Pembangunan RS MER-C di Galela Maluku Utara, Contoh RS Swadaya Masyarakat

Saat ini Divisi Konstruksi MER-C juga tengah melakukan proses Pembangunan RS MER-C di Galela, Halmahera Utara, Maluku Utara. RS ini akan menjadi contoh pembangunan sarana kesehatan yang dibangun atas swadaya masyarakat. Mengapa? Pertama, karena tanah RS seluas 4.000 m2 merupakan wakaf dari warga setempat. Kedua, warga juga berperan aktif melakukan penggalangan dana untuk membantu Pembangunan RS yang memang sangat diharapkan oleh warga. Ketiga, selain beberapa relawan tukang yang ditugaskan dari MER-C Pusat, warga juga aktif membantu secara bergotong royong dan bergiliran dari desa ke desa dalam melakukan pekerjaan pembangunan. Semua dilakukan oleh warga dengan ikhlas tanpa berharap imbalan. Setelah sempat vakum beberapa waktu karena terbatasnya dana, pada akhir Maret 2012 pembangunan dimulai kembali. Pembangunan RS ini berada dibawah pengawasan langsung Divisi Konstruksi MER-C yang juga tengah mengawasi pembangunan RS Indonesia di Gaza Palestina. Bagi Bapak/Ibu/Sahabat yang ingin membantu program Pembangunan RS di Galela, dapat menyalurkan bantuannya melalui: Rekening Donasi Pembangunan RS MER-C di Galela, Maluku Utara: BNI, Cab. Kramat, 0140600983 A/n. Medical Emergency Rescue Committee Terima kasih, semoga pembangunan RS ini akan menjadi amal baik bersama. Program ini didukung Rasil (Radio Silaturahim) 720AM & Pondok Pesantren AlFatah
“Selamat Jalan Pak Bismar…”

Jakarta (20/04) : “Beliau adalah contoh teladan penegak hukum yang sederhana dan sulit dicari tandingannya,” ungkap dr. Joserizal, Presidium MER-C, Jum’at (20/04). Untuk itu, ketika mendapat informasi bahwa Mantan Hakim Agung ini dalam kondisi kritis, MER-C segera mengirimkan ambulansnya untuk standby di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, tempat Bismar Siregar menjalani perawatan beberapa hari terakhir. Hal ini dilakukan sebagai bentuk perhatian sekaligus pengormatan MER-C atas kiprah dan jasa-jasa Mantan Hakim Agung Bismar Siregar yang terkenal tegas dan adil dalam menjatuhkan vonis. Dalam perjalanan menuju RS Fatmawati Jakarta Selatan, Tim MER-C yang membawa ambulans mendapat kabar duka bahwa Bismar Siregar sudah meninggal. Setibanya di RS, ambulans MER-C langsung bersiap untuk mengantarkan jenazah Bismar Siregar ke Rumah Duka yang berada di Cilandak I, Nomor 25, Jakarta Selatan. Hari ini, bersama keluarga, kerabat dan pelayat yang terus berdatangan, sekitar pukul 10.00 WIB ambulans MER-C membawa jenazah Bismar Siregar ke Masjid Al Azhar, Jakarta Selatan untuk disholatkan. Bada Jum’at, rencananya jenazah akan dibawa ke tempat peristirahatan terakhir di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan. “Selamat Jalan Pak Bismar….”,semoga Allah SWT menerima amal ibadahmu, menghapuskan segala khilaf dan dosa-dosamu, serta menempatkanmu di surga-NYA. Aamiin yaa robbal ‘alamiin. Dan semoga akan bermunculan sosok-sosok penegak hukum seperti dirimu di negeri ini.
Serba-Serbi Donatur RSI¦.

