MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

GAZA DAN TEROR MUSIM DINGIN

Lebih dari 10 tahun sudah Gaza dengan 2 juta warganya hidup dalam penjara Israel bernama blokade, penutupan pintu-pintu perbatasan antara Gaza dan dunia luar telah melahirkan berbagai krisis kemanusiaan dan penderitaan tak berujung. Ratusan terowongan bawah tanah yang selama ini dijadikan alternatif oleh warga Gaza untuk mensuplai barang kebutuhan juga telah dihancurkan.  Hari ini, warga Gaza di Palestina sedang menjalani masa-masa terburuk dalam sejarah penjajahan Israel atas mereka. Tidak berhenti sampai disitu, warga Gaza juga harus menghadapi penderitaan tahunan, sebuah teror  bernama cuaca ekstrim di musim dingin. Saat ini, musim dingin telah tiba. Menguji kesabaran dan ketahanan warga Gaza, para korban kekejaman. Agresi Israel yang telah meluluh lantahkan tempat tinggal mereka. Tidak ada persiapan yang seimbang bagi mereka untuk menghadapi teror musim dingin ini, terutama kalangan anak-anak dan manula yang sensitif terhadap cuaca ekstrim. Bantuan logistik musim dingin yang biasa dikirim oleh negara-negara tetangga (negara teluk) tidak bisa lagi terlalu diharapkan dikarenakan suhu politik dan konflik internal akut yang sedang menjangkiti negara-negara donatur tersebut saat ini. Dan sekali lagi, itu berarti warga Gaza  harus berjuang sendirian untuk mempertahankan eksistensi kehidupan mereka. Dalam kondisi semacam ini, tidak banyak hal yang bisa diharapkan oleh warga Palestina di Gaza yang bisa meringankan beban mereka di musim dingin. Namun, bicara masalah  harapan, bisa dibilang “Indonesia” masih berada di posisi teratas dari sedikitnya harapan yang dimiliki warga Gaza saat ini.   Selain RS Indonesia yang selama 2 tahun ini telah hadir berdiri dengan megah di bumi perjuangan Gaza, Palestina…. Menjadi harapan untuk ikhtiar pengobatan bagi warga Gaza khususnya bagian utara…. Simbol persaudaraan dan dukungan jangka panjang Indonesia untuk Palestina…    MER-C juga akan menyalurkan bantuan selimut untuk bisa meringankan penderitaan dan membantu warga Gaza melalui masa-masa sulit di musim dingin tahun ini. Satu lembar selimut hangat akan menjaga anak-anak Gaza dari ganasnya cuaca dingin yang terus mengintai. MER-C Cabang Gaza akan menyalurkan langsung bantuan Anda untuk warga Gaza yang membutuhkan…   Salurkan kepedulian anda melalui rekening donasi Amanah Kemanusiaan Gaza, Palestina : BCA, 686.033.5555 Bank Mandiri, 124.000.3753.754 BSM, 700.290.5803 An. Medical Emergency Rescue Committee   Info: Website : www.mer-c.org FB : MER-C Indonesia Call Center : 0811990176   |Sebuah Amanah bagi Kemanusiaan untuk orang-orang yang paling Membutuhkan|

