MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Catatan Dr. Ben : Diplomasi Profesi

Kunjungan Asst. Professor Emal Wardak, MD, dokter spesialis orthopedi dari Rumah Sakit Wazir Akbar Khan Afghanistan ke Jakarta yang difasilitasi oleh MER-C menjadi tonggak bersejarah bagi MER-C dan Indonesia. Kita paham hari ini Afghanistan dalam kesulitan dalam semua dimensi setelah Taliban berkuasa dengan menumbangkan pemerintahan sebelumnya yang didukung oleh terutama AS dan sekutunya. Taliban mengakibatkan dampak politik dan ekonomi yang besar. Masyarakat internasional dengan koor bersama enggan mendukung Taliban. Keengganan ini berdampak negatif terutama bagi rakyat sipil. Mereka mendapat imbas dari pergolakan politik. Kita mengapresiasi sikap Indonesia yang terus mendorong masyarakat Internasional agar memperhatikan aspek kemanusiaan yang butuh uluran tangan agar tidak terjadi tragedi kemanusiaan di sana. MER-C sebagai organisasi kemanusiaan yang pernah beberapa kali mengirimkan tim medis ke sana juga mencoba memberikan sesuatu yang bisa  membantu kesulitan yang dialami  oleh rakyat Afghanistan. Satu hal yang menjadi fokus MER-C adalah dengan melatih dokter Afghanistan terutama bedah orthopedi yang itu memang bidang keahlian MER-C. Kedatangan Asst. Professor Emal Wardak menjadi tonggak awal untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan pelatihan dokter Orthopedi Afghanistan di Jakarta.Apa yang dilakukan MER-C adalah bagian diplomasi profesi dimana diplomasi ini juga bisa meningkatkan capacity building dokter Afghanistan dalam mengasah kemampuan agar lebih baik di bidang bedah. Bagaimanapun, sektor kesehatan terdampak dari isolasi politik dan ekonomi yang berujung pada kurangnya penanganan dan pelayanan kesehatan terhadap pasien. Diplomasi profesi yang MER-C lakukan berdampak positif bagi Indonesia, artinya rakyat Indonesia hadir dikala rakyat Afghanistan dilanda kesulitan. Meski yang MER-C berikan tidak besar nilainya, tapi di mata rakyat Afghanistan menjadi sesuatu yang bernilai dan mengikat hubungan batin kedua bangsa. Jakarta, 7 Oktober 2022