Penjelasan dari dr. Jose sangat bagus, menyentuh dan tidak memprovokasi sehingga berhasil membuat kami para karyawan rela potong gaji untuk infaq ke Palestina, ungkap seorang ibu usai mendengar penyampaian dr. Joserizal tentang Palestina pada acara pengajian di kantornya. Memang sebelum acara ditutup, sang MC sempat mengumumkan kepada para karyawan bahwa bagi yang ingin berinfaq untuk RS Indonesia di Palestina, harap mengisi form pemotongan gaji, ungkap salah seorang staf MER-C yang mendampingi dr. Jose presentasi pada pagi itu. ——– Lain lagi dengan kisah seorang Bapak tua yang usianya sekitar 70-an tahun, yang kami terima dari teman di Rasil 720 AM (Radio Silaturahim 720 AM salah satu radio yang selama ini menjadi media partner MER-C). Dengan agak susah payah Bapak tua itu berusaha melangkahkan kaki tuanya menyusuri jalan Masjid Silaturahim yang sebelumnya telah menempuh jalan jauh dari rumahnya dengan bergonta-ganti angkot. Setibanya di depan studio Rasil, Bapak tua itu bertemu dengan Krisna, salah seorang penyiar Rasil, kemudian menyerahkan uang Rp 20.000,-. Untuk infaq pembangunan RS Indonesia di Gaza, katanya lirih. Saya tidak punya ATM dan saya ingin melihat studio Rasil. Dari sini rupanya suara yang menemani sisa hidup saya sehari-hari,” lanjutnya. Subhanallah¦ yang seperti itu menambah energi kami mengelola dakwah di Rasil 720 AM, ungkap Gheiz Chalifah, salah seorang pengelola radio tersebut. Donasi Rp 20ribu,- per orang untuk RS Indonesia (RSI) di Gaza memang program yang diluncurkan oleh MER-C sejak pembangunan RSI dimulai, tepatnya bulan Juni 2011. Jumlah donasi yang ditetapkan sengaja tidak besar agar siapapun bisa ikut berpartisipasi. Sosialisasi pun dilakukan baik melalui penyebaran brosur, poster, spanduk, pesan melalui email, jejaring sosial, sms, bbm, dll. Berbagai Media, termasuk Rasil juga gencar membantu sosialisasi program donasi Rp 20ribu orang hingga menggerakkan para pendengarnya untuk ikut berdonasi, termasuk Bapak tua tadi. ——- Pertolongan dan bantuan Allah untuk pembangunan RS Indonesia di Gaza juga sering datang dari arah yang tak disangka-sangka. Masih kisah dari teman di Rasil 720 AM yang menerima email dari seorang Ibu. Ibu itu mendapat amanah dari ayahnya, seorang pendengar setia Rasil yang sudah wafat pada bulan Januari 2012 lalu. Ayahnya berwasiat untuk memberi sumbangan bagi pembangunan RS Indonesia di Gaza sebesar Rp 150 juta. Usai memberi informasi nomor rekening donasi Pembangunan RS Indonesia di Gaza, tidak selang berapa lama, sumbangan itu pun ditransfer. Alhamduliilah dana sudah diterima oleh MER-C, kata Faried, salah seorang pengelola Rasil yang juga merupakan Ketua Divisi Konstruksi MER-C. . Sampai saat ini saya bahkan belum pernah bertemu dengan orangnya, hanya sempat berbicara di telpon saja, tambahnya, ——– Tidak hanya orang tua atau yang sudah berekonomi mapan, anak-anak pun ingin ikut berperan dan beramal untuk pembangunan RS Indonesia di Gaza Palestina. Sebut saja Nufa, seorang siswi SD sengaja datang ke Sekretariat MER-C sepulang sekolah. Saat itu, masih nuansa bulan Syawal. Nufa kemudian mengutarakan niatnya kepada staf MER-C yang menerimanya. Saya mau nyumbang untuk Rumah Sakit di Palestina. Gadis kecil itupun menyerahkan dua buah amplop bertuliskan namanya, dan satu amplop lagi titipan dari kakaknya. Bagian keuangan MER-C membuka amplop dan menghitung lembar demi lembar ribuan dalam kedua amplop itu. Jumlahnya belasan ribu rupiah. Kenapa Nufa ingin menyumbang untuk RS di Palestina? tanya staf MER-C sambil membuatkan bukti tanda terima donasi untuknya. Saya ingin membantu teman-teman saya di Palestina yang terkena bom Israel, jawabnya. Mungkin jumlah belasan ribu rupiah tidak besar menurut kita. Tapi niat seorang gadis kecil yang dengan ikhals menyisihkan sebagian dari uang Lebaran-nya untuk bisa ikut membantu Palestina hendaknya bisa menjadi inspirasi dan penyemangat bagi kita untuk lebih giat beramal dan berbuat baik. ——- Masih banyak lagi kisah-kisah nyata yang mungkin mewarnai ikhtiar pembangunan RS Indonesia. Yang pasti, setiap rupiah yang terkumpul untuk program pembangunan RS Indonesia di Gaza betul-betul merupakan rizki yang disisihkan oleh rakyat Indonesia sesuai dengan kemampuannya. Baik seribu rupiah, puluhan ribu rupiah, ratusan ribu rupiah bahkan ratusan juta rupiah. Berapapun atau bahkan apapun yang dimilikinya, mereka ingin terlibat dalam program yang memang diharapkan bisa menjadi sebuah amal baik bersama. Untuk itu, sampai saat ini MER-C masih menutup bantuan-bantuan asing karena ingin dana pembangunan RS Indonesia murni dari rakyat