RSI Gaza, Penyambung Tali Batin Rakyat Indonesia dan Palestina (3-habis)

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yoebal Ganesha Rasyid Sang mufti telah menyatakan dukungan sebelum negara Indonesia resmi diproklamasikan. Saat itu, dari tempat pengungsiannya di Jerman, Syekh Muhammad Amin al-Husaini menyatakan rakyat Palestina mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dukungan ini disiarkan Radio Berlin berbahasa Arab pada 6 September 1944. Pernyataan dukungan tersebut gaungnya menggema ke kawasan Timur Tengah dan menarik simpati rakyat negara-negara di kawasan tersebut. Dukungan serupa juga dinyatakan seorang saudagar ternama Palestina saat itu, Muhammad Ali Taher, setahun sebelum Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI. Dia bersimpati terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia dan spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata, “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia.” Dukungan ini lalu menjadi modal besar untuk memperjuangkan pengakuan dari negara-negara lainnya di dunia. Setelah seruan dari mufti Palestina itu, negara berdaulat yang berani mengakui kedaulatan RI pertama kali yakni negara Mesir pada 1949, lalu diikuti India. Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Timur Tengah lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan ini membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan dan pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional. Fakta sejarah tersebut tertulis dalam buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M Zein Hassan Lc. Faried mengatakan fakta sejarah tersebut juga yang membangkitkan MER-C untuk memprakarsai usaha bersama rakyat Indonesia guna membangun rumah sakit di Gaza-Palestina. “Kami memandang rumah sakit ini akan menjadi tali batin rakyat Indonesia, yang selalu akan mendukung kemerdekaan Palestina,” katanya. Kini bangunan rumah sakit boleh dikatakan telah selesai. Selanjutnya, masih dibutuhkan dana Rp 65 miliar untuk pengadaan peralatan medis. MER-C memasang target rumah sakit tersebut mulai dioperasikan tiga bulan ke depan, sekitar Juni. Untuk soft launching, kata Faried, dibutuhkan dana Rp 15 miliar untuk pembelian peralatan medis dari Rp 65 miliar keseluruhannya. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/14/04/03/n3f6zv-rsi-gaza-penyambung-tali-batin-rakyat-indonesia-dan-palestina-3habis
RSI Gaza, Penyambung Tali Batin Rakyat Indonesia dan Palestina (2)

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yoebal Ganesha Rasyid Rencananya di sana juga akan dibangun Wisma Rakyat Indonesia seluas 340 m2. Pembangunan rumah sakit tersebut diprakarsai oleh para aktivis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). LSM Indonesia yang bergerak di bidang kemanusiaan, terutama yang berhubungan dengan pengobatan dan kesehatan serta kegawatdaruratan. Bagi MER-C memang tak mudah mengumpulkan dana sebanyak itu tanpa peran serta nyata rakyat Indonesia. Memang, pembangunan rumah sakit ini terkesan lambat dibandingkan dengan proyek-proyek kemanusiaan, uang diprakarsai donatur individual maupun kelompok dari negara-negara Timur Tengah ataupun Uni Eropa. Negara-negara tersebut dengan cepat dapat merealisasikan proyek bantuan mereka tanpa kendala dana yang berarti, seperti jalan-jalan, sekolah-sekolah, dan rumah-rumah susun di Gaza. Setidaknya di Gaza telah berdiri juga rumah sakit bantuan masyarakat Uni Eropa, yang pembangunan hingga operasionalnya hanya memerlukan waktu sekitar dua tahun. Rumah sakit itu kini oleh pemerintah setempat dikelola sebagai rumah sakit umum. Lepas dari kesan lambat di atas, berbeda dengan pembangunan yang dilakukan donatur dari negara-negara Timur Tengah dan Uni Eropa, Rumah Sakit Indonesia memiliki nilai lain bagi masyarakat Gaza di sana. Warga Gaza mengetahui rumah sakit ini benar-benar dibangun dari sumbangan masyarakat Indonesia dan mungkin tanpa sepeser pun dana dari Pemerintah Indonesia (people to people). Dengan pendanaan semacam itu, rumah sakit tersebut akan menjadi monumen tali