MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Bakti Sosial MER-C dan Labs School Kebayoran

Jakarta – pada tanggal 12 April 2014 tim medis MER-C mengadakan bakti sosial dengan mengadakan pengobatan masal di daerah Gandaria, Kebayoran. Acara yang berlangsung sejak pukul 9.30 pagi sampai 13.00 siang ini terlaksana  atas kerjasama dengan Lab School Kebayoran. Tim yang berjumlah 10 orang ini memberikan pengobatan kepada 250 pasien.                  

Mobile clinic di Jere – Klinik Galela

Galela – Bulan Maret ini kami merencanakan untuk Mobile Clinic MER-C ke ujung Halmahera Utara yaitu Desa Jere. Untuk mobile clinic kali ini ada dua dokter gigi yang suka rela untuk berpartisipasi, yaitu drg.Herlina (dokter gigi PTT di Puskesmas Soasio) dan drg.Besse (dokter gigi PTT dipuskesmas Kupa-Kupa). Wilayah Jere sendiri sebenarnya masuk ke wilayah puskesmas salimuli untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakatnya untuk dapat sampai ke puskesmas salimuli haru melewati jalan berbatu yang berbukit-bukit dengan jurang disisi sampingnya (ini menurut cerita orang Galela mengenai Jere). Pasien Gigi dan umum saat penobatan di Jere Baru. (ket. Foto)  Hari ini Sabtu, 9 Maret 2014, kami berangkat menuju Jere siang nanti. Persiapan untuk berangkat Kami berkumpul di Galela pukul 13.00 WIT dan berangkat pukul 13.55 WIT dari klinik MER-C Galela dengan menggunakan motor. Jalan menuju ke Jere medannya cukup berat sebelum sampai kesana kami harus melalui beberapa desa, dari mulai Limau hingga Jere. Sesampainya di kali Aru kami harus menyebrang kali karena jembatan yang baru dibangun sudah rusak kembali. Baru setelah melewati kali Aru kami sampai didesa Salimuli. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Saluta. Kami sampai di Saluta pukul 16.15 WIT dan rencana awal kami akan ke Jere dari Saluta dengan ketingting menyebrang laut, setelah sampai di Saluta kami tidak mendapatkan ketingting karena ombak bulan ini masih sangat tinggi dan berbahaya sehingga tidak ada jasa penyewaan ketingting yang stand by dipelabuhan Saluta. Akhirnya kami memutuskan lanjutkan perjalanan lewat jalan darat, dimana medan yg harus dilalui sangat sulit. Bismilah… Insya Allah aman. Daerah ini disebut gunung es karena posisinya yg curam, ini dua teman saya drg.Besse dan drg.Herlina (ransel hitam) sedang mendaki jalan. (ket. Foto) Saluta ke Jere lewat jalan darat sama artinya perjalan kesana baru akan dimulai (heheee.. lebayatun ya teh), kenapa?? Karena jalan yang menanjak, menurun, berkelok dan sisi kanan adalah jurang yg tinggi dengan dasar laut lepas ditambah lagi permukaan jalan yg penuh bebatuan. Untuk lebih amannya ketika menanjak kami berjalan kaki dan motor dikendarain dengan pelan. Tapi kami tetap semangat ini pengalaman yang baru untuk kami. Setelah melewati sekian belas tanjakan dan turunan (ga ngitung tepatnya) kami sampai juga didesa Jere Baru pukul 18.45 WIT. Selamat datang di Jere Baru. Jalan menuju rumah Kepala Desa Jere Baru (ket. Foto) Pak Kades memberitahu wilayah Jere kalau sudah tiba malam mati lampu hingga pagi hari. Saya harap untuk saat ini jangan mati lampu dulu karena disini tidak ada Genset dan emergency lamp pun kami tak punya. Setelah istirahat sebentar dan sholat maghrib, pelayanan pengobatan dari MER-C BNI kami bukan pukul 19.30 WIT untuk Jere Baru lokasinya tepat disampin rumah kepala desa setempat.  Kedua teman saya pun ikut buka pengobatan gratis atas nama MER-C  BNI untuk pasien gigi. Partisipasi masyarakat setempat  sangat baik walaupun pengobatan dibuka malam hari, mereka antusias untuk dating ke lokasi. Tidak hanya pasien umum tapi pasien gigi juga lumayan terhitung ada 5 tindakan exo (cabut gigi) yang dilakukan di Jere Baru. Karena ketersedian alat, bahan serta obat yang terbatas untuk pasien-pasien gigi, hanya bias dilakukan 5 tindakan. Pengobatan malam itu kami tutup pukul 22.00 WIT. Alhamdulillah hari ini tidak mati lampu, suatu kebetulan. Mobile Clinic MER-C BNI di Jere Baru (ket. Foto) Dan pagi harinya kami lanjutkan ke desa tetangga yaitu Jere Tua. Jarak dari Jere Baru ke Jere Tua tidak terlalu jauh dengan menggunakan motor hanya sekitar 10 menit. Kami berangkat dari Jere Baru pukul 08.00 WIT kemudian singgah di rumah kepala desa Jere Tua dan membuka pengobatan tepat didepan halaman rumah pak kades ini. Disini kami mulai pengobatan pukul 08.30 dan tutup pengobatan setelah pasien habis semua sekitar pukul 11.30 dan pukul 13.00 kami berangkat pulang ke Galela. Dan tiba di Galela sekitar pukul 19.00. Alhamdulillah perjalanan kami selamat dari berangkat hingga tiba kembali di Galela. Selamat pagi Jere Tua. Dari Atas ke bawah searah jarum jam:  Istihad, bu Nur, Wandi, drg.Herlina, dr.Lirih, dan drg.Besse (ket. Foto) Don, bu Nur, Wandi, drg.Herlina dr.Lirih, dan drg.Besse (ket. Foto)  Mobile Clinic MER-C BNI Jere Tua (ket. Foto) Kesan kami untuk Jere adalah wilayah yang sangat amat terpencil bahkan untuk listrik saja hanya menyala sampai pukul 7-8 malam kemudian mati lampu hingga pagi hari. Keadaan geografisnya pun sangat sulit ditempuh jika menggunakan motor harus berhati-hati. Jarak puskesmas terdekat dengan Jere sangat jauh. Ini pengalaman yang menyenangkan semoga lain waktu kami bisa ke Jere lagi.              