Indonesia. Dengan jumlah muslim terbesar di dunia, kami yakin akan bisa menyelesaikan monumen persahabatan dua negara ini, Indonesia Palestina. Hingga tanggal 11 April 2012, dari total Rp 30 Milyar yang dibutuhkan untuk pembangunan RS Indonesia di luar biaya alkes sudah terkumpul sebesar Rp 20.937.327.882,-. Terima kasih kami ucapkan kepada para donatur, relasi, relawan (dimanapun berada, khususnya di Gaza) dan seluruh rakyat Indonesia yang sudah mendukung dan dengan ikhlas membantu program ini dalam bentuk apapun. Terima kasih juga kami ucapkan kepada rekan-rekan media baik cetak, elektronik maupun online yang sudah gencar membantu mengkampanyekan dan mensosialisasikan setiap progress pembangunan RSI ini kepada masyarakat luas mulai awal hingga saat ini. Semoga keikhlasan semua pihak mendapat balasan yang berkali lipat dari NYA. Salam, MER-C Indonesia
Pembangunan Tahap I RSI Gaza Selesai 100 %

Gaza, Palestina – Setelah hampir satu tahun sejak dimulainya proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza pada Mei 2011, akhirnya pembangunan tahap 1 untuk struktur RSI selesai 100 %. Pekerjaan yang semula ditargetkan selama 9 bulan, sempat molor selama 3 bulan dikarenakan beberapa hal antara lain, susahnya relawan masuk ke Gaza dalam rangka mengawal pembangunan RSI, pengadaan material yang senantiasa dikirimkan melalui terowongan, kondisi cuaca pada akhir tahun 2011 dan awal tahun 2012 yang senantiasa turun hujan lebat. Selain itu, kondisi keamanan di Gaza yang tidak menentu akibat serangan-serangan zionis Israel juga menyebabkan beberapa kali pekerjaan harus terhenti, serta beberapa item pekerjaan tambahan memerlukan waktu tambahan pula dalam pengerjaannya. Namun demikian hambatan-hambatan di atas masih terbilang sangat wajar, terlebih di daerah yang diblokade ketat bak penjara terbesar di dunia, seperti Gaza, pekerjaan bisa berjalan seperti ini memang sudah sangat luar biasa. Akhir pekerjaan RSI Gaza ini ditandari dengan pengecoran akhir tangga ramp yang dilaksanakan pada hari Sabtu 28 April 2012. Dua minggu sebelumnya diadakan pengecoran middle area dari RSI ini setinggi 1 lantai, dan beberapa item lain seperti pintu masuk basement dan lantainya. Dengan demikian 100 % selesai sudah pembangunan RSI tahap pertama ini yang selanjutnya akan diikuti oleh pembangunan tahap kedua untuk Arsitektur dan ME (Mekanikal Elektrikal) RSI. Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, dukungan baik moril maupun materiil untuk program ini, dukungan anda semua sangat berarti besar demi terbangunnya RSI sebagai persembahan nyata dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu relawan MER-C Indonesia di Gaza Palestina
GMJ Darat Tiba di Beirut: 8,5 Jam Tertahan di Kapal

Turki Tim Konvoi Darat Global March to Jerusalem (GMJ) tiba di Pelabuhan Mersin Turki, pukul 02.30 pagi hari, 27/3. Sebelumnya tim sempat demonstrasi dan singgah di pusat kota Konya tepat di depan gedung Konya Bolge 26/3. Tim disambut oleh NGO Mazlumder Konya. Feroze, delegasi India mengatakan, kita akan marcing ke Jerusalem dari seluruh penjuru dunia untuk membebaskan Aqsa, setelah Netanyahu memberi peringatan akan menindak tegas demonstran GMJ yang mendekati perbatasan, peserta GMJ tambah besar hingga 2 juta. Seluruh peserta kelihatan lelah setelah lima jam perjalanan dari Konya. Delegasi sempat mengunjungi Museum dan makam Jalaluddin Rumi, di Konya sekitar lima jam. Usai dari museum, Panitia GMJ Konya menjamu makan malam kemudian dilanjutkan dengan pertemuan dengan organisasi Kaum Dhuafa (Enderun Egitim Fakfi Kenya Subesi), Direktur Enderum Foundation, Mr. Latief mengucapkan selamat datang di Konya dan semoga anda bisa kesini lagi., kami menyambut GMJ dan insyaAllah Palestina akan merdeka. Meski peserta dari berbagai agama dan negara kita punya satu tujuan, membebaskan Jerusalem. Fadil salah satu peserta dari Palestina mengatakan, solidaritas bangsa Asia sangat penting untuk menekan Israel, Jerusalem harus menjadi milik semua umat monoteisme, Jerusalem harus dibebaskan dari kolonialisme. Nyanyian Aqsa terdengar serempak dari para peserta, Aqsa Haquna. Dengan menggunakan 3 bus, tim GMJ melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Mersin, Turki, dengan jarak 255 KM. Setelah menunggu dari pukul 03.00 hingga pukul 23.00, tim akhirnya berangkat dengan menggunakan kapal berbendera Turki, Fergun Express 2. Angin bergerak kencang, peserta nampak kedinginan, gelombang laut naik turun hingga separuh lebih peserta GMJ mabuk laut. Rabu (28/03) pukul 07.00 pagi waktu lokal, mulai nampak bayangan gedung-gedung bertingkat kota Beirut. Emeraude