Lampung - Huzaifah dan Muaz, begitu nama kedua anak kecil yang sedang bercengkrama di atas tikar plastik di rumah pak Bukhori.  Ayahnya sudah hampir 1 tahun berjihad, menunaikan amanah pembangunan rumah sakit Indonesia di Gaza, Palestina.

Kisah Keluarga Bapak Bukhori Muslim Sadeli

Jalan darat selama 2 jam kami tempuh dari kota Bandar Lampung ke desa Bangunrejo pedalaman Lampung Tengah, di sore hari mendung tanggal 19 November 2013. Perjalanan melintasi perkebunan PTPN 7 jauh dari nyaman, karena sebagian jalan yang beraspal sudah digantikan dengan lobang-lobang, dan sebagian yang tidak beraspal menjadi kubangan lumpur besar-besar, namun amanah ini harus disampaikan, menjalin tali silaturahmi dan membawa sedikit oleh-oleh buat keluarga para mujahid, bukan karena mereka ingin dihargai, tapi karena kami merasa mereka pantas dihormati.

Rombongan MER-C dari Jakarta yang terdiri atas pak  Ir. Farid Thalib, ibu yuni, Nurfitri Taher (a.k.a mbak Upik) dr. Habib, dan dr. Zecky tiba jam 4 sore di rumah sederhana itu. Disambut oleh mertua pak Bukhori yaitu bapak Slamet, Istri pak Bukhori dan 2 orang anak beliau, yang tertua berusia 3 tahun, dan paling kecil berusia 1 tahun. Hadir juga beberapa anggota keluarga yang tinggal berdekatan dengan rumah pak Bukhori.

 Pak Farid membuka silaturahmi dengan menceritakan bahwa kondisi relawan konstruksi di Gaza dalam keadaan sehat walafiat, dan bagaimana rmereka bekerja keras sehingga pembangunan sebuah rumah sakit di Gaza, yang awalnya dianggap rencana gila dengan izin Allah dapat terlaksana sampai pembangunan fisik selesai. Diserahkan pula sebuah album foto untuk keluarga, yang berisi gambar-gambar aktivitas relawan di Gaza, Palestina.

"Ini bapakmu Huzaifah" kata pak Slamet, sang Mertua, sembari menunjuk ke sosok pria di album foto, mata kecil Huzaifah bolak-balik dari gambar di album foto ke wajah kakeknya. "bapakmu mujahid" lanjut sang kakek dengan nada bangga.

"Saya tahu bagaimana sikap Bukhori, dia memang orangnya berani dan nekat, tapi saya percaya kepadanya, dan semua keluarga mendukung perjuangannya, kami disini juga bahu-membahu merawat cucu dan anak saya, Istri Bukhori, jika kami tidak mampu menyusul perjuangannya, Insya Allah anak cucu kami yang akan melanjutkan perjuangan itu", demikian ucapan sang mertua.

Diskusi ditutup dengan hidangan khas pedesaan dengan rasa bintang lima, nasi putih hangat, tumis kangkung, ayam kampung goreng, kerupuk dan sambal colek,  meskipun awalnya tim MER-C keberatan karena ini memang tidak ingin memberatkan tuan rumah, tapi pak Slamet dengan senyum lebar menyahut, "tamu-tamu tidak saya izinkan pulang sebelum menyicipi apa yang terhidang". (HH).

Dukung Sosial Media Kami

Langganan Info & Berita MER-C