Komunitas Peduli Palestina Masamba Serahkan Donasi untuk Palestina Lewat MER-C

Masamba — Komunitas Peduli Palestina Masamba kembali menunjukkan solidaritasnya terhadap perjuangan rakyat Palestina dengan menggelar Aksi Bela Palestina di Lampu Merah Monumen Masamba Affair pada Sabtu, 20 April 2025. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penggalangan donasi dari masyarakat. Dari aksi tersebut, terkumpul donasi sebesar Rp 33.104.100. Donasi ini kemudian diserahkan secara simbolis oleh Bupati Luwu Utara, Bapak Andi Abdullah Rahim, kepada Ketua Komunitas Peduli Palestina Masamba, Ibu Ratna Sari Dewi, sebelum akhirnya diteruskan kepada Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). Sebelumnya, Komunitas Peduli Palestina Masamba juga secara rutin menggalang dana dari masyarakat melalui aksi serupa di sejumlah titik strategis, termasuk lampu merah. Hasil penggalangan sebelumnya telah disalurkan ke MER-C dengan total donasi mencapai Rp 15.940.000.
MER-C Kembali Salurkan Food Aid untuk Relawan dan Warga Sekitar RS Indonesia di Gaza Utara

Gaza — Di tengah kelangkaan bahan makanan dan melonjaknya harga kebutuhan pokok akibat blokade bantuan kemanusiaan yang masih berlangsung, MER-C Indonesia kembali menyalurkan bantuan makanan (food aid) kepada relawan lokal dan warga di sekitar Rumah Sakit Indonesia, Beyt Lahiya, Gaza Utara. Program bantuan pangan ini disalurkan dalam tiga tahap, yaitu pada 14, 19, dan 21 April 2025. Bantuan berupa 650 paket bahanan makanan yang terdiri dari tepung dan sayur-sayuran. Penyaluran ini dilakukan langsung oleh Tim EMT 8 bersama staf lokal MER-C yang masih berada di Gaza, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di tengah situasi krisis kemanusiaan yang semakin memburuk. Tim Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-8 yang saat ini bertugas di Jalur Gaza mengatakan, kelangkaan dan tingginya harga bahan makanan di pasar menjadi tantangan besar bagi masyarakat Gaza saat ini. Oleh karena itu, distribusi bantuan harus dilakukan secepat mungkin untuk meringankan beban para relawan dan warga. MER-C Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus hadir mendampingi masyarakat Gaza, terutama mereka yang berada di sekitar RS Indonesia, yang saat ini menjadi salah satu pusat layanan kesehatan yang masih beroperasi di wilayah utara Jalur Gaza.
Tim EMT MER-C Perlihatkan Kondisi Terkini Area Komplek RS Indonesia di Gaza

Gaza, 18 April 2025 — Tim Emergency Medical Team (EMT) ke-8 MER-C Indonesia memperlihatkan kondisi terbaru di area Komplek Rumah Sakit Indonesia, Gaza, pada Kamis (18/4). Tim EMT MER-C menunjukan bagaimana kondisi terbaru di area komplek RS Indonesia dengan berjalan keliling area rumah sakit. Tim memperlihatkan beberapa pintu utama RS Indonesia yang menjadi akses keluar-masuk bagi pasien maupun relawan medis. Di sekitar area tersebut terdapat banyak pengungsi, karena wilayah tempat tinggal mereka telah hancur akibat serangan dan kini termasuk dalam zona merah (Red Zone). Di tengah krisis dan serangan yang terus berlangsung di Jalur Gaza, MER-C tetap melanjutkan proses rekonstruksi RS Indonesia yang sebelumnya mengalami kerusakan parah akibat serangan penjajah Israel. Informasi selengkapnya :
Kembali dari Gaza: Dr. Wahyu Bimantoro Ungkap Situasi Mencekam di Balik Serangan Beruntun dari Penjajah