Express tetap melaju dengan kecepatannya yang konstan hingga akhirnya bersandar di pelabuhan Beirut pada pukul 09.30 waktu Beirut. Tentara Perdamaian PBB dari Brazil dan Libanon nampak berjaga di luar kapal. Di pelabuhan, para delegasi GMJ dari berbagai negara; India, Indonesia, Filipina, Malaysia, Iran, Turki dll berpikir bisa segera turun dan bergabung dengan delegasi yang lain. Tapi ternyata masih menunggu lama dengan ketidakpastian. Informasi simpang siur, belum bisa keluar dari kapal karena masih terganjal dengan masalah visa masuk Beirut. Awalnya para delegasi bersikap tenang dengan mengobrol dan bercanda di dalam kapal maupun di dek. Ada juga yang berusaha mengajak ngobrol aparat keamanan yang mondar mandir di luar kapal, walaupun tidak membuahkan hasil. Aparat bersenjata lengkap hanya diam dan memasang muka sangar. Pukul 12.00, Feroze Mithiborwala, selaku koordinator GMJ India, membawa informasi bahwa tertahannya para delegasi ternyata bukan karena masalah visa belaka, tetapi karena situasi politik Libanon dengan adanya pihak-pihak yang tidak menginginkan delegasi GMJ memasuki Libanon. Para delegasi mulai emosional, berbondong-bondong naik ke palka/atap kapal sambil meneriakkan yel-yel dan memukul-mukul atap kapal. Setelah tertahan selama kurang lebih 8,5 jam di kapal, sekitar pukul. 18.00 khusus delegasi Indonesia yang berjumlah 28 orang dengan bantuan dan jaminan visa dari Pihak KBRI akhirnya bisa keluar dari kapal sementara delegasi yang lain masih menunggu administrasi pelabuhan. Sempat acara seremoni perpisahan di kapal, delegasi GMJ Indonesia kemudian dibagi menjadi dua tim, tim pertama sebanyak 24 orang menuju Yordania 28/3 malam pukul 22.15 untuk berkampanye di Front Yordania. Sementara, tim kedua sebanyak empat orang ikut bergabung dengan panitia GMJ Libanon untuk berkampanye di Front Libanon. Duta Besar Indonesia di Libanon, Dimas Samudra sempat memberikan statemen dukungan pada kegiatan GMJ, karena amanah mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, dan menyerukan bahwa tempat suci Jerusalem untuk semua umat dan mendukung dibebaskanya Jerusalem dari kolonialisame. KBRI Libanon akan menfasilitasi bagi kelancaran kampanye sipil GMJ di Libanon. Tim Konvoi Darat GMJ Indonesia Laporan dari Muhammad Maruf (VOP) & dr. Nafan Akhun (MER-C)
Komunitas Kaum Yahudi AS: Kaum Yahudi Tidak Butuh Negara Israel

Beirut Setelah tertahan di kapal selama kurang lebih 8,5 jam, Rabu (28/3), pukul 18.00 waktu setempat, Tim Konvoi Darat GMJ Indonesia akhirnya bisa keluar dari kapal Fergun Express 2 berbendera Turki atas bantuan dan jaminan visa dari KBRi Beirut. Tim kemudian dibawa menuju kantor KBRI Beirut untuk beristirahat dan dijamu makan oleh pihak Kedutaaan. Di Beirut, Tim Konvodi Darat GMJ Indonesia akan dibagi menajdi 2 tim, sebanyak 24 orang akan langsung terbang ke Yordania mala mini juga, sementara 4 lainnya akan bergabung dengan GMJ Lebanon untuk berkampanye di Front Libanon. Sebelum berangkat ke bandara Internasional Rafic Hariri, Dubes RI di Beirut-Libanon, Dimas Samodra Rum memberikan sambutan bahwa pihak kedutaan mendukung kegiatan GMJ karena seusai dengan amanah konstitusi UUD 1945, bangsa Indonesia anti penjajahan dan memuji peran relawan GMJ karena misi kampanye pembebasan Jerusalem adalah sangat mulia. Pihak Kedutaan akan membantu kelancaran jalanya kampanye GMJ di Libanon. Pukul. 22.15 waktu setempat, 24 orang delegasi Indonesia bertolak ke Amman Yordania. Sementara 4 relawan Indonesia lainnya akan bergabung dengan panitia GMJ Libanon untuk melakukan serangkaian kegiatan di Libanon. Dari tempat penginapan Golden Plaza, seluruh rombongan delegasi GMJ dari berbagai negara Kamis (29/3), pukul 11.00 waktu setempat segera menuju tempat Press Conferens. Sementara delegasi dari India dan Philipina masih tertahan di kapal karena masalah pengurusan visa dan administrasi pelabuhan. Hadir dalam acara tersebut delegasi dari Eropa, Italia, Jerman, Belanda, Rusia dan juga para rabi Yahudi yang tergabung dalam Neturei Karta Internasional Amerika, Kanada dan Inggris. Delegasilainnya yang turut hadir adalah delegasi Indonesia, Jepang, Iran, Afganistan, Bahrain, Turki, Azerbaijan, Palestina, Libanon. Acara dibuka oleh Paul Rudy dari anggota komite GMJ Internasioanl dari Amerika Serikat. Selamat datang para delegasi dari berbagai negara, lintas agama dan ideologi. Koalisi GMJ ini adalah koalisi paling besar dan sangat menentukan bagi kemerdekaan Jerusalem. Gerakan sipil ini sukses diselenggarakan tetapi tidak akan sempurna sebelum Palestina merdeka. Satu persatu para wakil delegasi dari berbagai