Abu Rizal Bakrie Apresiasi dan Sambut Gembira Rencana Grand Opening RS Indonesia

Jum’at (8/5), bertempat di kediamannya, Abu Rizal Bakrie menerima kunjungan Tim MER-C yang diwakili oleh Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT didampingi dua pengurus MER-C, Ir. Luly Larissa Agiel dan Rima Manzanaris. Pada kunjungan ini, Presidium MER-C menyampaikan perkembangan program RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina, khususnya proses pengadaan alat kesehatan yang sudah mulai berdatangan dan memenuhi ruangan-ruangan di RS Indonesia. Hal penting lainnya yang juga disampaikan pada pertemuan kali ini adalah rencana “Serah Terima serta Grand Opening RS Indonesia” yang diagendakan pada bulan Juni 2015 mendatang dimana MER-C mengundang sejumlah tokoh dan donatur untuk turut menghadiri dan menjadi saksi momentum bersejarah ini. Menanggapi hal ini, Abu Rizal Bakrie sebagai salah satu donatur alat kesehatan RS Indonesia menyambut baik perkembangan RS Indonesia dan menyatakan kegembiraannya bahwa RS Indonesia akan diresmikan dalam waktu dekat. “Saya kira ini sesuatu amal ibadah yang mulia, mendirikan sebuah rumah sakit di tempat pertempuran,” tutur Abu Rizal. “Yang paling penting juga ini merupakan sumbangan daripada rakyat Indonesia untuk mendirikan RS Indonesia di sana (Gaza, Palestina), di tempat perang. Saya bergembira RS Indonesia dalam waktu dekat bisa segera diresmikan” tambahnya. Abu Rizal Bakrie juga menyampaikan apresiasinya kepada MER-C yang telah mempelopori pembangunan RS Indonesia dan akan mencoba menyesuaikan jadwal untuk bisa memenuhi undangan Grand Opening RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina.
Warga Korban Gempa Nepal Antusias Datangi Posko Pengobatan MER-C WANADRI

Tiba di distrik Sindhupalcowk pada Kamis (7/5) sore, Jum’at (8/5) paginya Tim MER-C dan WANADRI langsung menggelar posko pengobatan bagi warga korban gempa. Pada hari pertama, posko pengobatan diadakan di wilayah Keurini. Keurini berada di ketinggian 1.800 mdpl. Gempa dahsyat yang menerjang Nepal membuat sembilan puluh persen bangunan di wilayah ini hancur. Kegiatan pengobatan pun diadakan di sebuah bangunan sekolah yang sebagian bangunannya sudah hancur karena gempa. Warga Keurini sangat antusias mendatangi posko pengobatan yang diadakan Tim MER-C dan WANADRI. Sejak posko dibuka, warga sudah terlihat antri untuk mendapat pengobatan bagi penyakit dan luka-luka yang mereka derita akibat terkena atau tertimpa reruntuhan bangunan. Banyak tindakan medis yang dilakukan Tim pada hari ini. Jumlah pasien tercatat mencapai 140 orang dengan kasus terbanyak adalah Neglected Lacerated Wound, Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), dan diare infeksi. Selama berada di Keurini, gempa susulan kerap terasa. Setidaknya ada tiga kali gempa susulan yang terjadi seperti yang dilaporkan Islamiyah Samaun, salah satu relawan dalam Tim ini, “Gempa susulan terus-terusan terjadi. Hari ini saja sudah tiga kali. Malam besar sekali, pagi tidak terlalu besar, dan siang kembali besar sekali.” Tim MER-C WANADRI berencana menetap satu hari di Keurini dan akan menginap dalam tenda yang telah dibangun di tanah lapang depan bangunan sekolah tempat posko pengobatan. Besok Tim akan bergerak pindah ke daerah lain di Sindhupalcowk yang belum tersentuh bantuan medis. “Besok kami akan pindah lagi ke daerah lain yang lebih tinggi, kira-kira di ketinggian 2.000 mdpl,” tutur Islamiyah, anggota Tim yang bertugas di bagian logistik medis. “Mohon doakan kami semoga selalu diberi kemudahaan dan kesehataan semuanya untuk membantu warga korban gempa di sini,” tambahnya.