silaturahim dan persahabatan antara masyarakat Indonesia dan Palestina, khususnya yang tinggal di Gaza. Ir Farid Thalib, Ketua Divisi Konstruksi MER-C, mengatakan pembangunan rumah sakit ini bisa juga dikatakan sebagai ungkapan rasa terima kasih rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina. Bagaimana tidak, katanya, sejarah mencatat rakyat Palestina merupakan warga dunia yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, saat negara Indonesia yang masih seumur jagung terpuruk karena blokade Belanda yang ingin menjajah Indonesia lagi, rakyat Palestina dengan lantang menyatakan kepada dunia pengakuan mereka terhadap kemerdekaan Indonesia. Dukungan ini diprakarsai mufti besar Palestina saat itu, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini. Kata Farid, surat dukungan yang ditandatangani sang mufti ini berhasil diselundupkan ke Indonesia dan diterima Presiden Sukarno yang saat itu sedang dalam pengungsian di Yogyakarta. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/04/03/n3f6mj-rsi-gaza-penyambung-tali-batin-rakyat-indonesia-dan-palestina-2
RSI Gaza, Penyambung Tali Batin Rakyat Indonesia dan Palestina (1)

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yoebal Ganesha Rasyid Rumah Sakit Indonesia di Gaza masih membutuhkan dana Rp 65 miliar guna pengadaan peralatan medis di sana. GAZA — Rupiah demi rupiah yang dikumpulkan para dermawan Indonesia telah menampakkan wujudnya di Jalur Gaza, kawasan Palestina yang kini didera blokade Zionis Israel. Di utara Gaza, tepatnya di kawasan Bayt Lahiya, Rumah Sakit Indonesia telah memasuki tahap akhir pembangunan. Bangunan rumah sakit tersebut terdiri atas dua lantai dan satu basement, tampak kokoh berdiri tanah sekitar 1,6 hektare. Bentuknya yang khas, didesain segi delapan, menyerupai bentuk Masjid Qubbah As-Sakhrah di dalam kompleks Masjid Al Aqsha, Yerusalem, membuat rumah sakit ini menonjol di lingkungannya. Namun, keberadaan rumah sakit tersebut juga dengan lingkungan di sekeliling yang dalam lima tahun terakhir ini telah dipenuhi dengan puluhan unit apartemen lima sampai 10 lantai dan kompleks sekolah di sana. Dulunya kawasan ini termasuk daerah pertanian. Kompleks apartemen di kawasan itu dibangun oleh donatur perorangan dari sebuah Negara Teluk. Sementara, sekolah-sekolah di kawasan ini dibangun atas bantuan donatur dari negara Turki. Setiap hari, di depan rumah sakit berlalu lalang anak-anak sekolah dan juga warga setempat yang akan pergi ke tempat kerja mereka di kawasan lain Gaza. Maklum, karena tempatnya yang boleh dikatakan di ujung utara Gaza, hanya sekitar 2,5 km dari perbatasan dengan Israel, kawasan ini relatif sepi dari aktivitas bisnis. Dalam perjalanan pergi dan pulang, warga sering menyempatkan diri mampir ke kompleks rumah sakit itu, terutama untuk meneguk segelas air bersih gratis yang disediakan khusus di halaman rumah sakit tersebut—untuk melepas dahaga mereka. Saat mampir, warga kadang bertanya, kapan rumah sakit ini akan selesai. Mereka berharap rumah sakit itu bisa memudahkan mereka untuk mengakses pelayanan kesehatan, tak perlu jauh-jauh lagi pergi ke rumah sakit di kawasan lain di Gaza. Kapan waktu itu akan datang? Walaupun bangunannya hampir 100 persen selesai, untuk operasional rumah sakit itu masih membutuhkan dana Rp 65 miliar guna pengadaan peralatan medis di sana. Gedung rumah sakit ini mulai dibangun sejak Mei 2011. Dana mencapai Rp 35 miliar telah tertanam untuk pembangunan bangunan utama rumah sakit (seluas 9,600 meter persegi) dan juga gedung manajemen rumah sakit. Dana tersebut murni dari sumbangan masyarakat Indonesia. Dana itu juga akan dipakai untuk membangun infrastruktur lingkungan rumah sakit (jalan, pagar, taman, dan saluran pembuangan air). Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/14/04/03/n3f61l-rsi-gaza-penyambung-tali-batin-rakyat-indonesia-dan-palestina-1
Press Conference conducted by Freedom Flotilla Coordinator