negara memperkenalkan diri. Rabbi Dovid Feldman dari Komunitas Kaum Yahudi Amerika Srikat (Jews United Against Zionisme) Neturei Karta Internasional mengatakan, Libanon adalah kota perlawanan, untuk kesekian kalinya saya datang ke sini dan merasa aman. Saya merasa aman di berbagai belahan bumi manapun. Kita kaum Yahudi tidak butuh pendirian negara Israel. Pendirian negara Israel merusak agama Yahudi dan merusak seluruh tatanan kemanusiaan. Kami komunitas Yahudi menolak segala upaya mempertahankan negara Israel karena alasan Yahudi tidak aman dan sebagai pembenar tanah yang dijanjikan. Kita kaum Yahudi tidak bebas menjalankan agama Yahudi termasuk kaum Yahudi di Jerusalem. Acara dilanjutkan kunjungan ke makam syahid Imam Mugniyah, salah satu komandan Hizbullah yang dibunuh secara pengecut oleh Israel di luar area peperangan di Suriah. Delegasi dari berbagai negara diajak mengenang kembali kekejian tentara Israel karena telah melakukan invasi ke Libanon yang mengakibatkan ribuan warga sipil dibantai pada tahun 2006. Sore hari pupul 15.00 waktu Beirut, delegasi kemudian menuju kedutaan Palestina di Beirut. Ditengah perjalanan, seorang ibu pengungsi Palestina menuturkan bahwa di sebelah kiri bus ini adalah area pemukiman Sabra Satila. Saya masih ingat tahun 1982 ribuan orang pengungsi Palestina dikumpulkan oleh Israel atas perintan Ariel Sharon. Para pengungsi disuruh lari kemudian ditembaki, ribuan menjadi korban kemudian dikumpulkan seperti gunung. Ini adalah salah satu pembersihan etnik Palestina oleh Israel di wilayah Beirut yang didukung oleh Amerika dan PBB. Terlihat juga bekas kantor Yasser Arafat hancur lebur karena bom Israel. Laporan dari Muhammad Maruf Tim Konvoi Darat GMJ Indonesia
GMJ Konvoi Darat Tiba di Yordania

Jordan Rabu (28/03), dari KBRI Beirut, sebanyak 24 orang Tim Konvoi Darat GMJ Indonesia langsung menuju bandara internasional Rafic Hariri Beirut Libanon untuk mengejar jadwal penerbangan ke Amman Yordania pada pukul 22.15. Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, Tim Konvoi darat GMJ Indonesia tiba di Bandara Internasional Queen Alia Amman Yordania pada pukul 23.10 waktu setempat. Di bandara Amman, Tim Konvoi Darat dijemput oleh Tim GMJ Indonesia rute 2 yang sudah lebih dulu tiba di Yordania yang kemudian dibawa ke penginapan dimana delegasi Indonesia lainnya sudah menunggu. Sesampainya di penginapan, di daerah Syifa Badran, rombongan Konvoi Darat GMJ bisa beristirahat dengan tenang dan membersihkan badan setelah hampir tiga hari tidak mandi. Kamis (29/03), pagi hingga siang harinya, tim GMJ Indonesia baik rute 1 (konvoi darat) maupun rute 2 sebanyak 79 orang berkumpul untuk melakukan evaluasi kegiatan konvoi darat yang telah dilalui, membahas segala kekurangan dan keterbatasan yang ada untuk dilakukan perbaikan pada GMJ di tahun-tahun mendatang. Usai shalat maghrib seluruh rombongan GMJ Indonesia menghadiri acara jamuan makan malam di kediaman KBRI Jordania. Selepas menikmati hidangan, diadakan acara ramah-tamah dan sambutan dari pimpinan masing-masing delegasi. Acara dibuka oleh Bapak Zainul Bahar Noor, Duta Besar RI untuk Yordania sekaligus selaku tuan rumah yang didampingi oleh istri, Ibu Rosidah. Disusul oleh Bapak Bachtiar Nasir selaku Ketua ASPAC (Asia Pasific Committee for Palestine), kemudian dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT selaku Penggagas GMJ, lalu Bapak Ferry Nur dari KISPA, Ibu Marwah Daud Ibrahim (ASPAC), Koordinator AWG (Aqsha Working Group), M. Hafidz dari DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) dan Ibuu Siti Aminah Assegaf dari VOP (Voice of Palestine). Masing-masing delegasi berkomitmen dan bersepakat bahwa rombongan dari Indonesia harus bersatu dalam satu barisan untuk acara yang akan digelar esok hari, 30 Maret 2012. Usai acara resmi ditutup, dilakukan pembicaraan antar koordinator delegasi untuk membahas masalah teknis di lapangan, termasuk memilih Koordinator Pusat untuk seluruh rombongan, yaitu Ust. Agus Sudarmaji dari AWG dan Lilik Nur Kholili dari ASPAC. Acara berakhir pukul 23.00 waktu lokal, para delegasi menuju kediaman masing-masing untuk menyiapkan acara keesokan harinya. Diperoleh informasi via SMS dari pelabuhan Beirut Lebanon bahwa tadi malam rekan-rekan delegasi GMJ dari India, Turki, Iran dan lain-lain sudah diizinkan menginjakkan kaki di Beirut dan saat ini dalam perjalanan menuju Nabakhtiye, Beirut Selatan. Laporan dari Tim GMJ Indonesia dr. Naf’an Akhun (MER-C)
Bagaimana Mungkin Orang Lain akan Menghormati Bangsa Kita, Sementara Pemerintah Kita Sendiri Mempermalukan Rakyatnya di Hadapan Bangsa Lain?