Tragedi Kanjuruhan Malang, MER-C: Jangan Ada yang Lepas Tangan

Indonesia dan dunia berduka, khususnya para pecinta sepak bola. Ratusan korban meninggal dan ratusan lainnya mengalami luka-luka pasca laga Arema FC dan Persebaya Surabaya di stadion Kanjuruhan Malang, Sabtu malam/1 Oktober 2022. Hal ini akibat penonton berdesak-desakan dan terinjak-injak lantaran kepanikan yang ditimbulkan gas air mata yang ditembakkan petugas keamanan. MER-C mengucapkan duka dan keprihatinan mendalam atas tragedi Kanjuruhan, sebuah tragedy sepakbola yang kesekian kalinya dan memakan korban terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Semoga para korban mendapat tempat terbaik di sisi Yang Maha Kuasa dan kepada keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan. Bagi korban luka-luka yang masih dalam perawatan di RS, semoga segera diberikan kesembuhan dan kesehatan. Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad meminta jangan ada yang lepas tangan dalam tragedi Kanjuruhan ini. Masing-masing pihak membawa beban kesalahan. Sarbini juga meminta kepada Kapolri agar mengusut tuntas tragedi kemanusiaan ini sehingga jelas dan terang benderang akar permasalahannya. Tragedi ini harus menjadi pelajaran dan introspeksi bersama, agar ke depan kita bisa lebih antisipatif dalam penghelatan yang melibatan massa yang besar. Sebagai sebuah Lembaga kemanusiaan dan kebencanaan, MER-C menyoroti beberapa hal yang patut menjadi perhatian dalam penanganan korban massal (Mass Casualty Management) dalam tragedy kemanusiaan di stadion Kanjuruhan sehingga peristiwa memilukan seperti ini tidak terulang kembali: 1.    Overload stadion Kanjuruhan Malang Berdasarkan informasi, stadion Kanjuruhan mempunyai kapasitas 38 ribu penonton, namun pada saat laga Sabtu kemarin, tiket yang dicetak mencapai 42 ribu. Overload merupakan faktor resiko terbesar yang memiliki potensi bencana. Di rumah sakit sekalipun, overload ini bisa menimbulkan secondary-disaster akibat terancamnya patient-safety. Sekali dipicu oleh ketakutan dan kecemasan, massa yang overload ini akan menjadi chaos tak terkendali dan menimbulkan korban seperti misalnya peristiwa Mina pada saat haji. 2.    Penggunaan Gas Air Mata (Tear Gas) Gas air mata adalah senjata kimia yang berupa gas dan digunakan untuk melumpuhkan dengan menyebabkan iritasi pada mata dan/atau sistem pernapasan. Gas air mata bisa disimpan dalam bentuk semprotan ataupun granat. Alat ini sangat lazim digunakan oleh kepolisian dalam melawan kerusuhan dan dalam penangkapan. Namun, penggunaan gas air mata oleh petugas keamanan di stadion Kanjuruhan tidak tepat dan menyalahi aturan FIFA yang menyebutkan tidak diperbolehkan sama sekali penggunaan senjata api dan gas air mata untuk pengendalian massa di dalam stadion (ruangan tertutup). Penanganan di stadion tertutup tentu berbeda dengan pengamanan demonstrasi massal dimana dilakukan di ruang terbuka sehingga dengan mudah massa akan menyebar. Ketika gas air mata ditembakkan petugas di stadion Kanjuruhan, penonton mulai panik karena mata mulai perih dan saluran pernafasan tercekik, menyebabkan fenomena bottle-neck dimana penonton berdesak-desakan untuk mencari jalan keluar, sehingga korban pun banyak yang berjatuhan. 3.    Upaya Mitigasi Resiko dan Persiapan (Preparedness) yang belum optimal Upaya mitigasi adalah bagaimana meminimalisir kemungkinan terjadinya bencana dengan mengidentifikasi faktor-faktor resiko dan melakukan upaya pemecahan yang adekuat. Dalam kasus Kanjuruhan ini misalnya: a.    Mengidentifikasi, usia, derajat kesehatan dan kemungkinan penyakit-penyakit pada para suporter yang hadir. Kemudian dilakukan pemilahan dan pemilihan mana yang diizinkan hadir dan mana yang tidak. Misalnya kelompok balita dan lanjut usia (geriatric) dilarang hadir atau melalui daring saja. b.    Menskrining para suporter agar tidak membawa barang-barang yang bisa membahayakan seperti senjata tajam dan bahan-bahan yang bisa terbakar. c.    Membuat alur dan jalur evakuasi serta titik kumpul yang adekuat pada masing-masing sisi stadion untuk evakuasi pada saat terjadi hal yg tidak diinginkan 4.    Upaya Medis dan Penanganan Korban massal (mass casualty management) a.    Menyiapkan Tim Medis dan Tim Penanganan Bencana yang mengerti dan terampil dengan jumlah yang cukup. b.    Mensiagakan sistem pra hospital; sistem triage, ambulance, call center dan faskes-faskes dengan berbagai level, agar para korban bisa segera tertangani, tidak menumpuk pada satu atau dua RS saja. Terkait prosedur pengamanan, panitia dan aparat keamanan juga perlu memahami standar dan aturan yang ada serta mengevaluasi prosedur apa yang tepat untuk mengatasi massa yang overload dalam satu ruang stadion tertutup dimana akses evakuasi terbatas.

Tanggapi Pernyataan Yahya Cholil Staquf, Sarbini MER-C: Membuka Komunikasi dengan Israel merupakan Kalkulasi Politik yang Salah