Penggalian Pondasi RS Indonesia di Rakhine Capai 50 Persen

Dalam rangka memberikan bantuan jangka panjang bagi masyarakat korban konflik di Rakhine State, Myanmar, pembangunan Rumah Sakit Indonesia tepatnya di Myaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State terus berlanjut. Ir. Nur Ikhwan Abadi, Site Manager RSI, melaporkan bahwa pekerjaan pembangunan bangunan utama RS Indonesia berukuran sekitar 2.100 m2 saat ini dalam tahap penggalian pondasi dengan progress mencapai lebih 50 persen.    “Progress penggalian pondasi rumah sakit sudah lebih dari 50 persen. Lebih dari 100 pondasi sudah selesai dari 200 pondasi yang direncanakan. Pondasi yang sudah dicor sampai dengan hari ini mencapai 10 titik,” terang Ikhwan.   “Para pekerja lokal yang terdiri umat Muslim dan Budha saat ini masih terus merakit besi-besi untuk pondasi, galian pondasi dan pengecoran lantai kerja (lean conrete) untuk lubang pondasi yang sudah selesai,” tambahnya.   Ditanya tentang kendala di lapangan, Nur Ikhwan menjelaskan bahwa sampai saat ini tidak ada kendala berarti dalam proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine, baik material maupun hal lainnya.   “Material sampai sekarang tidak ada masalah. Seminggu yang lalu besi-besi sudah datang lagi 7 ton. Batu dan pasir juga baru masuk 10 truk.”    Meskipun sempat ada informasi temuan tiga bom di Mrauk U beberapa hari sebelumnya, bahkan satu bom sempat meledak yang menargetkan salah seorang Menteri saat sedang lewat di Mrauk U, namun menurut Ikhwan hal ini juga tidak mempengaruhi proses pembangunan.    “Karena adanya informasi bom tersebut, memang kami sempat didatangi petugas keamanan setempat untuk ditanya identitas dan izin, namun Alhamdulillah kejadian ini tidak mengganggu proses pembangunan, pembangunan RS Indonesia tetap berjalan.”    Ir. Nur Ikhwan Abadi (Site Manager) bersama Ir. Ahmad Fauzi (Site Engineer), keduanya adalah insinyur yang ditugaskan untuk mengawasi pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar hingga pembangunan rumah sakit selesai. Para insinyur ini dipercaya untuk mengawal pembangunan RS Indonesia di Rakhine karena keduanya sudah berpengalaman dalam pembangunan RS Indonesia di wilayah perang Jalur Gaza, Palestina. Setiap hari, Ikhwan dan Fauzi mengunjungi lokasi pembangunan untuk mengawasi para pekerja dari kontraktor lokal yang berjumlah 30 – 40 orang per harinya. Pembangunan bangunan utama RS Indonesia diperkirakan memakan waktu hingga 10 bulan ke depan.    Dukungan dan bantuan bagi program ini dapat disalurkan melalui : Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee   Info: Webiste : www.mer-c.org FB : MER-C Indonesia Call Center : 0811990176   |Peduli untuk Kemanusiaan yang Lebih Baik|

Bentrokan di Gaza Berlanjut, 97 Warga Terluka

Memasuki hari kelima sejak pernyataan Donald Trump terkait Jerusalem, aksi unjuk rasa di Jalur Gaza belum juga reda. Sejumlah aksi unjuk rasa warga Gaza di wilayah perbatasan berbuntut pecahnya bentrokan melawan militer Israel.   Kekuatan tak berimbang antara militer Israel dan para pengunjuk rasa berujung jatuhnya puluhan korban luka dari pihak Palestina.   Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mencatat 97 warga Palestina terluka sejak pagi hingga malam hari Senin (11/12) kemarin. Enam puluh diantaranya menderita sesak nafas akibat menghirup gas air mata. Para korban tersebut langsung mendapatkan perawatan di lokasi bentrokan. Sementara 37 diantaranya harus dilarikan ke rumah sakit karena tertembak peluru tajam militer Israel.   Dengan demikian jumlah korban luka dari pihak Palestina sejak melerusnya berbagai aksi unjuk rasa bertambah menjadi 1.795, seperti dikabarkan oleh Bulan Sabit Merah Palestina.   Info: Webiste : www.mer-c.org FB : MER-C Indonesia Call Center : 0811990176    

Dua Pejuang Palestina Syahid

Dua pejuang Palestina dari Faksi Saraya Al Quds, syahid dalam misi jihad di kota Bait Lahiya, Jalur Gaza Utara, Selasa siang (12/12).   Korban bernama Mustafa Mufid Sultan (30 th) dan Husain Gazi Nasrullah (26 th). Jasad kedua korban langsung dilarikan ke RUMAH SAKIT INDONESIA di Jalur Gaza Utara.     Dengan demikian jumlah korban jiwa di Gaza sejak pernyataan Trump hari Kamis lalu bertambaj menjadi 6 jiwa. Sementara korban luka dari berbagai wilayah Palestina mencapai 1.800.