Setelah menjalankan misi kemanusiaan di Jalur Gaza, Palestina, selama lebih dari satu bulan, salah satu relawan Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-8, dr. Wahyu Bimantoro, Sp.An-TI, telah tiba kembali di Indonesia pada Kamis, 17 April 2025. Dr. Wahyu mengungkap bahwa situasi di Gaza terus memburuk sejak berakhirnya gencatan senjata pada 18 Maret 2025. Puluhan serangan terjadi hampir di seluruh wilayah Gaza setiap harinya, menyebabkan banyak korban jiwa dan luka-luka. Bahkan gedung milik PBB juga tak luput dari serangan. Selama bertugas, Tim EMT MER-C ke-8 menghadapi berbagai tantangan, namun tetap mampu menjalankan tugas dengan baik hingga kembali ke Tanah Air. Rekonstruksi Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara juga terus berjalan meskipun di tengah situasi yang tidak menentu . Dr. Wahyu menekankan bahwa serangan yang terus berlangsung di Gaza membutuhkan dukungan dan bantuan yang besar. Ia mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak melupakan Gaza, karena hingga saat ini kondisinya masih sangat memprihatinkan.
Satu Relawan EMT MER-C Tiba di Tanah Air, Lima Lainnya Masih Bertugas di Gaza

Jakarta – Salah satu relawan Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-8, dr. Wahyu Bimantoro, SpAn, telah tiba di Indonesia pada Kamis (17/4), setelah menjalankan misi kemanusiaan di Jalur Gaza, Palestina. Sementara itu, lima relawan lainnya masih bertugas di Rumah Sakit Indonesia Gaza Utara, menunggu izin keluar dari wilayah tersebut. Dr. Wahyu masuk ke Jalur Gaza pada 4 Maret 2025 bersama tim EMT MER-C ke-8. Usai menjalankan tugas selama lebih dari satu bulan, ia akhirnya dapat keluar setelah melalui proses yang panjang dan penuh tantangan. Pada Minggu (13/4), dr. Wahyu bergerak meninggalkan RS Indonesia menuju Deir Balah di Gaza Tengah, tempat Posko MER-C berada. Ia bergabung dengan konvoi kemanusiaan yang difasilitasi oleh World Health Organization (WHO). Perjalanan sempat mengalami beberapa kali penundaan sebelum akhirnya memperoleh izin melintasi Netzarim Corridor, jalur pemisah yang dijaga ketat. Selanjutnya, pada Selasa (15/4), dr. Wahyu berhasil keluar dari Jalur Gaza melalui Perbatasan Kerem Shalom dan melanjutkan perjalanan ke Amman, Yordania, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia. Kepulangan dr. Wahyu disambut hangat oleh keluarga serta perwakilan dari MER-C. Sementara lima relawan EMT-8 lainnya masih menanti proses izin keluar dari Gaza.
Relawan EMT MER-C Kunjungi Klinik Al Aqsa B di Gaza Selatan

Gaza Selatan, 14 April 2025 — dr. Wahyu Bimantoro, SpAn., relawan Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-8, melakukan kunjungan ke Klinik Al Aqsa B di Al Mawasi, Khan Younis, Gaza Selatan, pada Senin (14/4). dr. Wahyu mengatakan, banyak yang belum mengetahui bahwa Klinik Al Aqsa B merupakan klinik spesialis yang didukung oleh MER-C Indonesia sejak 26 Oktober 2024, bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Palestina (MoH) di Gaza. Klinik ini sangat berarti bagi masyarakat Gaza khususnya di selatan, karena pasca gencatan senjata dihentikan tanggal 18 Maret 2025, banyak pengungsi bergerak ke arah selatan terutama Khan Younis. Klinik dengan bangunan menggunakan kontainer ini memiliki 37 staf medis, termasuk 11 dokter spesialis, 3 dokter umum, 3 tenaga farmasi, dan 1 ahli gizi. Klinik ini kini menangani lebih dari 1.000 pasien per hari, memberikan layanan medis kepada warga yang terdampak pascakonflik. Kunjungan dr. Wahyu menjadi bagian dari upaya memastikan keberlanjutan bantuan medis kepada masyarakat Gaza, di mana tim MER-C Indonesia berperan aktif dalam mendukung sistem kesehatan yang tengah mengalami krisis.
MER-C Silaturahim ke Menkes RI Periode 2004–2009, dr. Siti Fadilah Supari