Amman Yordania: Itulah yang dialami oleh Tim GMJ (Global March to Jerusalem) Indonesia yang berangkat ke Yordania pada hari Selasa (27/3), pukul 00.40 wib. Setibanya di Bandara Amman, salah satu dari 9 orang anggota Tim GMJ rute 2, yaitu Munarman SH, ditolak kedatangannya oleh pihak imigrasi dan intelijen Yordania. Munarman juga dipaksa untuk pulang ke Indonesia pada hari itu juga. Demikian informasi dari Dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, Presidium MER-C yang juga turut berangkat dan memimpin Tim GMJ saat itu. Melalui pesan singkat yang dikirim pagi ini (28/03), dr. Joserizal menyampaikan bahwa terkait hal ini tim sudah berusaha meminta bantuan kepada KBRI di Amman untuk membantu bernegosiasi dengan pihak imigrasi Yordania. Duta Besar RI di Jordan, Bapak Zainul Bahar Nur bahkan langsung datang ke bandara untuk melakukan negosiasi dengan pihak imigrasi Yordania. Sebuah kepedulian dari Bapak Dutas Besar RI yang patut diacungi jempol. Namun, negosiasi tersebut tidak membuahkan hasil karena kenyataannya saudara Munarman SH, tetap tidak bisa masuk ke Yordania. Alasan yang disampaikan oleh pihak Imigrasi Yordania bahwa penolakan Munarman adalah atas permintaan pihak Intelijen RI. ”It’s not from our side,” kata mereka. Ketika Cat Steven (Yusuf Islam) berkunjung ke Amerika tetapi ditolak oleh pihak imigrasi Amerika, pemerintah Inggris menyampaikan nota protes dan kecaman kepada pemerintah Amerika. Tetapi apa yang dialami oleh rakyat Indonesia sungguh berbeda, ungkap dr. Joserizal. 79 Orang Delegasi Indonesia Siap Ikut GMJ pada 30 Maret 2012 di Yordania Sementara itu, hingga saat ini total jumlah delegasi Indonesia di bawah koordinasi MER-C yang akan mengikuti GMJ berjumlah sekitar 79 orang. Dua delapan (28) orang diantaranya mengikuti GMJ melalui konvoi darat (rute 1) telah bertolak ke Karachi (Pakistan) pada tanggal 9 Maret 2012 lalu. Sementara sisanya, sebanyak 51 orang mengikuti GMJ melalui rute 2, yaitu dari Jakarta langsung ke Amman Yordania yang dibagi menjadi beberapa gelombang keberangkatan. Delegasi Indonesia bersama jutaan rakyat sipil dari berbagai penjuru dunia akan berkumpul dan melakukan kampanye damai di perbatasan Israel Yordania pada tanggal 30 Maret 2012 mendatang. Delegasi Indonesia terdiri dari perwakilan sejumlah lembaga peduli Palestina seperti MER-C, VOP (Voice of Palestina), Aqsa Working Group (AWG), Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Forum Indonesia Muda (FIM), Front Pembela Islam (FPI), Komunitas Facebook I Love Muhammad, Perwakilan Mahasiswa dan juga 3 orang jurnalis dari TV One, Metro TV dan Harian Umum Republika. Misi GMJ untuk Membebaskan Jeruslaem dan Mematahkan 4 Mitos Hak Zionis Israel Sebelum berangkat, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT sempat mengingatkan kepada para peserta bahwa misi kali ini adalah untuk pembebasan Jerusalem dari cengkeraman zionis Israel. Global March to Jerusalem adalah gerakan penyadaran masyarakat dunia bahwa kota Jerusalem adalah kota untuk 3 agama: Islam, Kristen dan Yahudi serta milik pecinta Kemanusiaan dan Keadilan. Bukan milik Zionis, tegasnya. Gerakan ini, lanjutnya, juga untuk mematahkan 4 mitos hak yang selama ini diyakini oleh zionis. Keempat hak tersebut adalah Yahudi adalah etnis terpilih untuk memimpin dunia, mereka adalah pemilik tanah Palestina yang dijanjikan, mereka berhak kembali ke tanah itu dan mereka berhak untuk melakukan serangan lebih dulu. Empat hak inilah yang harus kita patahkan karena tidak bisa berdampingan dengan norma-norma peradaban manusia, ungkap dr. Joserizal kepada para peserta GMJ Indonesia. Selain itu, semua peserta juga diingatkan untuk senantiasa meluruskan niat dan menyiapkan diri dengan segala kemungkinan