Tim MER-C WANADRI Bergerak ke Wilayah Gempa Terparah Lainnya di Nepal

Setelah Dhunche yang telah ditangani medisnya oleh militer setempat, Kamis (7/5), Tim MER-C WANADRI yang terdiri dari sembilan orang relawan bergerak ke wilayah gempa terparah lainnya di Nepal, yaitu Sindhupalcowk. Tim mulai bergerak ke Sindhupalcowk sejak Kamis pagi dengan membawa bantuan obat-obatan, alat medis dan juga tenda besar untuk pengobatan. Sindhupalchok adalah kota yang terletak di barat laut Kathmandu. Untuk mencapainya dibutuhkan waktu enam jam perjalanan darat (mobil) dari Kathmandu, dan untuk mencapai desa-desa di wilayah ini diperlukan waktu tempuh tiga jam lagi perjalanan mobil dari Sindhupalcowk. Wilayah Sindhupalcowk menjadi tujuan Tim MER-C WANADRI berikutnya dalam misi kemanusiaan ini atas hasil koordinasi dan negosiasi tim dengan Kepala Rumah Sakit Kantipur di Kathmandu. Info dari Kepala RS Kantipur, dr. Budhiman, distrik Sindhupalcowk merupakan salah satu wilayah korban gempa terparah. Dokter asli Nepal ini mengarahkan tim MER-C WANADRI untuk menuju desa Helembu, salah satu desa di wilayah Sindhupalcowk. Di desa inilah tim akan dapat melakukan aktifitas medis dan menjangkau desa-desa sekitar, meliputi; Gumba vos, Golche vos, Parangtang, desa-desa di distrik Sindupalcowk yang belum tersentuh bantuan medis. Untuk mempermudah kegiatan tim di lapangan nanti, Kepala RS Kanthipur telah mengeluarkan izin tertulis bagi tim MER-C WANADRI melakukan aktifitas medis di Sindhupalcowk. Satu orang lokal sebagai guide juga disiapkan untuk mendampingi dan membantu tim berkomunikasi dengan warga setempat.
Tim MER-C WANADRI Tiba di Sindhupalcowk

Jum’at (8/5), seorang anggota tim MER-C WANADRI untuk Nepal, Dadang Mokhamad Rizal mengabarkan bahwa tim telah tiba Sindhupalcowk pada hari Kamis pukul 5 sore. Namun informasi ini baru diterima MER-C Pusat Jakarta pada hari Jum’at pagi tadi dikarenakan sulitnya sinyal di wilayah tersebut. “Kita tim sudah sampai Sindhupalcowk kemarin sekitar jam 17.00, camp kita tidak bersignal untuk dapat singnal harus berjalan sejauh 1 km naik ke atas bukit,” info Dadang dalam pesan singkatnya. Rencananya, tim MER-C WANADRI yang terdiri dari Sembilan orang relawan medis dan rescue akan melakukan aktifitas medis di Sindhupalcowk dan sekitarnya selama tujuh hari ke depan hingga tanggal 14 Mei 2015. Tanggal 15 Mei 2015, Tim direncanakan kembali ke Kathmandu karena izin aktifitas untuk pelayanan medisnya ini efektif selama tujuh hari.
