78 Tahun Nakba Suara Kemanusiaan Tak Boleh Padam

Tragedi Nakba yang terjadi 78 tahun silam masih begitu membekas. Sebab hingga hari ini, Nakba nyatanya tidak pernah benar-benar berakhir. Pengusiran, pembantaian, dan pembunuhan terhadap rakyat Palestina masih terus berlangsung. Hari ini, dunia kembali menyaksikan tragedi serupa. Jika dahulu Nakba memaksa ratusan ribu warga Palestina mengungsi dan membuat belasan ribu lainnya menjadi martir, kini jumlah korbannya bahkan bertambah banyak di tengah rentetan serangan tanpa ampun. 78 tahun Nakba menjadi pengingat bagi dunia bahwa suara kemanusiaan tidak boleh padam, pembelaan kita tidak boleh berhenti, karena rakyat Palestina masih terus berjuang untuk merdeka dan kembali ke tanah air yang dirampas. Selengkapnya di link ini
MER-C Kirimkan Tim Medis ke-5 untuk Bertugas di Jalur Gaza

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengirimkan Medical Emergency Tim (EMT) ke-5 untuk bertugas ke Jalur Gaza, Senin (29/7). Tim EMT 5 ini terdiri dari empat orang relawan, yaitu satu dokter spesialis bedah syaraf, satu dokter spesialis bedah plastik dan rekonstruksi, satu dokter spesialis anastesi serta satu dokter spesialis penyakit dalam. Sebelumnya, satu dokter sudah berangkat lebih dulu ke Jordan dan tiga orang lainnya menyusul dari Jakarta pada hari Senin. Tim EMT 5 ditargetkan bisa segera masuk ke Jalur Gaza awal Agustus ini. Salah satu relawan yang merupakan dokter spesialis bedah syaraf, dr. Dany K Ramdhan, mengaku bersemangat untuk berangkat ke Jalur Gaza, karena sudah lama menanti untuk diberangkatkan ke sana. “Sudah kewajiban kita membantu saudara-saudara kita di sana dan setelah berbulan-bulan menunggu, Alhamdulillah dikasih kesempatan untuk ke sana,” ujar Dany. Dany mengatakan, Tim EMT 5 rencananya akan bertugas selama satu bulan, namun tetap melihat situasi karena bisa saja lebih dari perkiraan. “Rencananya kita akan bertugas di RS An Nasser, di sana nanti kita akan bertugas sesuai dengan bidang kita masing-masing. Kalau dikasih kesempatan, kita juga harus melihat situasi di Gaza Utara, bagaimana Rumah Sakit Indonesia,” tambahnya. “Mudah mudahan apa yang kita upayakan diridhoi Allah, bermanfaat buat umat dan buat keluarga,” tuturnya. Dany juga mengajak masyarakat untuk jangan pernah berhenti memperjuangkan saudara-saudara di Gaza, karena sekecil apapun usaha yang dilakukan tetap akan bernilai. MER-C secara berkelanjutan mengirimkan tim medis ke Jalur Gaza melalui kerja sama dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Saat ini ada 5 relawan MER-C yang berada di Jalur Gaza, yaitu satu relawan medis, tiga relawan non-medis, dan satu Liaison Officer Tim EMT yang baru saja berhasil kembali masuk Gaza pada 16 Juli 2024.
Komunitas Pejuang Subuh Serahkan Donasi Kemanusiaan Gaza Melalui MER-C

Komunitas Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah menyerahkan donasi kemanusiaan tahap 4 untuk Gaza, Palestina, sebesar Rp. 100.000.000 melalui Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). Donasi diserahkan oleh Ketua dan Pengurus Jamaah PSMRPI Irwan Prima Aditya pada hari Ahad (14/7) di Masjid Raya Pondok Indah, Jakarta Selatan. Donasi diterima langsung oleh Ir. Luly Larissa, Ketua Divisi Penggalangan Dana dan Ita Muswita, Relawan Bidan yang baru kembali dari Jalur Gaza. Turut hadir secara online salah satu Presidium sekaligus Ketua EMT MER-C Indonesia, dr. Arief Rachman, SpRad. “Sekarang saudara-saudara kita di Palestina sedang dilihat oleh Allah bagaimana kesabaran mereka, tapi kita juga di Indonesia memiliki tanggung jawab untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina. Alhamdulillah kita menyalurkan bantuan tersebut pada pagi hari ini,” ujar Irwan dalam sambutannya. “Terima kasih kepada para jamaah, semoga Bapak, Ibu sekalian menjadi hamba-hamba Allah yang paling baik amalannya. Semoga bantuan ini, walau tidak besar bisa menunjukkan kepada Allah bahwa kita tidak diam, bahwa kita juga melakukan tanggung jawab dengan kemampuan kita untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang mengalami ujian yang berat di Palestina,” katanya. Setelah penyerahan donasi, acara dilanjutkan dengan sharing kegiatan dan pengalaman relawan MER-C dari Jalur Gaza, Ita Muswita yang telah bertugas di sana selama 74 hari atau 2,5 bulan kepada para jamaah pengajian rutin Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah yang hadir secara online.
MER-C Adakan Layanan Kesehatan dan Bantuan Kemanusiaan untuk Pengungsi Rohingya di Aceh