bahkan yang terburuk sekalipun. Sementara itu, Tim Konvoi Darat GMJ yang terdiri dari berbagai negara, yaitu Indonesia (28 orang), Filipina (3 orang), Malaysia (1 orang), India (34 orang), Iran (40 orang), serta beberapa orang Irak, Azerbaijan, Bahrain, Tajkishtan, Saudi Arabia, USA dan Turki siang ini dikabarkan sudah merapat di Pelabuhan Beirut Lebanon. Di pelabuhan, pihak KBRI Beirut sudah menunggu dan siap menyambut para delegasi Indonesia. Malam ini (28/03), delegasi Indonesia dijadwalkan akan langsung bertolak ke Amman Yordania dengan menggunakan pesawat untuk bergabung dengan delegasi Indonesia lainnya yang sudah lebih dulu tiba di Yordania. GMJ Indonesia
8,5 Jam Tim Konvoi Darat GMJ Indonesia Tertahan di Kapal

Turki – Selasa (27/03), dini hari pukul 02.00 wib, bus yang mengangkut rombongan Konvoi darat GMJ (Global March to Jerusalem) tiba di kota Pelabuhan Mersin, pelabuhan yang terletak di wilayah pesisir selatan negara Turki. Meski demikian para penumpang masih tertidur lelap dalam bus, kecuali yang bangun untuk mencari toilet setelah menahan buang air kecil semalaman. Seluruh rombongan baru terbangun pada pukul 05.30 saat terdengar adzan subuh dari sebuah masjid terdekat. Sebagian rombongan, termasuk saya, segera mencari arah suara adzan untuk mengikuti shalat berjamaah. Usai shalat subuh, para delegasi segera membersihkan diri walau hanya sekedar menyikat gigi di masjid bernama Haliliye (Resadiye) Camii. Masjid mungil dan cantik ini dibangun pada masa H. Mehmet Pasa Tarafindan pada tahun 1908. Diperoleh informasi bahwa pemberangkatan menuju Beirut (Libanon) ditunda karena cuaca buruk dan angin kencang, ditambah lagi pengurusan visa masuk Beirut yang belum selesai. Namun satu alasan paling mendasar adalah mewaspadai mata-mata bila perjalanan dilakukan di siang hari. Untuk sementara, seluruh rombongan sementara menunggu di Cypru Bazaar, sebuah toko di tepi pantai yang masih dalam renovasi untuk menampung bagasi para delegasi. Pukul 21 waktu lokal, kapal laut yang ditunggu-tunggu mulai kelihatan. Perlahan kapal merapat di dermaga dekat lokasi penampungan bagasi. Seluruh delegasi bersiap, mulai dilakukan pengecekan paspor dan visa masuk Beirut. Jam 23.30 waktu lokal, Emeraude Express, kapal laut yang ditumpangi seluruh delegasi mulai melaju perlahan menuju arah selatan, membelah ombak laut Mediterania dengan tujuan pelabuhan Beirut di Libanon. Rabu (28/03) pukul 07.00 pagi waktu lokal, mulai nampak bayangan gedung-gedung bertingkat kota Beirut. Emeraude Express tetap melaju dengan kecepatannya yang konstan hingga akhirnya bersandar di pelabuhan Beirut pada pukul 09.30 waktu Beirut. Di pelabuhan, para delegasi GMJ dari berbagai negara; India, Indonesia, Filipina, Malaysia, Iran, Turki dll berpikir bisa segera turun dan bergabung dengan delegasi yang lain. Tapi ternyata masih menunggu lama dengan ketidakpastian. Informasi simpang siur; belum bisa keluar dari kapal karena masih terganjal dengan masalah visa masuk Beirut. Awalnya para delegasi bersikap tenang dengan mengobrol dan bercanda di dalam kapal maupun di dek. Ada juga yang berusaha mengajak ngobrol aparat keamanan yang mondar mandir di luar kapal, walaupun tidak membuahkan hasil. Aparat bersenjata lengkap hanya diam dan memasang muka sangar. Pukul 12.00, Feroze Mithiborwala, selaku koordinator GMJ India, membawa informasi bahwa tertahannya para delegasi ternyata bukan karena masalah visa belaka, tetapi karena situasi politik Libanon dengan adanya pihak-pihak yang tidak menginginkan delegasi GMJ memasuki Libanon. Para delegasi mulai emosional, berbondong-bondong naik ke palka/atap kapal sambil meneriakkan yel-yel dan memukul-mukul atap kapal. Setelah tertahan selama kurang lebih 8,5 jam di