MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Ketua Presidium MER-C: Apa yang Terjadi di Gaza adalah Kejahatan Kemanusiaan

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) DR. dr. Hadiki Habib, Sp. PD., Sp.Em mengatakan apa yang saat ini terjadi di Gaza bukan hanya krisis kemanusiaan, tapi kejahatan kemanusiaan. “Kita harus menyuarakan mengenai kejahatan karena ini bukan lagi soal krisis kemanusiaan, tapi kejahatan kemanusiaan. Jadi kalau sudah kejahatan, isunya bukan lagi hanya medis tapi juga sosial, budaya dan politik,’ ujar dr. Hadiki dalam kesempatan Silaturahim Online Dunia Masjid Kubah 99 Makassar, Ahad (29/12). Untuk itu, ia mengungkap saat ini MER-C juga sedang berjuang di bidang budaya, untuk menjadikan RS Indonesia sebagai aset internasional, yang merupakan bukti kerja sama antar negara. Sehingga merusaknya bukan hanya terkena pasal hukum medis atau kemanusiaan, tapi juga cagar budaya. “Terkait hal ini kami butuh ahli-ahli dari semua bidang keilmuan untuk dapat memberikan narasi, bukti, serta argumen-argumen  akademik supaya fakta tidak diputarbalikkan oleh penjajah,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini secara fisik RS Indonesia masih berdiri dan digunakan sebagai shelter untuk warga Gaza. RS Indonesia terkahir digunakan di bulan Oktober 2024 oleh Tim EMT MER-C ke-5. Tim EMT ke-6 sempat berusaha ke (Gaza) Utara, namun hanya berhasil sampai Kamal Adwan, tidak bisa ke RS Indonesia karena di sekitarnya sudah ada check point. “Kemudian sumber-sumber energi yang memang diperlukan untuk sebuah rumah sakit beroperasi memang sengaja dilumpuhkan, ada generator, kita juga pasang panel surya sudah dirusak, terakhir sumber air, listrik dan pompa juga rusak,” ungkapnya. Terkait kondisi RS Indonesia ini, maka menurutnya perintah pemindahan pasien dan tenaga kesehatan yang ada di Kamal Adwan ke RS Indonesia oleh penjajah Israel adalah instruksi yang jelas-jelas tidak boleh dilakukan, karena ini bukan pindah rumah sakit tapi ke bangunan karena saat ini RS Indonesia tidak bisa beroperasi. Silaturahim Online Dunia Masjid Kubah 99 Makassar ini digelar secara daring atas kerja sama sejumlah lembaga di antaranya, Komite Makassar for Gaza, Komunitas Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah (PS MRPI), GEMMA 9, MER-C dan Yayasan Masjid Pantai Nusantara (YMPN), yang digelar untuk mengajak masyarakat luas mendukung program “Makassar for Gaza”.

Dua Bulan Bertugas, Relawan MER-C Saksikan Langsung Keteguhan Warga Gaza di Tengah Agresi

Salah satu relawan MER-C yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) ke-6, dr. Taufik Nugroho, Sp.B menceritakan pengalamannya menyaksikan secara langsung keteguhan warga Gaza di tengah agresi penjajah Israel yang masih berlangsung, dalam kesempatan Silaturahim Online Dunia Masjid Kubah 99 Makassar hari Minggu (29/12), yang digelar secara daring. Dr. Taufik yang saat ini masih bertugas di Jalur Gaza mengatakan, dengan kerusakan yang nyaris total di Gaza saat ini, ia hampir tidak percaya warga Gaza bisa bertahan sampai satu tahun sejak peristiwa 7 Oktober kemarin, dengan sarana dan prasarana yang sudah hancur total mereka hanya tinggal di tenda-tenda atau bawah reruntuhan dengan pasokan makanan, air bersih dan obat-obatan sangat terbatas, karena bahkan konvoi bantuan makanan pun dibom. “Tapi dalam kondisi itu mereka bisa bertahan. Hanya Allah-lah yang memberikan kekuatan kepada mereka dalam keadaan seperti ini, dan itulah yang kami lihat,” ujarnya Lebih lanjut ia juga menceritakan, selama dua bulan bertugas sebagai tim medis di Gaza, dr. Taufik bersama relawan MER-C lainnya telah melakukan lebih dari 100 operasi besar. “Kami melakukan lebih dari 100 operasi besar yang kami lakukan selama dua bulan di Gaza, termasuk operasi-operasi yang bahkan mungkin tidak kami lakukan di Indonesia. Seperti dr. Yasmeen (salah satu Tim EMT ke-6), itu spesialis obgyn tapi di sini beliau membantu saya memotong kaki, tangan, buka perut, sesuatu yang tidak mungkin beliau lakukan di Indonesia, tapi harus kami lakukan di sini,” ujarnya. Dr. Taufik mengatakan, selain melakukan pertolongan dan operasi di rumah sakit, Tim EMT ke-6 juga menyalurkan bantuan untuk warga Gaza berupa bantuan makanan dan bahan makan mentah, baju dingin, air bersih serta bantuan-bantuan lainnya di tengah musim dingin yang sedang berlangsung di Gaza. “Saudara-saudara kita di Indonesia dapat membayangkan saudara kita di pengungsian, di tenda-tenda yang tipis tanpa baju dingin, tanpa alat penghangat, dengan kekurangan makanan. Sungguh mengurunkan tangan untuk memberikan bantuan kepada mereka tidak harus jadi dermawan yang kaya raya atau muslim yang sangat baik, kita hanya perlu menjadi manusia yang punya hati,” ujarnya. “Oleh karena itu, mudah-mudahan apa yang sudah kami lakukan selama di Gaza dua bulan ini memberikan arti, memberikan manfaat buat mereka, dan bisa mengetuk dan mengajak hati saudara-saudra kami di Indonesia. Mari kita ulurkan tangan kita, mari kita berikan bantuan kepada mereka, berapa pun akan sangat membantu,” pungkasnya. Silaturahim Online Dunia Masjid Kubah 99 Makassar ini digelar secara daring atas kerja sama sejumlah lembaga di antaranya, Komite Makassar for Gaza, Komunitas Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah (PS MRPI), GEMMA 9, MER-C dan Yayasan Masjid Pantai Nusantara (YMPN), yang digelar untuk mengajak masyarakat luas mendukung program “Makassar for Gaza”.

Silahkan bertanya?