MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Al-Syami Jajaki Kerjasama dengan MER-C untuk Penyaluran Bantuan ke Suriah

Jakarta – Rabu/15 Juni 2016, Ikatan Alumni Suriah (Syam) Indonesia (Al-Syami) bersilaturahmi ke kantor MER-C di bilangan Senen, Jakarta Pusat. Tujuan kedatangan Al-Syami yang diwakili oleh dua orang perngurusnya adalah untuk menjajaki kerjasama dengan lembaga MER-C dalam hal penggalangan dan penyaluran bantuan kemanusiaan untuk rakyat Suriah yang telah mengalami krisis kemanusiaan akibat perang berkepanjangan.   Salah satu Pengurus, M. Najih selaku Sekretaris Al-Syami menyampaikan bahwa ada informasi akhir-akhir ini Suriah membuka beberapa wilayahnya untuk bantuan kemanusiaan. “Ini menjadi momentum kita bersama untuk menggalang bantuan untuk rakyat Suriah. Oleh karena itu, kami tertarik untuk menjajaki kerjasama dengan MER-C dalam misi tersebut,” ungkap Najih yang pernah menempuh pendidikan selama 3 tahun di Suriah. Itikad kerjasama ini disambut baik oleh salah satu Presidium MER-C, dr. Arief Rachman yang menerima kunjungan pengurus Al-Syami. Pada kesempatan tersebut, Arief menjelaskan bahwa saat ini MER-C juga tengah berupaya untuk mengirimkan Tim Bedah (Medis) dan bantuan kemanusiaan ke Suriah. Seperti prinsip yang dipegang MER-C selama ini, bahwa penyaluran bantuan haruslah legal dan netral, maka MER-C telah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri RI dan Kedutaan Besar RI di Damaskus untuk pengurusan perizinan tim. Berdasarkan informasi dari KBRI Damaskus bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah ambulans, maka selain pengiriman Tim Medis, bantuan medis lainnya yang akan diberikan oleh MER-C adalah berupa ambulans. “Izin Tim Medis dan rencana pembelian ambulans sedang dibantu pengurusannya oleh KBRI. Kami masih menunggu informasi lebih lanjut dari KBRI,” tambah Arief. Sementara itu, Al-Syami menegaskan bahwa mereka siap mendukung program kemanusiaan untuk rakyat Suriah. Bahkan, anggota mereka siap bergabung dan membantu menjadi relawan bersama Tim MER-C di lapangan. MER-C dan Al-Syami sepakat bahwa perlu diadakan pertemuan lebih lanjut untuk membahas teknis kerjasama dalam program kemanusiaan ini.

MER-C Beraudiensi dengan Duta Besar Afghanistan Bahas Rencana IHC

Jakarta – Rabu/15 Juni 2016, untuk menindaklanjuti rencana pembangunan sarana kesehatan (Indonesia Health Center/IHC) di wilayah perang Afghanistan, MER-C Indonesia kembali melakukan kunjungan ke Kedutaan Besar Afghanistan di Jakarta. Kunjungan ini diterima oleh Duta Besar Afghanistan yang baru, H.E. Ms. Roya Rahmani.   Pada kesempatan tersebut, Presidium MER-C, Dr. Joserizal Jurnalis, SpOT memperkenalkan mengenai MER-C sebagai LSM medis yang sudah dua kali berpengalaman menunaikan misi kemanusiaan ke Afghanistan, yaitu pada Oktober 2001 dan Mei 2002. Saat itu, Amerika Serikat dan sekutunya tengah melancarkan serangan udara ke negara ini dengan dalih untuk menghancurkan kamp-kamp pelatihan teroris Al Qaeda dan instalasi militer rezim Taliban di Afghanistan. Seketika berita penyerangan itu muncul di berbagai media, MER-C pun segera menyiapkan Tim Bedahnya untuk berangkat ke Afghanistan untuk memberikan pertolongan kepada para korban perang. Kini belasan tahun berlalu, Pemerintah Palestina melalui International Health Advisor – Ministry of Public Health of Afghanistan menyampaikan kondisi terkini di Afghanistan serta kebutuhan akan sarana kesehatan yang masih minim di sejumlah wilayah yang sempat porak-poranda akibat perang berkepanjangan.   “Suatu saat kami akan datang kembali ke Afghanistan,” tegas Joserizal. “Kami berniat untuk berbuat sesuatu. Pembangunan sarana kesehatan akan menjadi program jangka panjang MER-C untuk Afghanistan,” lanjutnya.   Namun Presidium MER-C juga menjelaskan kepada Duta Besar Afghanistan bahwa pelaksanaan program memerlukan waktu dan kesabaran karena dana MER-C bagi program ini seperti halnya RS Indonesia di Gaza, akan murni berasal dari sumbangan masyarakat Indonesia yang sebagian besar menengah ke bawah.  