kapal, khusus delegasi Indonesia yang berjumlah 28 orang mendapat jaminan visa dari KBRI Libanon sehingga akhirnya mendapat kemudahan untuk keluar dari kapal, dengan syarat yang digaris bawahi: delegasi Indonesia dilarang menuju Lebanon Selatan. Syarat ini bisa menjadi masalah di kemudian hari, karena delegasi Konvoi Darat GMJ Indonesia memutuskan berkampanye di dua front, yaitu front Lebanon selatan dan front Yordania. Bagi front Yordania, syarat tersebut tidak menjadi masalah karena delegasi Indonesia memasuki Beirut hanya sekedar transit, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan via udara menuju Amman, Yordania pada malam harinya. Pukul 19.30 waktu lokal, rombongan dari Indonesia menghadiri jamuan makan malam di KBRI yang diterima langsung oleh Duta Besar RI untuk Lebanon, Bpk. Dimas Samodra Rum. Usai makan malam dan shalat, rombongan segera menuju bandara Internasional Rafiq Hariri Beirut, mengejar jadwal pesawat yang akan take off pada pukul 22.15 waktu lokal. Alhamdulillah, penerbangan selama 45 menit lancar hingga mendarat di bandara Internasional Queen Alia Amman Yordania pada pukul 23.10 waktu setempat. Di bandara Amman, rombongan GMJ (yang telah bertemu dengan panitia penjemputan) langsung meluncur untuk bergabung dengan Tim GMJ Rute 2 yang sudah lebih dulu tiba di Yordania dan menunggu di penginapan. Sesampainya di penginapan, di daerah Syifa Badran (Belakang Levant Academic School), rombongan Konvoi Darat GMJ bisa beristirahat dengan tenang dan membersihkan badan setelah hampir tiga hari tidak mandi. Sampai berita ini ditulis, belum diperoleh informasi mengenai nasib delegasi GMJ dari negara lain yang kami tinggal di atas kapal dan nasib delegasi GMJ Indonesia front Libanon. Naf’an Akhun GMJ Indonesia dari MER-C
Hari ini, Rombongan Terakhir GMJ Indonesia Bertolak ke Yordania

Jakarta Hari ini, Selasa (27/03), dua rombongan terakhir GMJ (Global March to Jerusalem) Indonesia bertolak ke Amman Yordania. Rombongan pertama berjumlah 9 orang telah bertolak ke Amman Yordania pada pukul 00.40 wib dengan menggunakan Emirates Airlines. Kesembilan orang tersebut merupakan perwakilan dari beberapa lembaga seperti MER-C, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Aqsa Working Group (AWG), Front Pembela Islam (FPI), dan Forum Indonesia Muda (FIM). Rombongan langsung dipimpin oleh dr. Joserizal Jurnalis, SpOT. Rombongan kedua sebanyak 3 orang yang semuanya berasal dari Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) akan menyusul terbang ke Amman (Yordania) pada siang ini. Untuk itu, sampai dengan saat ini total jumlah delegasi Indonesia di bawah koordinasi MER-C yang akan berkumpul di Amman Yordania untuk mengikuti gerakan masyarakat sipil dunia Global March to Jerusalem (GMJ) pada tanggal 30 Maret 2012 mendatang, berjumlah 79 orang. Sebanyak 28 orang mengikuti GMJ melalui konvoi darat (rute 1) yang telah bertolak ke Karachi (Pakistan) pada tanggal 9 Maret 2012 lalu. Sementara sisanya, sebanyak 51 orang mengikuti GMJ rute 2, dari Jakarta langsung ke Amman Yordania. Sebelum berangkat, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT mengingatkan kepada para peserta bahwa misi kali ini adalah untuk pembebasan Jerusalem dan mematahkan 4 mitos hak yang selama ini diyakini oleh zionis Israel. Keempat hak tersbeut adalah Yahudi adalah etnis terpilih untuk memimpin dunia, mereka adalah pemilik tanah Palestina yang dijanjikan, mereka berhak kembali ke tanah itu dan mereka berhak untuk melakukan serangan lebih dulu. Empat hak inilah yang harus kita patahkan karena tidak bisa berdampingan dengan norma-norma peradaban manusia, tegas dr. Joserizal pada saat briefing singkat Tim di Terminal 2D Bandara Internasional Soekarno Hatta tadi malam.