Istanbul – Today (28/3) was conducted a press conference by koordinator Fredoom Flotilla’s coordinator and lawyers representing prosecutors in a case of Israeli’s army attack toward the crew of Freedom Flotilla. Adnan Wirawan of TPM ( Muslim’s Lawyers team) has questioned on what to do if Turkey’s court decided to close the case, and IHH Chairman Bulent Yildirim has answered the fact since the beginning Freedom Flotilla has won the case. He also mentioned that Turkey’s law also has provided clear foundation that in a case like this, the four Israeli Generals would be immediately arrested. According to Bulent, a “public case” could not be covered according to Turkey’s law since each court’s session conducted would show to the world that the case has still been going on. Bulent also said if only the case was closed by the judges, therefore it only showed the defeat of Turkey, since the case is a great opportunity to show its national law power. And even if the case was closed, the Mavi Marmara ship is still available and ready to be used in re-sailing to Gaza.
Hakim MA : Bantu Palestina Lebih Utama Karena Belum Merdeka

Jakarta, 27 Jumadil Awwal 1435/28 Maret 2014 (MINA) – Hakim Tinggi Mahkamah Agung Pri Pambudi Teguh menilai rakyat Palestina seharusnya lebih utama mendapat bantuan dari rakyat Indonesia karena negeri itu satu-satunya yang belum merdeka di dunia hingga sekarang. Hal itu disampaikan oleh Pri Pambudi kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) seusai menyalurkan donasinya untuk rakyat Palestina melalui lembaga kemanusiaan di bidang kegawatdaruratan, MER-C (Medical Emergency Rescue – Committee) di Jakarta, Jumat. “Alasan saya berdonasi untuk rakyat Palestina, karena mereka belum merdeka. Jika di negara-negara lain, Muslimin sudah merdeka tapi mereka teraniaya di negerinya. Berbeda untuk Palestina, selain mereka teraniaya, mereka juga sedang memperjuangkan kemerdekaannya,” kata Hakim Tinggi yang juga mengajar di beberapa universitas itu. Pri mengaku, dirinya sudah lama simpati dengan perjuangan rakyat Palestina dan secara pribadi ia hanya bisa berdoa kepada Allah. Baru pada kesempatan ini ia akhirnya mendonasikan sebagian hartanya untuk rakyat Palestina melalui MER-C. Menurut pria asli Jawa Tengah itu, sudah sepatutnya rakyat Indonesia mendukung dan membantu perjuangan rakyat Palestina, karena jauh sebelumnya, rakyat Palestina sudah membuat dukungan terbuka bagi kemerdekaan Republik Indonesia. “Itu wujud nyata pengorbanan rakyat Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia,” kata Pri. Ia mengungkapkan, sebelum Indonesia merdeka, sudah ada pengusaha kaya raya Palestina yang mengorbankan hartanya untuk kemerdekaan Indonesia. Pri juga menyampaikan apresiasinya kepada MER-C yang dinilainya telah memberikan sumbangsih terhadap apa yang dibutuhkan oleh masyarakat Gaza dengan pelaksanaan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza yang merupakan rumah sakit traumatologi khusus untuk korban perang. “Pembangunan rumah sakit traumatologi yang diprakarsai oleh MER-C adalah tepat sasaran. Sebab, setelah Perang Gaza 2008-2009, di mana wilayah yang terblokade digempur habis-habisan oleh Israel, hampir tidak ada rumah sakit yang sanggup menangani trauma akibat perang itu,” katanya. Pembangunan Rumah Sakit Indonesia oleh MER-C yang bekerjasama dengan relawan dari jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah se-Indonesia, telah selesai dalam pembangunan. Kini memasuki tahap ketiga, yaitu pengadaan alat kesehatan. Dana pembangunan tersebut murni berasal dari rakyat Indonesia yang mayoritas dari kalangan menegah ke bawah. Meski dibangun di daerah konflik yang sewaktu-waktu penjajah Israel menembakkan roket, namun sejak pembangunan dimulai pada 14 Mei 2011, rumah sakit tidak pernah mengalami serangan. Melalui MINA, Pri juga menghimbau para donatur yang lain agar tidak pernah berhenti membantu saudara-saudara mereka di negeri lain, khususnya bagi rakyat Palestina. “Meskipun hanya sekedar doa di dalam hati. Saya juga melihat, ada saudara-saudara kita yang hanya bermodal tenaga, dengan ikhlas meninggalkan keluarganya untuk membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza sesuai dengan keahliannya,” tambahnya. (L/P09/P04/EO2). Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/nasional/16748-hakim-ma-bantu-palestina-lebih-utama-karena-belum-merdeka.html
