MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Relawan MER-C : Musim semi datang lebih dini di hati masyarakat gaza utara

Puncak musim dingin di Gaza, Akhir Januari 2025, Berbondong warga palestina keluar dari kantong-kantong pengungsian di selatan menuju utara, pasca gencatan senjata tahap 1 dan tentara penjajah keluar dari check point Netzarim, sebuah area yang dibuat oleh penjajah untuk membagi gaza menjadi wilayah utara dan selatan.

Masyarakat Gaza Utara pulang kampung, setelah mengungsi berpindah-pindah selama 15 bulan akibat genosida, hanya untuk melanjutkan pengungsiannya di puing-puing rumah keluarga yang di bom rata.

Alaa, mahasiswa kedokteran di Gaza, yang berdomisili di Gaza Utara, menceritakan bagaimana keluarganya sangat bersemangat kembali ke kampungnya di utara. “Keluargaku bergegas kembali ke utara begitu mengetahui penjagaan sudah dilonggarkan, mereka menggunakan kenderaan apa saja, meskipun semua tahu saat ini di Utara makanan dan air sangat terbatas”

Warga gaza yang kembali ke Utara, saling bertemu, berpelukan, menanyakan keberadaan saudara, keponakan atau tetangga, ada yang wafat, ada yang masih mengungsi, ada yang tidak jelas nasib nya. 

Muhammed, seorang guru yang harus kehilangan pekerjaannya akibat genosida, menceritakan warga gaza sering bercanda dengan cara membandingkan foto mereka sebelum perang dan pasca perang, “ada yang kehilangan berat badan 10 kilogram, bahkan sampai 30 kilogram”  ujarnya “kita sampai tidak kenal karena perubahan penampilan ini” lanjut Muhammed dengan bahasa inggris terbata sambil tertawa menunjukkan foto dirinya sebelum perang yang tampak jauh lebih berisi.
Iya juga menyampaikan kebutuhan pokok sudah mulai tersedia di pasar dengan jumlah terbatas, “sebelum perang, 1 kg ayam seharga 13 shekel, saat ini harganya mencapai 25 shekel” tutup Muhammed

Dr. Mahmud, warga Gaza Utara yang menjadi relawan di RS Indonesia, baru saja mendapatkan gelar dokter dan harus mengungsi dari utara, mengatakan, “Selama mengungsi, ada masa dimana kami harus bersaing berebut rumput liar dengan keledai, rumput-rumput ini direbus untuk kemudian dimakan, karena tidak tersedia bahan makanan apapun” lanjutnya, dia merupakan salah satu dari sekian banyak warga Gaza Utara yang pulang dengan berjalan kaki dari Selatan.

Dr. Marwan, warga Gaza Utara dan direktur RS. Indonesia menyampaikan “Kami akan mensyukuri hari demi hari selama masa 42 hari ini (gencatan senjata fase 1), karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah fase 1 selesai” 

Di jalan-jalan berpasir Gaza Utara, warga hilir mudik, mencari sisa-sisa barang diantara puing-puing, truk-truk logistik mulai masuk, ada yang membawa pasokan air, tenda, dan makanan, warung kaki lima bermunculan, bahkan sudah ada yang menjual makanan. Sekarang puncak musim dingin, namun musim semi tiba lebih awal di hati masyarakat Gaza.

Bagikan:

Silahkan bertanya?