MER-C gelar Media Gathering di Waroeng Solo Kemang

Jakarta, 17/3, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menggelar Media Gathering di Waroeng Solo, Kemang, Jakarta Selatan. Acara ini dipandu oleh moderator Zulfatan Faizin dari Metro TV serta menghadirkan Dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C serta Dr. Joserizal Jurnalis SpOT, Presidium MER-C.   Acara dimulai dengan makan siang bersama, lalu menampilan video profil MER-C yang dibuat oleh Jurnalis Kompas TV, Silvano Hajid. Tayangan video menyorot mengenai berbagai aktivitas kemanusiaan yang digalang oleh MER-C sejak tahun 2004 hingga 2014, di dalam dan di luar negeri seperti aksi untuk Tsunami di Aceh, Rohingya di Myanmar, badai topan Haiyan, di Filipina, Somalia dan aksi perdamaian dengan kapal Mavi Marmara yang diserang oleh tentara Israel, bencana alam di Merapi, Yogyakarta, Sinabung, Medan dan Kelud, Jawa Timur.  Selain itu, MER-C juga sudah membangun 28 klinik yang tersebar dari Aceh hingga Papua, 3 buah rumah sakit di dalam dan luar negeri, seperti RS Galela di Halmahera Utara dan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Dr Henry memberi sambutan dan menuturkan sejarah MER-C yang tanpa sokongan dana dan sumber daya manusia yang besar namun berkat bantuan Allah SWT berhasil mengumpulkan dan membentuk tim medis serta donasi dari masyarakat. Ia juga menjelaskan bahwa seluruh relawan MER-C merupakan unpaid volunteers dan sama-sama memiliki tujuan bahwa aksi kemanusiaan ini merupakan ladang amal mereka. Sementara itu, Ir. Faried Thalib yang merupakan Presidium MER-C dan Ketua tim Konstruksi RS Indonesia di Gaza, Palestina memberikan laporan mengenai pembangunan RS Indonesia yang 100 persen secara fisik telah selesai. Ir. Faried yang merupakan salah satu Presidium MER-C dan baru saja pulang dari Gaza untuk melakukan equipment assessment untuk RS Indonesia mengatakan bahwa 95 persen bahan bangunan yang dibutuhkan untuk pembangunan RS Indonesia berasal dari Jerman dan Turki, yang masuk dan dijual ke Mesir dan Israel. Setelah kata sambutan dari para Presidium MER-C, diskusi dibuka dengan penuturan dari Subhan, Jurnalis TV One yang baru saja ikut misi medical equipment assessment untuk RS Indonesia di Gaza. Subhan menjelaskan kesulitan untuk masuk ke Gaza dari Rafah, Mesir dikarenakan perubahan jadwal pembukaan gerbang menuju Palestina yang hanya dibuka sekali dalam dua minggu selama tiga hari. Subhan juga menyatakan kekagumannya akan RS Indonesia yang telah dibangun oleh para relawan MER-C sebagai Rumah Sakit yang luar biasa besar dan bagus. Presidium MER-C Dr Sarbini menjawab pertanyaan dari moderator mengenai alas an MER-C juga melakukan aksi kemanusiaan di luar negeri, tak lain dan tak bukan adalah ingin membantu sesama manusia yang sangat membutuhkan bantuan, tanpa memandang suku bangsa, ras, dan agama. Seperti yang telah dikemukakan DR Joserizal, bahwa MER-C yang merupakan LSM yang merdeka, tidak tergantung pada suatu partai politik atau di bawah Negara, berusaha bersikap netral dalam memberikan bantuan kemanusiaan serta menjadi penyampai pesan-pesan politik kemanusiaan. Karenanya sangat diharapkan MER-C menjadi problem solver dari sebuah permasalahan. Acara ditutup dengan memberikan kenang-kenangan kepada jurnalis Kompas TV Silvano Hajid yang telah membuat video profil MER-C serta foto bersama dengan para Presidium dan relawan MER-C.        