Sejumlah Alat Kesehatan Berdatangan di RS Indonesia

Sejumlah alat kesehatan yang telah dipesan MER-C untuk melengkapi RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina, mulai berdatangan. Alat yang sudah tiba dan memenuhi RS Indonesia adalah 4 unit meja operasi, 10 unit ventilator, nebulizer dan beberapa instrument bedah. Alat-alat ini adalah alat kesehatan untuk mengisi ruang operasi dan ICU RS Indonesia. Bahkan pada hari Ahad (19/4) dan Senin (20/4) lalu, telah tiba juga sebanyak total 90 unit ranjang pasien. Seluruh unit ranjang pasien ini telah dirakit dan ditempatkan oleh para relawan di ruang rawat inap yang terletak di lantai 2 RS Indonesia. Berdasarkan laporan dari Ir. Edy Wahyudi, Site Manager RS Indonesia, melalui komunikasi skype, alat lainnya yang diharapkan akan segera tiba di RS Indonesia adalah X-Ray dan CT Scan yang akan memenuhi Ruangan Radiologi RS Indonesia. Menurut informasi dari supplier alat kesehatan tersebut, kedua alat ini telah tiba di pelabuhan dan menunggu proses perizinan masuk dari Israel yang diprediksi akan memakan waktu 1 hingga 2 minggu ke depan. Sementara peralatan yang masih dalam perjalanan dengan kapal laut adalah instrument-instrumen bedah. Sedangkan alat-alat lainnya seperti paket perlengkapan ruang operasi dan beberapa paket furnitur rumah sakit sebenarnya telah mendapat izin, namun masih menunggu antrian untuk bisa masuk ke Gaza. MER-C melalui cabangnya di Jalur Gaza juga sudah melakukan pemesanan dua unit ambulans untuk kendaraan operasional RS Indonesia. Kedua unit ambulans dipesan dari Mesir dan saat ini masih berada di Mesir menunggu proses perizinan masuk ke Gaza. Kedatangan Alat Kesehatan RS Indonesia Lambat dari Jadwal Kedatangan alat-alat kesehatan memang lebih lambat dari jadwal yang sebelumnya diperkirakan. Sejak penandatanganan kontrak pengadaan alat kesehatan RS Indonesia pada 23 November 2014 lalu, yang dilakukan oleh Ir. Edy Wahyudi, Site Manager RS Indonesia di Gaza dengan beberapa supplier setempat, peralatan kesehatan diperkirakan akan datang pada 6 – 7 pekan setelahnya. Sehingga saat itu MER-C sempat berencana untuk melakukan serah terima dan pembukaan RS Indonesia pada bulan Februari 2015. Namun kondisi perbatasan yang belum dibuka secara penuh dan proses perizinan masuk ke Gaza yang cukup sulit menyebabkan tertundanya kedatangan alat-alat kesehatan ini. Hal ini seperti yang diungkapkan Ketua MER-C Cabang Gaza, Muqorrobin Al Fikri. “Seharusnya ranjang pasien dijadwalkan datang pada akhir Januari yang lalu. Namun proses pengurusan dan perizinan masuk ke Jalur Gaza cukup rumit dan sulit, sehingga tertunda lebih dari dua bulan,” terangnya. Rencana Serah Terima dan Grand Opening RS Indonesia Ketua Presidium MER-C, dr. Henry Hidayatullah mengatakan bahwa melihat perkembangan situasi di lapangan, khususnya progress kedatangan alat kesehatan RS Indonesia, maka MER-C kembali berencana untuk melakukan serah terima sekaligus Grand Opening RS Indonesia pada bulan Juni 2015 mendatang. Segala hal terkait dengan persiapan Grand Opening RS Indonesia tengah dilakukan khususnya koordinasi dengan pihak-pihak terkait baik di Jakarta, Mesir maupun Palestina. “Kami mohon doa dari rakyat Indonesia agar seluruh proses ini diberi kelancaran dan RS Indonesia bisa segera beroperasionalisasi untuk memberikan pelayanan medis bagi rakyat Gaza yang membutuhkan seperti yang selama ini kita harapkan bersama,” ungkap dr. Henry.