Beredar berita pernyataan Yahya Cholil Staquf yang mengungkapkan perlu adanya komunikasi dengan Pemerintahan Israel untuk membantu Palestina. Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad memberikan tanggapannya atas pernyataan tersebut. Menurut Sarbini, pernyataan pria yang akrab disapa Gus Yahya merupakan kalkulasi politik yang salah. “Pernyataan Yahya Cholil Staquf untuk membuka komunikasi dengan Israel adalah kalkulasi politik yang salah dan utopis,” ujar Sarbini. Menurut Sarbini, pernyataan Yahya ini berangkat dari anggapan bahwa dengan Indonesia membangun perbincangan akan membuka komunikasi atau ujungnya membuka hubungan diplomatik dengan Israel, maka Indonesia bisa membantu persoalan Palestina. “Tidak seperti itu,” ungkap Sarbini. Ia pun memberikan contoh bagaimana negara-negara Arab yang sudah membuka hubungan diplomatik dengan Israel seperti Uni Emirat Arab, atau Bahrain selanjutnya atau Turki sebelumnya, negara-negara tersebut tidak mampu untuk membantu Palestina mencapai kemerdekaannya. “Negara-negara yang mempunyai bargaining power yang kuat dibandingkan Indonesia saja tidak mampu untuk menekan Israel untuk bisa memberikan solusi dua negara. Mereka tidak mampu melarang Israel untuk tidak melakukan kekerasan, tidak melakukan penyerangan dan penindasan terhadap bangsa Palestina,” jelas Sarbini. “Begitupun negara-negara kwartet (PBB, AS, Uni Eropa, dan Rusia), mereka juga tidak mampu menekan Israel untuk memberikan kemerdekaan kepada Palestina atau untuk berunding secara damai, secara seimbang dengan Palestina. Mereka saja tidak mampu, apalagi Indonesia,” tambahnya. Untuk itu, sebagai pimpinan lembaga yang selama ini turut memiliki kepedulian terhadap Palestina baik dari sisi aksi kemanusiaan maupun politik kemanusiaan dalam rangka mendukung kemerdekaan bagi satu-satunya negara di dunia yang masih terjajah, Sarbini pun menyampaikan pandangan dan usulannya. “Kami mengusulkan agar Indonesia bisa lebih berperan pada internal Palestina. Indonesia bisa menjadi mediator atau bisa menjadi juru damai konflik antara faksi-faksi di Palestina. Ini yang sangat memungkinkan secara politis,” katanya. Sarbini pun mengingatkan agar Yahya Cholil Staquf lebih realistis melihat politik Israel. Hal ini karena Indonesia adalah negara yang sangat berpotensi di mata Israel dengan jumlah penduduk besar, ekonomi besar dan punya historis dengan kaum Yahudi. “Kami mengingatkan Gus Yahya agar lebih realistis melihat politik Israel. Kita harus lebih hati-hati, jangan terjebak dalam retorika yang salah. Kalau kita membuka hubungan dengan Israel maka Israel yang akan lebih diuntungkan, sementara kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Palestina,” imbuh Sarbini.

Futsal Fun Match MER-C vs AWG

Futsal Fun Match #NoSportForApartheid   MER-C vs AWG   Dalam rangka terus menyuarakan penolakan terhadap keikutsertaan Timnas Israel pada gelaran Piala Dunia U-20 di Indonesia tahun depan, AWG dan MER-C selenggarakan Futsal Fun Match #NoSport4Apartheid.  Kegiatan dilaksanakan pada: Hari/tgl: Jumat, 16 September 2022 Pukul: 15.00-17.00 Tempat: Futsal Cilandak Sport Center (Citos).   Ayo hadir dan meriahkan….   TOLAK TIMNAS ISRAEL KE INDONESIA    CP 1. Panji Ahmad +62852-8001-9196 2. Imam Pora +62896-0648-4060

Catatan dr. Ben : Kenapa Menolak Timnas Israel ?