Berita Langsung dari MER-C Gaza

Pesawat tempur militer Angkatan udara Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah lokasi di wilayah utara Jalur Gaza, Jum’at malam (8/12/17). Tercatat tidak kurang dari 25 warga sipil mengalami luka luka.     Para korban dilarikan ke RUMAH SAKIT INDONESIA, rumah sakit utama penduduk Palestina di Jalur Gaza utara khususnya kota kota perbatasan (Jabaliya, Baitlahiya dan Bait hanun).

Bahas Bantuan Medis, MER-C Audiensi dengan Dubes Myanmar di Jakarta

Kamis/23 November 2017, Tim MER-C yang diwakili oleh dr. Yogi Prabowo, SpOT, dr. Hadiki Habib, SpPD dan Rima Manzanaris bertemu dengan Duta Besar Myanmar untuk Indonesia, Mrs. Ei Ei Khin Aye. Pada pertemuan ini Tim MER-C menyampaikan mengenai sejarah dan progress pembangunan RS Indonesia di Muaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State, Myanmar yang sudah memasuki tahap pembangunan bangunan utama rumah sakit. MER-C juga saat ini menugaskan dua insinyur untuk mengawasi seluruh proses pembangunan rumah sakit hingga rumah sakit ini selesai.  Selain bantuan jangka panjang dalam bentuk pembangunan sarana kesehatan, dr. Yogi Prabowo, SpOT selaku Pendiri dan Relawan Medis MER-C juga menyampaikan rencana pengiriman tim medis MER-C ke Rakhine State, Myanmar.   Dubes Myanmar untuk Indonesia memberikan apresiasi dan tanggapan postif atas pembangunan rumah sakit bantuan dari rakyat Indonesia. Seiring perjanjian repatriasi antara Myanmar dan Bangladesh, Dubes Ei Ei Khin Aye berpandangan bantuan pelayanan medis yang MER-C tawarkan juga akan sangat dibutuhkan dalam proses ini nantinya. Dubes menyatakan akan mengkoordinasikan hal ini dengan pihak-pihak terkait di Myanmar.  Menanggapi hal ini, dr. Yogi Prabowo, SpOT menyatakan bahwa MER-C siap mendamping proses repatriasi. “Kami telah mempersiapkan lima relawan medis, termasuk saya sendiri dan dr. Hadiki Habib, SpPD. Sisanya adalah relawan dokter umum dan perawat. Tim ini adalah tim pertama dan kami akan siapkan tim selanjutnya sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan nanti.”

