MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Komnas HAM Calls for Water in Buyat to Tested

TEMPO Interactive, Jakarta (24/02):The National Commission on Human Rights (Komnas HAM) is urging the environment and health ministries to re-test the water in wells in Buyat, North Sulawesi. This is to follow-up on a report from the Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) and the Environment Ministry that showed indications that Buyat villagers had arsenic poisoning. This time, the study must focus on the water that is believed to have caused illness in the area, Komnas HAM deputy head Ridha Saleh told Tempo yesterday. Ridha said that water in the village had been contaminated by dangerous minerals as a result of PT Newmont Minahasas Rayas (NMR) mining activities in 2004. The Environment Ministry and MER-C previously conducted continuous health checks on Buyat villagers. The result showed that 60 percent of 65 villagers had arsenic poisoning. This was different from the Health Ministrys finding that showed there was no health disorders from the water. Ridha said that Komnas HAM had called on the regional government to provide potable water for the villagers. She also said she hoped the government would respond promptly to the request because Komnas recommendation letter was sent two weeks ago. MUNAWWAROH http://www.tempointeractive.com/hg/nasional/2012/02/24/brk,20120224-386219,uk.html

Krisis BBM dan Listrik, membuat Gaza makin terpuruk

Gaza – Ketika disebut Gaza atau Palestina tentu terbayang oleh kita bagaimana banyak kekejaman Zionist Israel terjadi. Gaza, derita penduduknya seolah tiada henti, setelah diblokade secara illegal oleh Israel selama 2 tahun, dilanjutkan dengan bombardir selama 22 hari oleh Zionist Israel terhadap gaza, dan blockade terus berlanjut hingga kini, bahkan kian hari terasa semakin buruk serta menambah penderitaan rakyatnya Sebagai relawan yang telah tinggal sekitar satu tahun lebih di Gaza, untuk mengawal pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Kami benar-benar merasakan rasanya bagaimana hidup terblokade dari dunia luar. Berbagai krisis melanda, berbagai permasalahan datang seolah tiada henti-hentinya mendera rakyat Gaza.   Saat ini ada dua krisis utama yang terjadi di Gaza, krisis BBM dan krisis listrik. Krisis ini sangat sering terjadi di Gaza sehingga menimbulkan efek berantai terhadap sisi kehidupan rakyat Gaza. Ketergantungan terhadap bahan bakar sebagai penggerak roda kehidupan rakyat sangat tinggi. Dalam 2 minggu terakhir, kelangkaan BBM semakin parah, antrian-antrian kendaraan di depot pengisian BBM semakin mengular. Berjam-jam mengantri namun ketika tiba didekat pom bensin, maka bbm yang dibutuhkan telah habis. Ini yang dialami oleh tim Mer-c gaza, saat mengantri di sebuah depot pengisian bbm, ikut mengantri bersama penduduk Gaza dan ketika berjarak sekitar 2-3 mobil, BBM habis dan depot pun seketika tutup. Krisis listrik pun tak kalah menyebabkan penderitaan yang berat, tahun 2010 saat pertama kali kami datang ke gaza, pemadaman listrik terjadi setiap delapan jam dalam artian delapan jam hidup dan delapan jam mati, begitu seterusnya. Kejadian ini berlanjut setiap hari di Gaza. Namun kini krisis listrik bertambah parah, seiiring langkanya BBM maka listrik pun menjadi langka, sehingga membuat Gaza dalam gelap gulita. Kebutuhan 2/3 listrik di Gaza yang disuplay dari satu satunya generator di Gaza telah berhenti beroperasi pada hari selasa yang lalu, dikarenakan terbatasnya BBM yang ada. Dalam satu hari hanya 6 jam listrik hidup dan 18 jam mati. Dan hidupnya listrik itu hanya saat malam hari sejak pukul 06.00 sore hingga 12.00 tengah malam. Tidak terbayang bagaimana menderitanya pasien rumah sakit, terutama mereka yang berada di ruang ICU yang membutuhkan alat-alat kelistrikan untuk menyambung hidup mereka. Direktur teknik departemen kesehatan gaza, Ir. Bassam menyatakan seperti dikutip maannews, bahwa dalam satu jam kebutuhan BBM untuk menghidupkan listrik di seluruh RS di Gaza adalah 815 liter. Artinya dalam satu hari perlu sekitar 19.560 liter bbm untuk kebutuhan generator rumah sakit. Sector pendidikan pun tak luput dari krisis ini, anak-anak yang belajar dimalam hari pun akan terganggu karena tidak ada penerang akibat putusnya jaringan listrik. Pabrik-pabrik yang memproduksi roti dan makanan juga tak luput dari krisis ini, beberapa pabrik sempat kesulitan menjalankanproduksinya karena kekurangan bbm. Menurut sebuah sumber dari pusat hak asasi manusia di Pelestina, bahwa kebutuhan BBM setiap harinya untuk menghidupkan listrik di Gaza sebesar 600.000 liter. tapi sejak jumat (10/02) lalu BBM yang masuk ke Gaza melalui mesir hanya 340.000 liter, sedangkan tidak ada stok / cadangan BBM yang mencukupi di Gaza. BBM yang berasal dari terowongan antara perbatasan rafah dan mesir ini menjadi sangat terbatas, karena ada pembatasan pengiriman dari pihak mesir. Dari beberapa sumber di Gaza, pembatasan ini akibat adanya permintaan dari pihak penyuplai BBM dari mesir untuk menaikan harga bahan bakar minyak. Harga BBM di Gaza untuk jenis solar sebesar 2,5 sheqel atau setara dengan 6.250 rupiah per liter, Sedangkan untuk jenis bensin super seharga 4 sheqel atau setara 10.000 rupiah per liter. Dari harga tersebut para penyuplai BBM via terowongan menginginkan kenaikan sebesar 0.5 sheqel per liternya. Sementara pihak pemerintah setempat telah melakukan berbagai langkah dengan berkoordinasi dengan pihak otoritas pemerintah mesir agar krisis ini segara dapat teratasi. Entah sampai kapan penderitaan ini akan berakhir, semoga ALLAH Subhanahu wa Taala memberikan pertolongan, kekuatan dan kesabaran bagi rakyat Gaza, yang merupakan penjaga tanah waqaf kaum muslimin ini. (nia/gz)