Jakarta, 11 April 2025 – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) melakukan kunjungan silaturahim ke Menteri Kesehatan RI periode 2004–2009, dr. Siti Fadilah Supari, pada Jumat (11/4). Kunjungan ini dalam rangka Hari Raya Idul Fitri, di mana dr. Siti merupakan salah satu tokoh yang mendukung berbagai aktivitas kemanusiaan MER-C, khususnya program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Hadir dalam kunjungan tersebut antara lain Presidium MER-C dr. Yogi Prabowo, Sp.O.T, SubSp.Onk.Orth.R (K)., Sp.Em., dr. Zecky Eko Triwahyudi, Sp.O.T., SubSp.C.O.(K)., M.A.R.S., relawan MER-C dr. Fahmi Anshori dan dr. Ni Nyoman Indirawati Kusuma, Sp.PD., serta Manajer Operasional Rima Manzanaris . Dalam kesempatan itu, dr. Yogi menyampaikan laporan terbaru terkait aktivitas MER-C di Gaza yang masih berlangsung hingga kini. Ia mengatakan saat ini, enam relawan MER-C masih bertugas di Gaza dan aktif membantu pelayanan medis di Rumah Sakit Indonesia. Dr. Siti Fadilah juga melakukan panggilan vidio dengan tim MER-C di Gaza. Sambungan tersebut diwakili oleh dr. Tonggo Meaty Fransisca, salah satu Presidium MER-C yang juga tergabung dalam tim relawan di Gaza. Melalui panggilan vidio itu, dr. Meaty menyampaikan kondisi terkini di Gaza serta perkembangan aktivitas medis yang dijalankan tim MER-C. Selain itu, dr. Siti Fadilah Supari juga melakukan podcast dengan dr. Yogi, membahas wacana pemerintah Indonesia untuk mengevakuasi 1.000 warga Gaza yang sakit ke Indonesia. Dalam perbincangan tersebut, dr. Yogi memberikan pandangan dari sudut keilmuan emergency medicine mengenai kesiapan, tantangan, dan urgensi dari wacana tersebut.
MER-C Sambangi Kantor Republika, Bahas Kemanusiaan di Gaza dan Peran Media

Jakarta — Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) melakukan kunjungan silaturahmi ke kantor redaksi media nasional Republika di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pada Jumat, 11 April 2025. Tim MER-C dipimpin oleh Ketua Presidium DR. dr. Hadiki Habib, SpPD, SpEm, didampingi oleh dr. Zecky Eko Triwahyudi, SpOT(K), MARS, dr. Fahmi Anshori, SpOT (Pengurus MER-C Cabang Mataram), dr. Siti Lirih (Relawan Medis), Manajer Operasional Rima Manzanaris serta dari tim Humas Riny Nurmarita. Kunjungan ini disambut langsung oleh Wakil Pemimpin Redaksi Republika, Stevy Maradona, bersama jajaran redaksi termasuk Fitriyan Zamzami (Asisten Redpel Nasional), Muhammad Hafil (Redaktur Khazanah), serta sejumlah wartawan Republika. Dalam kesempatan itu, Stevy Maradona menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut dan menceritakan kondisi terkini Republika yang tengah berjuang menyesuaikan diri di era digital setelah menutup edisi cetaknya. Meski begitu, ia menyebut perjuangan mereka belum sebanding dengan apa yang dilakukan oleh relawan MER-C di Gaza. “Kalau saat ini, isu utama yang harus diangkat adalah krisis kemanusiaan yang harus dihentikan agar korban tidak bertambah banyak, bertambah berat. Ini poin krusialnya. Gencatan senjata benar-benar bisa dijalankan,” kata Stevy. Menanggapi hal tersebut, dr. Hadiki menekankan pentingnya peran media dalam mendukung kerja-kerja kemanusiaan. “Syiar itu penting. Apa yang kita kerjakan kalau tidak tersiarkan jadi tidak ada maknanya. Kalaupun ada maknanya, impact-nya tidak besar. Salah satu yang bisa memberikan impact adalah media,” ujarnya. Ia juga menyebut media seperti Republika memiliki peran dalam memberikan validasi atas informasi yang disampaikan oleh MER-C. Dalam kesempatan tersebut, dr. Hadiki juga memperkenalkan jajaran pengurus MER-C yang baru dan menegaskan bahwa MER-C merupakan lembaga kemanusiaan profesional berbasis medis, bukan lembaga keagamaan dan tidak hanya fokus pada isu Palestina. “Kami juga terlibat dalam penanganan konflik dan bencana seperti Rohingya di Aceh, gempa di Afghanistan, dan yang terbaru gempa di Myanmar,” ungkapnya. Fokus utama MER-C di tahun 2025, lanjut dr. Hadiki, masih tertuju pada Gaza yang disebutnya sebagai “problem kemanusiaan abad ini”. Sebagai salah satu relawan medis yang baru kembali dari Gaza, ia juga membagikan cerita mengenai situasi terkini, termasuk upaya perbaikan RS Indonesia di tengah meningkatnya serangan militer. Saat ini, enam relawan termasuk dr. Tonggo Meaty Fransisca dari Tim EMT MER-C ke-8 masih aktif bertugas di RS Indonesia, Gaza Utara. Sementara itu, dr. Zecky menyampaikan terima kasih kepada Republika atas dukungan sejak awal pembangunan RS Indonesia di Gaza. “Tidak hanya pemberitaan, tapi juga donasi dari pembaca Republika yang menjadi bagian dari fasilitas rumah sakit tersebut,” ujarnya. Ia berharap kolaborasi antara MER-C dan Republika dapat terus berlanjut, terutama untuk kampanye perbaikan RS Indonesia. Ajakan tersebut pun disambut positif oleh pihak Republika. “Kami siap kampanye bersama kembali untuk perbaikan RS Indonesia di Gaza,” tutur Stevy Maradona.
Warga Gaza Kembali Jadi Korban dalam Serangan Terbaru Penjajah Israel di Jabalia