Relawan RS Indonesia Kembali

Tanggerang – pada tanggal 13 Maret 2014 sebanyak enam orang relawan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza telah kembali ke tanah air. Karidi, Edy Wahyudi, Luthfi Paimin, M. Arsyad Ridho, Tata Lukita S dan Rochman tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta pada Pukul 22.20 Wib dengan menaiki maskapai Etihad Airways. Ke enam relawan kembali ke tanah air bersama-sama dengan tim yang diberangkatkan MER-C untuk melakukan Assessment terhadap alat kesehatan untuk RS Indonesia, yang terdiri dari Ir. Faried Thalib, Ahya Sodri, serta wartawan Yoebal Ganesha Rasyid dari Republika dan Subhan Hariadi Putra TV One.   Saat ini fisik RS Indonesia telah dapat dikatakan rampung, akan tetapi selain pembangunan Wisma Rakyat Indonesia  dan renovasi masjid yang terletak di dekat RS Indonesia, MER-c juga masih menggalang dana untuk pengadaan alat kesehatan yang berjumlah sekitar 65 miliar rupiah              

MER-C held Palestine Talkshow at Islamic Book Fair

Jakarta, 9/3, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) held a Talkshow titled “Palestine as the Focus of Uniting  the Struggle of Muslims “ at Islamic Book Fair at Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. The event presented speakers ex- Indonesian Cooperative Minister and ICMI member, Mr. Adi Sasono and MER-C’s Presidium Dr Joserizal Jurnalis. An hour and half talkshow moderated by Angga Aminudin of Radio Silaturahim 720 am, discussing about the reason behind Palestine becoming the unity of Muslims Struggle in the world. Joserizal, as one of MER-C founders and pioneer of Rumah Sakit Indonesia at Gaza said that struggle for Palestinian liberation is the struggle of people who love peace and welfare of mankind. Furthermore, Joserizal added that Jerusalem liberation has also been supported by non-muslims like The Pope and Catholics, also the Jews who do not approve Israel Zionism. Meanwhile, Adi Sasono also mentioned about MER-C important role in building Indonesia Hospital at Gaza, Palestine, becoming the benchmark of justice and humanity in the world. He also added that the action marked a strong commitment from Indonesian people for Palestinian, mainly for Gaza people, that the struggle must keep going on and has been fully supported by Indonesian people from Sabang to Merauke. Joserizal explained that MER-C building such a hospital instead of worship house since it will be more beneficial to the people of Gaza. He then added that the hospital would need a sustainable program, skills of volunteers, hospital management and etcetera. Joserizal also uttered that the hospital building has been fully funded from Indonesian people, built by the spirit of Indonesian for Palestinian struggle for Independence The talkshow also presented AbdelRahim Shihab of Islamic Society of Gaza, a Palestinian, that he and Palestinian people showed their gratitude to Indonesian people for their support for all Palestinians. The event concluded with question-and-answer session and also taking picture between participants and the speakers.                