Tindaklanjuti Rencana RS di Myanmar, Wapres Pertemukan MER-C & Walubi

Jakarta – Dukungan positif bagi rencana program pembangunan RS Indonesia di wilayah konflik di Rakhine State, Myanmar kembali ditunjukkan oleh Wakil Presiden RI, M. Jusuf Kalla. Berselang 2 hari dari pertemuan awal dengan Tim MER-C, Rabu/15 Juni 2016 Wapres JK langsung mempertemukan MER-C dan Walubi untuk membahas tindaklanjut atas usulan MER-C membangun sarana kesehatan di wilayah konflik etnis di Myanmar. Hadir pada pertemuan tersebut Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad dan Tim serta Ketua Umum Walubi Siti Hartati Murdaya yang didampingi suami Murdaya Widyawimarta Poo.   Wapres RI menyampaikan bahwa ide pembangunan RS di Myanmar sangat baik dan perlu didukung baik dari pihak Muslim maupun Budha di Indonesia untuk memberi contoh toleransi dan kerukunan beragama di Indonesia kepada pemerintah dan rakyat Myanmar. Lebih lanjut Wapres menyatakan bahwa program ini juga akan menjadi kerjasama PMI, MER-C, Walubi dan Pemerintah. Biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan sarana kesehatan yang akan diberi nama “Indonesia Health Center” diperkirakan mencapai 30 – 40 milyar rupiah. Sarana kesehatan ini akan berada di antara wilayah Muslim dan Budha, tepatnya di Mrauk U, Rakhine State. Saat ini Divisi Konstruksi sedang membuat rancangan Rumah Sakit di Myanmar dan akan diadakan pertemuan lanjutan dengan berbagai pihak terkait untuk membahas teknis pelaksanaan program.

Tindaklanjuti Rencana RS di Myanmar, Wapres RI Pertemukan MER-C & Walubi

Jakarta – Sebagai tindak lanjut dan bentuk dukungan bagi rencana program pembangunan sarana kesehatan di wilayah konflik etnis di Rakhine State, Myanmar, Wakil Presiden RI, M. Jusuf Kalla kembali menggelar pertemuan lanjutan dengan mengundang MER-C dan Walubi. Pertemuan yang diadakan pada hari Rabu/15 Juni 2016 di Kantor Wakil Presiden RI dihadiri oleh Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad dan Tim serta Ketua Umum Walubi, Siti Hartati Murdaya dan tokoh Walubi, Murdaya Widyawimarta Poo.   Pada pertemuan ini Wakil Presiden RI menyampaikan bahwa rencana pembangunan sarana kesehatan di Myanmar yang digagas oleh MER-C adalah hal yang baik dan perlu didukung baik dari pihak Muslim maupun Budha di Indonesia. Hal ini untuk memberi contoh toleransi dan kerukunan beragama yang ada di Indonesia kepada pemerintah dan rakyat Myanmar. Lebih lanjut Wapres menyatakan bahwa program ini juga akan menjadi program kerjasama antara PMI, MER-C, Walubi dan juga Pemerintah. Biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan sarana kesehatan di Myanmar diperkirakan sekitar 30 milyar rupiah. Lahan untuk rumah sakit sudah tersedia. Pada Agustus 2015, Tim MER-C telah berkunjung ke Myanmar dan melakukan pembebasan lahan untuk rumah sakit seluas 4.000 m2. Lahan rumah sakit berada di antara desa Muslim dan Budha, tepatnya di Mrauk U, Rakhine State. Bila sudah terbangun, rumah sakit ini diharapkan bisa menjadi sarana berbaur bagi masyarakat Muslim dan Budha di Myanmar serta dapat mendorong rekonsiliasi konflik di wilayah ini. Saat ini, Divisi Konstruksi MER-C tengah membuat rancangan bangunan Rumah Sakit di Myanmar yang diperkirakan akan selesai dalam waktu 2 minggu ke depan. Setelah itu, akan diadakan pertemuan lanjutan dengan berbagai pihak terkait untuk membahas teknis pelaksanaan program.