Tim I MER-C WANADRI Bergerak ke Lokasi Gempa Terparah di Nepal

Hari ini, Selasa (5/5) pukul 10.00 waktu setempat, Tim MER-C WANADRI mulai bergerak ke lokasi gempa terparah di Nepal. Untuk efektifitas kerja, tim dibagi menjadi dua. Tim pertama yang terdiri dari 5 relawan, yaitu 1 dokter spesialis, 1 perawat bedah, 1 logistik, 1 rescue dan 1 pendata, hari ini bergerak ke wilayah Lalitpur yang berjarak sekitar 1,5 jam dari kota Kathmandu. Mereka akan melakukan assessment dan pelayanan medis bagi para korban gempa di wilayah ini. Sementara Tim kedua yang terdiri dari 4 relawan, yaitu 1 dokter umum dan 3 rescue bergerak menuju Dhunche yang terletak di sebelah utara Kathmandu. Dhunche merupakan wilayah terparah akibat gempa dengan jumlah korban lebih dari 3.000 jiwa. Dhunche terletak di Distrik Rasuwa, Zona Bagmati, Nepal. Kota ini berjarak sekitar 90 km dari Kathmandu yang biasanya ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam perjalanan darat . Dhunche dipilih sebagai salah satu wilayah kerja Tim MER-C WANADRI karena berdasarkan informasi yang diterima Tim, di wilayah ini terdapat empat desa yang hancur total akibat gempa, yaitu Ramche, Gerang, Thade dan Bokehunda yang berjarak sekitar 10 km sebelum Dhunche. Desa terparah terkena dampak gempa adalah desa Ramche dan di desa ini belum terdapat listrik. Bahkan sampai saat ini dikabarkan belum ada bantuan medis yang masuk ke desa-desa tersebut. Di Dhunche juga terdapat Rumah Sakit Tentara dan Sarana Kesehatan milik Pemerintah, namun belum beroperasi karena tidak adanya tenaga medis dan obat-obatan. Selain itu, letak Dhunche berdekatan dengan Lantang, kota yang terkubur oleh reruntuhan gunung Everest akibat gempa dahsyat pada Sabtu (25/4) lalu. Untuk itu, selama 2 – 3 hari ke depan, Tim MER-C WANADRI akan melakukan mobile clinic (pelayanan medis keliling) dan juga assessment untuk mempelajari apakah di wilayah ini memungkinkan untuk dilakukan tindakan operasi bedah bagi para korban gempa sekaligus mengidentifikasi korban-korban yang ada. Informasi ini sangat penting untuk mempersiapkan kedatangan Tim berikutnya yang akan terdiri dari para Ahli Bedah. Bantuan untuk korban bencana gempa bumi di Nepal dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, No. Rek. 08.111.92995 BCA, No. Rek. 686.028.0009 An. Medical Emergency Rescue Committee
Tim Pertama MER-C WANADRI Tiba di Nepal

Sembilan orang relawan yang tergabung dalam Tim Pertama MER-C dan WANADRI telah tiba dengan selamat di Kathmandu (Nepal), Senin (4/5) siang waktu setempat. Sempat mengalami dua kali transit, yaitu di Kuala Lumpur (Malaysia) dan Dhaka (Bangladesh), Tim akhirnya bisa mendarat di Kathmandu, Ibukota Nepal. Dari Bandara, Tim langsung bertemu dengan Duta Besar RI untuk Bangladesh dan Nepal, Iwan Wiranataatmadja guna mendapatkan informasi terkini mengenai pemetaan medan dan penyaluran bantuan. “Alhamdulillah Tim sudah sampai di Kathmandu. Dijemput oleh Konjen RI. Dari Bandara kami bertemu dengan Dubes RI untuk Bangladesh dan Nepal. Alhamdulillah sudah banyak info yang kami terima untuk penyusunan rencana kerja Tim besok,” ungkap Saleh Sudradjat, Ketua Tim Pertama MER-C dan WANADRI via pesan singkat yang diterima pada hari Senin (4/5) pkl 15.44 wib. Pada hari yang sama, Tim juga melakukan koordinasi dengan BNPB (Badan Nasional Penaggunglangan Bencana) yang sudah berada di Nepal mengenai daerah mana saja yang mampu terjangkau dan memungkinkan Tim Medis MER-C bekerja dengan efektif di lokasi. Tim Pertama MER-C dan WANADRI bertolak ke Nepal pada hari Senin (4/5) pukul 04.40 pagi. Tim yang terdiri dari dokter spesialis penyakit dalam, dokter umum, perawat bedah, logistik, SAR dan dokumentasi ini mempunyai target kegiatan untuk melakukan assessment Rumah Sakit yang masih bisa digunakan untuk operasi dan identifikasi korban gempa yang memerlukan tindakan operasi. Halini dalam rangka mempersiapkan kedatangan Tim Kedua yang akan terdiri dari para Ahli Bedah. Selain assessment, tim pertama ini juga akan melakukan pengobatan dengan sistem mobile clinic untuk menjangkau wilayah gempa terpencil yang belum mendapatkan bantuan medis. Bantuan untuk korban bencana gempa bumi di Nepal dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, No. Rek. 08.111.92995 BCA, No. Rek. 686.028.0009 Atas Nama Medical Emergency Rescue Committee Info : Call Center MER-C 0811 99 0176