RSI Gaza Capai 80 % untuk Pekerjaan Tahap Pertama

Gaza – Alhamdulillah, tak terasa pekerjaan tahap pertama pembangunan RSI Gaza hampir selesai. Minggu terakhir Januari 2012 ini insha ALLAH mencapai 80 %. Pekerjaan tahap pertama yang sudah berjalan selama 8 bulan ini telah mendekati akhir, jika tidak ada kendala berarti pekerjaan struktur akan selesai dalam dua bulan mendatang. Selesainya pembangunan RSI Gaza Tahap pertama ini memang sedikit diluar rencana. Dalam jadwal rencana seharusnya RSI Gaza selesai pada bulan Februari 2012, namun berbagai kendala yang ada di lapangan membuatnya sedikit mundur dari rencana.   Kendala-kendala tersebut antara lain terlambatnya pengadaan material, kemudian kondisi cuaca dalam dua bulan terakhir selalu turun hujan, dan beberapa item pekerjaan tambahan hingga terlambat sekitar 1 bulan. Hal ini terhitung sangat normal, karena membangun di daerah konflik memang tidak mudah. Sejak awal RS ini akan dibangun memang banyak kendala yang dihadapi, mulai dari susahnya para relawan masuk ke Gaza untuk mengawal pembangunan, susahnya mendapatkan material yang disebabkan material harus diadakan melalui terowongan, ditambah lagi kondisi keamanan di Gaza sendiri yang tidak pernah lepas dari serangan-serangan Israel. Hal ini mengakibatkan beberapa kali proses pembangunan harus dihentikan, serta berbagai kendala yang harus dihadapi. Namun, MER-C dan para relawannya berkomitmen penuh bahwa amanah ini tetap harus dikerjakan dengan cara apapun, dengan jalan apapun. Tidak ada kata menyerah untuk menyelesaikan amanah ini. Komitmen inilah yang membuat MER-C terus bergerak maju menunaikan amanah dari rakyat Indonesia. Sungguh tidak terbayang sebelumnya pekerjaan yang semula hanya mimpi ini telah mencapai progress yang begitu jauh. Dari kejauhan RSI Gaza berbentuk segi delapan seperti Qubbah Sakhra di Masjid Al-Aqsha ini sudah nampak berdiri tegak diantara bangunan-bangunan lainnya di Bayt Lahiya, Gaza Utara. Letaknya yang berada didekat perbatasan Gaza dan tanah jajahan Israel membuat bangunan ini seperti sebuah benteng kokoh yang melawan arogansi dan kebiadaban Israel terhadap bangsa Palestina. Terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala dukungan yang diberikan oleh rakyat Indonesia. Rumah Sakit Indonesia di Gaza ini akan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia di dunia International. Jika Indonesia punya Masjid Istiqlal di Bosnia yang dibangun oleh Soeharto, maka  saat ini Indonesia punya Rumah Sakit yang dibangun oleh kekuatan rakyat, yang dibangun oleh rasa persatuan, rasa cinta rakyat Indonesia terhadap Palestina. Sekali lagi sejarah mencatat, jika rakyat Indonesia adalah rakyat yang  besar yang mampu berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun. Rakyat Indonesia mampu berbuat banyak demi kebanggaan bangsa di dunia international. Rakyat bersatu takkan terkalahkan.