Tiga Relawan RS Indonesia Akhirnya Keluar dari Gaza

Kairo, Mesir – Setelah dua hari berikhtiar dan mengantri di Perbatasan Rafah, akhirnya dengan izin dan pertolongan-Nya, pada Minggu sore (14/2) tiga relawan RS Indonesia bisa keluar dari wilayah terblokade Jalur Gaza, Palestina. Mereka adalah Ir. Edy Wahyudi (Site Manager RS Indonesia), Karidi dan Miyanto. Sementara dua relawan lainnya, yaitu Reza Aldilla dan Muhamad Husein masih berada di Jalur Gaza. Ketiga relawan bisa keluar pada hari kedua atau hari terakhir pembukaan perbatasan Rafah, setelah beberapa lama informasi pembukaan Rafah hanya “katanya dan katanya”, baru pada hari Sabtu – Minggu kemarin (13 – 14 Februari 2016) perbatasan Rafah akhirnya benar-benar dibuka meskipun hanya dua hari saja. Kesempatan ini langsung dimanfaatkan oleh ketiga relawan yang telah bertugas selama lebih dari 1,5 tahun di Gaza. Sejak Sabtu pagi (13/2), mereka telah bersiap menuju perbatasan Rafah untuk mengantri bersama ribuan orang lainnya. Namun pada hari Sabtu itu kesabaran relawan kembali diuji. Mereka belum mendapat izin keluar dari Gaza. Hari Minggunya (14/2), mulai jam 8 pagi ketiga relawan kembali mengantri mengurus izin di perbatasan Rafah, barulah pada jam 5 sore akhirnya 3 relawan RS Indonesia bisa keluar dari Gaza bersama sedikit orang yang berhasil keluar pada hari itu. Meskipun cukup berbahaya melakukan perjalanan dari Rafah ke Kairo pada malam hari, namun hal ini tetap dilakukan. Dengan menggunakan taksi sewaan, ketiga mulai bergerak dari Rafah menuju ibukota Kairo. Untuk sampai ke Kairo, saat ini ada 20 checkpoint pemeriksaan yang harus dilewati. Ditengah jalan relawan juga sempat mendengar suara penembakan saat beberapa mobil dan bis termasuk taksi yang ditumpangi relawan jalan beriringan. Untungnya tidak ada korban jiwa dalam insiden penembakan ini dan tidak beberapa lama semua kendaraan bisa bergerak lagi. Setelah menempuh perjalanan selama 8,5 jam, pada pukul setengah dua dinihari, relawan tiba di Kairo. Ir. Edy Wahyudi, Karidi dan Miyanto memang dijadwalkan untuk kembali ke tanah air karena amanah tugas yang telah selesai, RS Indonesia telah diserahterimakan kepada Kementerian Kesehatan Palestina dan telah beroperasi memberikan pelayanan medis kepada rakyat Gaza yang membutuhkan. Kepulangan mereka sempat tertunda beberapa lama karena menunggu dibukanya pintu perbatasan Rafah. Senin siang (15/2), ketiga relawan dijadwalkan berkunjung dan bertemu dengan pejabat KBRI Kairo untuk memberikan laporan terakhir program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza sekaligus berpamitan dengan staf KBRI yang selama ini telah memfasilitasi izin masuk seluruh relawan RS Indonesia yang akan bertugas ke Jalur Gaza. Malamnya, relawan akan langsung bertolak ke tanah air untuk bisa segera bertemu dengan keluarga tercinta yang sudah sekian lama mengikhlaskan kepergian anak, ayah dan suami mereka untuk melaksanakan jihad profesi membangun RS Indonesia di Gaza, Palestina.        