MER-C selenggarakan Talkshow “Palestina Fokus Pemersatu Perjuangan Umat Islam” di Islamic Book Fair

Jakarta, 9/3, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengadakan Talkshow bertopik “Palestina Fokus Perjuangan Pemersatu Umat Islam pada acara Islamic Book Fair di Panggung Selasar,  Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Acara ini menghadirkan narasumber Mantan Menteri Koperasi dan anggota ICMI, Adi Sasono dan Presidium MER-C Dr Joserizal Jurnalis SpOT.   Talkshow berdurasi satu setengah jam yang dimoderatori oleh Angga Aminudin dari Radio Silaturahim  720 am mendiskusikan tentang mengapa Palestina menjadi pemersatu umat Islam di dunia. Dr Jose sebagai salah satu pendiri MER-C dan pelopor Rumah Sakit Indonesia di Gaza mengemukakan bahwa perjuangan terhadap pembebasan Palestina merupakan perjuangan manusia yang cinta akan perdamaian dan kemaslahatan umat. Selanjutnya Dr Jose juga menambahkan bahwa pembebasan tanah Jerusalem ini didukung oleh umat non Muslim, seperti umat Katholik dan Paus, sebagai perwakilan dari umat Katholik di dunia serta warga Yahudi yang tidak menyetujui Zionisme Israel. Sementara itu, Adi Sasono juga menyebutkan, peranan penting MER-C dalam membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina menjadi tolak ukur akan penegakan keadilan dan kemanusiaan di dunia. Ditambahkannya lagi, hal tersebut juga merupakan sebuah komitmen yang kuat dari rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina dan Gaza khususnya, bahwa perjuangan ini  harus tetap berlangsung dan mendapat dukungan sepenuhnya dari masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Ketika ditanyakan lebih lanjut mengenai atas dasar apa MER-C membangun Rumah Sakit di Gaza dan bukan dalam bentuk rumah ibadah, Dr Jose menjelaskan bahwa dengan dibangunnya rumah sakit di Gaza ini diperlukan program berkesinambungan, seperti keperluan akan keahlian dari para relawan, manajemen rumah sakit, dan sebagainya yang nantinya akan lebih bermanfaat bagi rakyat Gaza.  Dr Jose juga mengemukakan pembangunan rumah sakit ini 100 persen disokong oleh dana dari warga Indonesia, serta dibangun dengan spirit dan semangat rakyat Indonesia untuk perjuangan rakyat Palestina. Talkshow ini juga menghadirkan AbdelRahim Shihab dari Islamic Society of Gaza yang merupakan warga Palestina, yang mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada rakyat Indonesia atas perjuangan dan bantuannya untuk masyarakat Palestina. Acara ditutup dengan acara tanya jawab dengan peserta yang hadir serta foto bersama dengan nara sumber.        

MER-C Jogjakarta Bergerak di Acara Voluntary Day

Jogjakarta – Pada tanggal 9 Maret 2014 MER-C cabang Jogjakarta telah ikut ambil bagian dalam acara Voluntary Day yang diadakan oleh Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI). Acara yang diadakan di Benteng Vrederburg Gedung E Jogkakarta ini juga diikuti oleh beberapa komunitas dan organisasi, di antaranya PMI yang hadir dengan program donor darahnya. MER-C cabang Jogjakarta menawarkan pemeriksaan tekanan darah gratis disamping memberikan sosialiasi mengenai organisasi MER-C dan menjual merchandise MER-C. Tercatat sekitar lima pulu orang mengunjungi stand MER-C cabang Jogjakarta.                

