Jakarta – Relawan Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-9, dr. Eka Budhi Satyawardhana (spesialis bedah saraf) dan dr. Regintha Yasmeen Burju Bachtum (spesialis kebidanan dan kandungan), tiba di Indonesia pada Senin (8/9), setelah lebih dari sebulan menjalankn misi kemanusiaan di Jalur Gaza, Palestina.
Keduanya berangkat dalam dua tahap melalui Yordania sebelum masuk ke Gaza bersama konvoi bantuan kemanusiaan internasional. Dr. Eka berangkat pada Selasa (22/7) dini hari dan berhasil masuk ke Gaza pada 27 Juli 2025. Sementara dr. Regintha menyusul pada Minggu (27/7) dini hari dan tiba di Gaza pada 29 Juli 2025.
Tantangan Medis di Tengah Keterbatasan
Selama bertugas, kedua relawan menghadapi situasi yang sangat terbatas, baik dari sisi fasilitas medis maupun obat-obatan. Dr. Eka mengungkapkan bahwa hampir setiap hari mereka menangani korban massal berjumlah 50 hingga 100 orang akibat tembakan dan pengeboman.
“Tantangan terbesar adalah bagaimana memberikan layanan kesehatan maksimal di tengah keterbatasan tempat tidur dan obat-obatan. Hampir tiap hari ada kejadian massal. Momen paling sulit adalah memilih pasien mana yang harus diselamatkan, melihat peluang keselamatan dan sumber daya yang ada,” ungkapnya.
Meski demikian, ia bersyukur kehadiran relawan MER-C dapat memberi harapan bagi masyarakat Gaza.
“Kami senang karena kehadiran relawan MER-C menjadi obat bagi mereka. Ke depan, harapan kami perang segera berakhir, perbatasan dibuka, sehingga fasilitas kesehatan dapat dibangun kembali,” tambah dr. Eka.
Kondisi Ibu dan Bayi di Gaza Memburuk
Sementara itu, dr. Regintha menyoroti kondisi ibu dan bayi di Gaza yang semakin memprihatinkan dibandingkan saat ia bertugas enam bulan lalu. Menurutnya, saat ini banyak bayi lahir dengan berat badan rendah akibat malnutrisi dan perempuan hamil yang menjadi korban serangan Israel.
Melihat kondisi di Jalur Gaza yang terus memburuk, dr. Regintha menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan dan doa dari masyarakat Indonesia.
“Harapannya suplai tenaga kesehatan terus dilakukan, juga suplai alat kesehatan yang saat ini sangat terbatas. Biaya yang dibutuhkan besar, bukan hanya untuk medis, tapi juga kebutuhan makan mereka. Kita belum tahu sampai kapan situasi ini akan berlangsung,” ujarnya.
Rasa Kekeluargaan dengan Tenaga Lokal
Di balik kondisi yang sulit, dr. Regintha merasakan solidaritas yang kuat antara relawan Indonesia dengan tenaga medis lokal.
“Selama bertugas, kami bekerja seperti keluarga dengan staf lokal MER-C dan rumah sakit. Semua momen berkesan, tapi yang paling saya ingat adalah hari pertama langsung bergabung dengan tim satu di RS Helou, itu sangat terhormat dan mengesankan,” katanya.
Tim EMT MER-C ke-9 merupakan kelanjutan dari misi kemanusiaan yang telah dilakukan sejak 18 Maret 2024. Pengiriman tim medis ini adalah bagian dari komitmen MER-C untuk membantu rakyat Palestina, khususnya di Jalur Gaza, yang saat ini menghadapi situasi kemanusiaan kritis akibat genosida dan blokade yang belum berakhir.
Selengkapnya di link ini
https://www.instagram.com/reel/DOaZCGQE8LL/?igsh=eTlsYWdiODFkd2d4
https://www.facebook.com/share/v/15XdmYs8Mr/?mibextid=wwXIfr
https://vt.tiktok.com/ZSDe7B1eo/
https://x.com/mercindonesia/status/1965673675698700678?s=46
https://youtube.com/shorts/i2gKZi0ZjKQ?si=T1env4RpfzvybEeT
———————————————
Donation Account:
Bank Central Asia (BCA), 686.0153678
Bank Mandiri, 124.000.8111.925
Bank Syariah Indonesia (BSI), 700.1352.061
Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400
Bank Muamalat Indonesia (BMI), 358.000.1720
Bank Rakyat Indonesia (BRI), 033.501.0007.60308
Account Name : Medical Emergency Rescue Committee
#mercindonesia #relawanmerc #relawangaza #JanganLupakanPalestina #BerdiriBersamaPalestina #StopGenocide #FreePalestina #bantuanpalestina #donasipalestina