Breaking News Jabalia — Serangan udara kembali mengguncang wilayah Jabalia, Gaza, pada Sabtu (12/4) siang waktu setempat. Serangan yang terjadi sekitar 300 meter dari Rumah Sakit Indonesia itu menghantam sebuah sekolah, menyebabkan dua warga syahid, satu luka berat, dan tiga lainnya luka ringan. yang syahid langsung disemayamkan di ruang jenazah dekat RS Indonesia. Salah satu korban diketahui sebagai seorang ayah yang sebelumnya telah kehilangan seluruh anggota keluarganya dalam serangan 19 Maret lalu. Pada tanggal tersebut, serangan udara Israel merenggut nyawa anak, saudara perempuan dan ibunya. Tepat sebulan setelah tragedi itu, pria tersebut menyusul keluarga kecilnya. Ia meninggalkan seorang gadis kecil yang kini hidup seorang diri tanpa ayah, ibu dan saudaranya. Kisah pilu ini menambah daftar panjang penderitaan warga Gaza yang terus menjadi target serangan tanpa henti.
Katastropik Kemanusiaan Terburuk mengancam, MER-C Desak Tindakan Nyata Dunia Internasional Menghentikan Penghancuran Gaza Oleh Israel

Siaran Pers Jakarta, 10 April 2025 — Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia melalui konferensi pers pada Kamis (10/4), menyampaikan keprihatinan mendalam atas memburuknya kondisi di Jalur Gaza yang saat ini diambang katastropik kemanusiaan. Ketua Presidium MER-C Dr. dr. Hadiki Habib, Sp.PD, Sp.Em., menegaskan bahwa Israel telah berulang kali membunuh tenaga medis Gaza yang sedang aktif melakukan pelayanan kesehatan dan ini merupakan kejahatan kemanusiaan. “Keadaan ini harus terus disuarakan, karena diam adalah bentuk pembiaran,” ujarnya dalam konferensi pers di Markas Besar MER-C di Jakarta. Di tengah upaya gencatan senjata, Israel terus melakukan kejahatan kemanusiaan yang sistematis dan terencana, termasuk penyerangan terhadap tenaga medis dan pekerja kemanusiaan, bahkan staf Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Penutupan akses bantuan kemanusiaan semakin memperparah situasi, mengancam terjadinya bencana kelaparan terburuk dalam sejarah Gaza. Rumah sakit, fasilitas kesehatan, dan tenaga medis menjadi sasaran serangan, pelanggaran yang secara nyata bertentangan dengan hukum humaniter internasional. Sejak 18 Maret 2025 MER-C telah mengirimkan delapan tim medis ke Jalur Gaza dan saat ini enam relawan masih berada di Rumah Sakit Indonesia, Gaza Utara. Mereka menyaksikan langsung serangan serta kehancuran demi kehancuran yang terjadi setiap hari. Ini bukan lagi sekadar konflik. Ini adalah tragedi kemanusiaan besar yang tidak boleh dibiarkan berlangsung lebih lama. Dunia internasional harus bersuara dan bertindak. Informasi lebih lanjut:Call Center MER-C: 0811990176 Hormat kami,MER-C Indonesia