Atas Permintaan Pemda Setempat, MER-C Kirim Tim ke-2 ke Sampang

Tanggapan atas Berita Dinilai tanpa Izin, Aktivis MER-C di Karang Gayam DipersoalkanHarian Radar Sampang, Edisi Rabu (25/01)   Jakarta Atas permintaan langsung dari Pemda Sampang melalui Bakesbang Sampang, MER-C memutuskan untuk mengirimkan kembali Tim Medisnya ke Sampang. Saya ditelpon dari Pemda Sampang, Bapak Rudi dari Bakesbang Sampang agar MER-C menurunkan Tim Medis karena menurutnya MER-C dapat dipercaya oleh kedua belah pihak, demikian ungkap dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, Presidium dan Pendiri MER-C. Menanggapi permintaan tersebut, MER-C sebagai sebuah lembaga sosial kegawatdaruratan medis untuk korban perang, konflik dan bencana alam baik di dalam maupun di luar negeri kemudian memberangkatkan Tim Medisnya ke Sampang pada hari Senin (23/01) lalu. Ini merupakan Tim ke-2 setelah sebelumnya Tim Medis MER-C sempat memberikan bantuan pelayanan medis bagi 600 pengungsi konflik Sunni Syiah di di GOR Sampang pada 8 12 Januari 2012. Keberadaan Tim MER-C kali ini diharapkan bisa ikut membantu meredam konflik melalui pendekatan pelayanan kesehatan bagi kedua belah pihak yang sempat bertikai.   Sesampainya di Sampang, Tim MER-C pun langsung berkoordinasi dengan Kapolres setempat untuk kemudian melakukan survey lokasi dalam rangka pendirian pos kesehatan yang nantinya bisa mencakup kedua belah pihak yang bertikai, yaitu Sunni Syiah. Dari informasi yang diterima oleh Tim MER-C pada hari Jumat, 20 Januari 2012, masing-masing pihak yang bertikai sebenarnya telah berdamai. Hari itu baik komunitas Syiah dan Sunni melakukan shalat jumat di masjid yang sama, masjid Al Anshar Banyu Arum yang terletak diantara dua komunitas. Usai berkoordinasi, Tim MER-C langsung melakukan survai lokasi ditemani oleh WaKapolres Sampang dengan pengawalan ketat menggunakan 3 buah mobil Ranger milik Polres. Tim harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri jalanan setapak naik turun berlumpur dan berbatu untuk memasuki dusun kecil tempat terjadinya konflik, yaitu dusun Angsanah dan Gading Laok desa Bluuran kec. Karang Penang dan dusun Nangkernang, desa Karang Gayam Kec. Omben, kab Sampang. Hari itu diputuskan lokasi posko kesehatan MER-C sementara berada di Masjid Al Anshar, sambil menunggu perkembangan selanjutnya dari Pemda terkait, khususnya Dinas Kesehatan. Esok harinya,, Selasa (24/01), sebelum bergerak menuju posko kesehatan yang sudah disepakati kemarin, Tim MER-C terlebih dahulu berkunjung ke Kantor Dinas Kesehatan untuk berkoordinasi dan meminta izin ke Dinas Kesehatan Kab. Sampang. Kedatangan Tim MER-C diterima dengan hangat oleh dr. Firman selaku Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kab. Sampang. Turut hadir dalam pertemuan hari itu, Bapak Arsyad – dari anggota DPRD II Jawa Timur. Dari pembicaraan antara Tim MER-C dengan Dinas Kesehatan, akhirnya disepakati bahwa Tim MER-C akan bergerak secara sinergis beserta Tim dari Dinas Kesehatan setempat. Hasil pertemuan saat itu juga mengagendakan pelaksanaan ulang kegiatan Posyandu untuk bulan Januari ini pada hari kamis besok, 26 Januari 2012. Menurut Kadinkes, Posyandu bulan Januari sebenarnya sudah dilaksanakan, namun kegiatan Posyandu di hari Kamis besok akan disertai dengan pengobatan massal dari Tim MER-C, untuk melayani masyakarat yang terlibat konflik Sunni-Syiah. Usai pertemuan dengan Dinas Kesehatan, Tim MER-C dibagi menjadi dua tim. Tim Pertama langsung bertugas di Masjid Al Anshar Banyu Arum sesuai rencana semula, sementara Tim kedua menuju Puskesmas Omben dan Puskesmas Karang Penang untuk koordinasi mengenai kegiatan Posyandu dan Pengobatan Massal hari Kamis besok. Siang harinya, Tim Medis MER-C yang berjaga di Masjid Al Anshar Banyu Arun siang itu mulai kedatangan warga yang akan berobat. Hingga sore hari sebanyak 65 warga, baik tua-muda, anak-dewasa, dari kedua belah pihak Sunni Syiah datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan cuma-cuma. Misi Kemanusiaan di Sampang merupakan salah satu bagian dari kegiatan MER-C. Saat ini MER-C juga tengah melakukan kegiatan sosial kemanusiaan di berbagai wilayah baik di Indonesia maupun di luar negeri seperti: di wilayah tsunami Aceh, wilayah gempa Padang (Sumbar), wilayah banjir lahar dingin Yogyakarta, puluhan klinik sosial yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, pembangunan RS di Galela (Maluku Utara) hingga Pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Dalam melakukan misi kemanusiaannya, MER-C menyalurkan donasi dari masyarakat berdasarkan amanahnya.

