termasuk Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dengan kapasitas lima tempat tidur. Karena kebutuhan yang dihadapi lebih besar daripada sekadar unit luka bakar anak, kebutuhan pendukung yang diperlukan pun semakin luas, mulai dari peralatan medis, bahan habis pakai, tenaga kesehatan, hingga pelatihan agar layanan pediatrik dapat berjalan secara menyeluruh, mulai dari instalasi gawat darurat (IGD), rawat inap, hingga PICU. Harapannya, departemen ini dapat terus beroperasi secara berkelanjutan meskipun tim bantuan internasional telah menyelesaikan tugasnya. Secara umum, dr. Noura menyampaikan bahwa pihaknya lebih memilih bantuan dalam bentuk peralatan dan pelatihan dibandingkan bantuan dana tunai. Selengkapnya di link ini ____________________ Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah
MER-C Kunjungi KBRI Lebanon, Perkuat Koordinasi untuk Penyaluran Bantuan Kemanusiaan

Beirut – Tim MER-C untuk misi kemanusiaan Lebanon pada Rabu (3/6/2026) berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Baabda, selatan Beirut. Kedatangan tim MER-C disambut hangat oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Lebanon, H.E. Dicky Komar, beserta jajaran staf KBRI. Dalam pertemuan tersebut, Dubes Dicky menyampaikan apresiasi atas upaya kemanusiaan yang dilakukan MER-C bagi masyarakat Lebanon. Dubes juga menjelaskan terkait perkembangan situasi konflik di Lebanon, termasuk peristiwa penyerangan Kontingen Garuda yang bertugas dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) beberapa waktu lalu. Tim MER-C kemudian memaparkan hasil survei lapangan serta sejumlah pertemuan yang telah dilakukan dengan mitra lokal, antara lain Al-Shifaa for Medical & Humanitarian Services, Public Health Emergency Operations Center (PHEOC), dan EMT Liaison. Tim juga menyampaikan berbagai kebutuhan bantuan yang saat ini diperlukan oleh masyarakat Lebanon. Dubes berharap MER-C terus menjalin komunikasi dan koordinasi dengan KBRI terkait seluruh aktivitas kemanusiaan yang dijalankan di Lebanon. Tim Assessment MER-C untuk Misi Kemanusiaan Lebanon berangkat dari Jakarta pada Jumat (29/5/2026) dan tiba di Beirut pada Sabtu (30/5/2026). Tim terdiri dari tiga relawan medis, yaitu dr. Tonggo Meaty Fransisca, dr. Arief Rachman, Sp.Rad., dan Wirsal Adiansyah Harahap, S.Kep., Ners. Tim ini bertugas melakukan penilaian awal terhadap kebutuhan medis yang paling mendesak serta memetakan wilayah-wilayah potensial untuk penyaluran bantuan kemanusiaan pada tahap selanjutnya. Selengkapnya di link ini ____________________ Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah
Tim MER-C Bertemu PHEOC Lebanon, Bahas Kebutuhan Bantuan Kesehatan di Lebanon Selatan

Beirut – Tim MER-C Indonesia pada Selasa (2/6/2026) mengunjungi Rumah Sakit Universitas Rafik Hariri dan bertemu dengan Wahida Ghalayini, Koordinator Public Health Emergency Operations Center (PHEOC) serta dr. Zahara selaku Liaison Officer EMT. Dalam pertemuan tersebut, keduanya memaparkan perkembangan situasi konflik di Lebanon Selatan serta aktivitas koordinasi bantuan yang dilakukan bersama tim-tim internasional. Mereka mengatakan saat ini, sejumlah tim medis internasional masih aktif memberikan pelayanan di beberapa wilayah, di antaranya Saida (Sidon), Tyre, dan Nabatieh. Berbeda dengan kondisi di Gaza, sebagian besar fasilitas dan sistem layanan kesehatan di Lebanon Selatan masih beroperasi. Namun, tingginya jumlah korban serta keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan menyebabkan terjadinya surge capacity di sejumlah fasilitas kesehatan. Untuk itu, PHEOC mengusulkan agar MER-C turut memperkuat layanan burn unit di Turkish Trauma & Emergency Hospital yang berada di Kota Saida. Rumah sakit tersebut belum memiliki unit penanganan luka bakar yang memadai, sehingga diperlukan dukungan baik dalam bentuk SDM maupun sarana dan prasarana pendukung. Rumah sakit pemerintah tersebut merupakan salah satu pusat rujukan utama yang berada di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan Lebanon (MOPH) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam penanganan korban konflik. Mereka juga menyarankan perlunya program capacity building untuk tenaga kesehatan lokal agar memiliki kemampuan menangani kasus-kasus luka bakar secara mandiri ketika tim bantuan internasional sudah tidak lagi bertugas di wilayah tersebut. Selengkapnya di link ini ____________________ Donation Account: Bank Syariah Indonesia (BSI), 811.19.29840 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #bantuanlibanon #donasilibanon #emtmercindonesia #Kemanusiaanlibanon #konfliktimurtengah