Penolakan terhadap Timnas Israel terus bergulir. Elemen umat Islam khususnya, bergerak mengkritisi isyarat Menpora dan Kemlu RI yang akan memberikan lampu hijau kepada Timnas Israel untuk mengikuti pertandingan Piala Dunia U-20 tahun 2023 di Indonesia.   Alasan Indonesia menolak Timnas Israel:   1.         Amanah konstitusi. Secara konstitusi, Indonesia punya kewajiban menolak segala bentuk penjajahan dan ini jelas tertulis dalam Pembukaan UUD 1945. Kita ketahui bahwa Palestina sampai sekarang belum merdeka dan masih mengalami penindasan serta penjajahan yang dilakukan oleh Israel. Apartheid rasialis seperti yang pernah dilakukan kelompok kulit putih di Afrika Selatan, juga terjadi di Palestina.   2.         Tanggung jawab sejarah. Tahun 1955, Indonesia menjadi tuan rumah Konfrensi Asia Afrika di Bandung. Diantara sekian banyak peserta konferensi, Palestina adalah satu-satunya negara yang sampai dengan saat ini belum mendapatkan kemerdekaaannya. Oleh sebab itu menjadi hutang sejarah generasi kita saat ini.   3.         Tanggung jawab kemanusiaan Timnas Israel terbentuk dari perampasan tanah rakyat Palestina. Perampasan secara illegal tanah Palestina tidak dibenarkan secara hukum Internasional. Oleh sebab itu, tidak pantas Indonesia menerima Timnas Israel yang mereka lahir dan dibentuk di atas darah dan air mata rakyat Palestina.   4.         Indonesia konsisten mendukung kemerdekaan Palestina Oleh sebab itu, memberikan izin Israel untuk ikut Piala Dunia U-20 di Indonesia pada bulan Mei – Juni 2023 mendatang menunjukkan ketidakkonsistenan Indonesia dalam mendukung Palestina.   Sebenarnya Indonesia pernah menolak Timnas Israel pada Asian Games tahun 1962. Founding father telah menunjukkan komitmen atas kemerdekaan Palestina dan menolak segala bentuk penjajahan.   Saya fikir keberanian dan semangat ini menjadi penyemangat generasi kita dalam menuntaskan hutang sejarah. Andai Timnas Israel lolos dan Pemerintah Indonesia mengeluarkan visa, ini kekalahan kita terhadap penjajahan dan kita telah melukai kontitusi yang kita hormati   Jakarta, 9 September 2022   Dr. Sarbini Abdul Murad Ketua Presidium MER-C