Ustadz Solmed Gandeng Divisi Yankes MER-C Adakan Khitanan Massal

Jakarta Di penghujung akhir tahun 2011, Divisi Yankes MER-C dipercaya oleh Ustadz Soleh Mahmud atau lebih dikenal dengan Ustad Solmed untuk menjadi Tim Medis kegiatan sosial berupa khitanan massal yang digelar di lingkungan rumahnya di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kegiatan sosial yang merupakan salah satu wujud perhatian Ustadz Solmed kepada masyarakat di sekitar tempat tinggal barunya ini diselenggarakan pada hari Kamis (29/12) bertempat di lapangan hati PKK Kebon Jeruk. Kegiatan dimulai pukul 09.00 wib dan berakhir pukul 12.00 siang.   Dalam kegiatan ini, Divisi Yankes MER-C menurunkan 16 orang relawan yang terdiri dari 14 relawan medis dan 2 relawan non medis. Sekitar 29 orang anak kurang mampu dikhitan pada hari itu. Acara dibuka langsung oleh Ustadz Solmed sebagai pemilik hajat dengan dimeriahkan oleh Yadi sembako dan Teamlo. Tak lupa ustadz-ustadz dari Dai Center juga turut memberi siraman rohani bagi anak-anak peserta khitan dan masyarakat yang hadir. Alhamdulillah, semua rangkaian kegiatan dan khususnya khitanan berjalan lancar sampai selesai.     Divisi Yankes (Pelayanan Kesehatan) MER-C merupakan salah satu divisi yang bertujuan untuk menggalang dana bagi kegiatan operasional kemanusiaan MER-C melalui penawaran jasa medis berupa khitanan massal dan pengobatan massal kepada lembaga/institusi/perusahaan maupun individu.

Silahkan bertanya?