Slank Galang Dana Untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Slank selalu tertarik dengan kegiatan sosial. Mereka antusias melakukan penggalangan dana untuk membantu sesama manusia. Sekarang, mereka bekerjasama dengan relawan Mer-C guna membantu pengadaan isi atau peralatan rumah sakit Indonesia di Gaza, Palestina. “Kami bersama Mer-c galang dana untuk rumah sakit di Palestina. Sekarang kami mau kumpulkan lagi dana untuk mengisi isinya rumah sakit di rumah sakit Indonesia di Palestina,” ucap Bimbim, Jumat, (28/3/2014), di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Begitulah personel Slank. Mereka mengaku lebih tertarik mengikuti kegiatan kemanusiaan, ketimbang kegiatan kampanye yang biasanya berlangsung menjelang pemilu. “Dari Januari, kami selalu manggung di acara sosial. Karena kami percaya dengan kedahsyatan sedekah. Kami percaya Tuhan akan memberikan yang lebih,” ucapnya. Ivanka, sang bassis menambahkan Slank ingin selalu hadir dalam kegiatan sosial untuk membantu orang yang membutuhkan. Misalnya, untuk mereka yang menjadi korban bencana. “Kalau untuk ke depannya mengalir saja,” tandasnya. Sumber : http://www.tribunnews.com/seleb/2014/03/28/slank-galang-dana-untuk-rumah-sakit-indonesia-di-gaza
Witness Court Hearing on Mavi Marmara Case

Istanbul – On March 27, 2014 has been held a further hearing over an assault case against the Freedom Flotilla 2010 that caused the death of 9 activists aboard Mavi Marmara. The trial called some of Freedom Flotilla organizers Turkey, namely those who were responsible on guarding Mavi Marmara and a cargo ship named Defne Y , that brought building materials to be used in Gaza,Palestina. Dilaver Kutluay, who was on board of Defne Y when the attack occurred, witnessing how he saw Israeli soldiers were continuously shooting, throwing gas bombs and pointing laser guns at Mavi Marmara ship. He also heard people on board screaming, ensuring him that many people were injured. Dilaver recalled at least 20 Israeli soldiers who boarded Defne Y and underlined the existence of a person who claimed to be Jew, speaking fluent Turkish, and acknowledged he was a Turkish representative in Israel, forcing Defne Y passengers to sign off a document while threatening that if the document was not signed, the penalty is 10 years in prison, in Israel Dilaver claimed that his goods were taken, being stripped off and beaten several times, even when he wanted to help an injured friend at Ashdod prison. Dilaver added that there was an Israeli soldier who spoke fluent Turkish to Kapal Defne Y and when asked, he said that he came from Istanbul. Omer, who were aboard Mavi Marmara when the attack occurred, said until now he is still traumatized by the incident that he experienced almost four years ago, since he always thinks that Israeli soldier will come from the helicopter on the deck of his house. At the end of trial, all lawyers filed a claim to the court. They said that in Turkish law, the case categorized as systematic torture so that judges should perform procedure arrest toward General Gavriel Ashkenazi, Admiral Eliezer Marom, Brigadir General Avishai Levi, and Major General Amos Yaldin. Lawyers also asserted that human right is above all law and all defendants were required to comply with all court orders and explained the reason of their actions. They also demanded judges to freeze the property of four people and asked the connection between Turkish police department and the Israeli since while a passport of one Turkish citizen was returned back after being hold in Israel, the person asked who gave the passport to them. The police officer only asked the Mavi Marmara passenger not to ask more details. By the end of the trial session, judges announced that the decision of procedure arrest will be on the next court which falls on May 26, 2014.