MER-C Dan Wanadri Berangkatkan Tim Pertama Ke Nepal

Menyusul gempa bumi dahsyat berskala 7,9 SR yang menerjang Nepal pada hari Sabtu (25/4) lalu yang telah menyebabkan ribuan korban jiwa dan ribuan lainnya mengalami luka-luka, MER-C berkolaborasi dengan WANADRI akan mengirimkan Tim Relawannya untuk turut memberikan pertolongan kepada para korban. Tim akan dibagi menjadi dua tahap keberangkatan. Untuk Tim Pertama akan terdiri dari 9 orang relawan dengan keahlian medis dan SAR, yaitu Saleh Sudradjat (Ketua Tim), dr. Hadiki Habib, SpPD (Wakil Ketua Tim), dr. Ratih Citra Sari, Rita Elseria Tambunan, Islamiah Samaun, Purwasunu Adriansyah, Rohmat Sopian, Dadang Mokhamad Rizal dan Widi Kusnadi Sunardi. Sementara Tim Kedua yang merupakan Tim Bedah dengan keahlian multi spesialis akan berangkat menyusul ke lokasi bencana. Tim Pertama MER-C dan WANADRI direncanakan akan bertolak ke Nepal pada hari Senin (4/5) pukul 04.40 pagi dengan menggunakan maskapai penerbangan Malaysia Airlines, nomor penerbangan 726. Tim akan mengalami dua kali transit di Kuala Lumpur (Malaysia) dan Dhaka (Bangladesh) sebelum bisa mendarat di Kathmandu (Nepal). Apabila lancar, tim dijadwalkan akan tiba di Nepal pada pukul 12.50 waktu setempat. Sasaran wilayah kerja Tim Pertama MER-C dan WANADRI adalah di luar kota Kathmandu. Hal ini berdasarkan pertimbangan di dalam kota Kathmandu diperkirakan sudah banyak bantuan dan relawan yang bekerja. Tim akan mencari wilayah bencana terparah lainnya di luar ibukota Nepal yang terpencil dan masih minim bahkan belum terjangkau bantuan medis. Sebagai Tim Pertama, tugas tim mencakup penilaian (assessment) kondisi terkini di lapangan, melakukan pengobatan dengan sistem mobile clinic dan Search Rescue. Pengobatan dengan sistem mobile clinic dinilai efektif untuk dapat menjangkau korban-korban gempa di wilayah terpencil yang belum mendapat bantuan medis. Tugas penting lainnya yang diemban tim pertama adalah mempersiapkan kedatangan Tim Bedah, yaitu identifikasi korban-korban yang memerlukan tindakan operasi dan mencari Rumah Sakit atau tempat yang masih bisa digunakan untuk melakukan tindakan operasi bagi para korban gempa. Sementara itu, sejumlah relawan medis dengan berbagai keahlian diantaranya Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi, Dokter Spesialis Anastesi dan juga perawat bedah telah menyatakan kesiapannya untuk bertugas sebagai Tim Kedua ke Nepal. Tim Kedua yang merupakan Tim Bedah ini akan berangkat ke Nepal segera setelah adanya informasi dari Tim Pertama. Bantuan untuk korban bencana gempa bumi di Nepal dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, No. Rek. 08.111.92995 BCA, No. Rek. 686.028.0009 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee Jakarta, 2 Mei 2015 MER-C Indonesia dan WANADRI /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} #MercWanadriForNepal
MER-C Siapkan Tim Bedah untuk Korban Gempa Bumi di Nepal