Menengok Wisma Rakyat Indonesia di Gaza

Sebagai wilayah misi jangka panjang, di dalam area kompleks RS Indonesia tepatnya di belakang RS Indonesia, MER-C juga telah mempersiapkan sebuah bangunan yang diberi nama “Wisma Rakyat Indonesia”.   Wisma yang terdiri dari 2 lantai ini dibangun oleh para relawan dan berfungsi sebagai kantor MER-C serta tempat tinggal para relawan Indonesia yang bertugas di Gaza. Saat ini sebanyak 4 relawan masih menempati Wisma Rakyat Indonesia. Ke depan, Wisma akan menjadi tempat tinggal bagi para relawan Indonesia baik medis maupun non medis yang akan bertugas di Gaza selanjutnya. Warga Indonesia yang sedang berkunjung ke Gaza, juga dipersilahkan untuk singgah ke wisma ini. Yuk menengok ke bagian dalam Wisma Rakyat Indonesia…

Ruang Operasi RS Indonesia

Bagi yang bertanya-tanya kenapa nama pulau Jawa tidak ada dalam daftar nama ruang perawatan di RS Indonesia, ini jawabannya…. Nama pulau Jawa ditetapkan sebagai nama untuk ruang operasi di RS Indonesia. Rumah sakit karya anak bangsa ini dilengkapi dengan 4 kamar operasi yang diberi nama Jawa 1, Jawa 2, Jawa 3 dan Jawa 4. Dengan 4 ruang operasi, RS Indonesia sanggup melakukan semua operasi kedaruratan berupa bedah umum, trauma kepala, trauma dada dan abdomen hingga kegawatan kardiovaskuler. Peralatan bedah terkini memudahkan dokter bedah dan anestesi untuk melakukan tindakan dengan aman, nyaman dan efisien sehingga meningkatkan survival rate pasien operasi. Sejak dibuka pada akhir Desember 2015 lalu, hingga saat ini, ruang operasi RS Indonesia telah menangani banyak pasien. ‪#‎Semoga_terus_manfaat  