Mavi Marmara Conference Search for Justice in Istanbul

Istanbul – Mavi Marmara Conference Search for Justice “Not the law of the strong but justice for all” has been held on March 25, 2014 at Ali Emiri Kultur Merkezi, Istanbul, Turkey. The conference that was initiated by IHH aiming to unite mission and vision in an effort to prosecute Israel crimes mainly on Mavi Marmara ship and Freedom Flotilla in general. On the opening session, IHH Chairman Bulent Yildirim said although there are so many challenges in order to prosecute Israel, whereas the Turkey’s judges refused on Furkan Dogan’s murder case, but however this is the first time Israel has been prosecuted by many countries for the same case, which means that Israel is experiencing the largest upsets in the history of their occupation. At the meantime, Dror Feiler, who is a former Israel citizens insisted that Israel should be brought to the International Court that has already brought Milosevich in Den Haag. Ahmet Dogan, the father of the late Shahid Furkan Dogan said that his son was a US citizen although he did not receive justice from the US court since to date, US law does not allow criminal prosecution on Israel state due to no agreement yet to the state. Meanwhile Greta Berlin told the initial movement voyage to Gaza was pioneered by Greta herself with other four members in 2008. At the same time, Dimitri Plionis explained that there should be a common perception that Freedom Flotilla was an international initiation consisting 36 countries, not only initiated by Turkey. Ziyad Patel who is the lawyer of Gadija Davids (South Africa) comparing apartheid system that happened in South Africa to the one that has been still going in Palestine. Ziyad said that international colonialism is heavily criticized by international community and this case can be raised in the lawsuits against Israel. Prof Dr Ali Emrah Bozbayindir explained that there are two things that can make these cases become more strategic, namely the attacks against humanitarian reinforcements can be categorized as a serious war crime, meanwhile if we can prove that the killing was done by “execution style”, this can be eliminate Israel’s alibi that they had done self defense on Mavi Marmara ship. Some of speakers presented included Ismail Bilgen, son of Shahid Ibrahum Bilgen, Ugur Yildirim, Yasin Samli, Ahmet Turk of Palestine, Boye Gonzales of Spain, France and Gilles Dever from Gulden Sonmez of IHH.