Jakarta – Sabtu (25/4), gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,9 SR mengguncang Nepal. Hingga saat ini jumlah korban jiwa sudah mencapai lebih dari 3.300 orang, sementara ribuan lainnya mengalami luka-luka. Jumlah korban tewas diperkirakan akan terus bertambah karena masih banyak daerah yang belum terjangkau serta jaringan komunikasi di negara tersebut yang terputus. Melihat besarnya dampak bencana, MER-C sebagai sebuah lembaga kegawatdaruratan medis, tengah mempersiapkan relawannya untuk turut memberikan bantuan guna meringankan penderitaan para korban. Tim yang dibentuk MER-C akan berfokus pada Tim Bedah, yang terdiri dari dokter spesialis bedah umum, spesialis bedah orthopedi, spesialis anastesi dan dokter umum serta perawat bedah. Hal ini berdasarkan pengalaman MER-C pada penanganan bencana gempa bumi serupa baik di Yogyakarta maupun di Padang (Sumatera Barat) misalnya, bahwa korban hidup yang akan banyak ditemui adalah korban dengan kasus patah tulang akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Bantuan bagi korban bencana gempa bumi di Nepal dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, 08.111.92995 BCA, 686.028.0009 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee
MER-C Indonesia Mengikuti Focused Group Discussion of Maritim Security Issued

Jakarta – Pada tanggal 23-24 April 2015 Kementerian Kelautan Republik Indonesia dan International Organization for Migration (IOM) mengadakan Focuse Group Discussion (FGD) dengan tema sentral keamanan maritim. Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Mandarin, Jakarta dari jam 08.00 sampai jam 16.00, dihadiri oleh berbagai stakeholder yang terkait maritim seperti kementrian kelautan, perhubungan, kepolisian, kementrian kesehatan, angkatan laut, badan pengelola perbatasan, badan SAR nasional, kejaksaan agung, Badan Narkotika Nasional (BNN), Lemhanas,Universitas Pertahanan Indonesia, dan lain-lain. Tujuan dari kegiatan ini adalah melakukan identifikasi masalah maritim Indonesia dari berbagai aspek dan memberikan rekomendasi strategis. Kegiatan hari pertama berupa pemaparan dari Badan Keamanan Laut (BAKAMLA) mengenai visi Indonesia untuk menjadi poros maritim, dan pembahasan isu-isu keamanan laut. Hari kedua diisi dengan studi kasus Benjina dan dilanjutkan dengan FGD. Medical emergency Rescue Committee (MER-C) memiliki pengalaman dalam bidang kemanusiaan berhubungan dengan kelautan dan perbatasan, antara lain kasus tenaga kerja Indonesia yang berada dalam penampungan di Nunukan, manusia perahu dari Rohingya, Myanmar di Aceh, dan yang terakhir bekerjasama dengan kementrian kelautan pengelolaan kesehatan Suku Bajau yang berada di penampungan di Berau. Dalam focused group discussion yang dipimpin oleh Kompolnas Prof. Adrianus Meliala, PhD, MER-C yang diwakili oleh drg. Sari Elizabeth, dr. Dian Fridayani, dr. Hadiki Habib, SpPD, dan dr. Tubagus Aria mengangkat 2 aspek, pertama aspek kesehatan berupa risiko infeksi menular yang bisa masuk melalui jalur pelabuhan, sebab pemeriksaan di pelabuhan laut tidak seketat di pelabuhan udara. Selain itu maraknya prostitusi di daerah pelabuhan dan kebiasaan seks tidak aman anak buah kapal warga negara asing dan warga negara Indonesia meningkatkan risiko penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Salah satu contoh kasus terbaru adalah terungkapnya satu kasus HIV pada ABK asing, dan ditemukannya praktik prostitusi di sekitar pelabuhan. Atas dasar ini, MER-C memberikan buah pikiran agar ada kebijakan terhadap masalah tersebut. Aspek kedua adalah kemanusiaan, bagaimana negara mengelola anak buah kapal yang masuk secara illegal, para pencari suaka illegal, kelompok-kelompok masyarakat yang stateless dan masuk ke wilayah perairan Indonesia. Aspek kemanusiaan perlu dipertimbangkan seperti kesehatan, pangan dan tempat penampungan layak, sebab, apabila hal ini dilanggar, Indonesia akan berhadapan dengan hukum internasional. Kondisi ini pernah dihadapi ketika MER-C bekerjasama dengan Kementerian Kelautan mengelola suku Bajau yang ditampung di Berau, Kalimantan Timur. Karena belum ada Standard Operational Prosedur (SOP) dalam mengelola masyarakat yang stateless, proses pemulangan menjadi berlarut-larut. Kegiatan ini diikuti oleh MER-C karena kami menyadari, pengelolaan kesehatan dan kemanusiaan tidak hanya berkutat pada masalah praktis dan teknis, tapi harus ada advokasi sampai ditingkat kebijakan, yang oleh MER-C diistilahkan dengan ‘Politik Kemanusiaan’.