RS Indonesia Myanmar Satukan Berbagai Etnis di Rakhine

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Myanmar mengumandangkan pesan perdamaian dan menyatukan berbagai etnis di Myanmar. Hal ini terlihat saat acara peletakan batu pertama atau groundbreaking yang digelar hari Minggu (19/11). Acara dihadiri oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Myanmar, Ito Sumardi dan disaksikan sekitar seribu orang yang berkumpul dari berbagai etnis yang ada di Rakhine. “Sekitar seribu orang berkumpul di RS Indonesia pada saat acara groundbreaking, mereka dari berbagai etnis dan agama bersatu bersama dengan keadaan damai, RSI ini simbol perdamaian di Myanmar” kata Nur Ikhwan Abadi, Site Manager RS Indonesia di Mrauk U, Rakhine, Myanmar. Pria yang pernah menjadi relawan pada pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina ini mengatakan, bahwa Rumah Sakit Indonesia di Rakhine membawa pesan perdamaian di Myanmar. “Terlihat sekali pesan perdamaian dari program ini, bahkan bukan hanya saat acara, para pekerja yang berada di Rumah Sakit Indonesia ini berasal dari komunitas Muslim dan Budha mereka bekerja bersama tanpa ada sikap saling bermusuhan diantara mereka,” ujarnya. Ikhwan menambahkan bahwa program ini sebagai usaha diplomasi kemanusiaan yang dilakukan oleh MER-C yang merupakan inisiator dari program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine, Myanmar. “Ide pembangunan rumah sakit Indonesia ini sudah sejak 2015 yang lalu ketika MER-C untuk kesekian kalinya mengunjungi Rakhine, dan ini merupakan bentuk diplomasi kemanusiaan yang dilakukan oleh MER-C” lanjutnya. Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan yang sudah dilakukan MER-C sejak mendirikan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Khusus wilayah konflik Myanmar dimulai dengan misi pertama MER-C ke Rakhine pada tahun 2012 dan dilanjutkan dengan assessment ke lokasi lahan RS Indonesia di Mrauk U pada Agustus 2015. Saat itu, didampingi oleh staf KBRI, Tim langsung melakukan pembelian (pembebasan lahan karena tanah adalah milik negara), tepatnya di Mrauk U, Rakhine State. Setelah pekerjaan tahap pertama pembangunan pagar dan penimbunan lahan selesai pada Agustus 2017 lalu, MER-C menunjuk salah satu kontraktor lokal terbaik di Myanmar guna melanjutkan pembangunan bangunan utama. Meskipun pembangunan diserahkan kepada kontraktor lokal, namun MER-C tetap menempatkan relawan insinyur di lapangan untuk mengawasi seluruh proses pembangunan RS Indonesia di Rakhine State sampai pembangunan selesai. Hal ini dilakukan sebagai bentuk tanggungjawab kepada masyarakat Indonesia yang telah mendanai program ini.   Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar dapat disalurkan melalui: Mandiri 124.000.8111.982 BSM 700.1306.833 BCA 686.028.0009 Semua rekening atas nama Medical Emergency Rescue Committee   Info: www.mer-c.org 0811990176

Pembangunan Bangunan Utama RS Indonesia di Rakhine Dimulai

Pembangunan bangunan utama RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar resmi dimulai. Hal ini ditandai dengan peletakan batu pertama atau groundbreaking yang digelar hari Minggu (19/11) yang dihadiri oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Myanmar, Ito Sumardi, Dirjen Kementerian Kesehatan Myanmar U Aye Thar Kyam, Secretary of State Rakhine U Tin Maung Swe serta perwakilan MER-C, Nur Ikhwan Abadi dan Ahmad Fauzi, dua insinyur yang ditugaskan untuk mengawasi pembangunan RS Indonesia. Sekitar seribu orang dari berbagai etnis di Myanmar juga berkumpul di area rumah sakit Indonesia, Kampung Myaung Bwe, Mrauk U, Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Mereka datang dari berbagai desa di sekitar area rumah sakit untuk turut menyaksikan acara groundbreaking RS Indonesia. Bukan hanya komunitas Budha, namun komunitas Muslim juga berdatangan dan mereka bersama-sama menyaksikan acara tersebut. “Ini sangat bersejarah karena untuk pertama kalinya Indonesia memberikan bantuan berupa Rumah Sakit kepada negara pimpinan Aung San Su Kyi,” ujar Ikhwan. Dubes Ito Sumardi mengawali peletakan batu RS Indonesia, diikuti dengan perwakilan Kementerian Kesehatan, dan Secretary of State Rakhine, sementara MER-C diwakili oleh Nur Ikhwan Abadi. Selain itu, perwakilan dari Muslim dan Budha juga turut melakukan peletakan batu pertama. Rumah Sakit Indonesia di Rakhine merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan yang dilakukan oleh MER-C dengan tujuan jangka panjang meredakan konflik yang ada. Ketika pertama kali masuk ke Rakhine pada tahun 2012 MER-C melakukan aksi kemanusiaan dengan memberikan pengobatan kepada masyarakat baik Muslim maupun Budha. Dari hasil pengamatan di lapangan, maka pada tahun 2015, MER-C kembali ke Myanmar dan menginisiasi berdirinya Rumah Sakit di Rakhine. Setelah mendapatkan perizinan dari otoritas Myanmar yang pengurusannya difasilitasi oleh KBRI, maka MER-C segera bergerak untuk merealisasikan Rumah Sakit tersebut. Setelah selesai mendisain dan mendapatkan persetujuan dari berbagai pihak di Myanmar, pada Mei 2017 pembangunan tahap pertama RSI berupa pembangunan pagar dan penimbunan lahan akhirnya dimulai. Pembangunan kemudian dilanjutkan dengan pembuatan gedung utama rumah sakit pada November 2017, dengan menunjuk satu kontraktor lokal yang pernah membangun sekolah Indonesia di Rakhine. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pembangunan RS Indonesia diperkirakan selama 10 bulan ke depan.     Masyarakat Indonesia dapat terus mendukung dan memberikan donasi bagi kelancaran program ini. Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar dapat disalurkan melalui: Mandiri 124.000.8111.982 BSM 700.1306.833 BCA 686.028.0009   Semua rekening atas nama Medical Emergency Rescue Committee   Info: www.mer-c.org 0811990176  

