Gaza Utara – Beit Hanoun, wilayah yang terletak di utara Jalur Gaza dan berbatasan langsung dengan Israel, menghadapi tantangan ganda yang mengancam kehidupan warganya. Selain kesulitan mendapatkan air bersih, warga setempat juga terancam oleh penembakan acak dari tentara Israel.
Osama Alkafarna, salah satu warga Beit Hanoun, menyatakan kepada Relawan MER-C bahwa mereka kesulitan mendapatkan air. Setiap dua hingga tiga hari sekali, beberapa truk pengangkut air datang dari lembaga-lembaga bantuan. Namun, kawasan ini berada di zona yang sangat terbatas, dan perjalanan ke sana pun penuh risiko.
Alkafarna menjelaskan, jika warga melewati zona penyangga, mereka bisa terkena tembakan dari penjajah Israel.
Warga Beit Hanoun sendiri kadang terpaksa melewati area zona penyangga untuk memeriksa rumah mereka.
“Penembakan terjadi tanpa pandang bulu, bahkan siapa saja yang berada di tempat tinggi akan ditembak oleh tentara pendudukan Israel,” katanya.
Ia menambahkan, penembakan acak juga terkadang mencapai gerbang masuk kota serta pusat penampungan.
Alkafarna mengatakan, di tengah krisis air ini sejumlah donatur berencana untuk membangun sumur di wilayah tersebut. Dengan bantuan sumur ini ia berharap masalah air bersih dapat segera teratasi.
Alkafarna juga mengungkapkan harapan bahwa setelah genjatan senjata tahap kedua disepakati, tentara Israel akan mundur sekitar 700 meter dari daerah mereka, sehingga penembakan terhadap warga akan berhenti.
MER-C sendiri melalui relawannya di Jalur Gaza telah melakuka penilaian langsung kondisi di Beit Hanoun. Berdasarkan hasil penilaian, MER-C kemudian mengirimkan bantuan air bersih serta makanan siap saji.
Sekitar 1000 orang atau 130 keluarga menerima bantuan air bersih dan makanan ini, yang disambut dengan sukacita karena sebelemunya warga Beit Hanoun harus berjalan kaki sekitar satu kilometer untuk bisa mendapatkan air.