HNW: Indonesia Harus Tolak Timnas Israel, Ini Jati Diri Bangsa

Dalam rangka mendorong Pemerintah untuk berani menolak kedatangan Timnas Israel ke Indonesia, Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad terus melakukan safari kemanusiaan ke berbagai elemen bangsa. Jum’at/2 September 2022, Sarbini bertemu dan bersilaturahim dengan Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. Muhammad Hidayat Nur Wahid, MA untuk membahas dan meminta dukungan atas Gerakan Tolak Timnas Israel.  Seperti diketahui, Tim Sepak Bola Nasional U-20 Israel direncanakan akan datang dan bertanding di Indonesia pada tahun 2023 mendatang, seiring izin dan jaminan yang diberikan Pemerintah dalam hal ini Menpora RI terhadap Timnas Israel tersebut. MER-C memandang ini sebagai ujian berat bangsa Indonesia untuk membuktikan kekonsistenannya dalam menentang penjajahan dan membela kemerdekaan Palestina, satu-satunya negara peserta KAA (Konferensi Asia Afrika) yang sampai saat ini belum merdeka.   Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. Muhammad Hidayat Nur Wahid, MA menyatakan dukungannya terhadap gerakan Tolak Timnas Israel yang tengah digaungkan oleh MER-C. Ia secara pribadi juga sudah menyatakan penolakannya karena menurutnya sikap tersebut adalah kekhasan dan merupakan jati diri bangsa Indonesia yang sudah berlaku sejak zaman Presiden Pertama RI, Bung Karno.   “Indonesia sebagai negara berdaulat dan mempunyai kekhasan. Kita menghormati kekhasan masing-masing negara. Kekhasan Indonesia sesuai dengan kosntitusinya adalah sikap politik yang sudah berlaku sejak zaman Bung Karno, yaitu Indonesia menolak penjajahan Israel,” ujar Hidayat.   “Jadi hendaknya semua pihak memahami itu. Obyektifitas dan sportifitas kita justru harus menghadirkan pemahaman ini. Sebagai tuan rumah, harus diingat bahwa kita punya nilai yang kita pegang. Indonesia itu tidak seperti negara-negara Eropa atau negara-negara lain yang membuka hubungan dengan Israel. Indonesia sejak dari awal justru menolak Israel,” tegasnya.   Lebih jauh ia memaparkan bahwa sejarah panjang bangsa Indonesia sudah mencatat dengan baik sikap Indonesia tersebut. Seperti pada tahun 1955, Bung Karno menolak keinginan Israel untuk diundang ke Bandung pada Konferensi Asia Afrika (KAA). Bung Karno malah mengundang Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, seorang Tokoh Pejuang Palestina, Mufti Yerusalem.   Tidak hanya itu, pada tahun 1957, Bung Karno juga tegas melarang Indonesia main dengan Israel. Bung Karno berpandangan lebih baik tidak masuk ke Piala Dunia daripada harus main dengan Israel.   Begitupun pada Asian Games tahun 1962. Indonesia lebih memilih dihukum oleh Panitia Asian Games ketimbang harus mengundang Israel.   “Inilah Indonesia. Indonesia mempunyai sikap dasar, pembukaan UUD-nya sangat jelas dan itulah cita-cita bangsa Indonesia yang diterjemahkan dengan sangat gamblang oleh Bung Karno dalam menyikapi berbagai event internasional,” lanjutnya.    Hidayat pun memberikan perbandingan, bahwa ketika Bung Karno menolak Indonesia main dengan Israel pada tahun 1958, posisi Israel menjajah tanah Paletina baru sekitar 22%. Sekarang Israel sudah menjajah tanah Palestina di atas 80%. “Masa dulu 22% kita tolak, sekarang sudah 85% malah kita terima. Terbalik dong. Seharusnya dulu 22% saja kita tolak, apalagi sekarang 85%, harusnya kan begitu,” ujarnya.   Ia melanjutkan sikap ini sesuai dengan pernyataan Presiden RI, Joko Widodo bahwa Indonesia mempunyai hutang sejarah dengan Palestina karena merupakan satu-satunya negara peserta KAA yang sampai saat ini belum merdeka. Oleh karenanya, Indonesia harusnya membayar hutang sejarah itu dengan memaksimalkan usaha untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.   Hidayat mengingtakan bahwa seluruh manuver sekecil apapun yang bermakna terhadap pengakuan terhadap Israel dan semakin menjauhkan Palestina merdeka harus dihindari. Apabila hal-hal seperti ini terus dibiarkan, seperti Timnas diterima, di Parlemen diterima, NGO diterima, jual beli senjata, dsb, maka akan dijadikan alasan normalisasi.    “Sedikit-sedikit akan dijadikan akumulasi, dalih untuk akhirnya kenapa tidak melakukan normalisasi. Karenanya ini harus kita tolak supaya kita bisa mengkoreksi manuver-manuver Israel yang ingin menjerumuskan Indonesia keluar dari konstitusinya, yaitu mengakui penjajahan Israel,” imbuhnya.   Ia berpendapat Indonesia sangat bisa melakukan penolakan karena Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel dan Indonesia mempunyai kekhasan serta jati diri yang selama ini sudah dengan tegas menolak penjajahan Israel.

Catatan dr. Ben : Indonesia di Mata Israel

Dimata Israel, Indonesia terasa spesial. Upaya menarik Indonesia bukan baru sekarang ini saja, tapi sejak era Bung Karno dan Suharto upaya ini sudah dimulai oleh Israel. Di masa Bung Karno, upaya diplomasi Israel bisa dikatakan mati kutu. Mengusung slogan Anti Imperialis dan Kolonialis, Bung Karno secara tegas menyebutkan Israel bagian yang tak terpisahkan, bagian satelit dari Negara Imperalis dan Kolonialis. Shingga di Asian Games tahun 1962, secara tegas Bung Karno menolak keikutsertaan Israel dalam perhelatan tersebut. Di zaman Soeharto, meski Indonesia tak punya hubungan diplomatik dengan Israel, namun hubungan gelap terus berlangsung dalam beberapa bidang terutama berkaitan dengan militer. Kenapa Indonesia begitu penting di mata Israel? 1.    Faktor Ekonomi Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan sumber alam begitu besar dan jumlah penduduk lebih kurang 280 juta yang menempati ranking 4 dunia, merupakan sebuah potensi yang besar sehingga secara bisnis hal ini sangat menggiurkan. Adapun pada tahun 2030 mendatang Indonesia diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar pada peringkat 4 dunia. Dahsyat memang. 2.    Faktor Politik Sebagai negara mayoritas muslim terbesar di dunia, wajar Indonesia menjadi incaran Israel karena bila Israel bisa merangkul Indonesia secara politik, maka Palestina akan semakin terisolir. Tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia adalah negara yang hingga kini konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Agresivitas Israel merangkul Indonesia dengan berbagai macam cara, patut kita cermati. Sikap permisif kita bisa menjadi celah yang menguntungkan Israel. Sering delegasi Israel datang ke Indonesia dalam berbagai event dan kesempatan. Ini adalah prolog untuk melihat sejauh mana resistensi kita (bangsa Indonesia) dalam menghadapi momen ini. Semakin kecil resistensi kita, maka akan menjadi pembenaran bahwa Indonesia menormalisasi hubungan dengan Israel. Untuk itu, kita mesti waspada dan kritis.   Jakarta, 24 Agustus 2022 Dr. Sarbini Abdul MuradKetua Presidium MER-C Indonesia