Dua Insinyur Pengawas Pembangunan RS Indonesia Bertolak ke Rakhine Myanmar

Jakarta – Menyusul program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar yang sudah memasuki tahap pembangunan bangunan utama, Selasa (13/11) pagi tadi MER-C mengirimkan dua insinyur ke wilayah Rakhine State untuk mengawasi proses pembangunan. Kedua insinyur tersebut adalah Nur Ikhwan Abadi dan Ahmad Fauzi yang sudah berpengalaman membangun RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Kali ini mereka kembali dipercaya untuk menunaikan amanah pembangunan RS Indonesia di wilayah konflik Rakhine State. Keberangkatan ini dimungkinkan setelah keluarnya izin tinggal di Mrauk U, Rakhine State dari Pemerintah Myanmar. Kedua insinyur dijadwalkan akan bertugas sampai pembangunan RS Indonesia selesai yang diperkirakan akan memakan waktu selama 10 bulan ke depan. Sebelumnya pada akhir Oktober lalu, Ketua Tim Pelaksana Pembangunan RS Indonesia, DR. Ir. Idrus M. Alatas, MSc telah berangkat ke Rakhine State untuk melakukan tender bangunan utama. “Pada akhir Oktober lalu, kami telah melakukan tender bangunan utama yang diikuti oleh lima kontraktor lokal. Pada tanggal 26 Oktober 2017 kami sudah menetapkan pemenang tender sekaligus melakukan tanda tangan kontrak pembangunan dengan kontraktor pemenang, Rakhapura Co Ltd. Kontraktor ini sudah memiliki pengalaman membangun sekolah Indonesia di Rakhine State,” terang Idrus. “Saat ini kontraktor sudah memulai persiapan pembangunan berupa mobilisasi peralatan berat dan pengadaan sejumlah material pembangunan. Untuk itu, hari ini dua insinyur kita berangkatkan untuk melakukan pengawasan seluruh proses pembangunan mulai dari persiapan sampai dengan pembukaan RS Indonesia nantinya,” tambahnya. Keberangkatan kedua insinyur pada Selasa pagi tadi dilepas oleh Presidium MER-C, Ir. Faried Thalib dan dr. Arief Rachman, SpRad, juga para keluarga relawan yang akan bertugas, staf MER-C dan sejumlah relawan. Dalam sambutannya, Ir. Faried Thalib berharap keberangkatan tim kali ini bukan hanya sekedar mengawal proses pembangunan namun dapat merajut silaturahmi dengan saudara-saudara di sana dan masyarakat di Rakhine State, Myanmar. “Tugas kita tidak sekedar pengawasan tapi juga membantu mewujudkan sebuah perdamaian yang abadi. Mudah-mudahan ALLAH melindungi, memberikan kesehatan sehingga perjalanan jihad profesi ini betul-betul dalam ridho ALLAH SWT. Semoga tim yang akan bertugas diberi kekuatan dan keluarga yang ada di Indonesia dalam keadaan baik,” harap Faried. Faried juga berpesan agar tim senantiasa menjaga ketulusan, keikhlasan dan profesionalitas selama bertugas.   Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar dapat disalurkan melalui: Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee   Info: www.mer-c.org 0811990176