RS INDONESIA DI GAZA MULAI BEROPERASI

Minggu/27 Desember 2015 menjadi salah satu hari bersejarah dalam proses panjang program pembangunan RS INDONESIA di Jalur Gaza, Palestina. Pada hari ini, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza secara resmi membuka dan mengoperasionalkan RS INDONESIA. Bahkan dua hari sebelumnya, Kamis (24/12), Ir. Edy Wahyudi, Site Manager RS INDONESIA melaporkan bahwa Kementerian Kesehatan sudah melakukan uji coba kesiapan peralatan-peralatan medis di RS INDONESIA dengan adanya tindakan operasi bagi tiga pasien yang berasal dari Gaza Utara. Operasi dilakukan di Ruang Operasi Jawa 1 dan Ruang Operasi Jawa 2. Usai operasi pasien langsung dipindahkan dan diinapkan ke ruang rawat inap Batam yang berada di lantai 2 RS INDONESIA.   Pembukaan RS INDONESIA disambut antusias oleh warga Gaza. Pada hari Sabtu (26/12), RS INDONESIA sudah mulai menerima antrian pasien rawat jalan yang sementara masih dilayani di Ruang IGD Teungku Cik Ditiro  karena Ruang Poliklinik masih dalam tahap persiapan untuk pembukaan. Sejak hari Sabtu – Minggu (26 – 27 Desember 2015), jumlah pasien rawat jalan yang berobat ke RS INDONESIA sudah mencapai 312 orang. Ruang Rawat Inap dan ICU pun mulai terisi pasien.   RS Indonesia adalah sebuah karya anak bangsa yang dikerjakan oleh putra-putra bangsa dengan donasi seluruhnya murni berasal dari rakyat Indonesia tanpa bantuan asing. Dicetuskan pada Januari 2009, kemudian pembangunan fisik RS INDONESIA dimulai pada Mei 2011. Melalui dua peperangan besar pada tahun 2012 dan 2014, pembangunan RS Indonesia tetap berjalan dan selesai pada pertengahan tahun 2014.   Pembangunan kemudian dilanjutkan dengan pengadaan alat kesehatan, furniture serta instalasi listrik, oksigen, telepon, internet, dll yang dimulai sejak November 2014 hingga Desember 2015. Kini di penghujung tahun 2015, tepatnya Minggu/27 Desember 2015 RS Indonesia akhirnya resmi dibuka dan memberikan pelayanan medis bagi rakyat Gaza yang membutuhkan.   Rasa syukur tak terhingga dan haru yang luar biasa ketika melihat RS INDONESIA mulai dipenuhi oleh tenaga medis dan para pasien yang mengantri untuk mendapatkan pengobatan. Alat-alat medis canggih dan modern pun, akhirnya mulai digunakan dan dimanfaatkan untuk memberikan pelayanan medis terbaik bagi warga Gaza yang selama ini hidup dalam agresi dan blokade illegal ketat Israel.   Terima kasih dan selamat kepada rakyat Indonesia atas  beroperasinya RS INDONESIA di Gaza, Palestina. Semoga semua doa, donasi, jerih payah dan keikhlasan, menjadi amal baik yang terus mengalir bagi para relawan dan donatur serta seluruh pihak yang telah terlibat dan mendukung program ini.  

MER-C Adakan Videoconference dengan Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza

Rabu (28/10), pkl 19.00 wib atau sekitar pkl 14.00 waktu Gaza, Tim MER-C yang diwakili oleh dr. Joserizal Jurnalis, SpOT (Presidium), Ir. Faried Thalib (Presidium), Ahyahudin Sodri, MSc. VDI (Ketua Tim Alkes RSI) dan dr. Yogi Prabowo, SpOT mengadakan videoconference dengan Wakil Menteri Kesehatan Palestina (dr. Yusuf Abu Al Reesh) yang didampingi staf Kementerian Kesehatan untuk membicarakan persiapan operasionalisasi RS INDONESIA.   Videoconference yang berlangsung selama lebih dari 1 jam 30 menit tersebut membahas berbagai hal detail terkait persiapan pembukaan RS INDONESIA seperti kebutuhan SDM Medis dan Non Medis yang akan bertugas, pemasangan jaringan IT rumah sakit, penambahan peralatan serta sarana lainnya untuk mendukung berjalannya RS INDONESIA nanti. Rencananya, kegiatan videoconference ini akan diadakan rutin dan berkala hingga RS INDONESIA dibuka. Sementara itu, sampai saat ini MER-C masih menempatkan empat relawannya di Jalur Gaza, Palestina. Mereka adalah Ir. Edy Wahyudi, Karidi bin Martono Parjo, Miyanto Modo Sodimejo dan salah satu relawan muda yang juga tengah menempuh pendidikan di Universitas Islam Gaza, Reza Aldilla Kurniawan. Meskipun pembangunan RS INDONESIA telah selesai , namun tugas keempat relawan ini  masih sangat penting dan berat. Para relawan dibawah komando Ir. Edy Wahyudi harus berkoordinasi dengan berbagai pihak di Gaza, khususnya Kementerian Kesehatan Palestina untuk mempersiapkan segala sesuatunya agar RS INDONESIA bisa segera dibuka.

Silahkan bertanya?