MER-C Masih Bergerak untuk Kelud

Yogyakarta – Hari Jumat (21/2) Tim Relawan MER-C dari Cabang Solo dan Yogyakarta masih memberikan pelayanan kesehatan di wilayah dampak erupsi gunung Kelud desa Besowo, kecamatan Kepung. Pelayanan kesehatan kali ini diberikan di dua tempat, yaitu di  Balai Desa Besowo dan di dusun Sidodadi. Untuk menjangkau Sidodadi, tim harus melewati hutan dan sebuah jembatan yang teraliri lahar dingin. Sementara itu pada hari Sabtu (22/2) Tim MER-C bekerjasama dengan Wali Care memberikan pelayanan kesehatan di MTS Miftahulhuda Jatisari yang merupakan posko warga Wonorejo. Pasien yang mendapat pelayanan kesehatan tercatat sejumlah 159 orang.  “…daerahnya harus masuk hutan dan lembah untuk menjangkau di dusun tersebut (dan) di tengah-tengah pelayanan tiba-tiba hujan (turun) lebat sekali. Tim khawatir tidak bisa keluar dari dusun Sidodadi karena harus melewati jalan licin dan aliran lahar dingin… berkat doa saudara-saudara semua tim kemarin sore dapat keluar dari dusun Sidodadi (kec) Besowo dengan selamat…” tulis bapak Tuwarji Ajie di laman Facebooknya.        

MER-C Medical Team for Kelud still on Mission

Yogyakarta – After assessment team finished their mission, Wednesday midnight (19/2), a team of MER-C medical volunteers from Yogyakarta and Solo was back on their track to Kelud mountain. Team consisting medical doctor, young medical doctor and medical student arrived at Laharpahang, Puncuk Village, Kediri Regency on Thursday morning (20/2). Laharpahang Puncuk village was close enough to Kelud mountain, in a radius of 6 kilometers therefore the impact of eruption was highly visible in this village, lots of roofs from villagers houses have been destroyed.   After taking a rest, MER-C’s team member then was ready to conduct medical assistance for Kelud’s eruption victims by opening two health posts. In addition to providing medical assistance, MER-C team also distributed donations to the villagers. The number of villagers who seek for medical treatment reached 93 people. Based on the information of the team members, the area surrounding has been seen clear and safe but still on alert status, waiting for evaluation’s result on this Thursday night that would determine the next status of the mountain. In the meantime, most victims in the region were still in need of tiles or building materials, and clean water.                

Misi Medis MER-C untuk Kelud Terus Berlanjut

Jogyakarta – Setelah tim assessment menuntaskan misinya, Rabu tengah malam (19/2), Tim relawan medis MER-C asal Yogyakarta dan Solo kembali bergerak ke Kelud. Tim yang terdiri dari dokter, dokter muda dan mahasiswa kedokteran tiba di Dusun laharpang Desa puncuk Kec Puncuk Kab Kediri pada Kamis subuh (20/2). Ds Laharpang Puncuk berada cukup dekat dengan gunung Kelud, di radius sekitar 6 km sehingga dampak erupsi sangat terlihat di desa ini, banyak sekali atap-atap rumah penduduk yang hancur.   Usai beristirahat, tim MER-C kemudian bersiap melakukan pelayanan medis bagi masyarakat korban erupsi dengan membuka 2 posko kesehatan. Selain memberikan bantuan pengobatan, Tim MER-C juga membagikan bantuan masker sumbangan para donatur kepada warga desa. Tercatat hingga Kamis malam, jumlah warga yang berobat mencapai 93 orang. Berdasarkan informasi dari tim, hingga saat ini daerah sekitar sudah terlihat aman namun masih dalam status awas hingga hasil evaluasi Kamis malam ini yang menentukan status selanjutnya. Sementara itu, bantuan yang masih dibutuhkan warga korban erupsi di wilayah ini adalah genteng-genteng atau material bangunan dan air bersih.                

Silahkan bertanya?