Tim Pembangunan RS Indonesia Kembali Berangkat ke Rakhine Myanmar

Setelah menunggu proses izin sekitar dua pekan, Jumat (20/10) Kementerian Luar Negeri Myanmar akhirnya menyetujui Tim Pembangunan RS Indonesia untuk dapat mengunjungi lokasi pembangunan yang terletak di Muaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State. Proses izin yang cukup lama ini menyusul situasi di Rakhine State yang memanas pada akhir Agustus 2017 lalu.   Senin (23/10) pagi, dua relawan teknis MER-C, yaitu DR. Ir. Idrus M. Alatas, MSc dan Ir. Rizal Syarifuddin langsung bertolak ke Yangon, Myanmar. Direncanakan esoknya tim akan terbang ke Sittwe dengan maskapai lokal. Dari ibukota Rakhine State ini, tim akan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat ke lokasi pembangunan RS Indonesia dengan jarak tempuh sekitar 3,5 jam.   Idrus yang juga merupakan Ketua Divisi Konstruksi MER-C sekaligus Penanggung jawab Pembangunan RS Indonesia di Rakhine Myanmar mengatakan bahwa tujuan kunjungan kali ini adalah untuk melakukan pengukuran dan penentuan titik-titik bangunan kompleks RS Indonesia. Pengukuran akan dikerjakan bersama dengan kontraktor lokal pemenang tender.   “Saya dan Pak Rizal akan melakukan pengukuran bersama kontraktor lokal pemenang tender tahap dua, sekaligus menentukan titik-titik seluruh bangunan yang akan berada di dalam kompleks RS Indonesia,” terang Idrus.   “Setelah proses pengukuran ini, kami berharap Rakhita Ah Linn, kontraktor lokal yang kami tunjuk bisa segera memulai pembangunan tahap dua berupa rumah dokter dan rumah perawat,” tambahnya.   Relawan yang telah berpengalaman dalam membangun rumah sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina ini juga menjelaskan bahwa agenda penting lainnya dalam kunjungannya ke Rakhine adalah pra tender pembangunan tahap tiga, yaitu pembangunan bangunan utama RS Indonesia.   “Target penting kami lainnya adalah untuk pra tender pembangunan tahap tiga dengan beberapa calon kontraktor lokal, sehingga setelah pembangunan rumah dokter dan perawat selesai kami harap bisa segera dilanjutkan dengan pembangunan bangunan utama rumah sakit,” imbuhnya.   Misi tim teknis dijadwalkan berlangsung selama 5 hari hingga Jumat (27/10) mendatang.   Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan yang sudah dilakukan MER-C sejak mendirikan RS Indonesia di Gaza, Palestina.   Khusus wilayah konflik Myanmar dimulai dengan misi pertama MER-C ke Rohingya pada tahun 2012 dan dilanjutkan dengan assessment ke lokasi lahan RS Indonesia di Mrauk U pada Agustus 2015. Saat itu, Tim langsung melakukan pembelian (pembebasan lahan karena tanah adalah milik negara), tepatnya di Mrauk U, Rakhine State.     Pada Mei 2017, setelah sempat tertunda selama dua tahun, pembangunan RS Indonesia resmi dimulai. Hal ini berkat inisiasi dari Bapak M. Jusuf Kalla yang memberikan dukungan positif dan berharap RS Indonesia bisa segera terwujud dalam jangka waktu satu tahun ke depan. Ketua Umum PMI ini juga mengarahkan agar RS Indonesia menjadi program kerjasama MER-C dan PMI.   Serangkain rapat koordinasi antara MER-C, PMI, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian terkait lainnya sudah beberapa kali digelar baik di kantor Wakil Presiden RI dan Markas Besar PMI untuk menindaklanjuti dan mempercepat pembangunan RS Indonesia.   MER-C telah menunjuk tim pelaksana pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar yang terdiri dari para relawan insinyur yang sudah berpengalaman membangun RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Meskipun pembangunan diserahkan kepada kontraktor lokal, namun MER-C akan menempatkan relawan insinyur di lapangan untuk mengawasi seluruh proses pembangunan RS Indonesia di Rakhine State sampai pembangunan selesai.   Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar dapat disalurkan melalui: Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee   Info : www.mer-c.org   0811990176

Silahkan bertanya?