Naif Band Peduli Derita Palestina

Jakarta, 15 Jumadil Awwal 1435/16 Maret 2014 (MINA) – Grup musik pop Indonesia, Naif Band, menunjukkan jiwa sosialnya dengan turut serta dalam kampanye peduli untuk warga Palestina melalui program “Gerakan Rp 50 Ribu/Orang”. Di sela-sela acara panggungnya di ARTE Indonesia Art Festival 2014, Jakarta, Sabtu malam (15/3), Naif menyempatkan diri dalam pengambilan video kampanye penggalangan dana untuk pengadaan alat-alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Gaza yang bertujuan membantu dan meringankan penderitaan warga Gaza yang selalu menjadi sasaran tembak militer Israel. Band yang terbentuk pada 22 Oktober 1995 di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu terdiri dari David (vokal), Emil (bass), Jarwo/Mr. J (gitar), dan Pepeng (drum). Bagi David, vokalis Naif, memberi adalah suatu kenikmatan yang lebih dari pada menerima. “Karena ada yang berkurang di sana (Palestina). Memang tujuan hidup kita memenuhi yang kurang di tempat yang lain,” katanya. “Ketika terjadi perang Gaza, saya merasa bahwa ini akan terjadi terus,” tambah David. Senada dengan rekannya, Emil mengatakan bahwa tidak ada alasan menolak untuk ikut terlibat dalam kampanye bantuan untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza. “Apa lagi untuk rumah sakit, tentunya karena alasan kemanusiaan. Apa lagi di negeri yang dijajah oleh ‘tamu’ (Israel), karena menyelamatkan satu manusia sama dengan menyelamatkan seluruh umat manusia,” katanya dengan mengutip sebuah ayat Al-Quran. Menurut putera (alm.) KH. Hussein Umar, mantan Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) itu, peran serta Naif dalam membantu rakyat Palestina dinilai masih sangat kecil. “Saya pribadi, ini hanya secuil yang bisa kita lakukan untuk Palestina dan kemanusiaan,” tambah Emil kepada MINA. Naif sendiri adalah band yang sudah sering terlibat dalam kegiatan sosial untuk korban bencana alam dan pelestarian lingkungan. Rumah Sakit Indonesia di Gaza dibangun oleh para relawan Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C) dengan dana murni dari rakyat Indonesia sebagai bentuk peduli dan bantuan bagi rakyat Gaza. Bangunan Rumah Sakit Indonesia sudah selesai dibangun dan memasuki tahap pengadaan alat-alat kesehatan agar bisa segera dioperasikan. (L/P09O2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/nasional/16244-naif-band-peduli-derita-palestina.html
Jihan Fahira : Bantu Rakyat Palestina Ibadah

Jakarta, 15 Jumadil Awwal 1435/16 Maret 2014 (MINA) – Menganggap membantu rakyat Gaza adalah ibadah, aktris dan model Jihan Fahira, turut berpartisipasi dalam kampanye “Gerakan Rp 50 Ribu/Orang” untuk pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza. “Terlibat dalam kampanye kemanusiaan ini, bagi saya adalah ibadah kepada Allah, apa lagi ini tidak sulit,” kata Jihan saat ditemui Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di kediamannya, Jakarta, Sabtu (15/3). Menurut pesinetron di salah satu stasiun televisi swasta itu, dengan mengeluarkan Rp 50 ribu per-orang untuk membantu pembelian alat-alat kesehatan RS Indonesia, tidaklah begitu sulit. Ia juga menyimpulkan bahwa solidaritas rakyat Indonesia terhadap penderitaan rakyat Palestina di Jalur Gaza ada kemajuan, namun belum maksimal dan signifikan. “Saya berharap, dengan adanya kampanye seperti ini, hati kami semua lebih tergugah untuk membantu para umat yang terzalimi di sana,” kata isteri aktor Primus Yustisio itu. Dalam kampanye pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza itu, Jihan menghimbau rakyat Indonesia agar bukan hanya umat Islam yang perduli terhadap penderitaan warga Gaza, tapi juga umat agama yang lainnya. Organisasi kemanusiaan di bidang medis, Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C), telah membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza menunaikan amanat rakyat Indonesia untuk membantu meringankan penderitaan rakyat Gaza yang selalu terancam oleh serangan militer Israel sewaktu-waktu. Anggota Presidium MER-C, Ir. Faried Thalib mengatakan ketika kepulangannya dari Gaza tiba di Bandara Internasional Soekano-Hatta, semua dana pembangunan RS Indonesia murni berasal dari rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, terutama golongan menengah ke bawah. Rumah sakit yang terletak sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel itu, secara fisik pembangunannya sudah selesai. Agar rumah sakit tersebut bisa beroperasi, maka dibutuhkan alat-alat kesehatan dengan perkiraan dana sekitar 65 milyar, dua kali lipat dari biaya pembangunan fisiknya yang sudah selesai, Karena itulah, MER-C melibatkan banyak figur publik untuk menggalang dana agar pengadaan alat kesehatan dapat cepat tercapai. (L/P09/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/nasional/16239-jihan-fahira-membantu-rakyat-gaza-adalah-ibadah.html