MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Insiden Kebakaran di Gaza Utara, Korban Jiwa dan Luka Dievakuasi ke RS Indonesia

Sedikitnya 21 warga Palestina meninggal dunia, termasuk 7 diantaranya anak-anak dan lebih dari 30 lainnya mengalami luka-luka pasca insiden kebakaran besar yang melanda bangunan tempat tinggal di Kamp Jabalia, Desa Talizza’tar, Jalur Gaza Utara, Palestina, Kamis malam (17/11). Korban jiwa maupun luka-luka langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Indonesia yang berjarak tidak jauh dari lokasi kejadian. Direktur RS Indonesia di Gaza Utara, Salah Abu Laila, mengatakan bahwa jumlah korban jiwa kemungkinan akan bertambah. “Jumlah kematian kemungkinan akan meningkat, sebagai akibat dari kebakaran besar di sebuah bangunan tempat tinggal di Jabalia,” katanya dalam sebuah pernyataan yang dikutip media. Penyebab kebakaran masih belum diketahui. Hasil investigasi awal menyebutkan bahwa kebakaran dipicu oleh lilin saat para korban sedang merayakan kedatangan salah satu anggota keluarga mereka yang baru kembali dari Mesir. Sementara juru bicara unit pertahanan sipil mengatakan bahwa kebakaran berasal dari pasokan bahan bakar yang disimpan di bangunan tersebut. Berita kematian 21 warga ini sontak menggemparkan seluruh warga Gaza yang selama ini hidup dalam blokade dan penjajahan Israel sejak tahun 2006 hingga hari ini. Presiden Palestina, Mahmud Abbas, melalui Juru Bicaranya menyatakan kebakaran itu sebagai tragedi nasional. Abbas mengumumkan hari berkabung pada hari Jum’at ini, dengan mengibarkan bendera setengah tiang.

MER-C Adakan Pelatihan Pijat Jantung Saja bagi Komunitas Bulu Tangkis Candra Wijaya

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) memberikan pelatihan Pijat Jantung Saja (PJS) bagi komunitas olah raga binaan legenda bulutangkis Indonesia, Candra Wijaya, Rabu/16 November 2022. Pelatihan bertempat di Hall DYSCWIBC (Daihatsu Yonex Sunrise Candra Wijaya International Badminton Center) di Tangerang, Banten.   Sebanyak 16 Relawan Medis MER-C yang berpengalaman terdiri dari dokter spesialis, dokter umum dan perawat diturunkan untuk memberikan pelatihan kepada para pembina, pelatih, atlet, staf dan anak-anak didik yang tengah berlatih di Candra Wijaya International Badminton Center. PJS adalah pelatihan pertolongan pertama untuk menangani kasus henti jantung dan serangan jantung. Komunitas olah raga menjadi salah satu kelompok masyarakat awam yang penting untuk memiliki pengetahuan tersebut. Hal ini disebabkan banyaknya kasus henti jantung atau serangan jantung yang terjadi ketika berolah raga dan seringkali berakhir dengan kematian karena tidak ada orang di sekitar yang memahami cara menolongnya. Salah satu kasus yang masih hangat dalam ingatan kita adalah meninggalnya salah satu pebulutangkis terbaik tanah air, Markis Kido, ketika sedang bermain pada Juni 2021 silam. Belajar dari kejadian tersebut, DYSCW menggandeng MER-C untuk memberikan pelatihan PJS bagi anggotanya. Dengan pelatihan ini diharapkan anggota DYSCW dapat memiliki pengetahuan dan keahlian dalam memberikan pertolongan pertama ketika hal serupa terjadi di sekitar mereka. Candra Wijaya, seorang pelatih dan atlet senior bulutangkis Indonesia menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Tim MER-C yang telah berbagi ilmu dan keahliannya. “Terima kasih atas waktu, kesempatan dan juga kolaborasi dari dokter-dokter MER-C, semua yang hadir di sini luar biasa. Saya sangat apresiasi. Terima kasih atas dukungan, bantuan dan perhatiannya,” ucap Candra. “Kami sebagai praktisi, pembina, kebetulan memilik GOR, sehingga staf pelatih dan anak-anak kami tersosialisasi,” lanjutnya. Menurutnya pelatihan ini sangat bermanfaat untuk mengedukasi dan menambah ilmu serta pengalaman mereka.  “Di lapangan kami merasakan perlu lebih jauh untuk bisa mengetahui hal-hal penanganan pertama dalam penanggulangan gawat darurat di olah raga atau bagi kita yang sering berolah raga,” tambah Candra. Mengingat pentingnya pengetahuan PJS untuk dimiliki oleh masyarakat awam, maka dalam waktu dekat MER-C akan membuat “Citizen CPR” dengan mengadakan roadshow pelatihan PJS di Monas, komunitas-komunitas, “PJS Go To School”, dsb, karena “Semua Bisa Menolong!”

Silahkan bertanya?