DPP Hidayatullah Sambut Baik Gerakan Tolak Timnas Israel

Dewan Perwakilan Pusat (DPP) Hidayatullah menyambut baik dan mendukung gagasan MER-C untuk menolak kedatangan Timnas Israel yang akan berlaga pada ajang olah raga U-20 tahun 2023 mendatang di Indonesia. Hal ini dikatakan Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah, Ir. Candra Kurnianto saat menerima kunjungan Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad, di kantor DPP Hidayatullah, Rabu/3 Agustus 2022. “Kami sambut gembira kegiatan MER-C yang menggagas perlawanan terhadap Israel dan kita menjadi bagian dari perlawanan itu bersama rakyat Palestina,” ungkap Candra. Didampingi Ketua Departemen Hubungan Antar Bangsa, Dzikrullah dan sejumlah Pengurus Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Sekjen DPP Hidayatullah ini mengatakan akan lebih baik jika MER-C yang menggagas namun mengajak semua elemen umat untuk sama-sama bergerak.“Tadi kami menyampaikan agar kita mengajak ormas-ormas Islam yang tergabung dalam Majelis Ormas Islam (MOI) yang saat ini terdiri dari 13 ormas dan juga ormas-ormas lainnya,” imbuhnya. Tidak hanya itu, ia juga berharap gerakan ini dapat mengajak elemen masyarakat umum, seperti supporter sepak bola dan masyarakat lainnya. Hal ini menurutnya perlu dilakukan agar semua sadar bahwa Israel dengan kedzolimannya harus dilawan oleh semua. “Target kita bisa menekan Pemerintah Indonesia sehingga pemerintah bisa membatalkan atau tidak menerima kontingen sepak bola Israel ke Indonesia,” ujarnya. Dalam pertemuan tersebut, tak lupa Ketua Presidium MER-C memberikan syal bermotif Indonesia – Palestina kepada Sekjen DPP Hidayatullah, syal yang didisain khusus oleh MER-C sebagai lambang persahabatan dan dukungan Indonesia kepada Palestina. Sebelumnya, pada Rabu/29 Juni 2022, MER-C bersama lembaga peduli Palestina diantaranya AWG (Aqsha Working Group), BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) dan KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) telah mengadakan konferensi pers bersama menolak kedatangan Timnas Israel. Upaya penolakan ini akan terus dilakukan tidak hanya karena daftar panjang pelanggaran HAM namun juga penjajahan yang masih dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina yang bertentangan dengan konstitusi negara Indonesia dan hukum Internasional. Apabila Tim sepak bola Israel hadir dan berlaga di Indonesia, maka ini akan menjadi sebuah pengakuan secara tidak langsung bagi eksistensi Israel dan bentuk dukungan atas penjajahan yang dilakukan Israel kepada bangsa Palestina.

Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Dukung Gerakan Tolak Kedatangan Timnas Israel ke Indonesia

Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), DR. H. Adian Husaini, MSi menyatakan dukungannya terhadap gerakan menolak kedatangan Tim Nasional Israel ke Indonesia. Hal ini disampaikan saat menerima kunjungan Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad ke Kantor DDII yang terletak di bilangan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin/25 Juli 2022. “Saya setuju hal ini harus disuarakan. Pemerintah RI, khususnya Kementerian Luar Negeri kita lihat selama konsisten dan menunjukkan komitmen dalam pembelaan terhadap Palestina,” ungkap DR. Adian. “Kedatangan Tim Nasional Israel ke Indonesia akan melecehkan konstitusi kita, UUD 1945, yang menolak segala bentuk penjajahan,” tambahnya. Untuk itu, lebih lanjut ia mengatakan bahwa DDII akan berkirim surat resmi ke Kementerian Luar Negeri RI terkait hal ini. Sebelumnya, pada Rabu/29 Juni 2022, MER-C bersama sejumlah lembaga peduli Palestina diantaranya AWG (Aqsha Working Group), BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) dan KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) telah mengadakan konferensi pers bersama menolak kedatangan Tim sepak bola Israel. Sebagaimana diketahui, Timnas Israel dijadwalkan akan datang dan bertanding di Indonesia dalam ajang Piala Dunia U-20 yang akan digelar pada tahun 2023 mendatang. Gelaran konferensi pers bersama tersebut bertujuan untuk mendorong Pemerintah Indonesia agar berani dan tegas menolak Tim U-20 Israel. Upaya penolakan ini akan terus dilakukan tidak hanya karena daftar panjang pelanggaran hak asasi manusia namun juga penjajahan yang masih dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina yang bertentangan dengan konstitusi negara Indonesia dan hukum Internasional. Apabila Tim sepak bola Israel hadir di Indonesia, maka ini akan menjadi sebuah pengakuan secara tidak langsung bagi eksistensi Israel dan bentuk dukungan atas penjajahan yang dilakukan Israel kepada bangsa Palestina.

MER-C : Stop Invasi ke Ukraina

Perang Rusia – Ukraina sudah memasuki hari ke-42 dan belum ada tanda-tanda perang akan berakhir. Terlepas dari alasan apapun, perang berkepanjangan telah menyebabkan petaka kemanusiaan. Kalangan sipil yang tidak berdosa akan menjadi korban, baik korban jiwa, korban luka, dan jutaan orang terpaksa mengungsi untuk mencari wilayah yang lebih aman baik di dalam Ukraina maupun ke negara-negara tetangga.    Mengamati perang yang sudah dimulai sejak 24 Februari 2022, MER-C berpandangan Rusia bukan lagi ingin memberi pelajaran terhadap Presiden Ukraina, namun sudah membumi hanguskan Ukrainia. Meski Rusia mengklaim hanya menargetkan basis-basis militer Ukraina, namun korban sipil sekali lagi tidak dapat terelakkan. Invasi Rusia, juga tidak hanya berpengaruh terhadap kedua negara, namun telah berdampak buruk terhadap ekonomi dunia secara global.    Untuk itu, Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad, minta Rusia hentikan invasi ke Ukraina. MER-C menyerukan perdamaian kepada kedua belah pihak untuk mencegah krisis kemanusiaan yang lebih buruk yang akan terjadi.   “Kami minta Rusia hentikan invasi ke Ukraina. Kedua pihak agar menahan diri dan kepada negara-negara yang menjadi pendukung baik Rusia maupun Ukraina agar mendorong dan memfasilitasi perdamaian bagi kedua negara. Hal ini bukan hanya akan berpengaruh pada Rusia dan Ukraina, namun juga mempertimbangkan kestabilan dunia secara umum,” kata Sarbini.    Kepada publik Indonesia, Sarbini juga berharap tidak terpesona dengan sosok Putin sehingga menjadi pembenaran invasi Rusia ke Ukraina.   Namun berkenaan dengan event G-20 pada November 2022 mendatang, dimana Indonesia menjadi Ketua Tuan Rumah Penyelenggara event besar dunia ini, MER-C mendukung agar Indonesia tetap mengundang Presiden Rusia, Vladimir Putin, meski ada penolakan dari kepala negara lain.    Justru Indonesia menurutnya, sebagai sebuah negara besar yang berdaulat agar tetap netral dan tidak memihak dalam konflik ini. Lebih lanjut Sarbini mengatakan Indonesia bisa menjadi penengah untuk mendorong penyelesaian konflik dan perdamaian kedua negara.    “Indonesia sebagai negara besar dan berdaulat agar konsisten dengan hal ini dan tidak takut dengan tekanan dari negara lain. Indonesia bisa menjadi penengah,” tegas Sarbini.

Silahkan bertanya?