ER-C Indonesia pada hari Sabtu (13/7) mengadakan pelayanan kesehatan serta penyaluran bantuan kemanusiaan bagi ratusan pengungsi Rohingya di Aceh. Kordinator MER-C Aceh Ira Hadiati mengatakan, program bantuan dan layanan kesehatan ini dilakukan karena masih banyak pengungsi Rohingya yang mendarat di Aceh dengan kondisi memprihatinkan. “Terlepas dari masalah politik atau isu internasional tentang manusia kapal ini, MER-C selaku lembaga kemanusiaan yang bersifat netral tergerak untuk ikut serta menangani masalah ini. MER-C sendiri sudah pernah terjun langsung ke Rakhine, Myanmar, saat membangun Rumah Sakit Indonesia, jadi tahu bagaimana kondisi mereka di sana,” ujarnya. Terkait program bantuan lebih lanjut untuk pengungsi Rohingya ini, Ira mengatakan akan berkoordinasi dengan jajaran Presidium MER-C di Jakarta. Layanan kesehatan dilakukan oleh relawan dari MER-C Cabang Medan yang terdiri dari dua dokter umum yaitu dr. Miftahul Masruri sebagai Koordinator Lapangan dan dr. Aulia Rachman, tiga perawat Ade Andrian, S.Kep, Ns, M.Kep, Aspri Darmawan, S.Kep, Ns dan Bima Anggara, S.Kep serta satu dokter muda Norman Hakim, S.Ked. Kordinator Lapangan untuk pelayanan kesehatan pengungsi Rohingya, dr. Miftahul, mengatakan tim mendapati para pengungsi banyak mengalami penyakit kulit dan pernafasan karena kondisi lingkungan memang kurang bersih, di mana satu tempat pengungsian diisi oleh ratusan orang. “Para pengungsi sendiri menyambut hangat kedatangan Tim MER-C, karena memang mereka mengharapkan adanya bantuan. Kami sendiri tadi cukup kewalahan karena memang hampir semua ingin berobat dan hampir semua dari anak-anak hingga dewasa mengalami penyakit kulit atau pencernaan,” ujarnya. dr. Miftahul mengungkap, sudah ada tim medis yang memang ditugaskan untuk memberikan pelayanan bagi pengungsi Rohingya. Mereka bertugas dalam tiga shift dari Senin-Jumat, jadi saat relawan MER-C datang tim yang biasa bertugas sedang libur. Selain memberikan pelayanan kesehatan, relawan MER-C bersama Fakultas Bisnis Islam UIN Ar-Raniry juga membagikan bantuan berupa sembako dan obat-obatan, bantuan paket higienis untuk dewasa dan anak-anak yang berisi sikat gigi, handuk, sabun mandi, shampoo, serta pakaian bayi dan makanan tambahan untuk anak-anak, dengan total 237 paket. MER-C juga menyerahkan bantuan 7 buah kipas angin agar sirkulasi udara di pengungsian bisa lebih baik, serta peralatan ibadah seperti iqra dan Al Quran, mukenah, sarung, dan buku pengayaan agama. Saat ini para pengungsi membutuhkan fasilitas sanitasi yang lebih baik, karena yang ada sekarang masih belum memadai. PBB menggambarkan etnis Rohingya sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia dan kelompok hak asasi manusia menyebut mereka menghadapi genosida. Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar perempuan dan anak-anak, meninggalkan Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan keras pada Agustus 2017, sehingga menambah jumlah pengungsi Rohingya di Bangladesh menjadi lebih dari 1,2 juta orang. Setiap tahun, ribuan warga Rohingya juga meninggalkan Myanmar, mempertaruhkan nyawa dalam perjalanan laut yang panjang dengan kondisi kapal yang buruk, untuk bisa mencapai Malaysia atau Indonesia.
Musisi dan Seniman Indonesia Berkolaborasi dengan Lima Lembaga Kemanusiaan akan Gelar Konser Amal Simfoni Indonesia untuk Gaza

Sejumlah musisi dan seniman Indonesia lintas agama berkolaborasi dengan lima Lembaga Kemanusiaan Peduli Palestina, yaitu ESQ Kemanusiaan, Dompet Dhuafa, Palang Merah Indonesia (PMI), Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dan Internasional Networking For Humanitarian (INH) pada Minggu (14/7) akan menggelar konser amal bertajuk “Simfoni Indonesia untuk Gaza”, di Granada Ballroom, Menara 165, pukul 18.00 – 22.00 wib. Konser Amal “Simfoni Indonesia untuk Gaza” hadir dari keresahan dan keprihatinan akan pembantaian yang telah berlangsung hampir 9 bulan di Jalur Gaza yang telah merenggut puluhan ribu korban jiwa dan luka. Sejumlah musisi dan seniman Indonesia lintas agama, yaitu Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu akan hadir dan menunjukkan kepedulian mereka terhadap tragedy kemanusiaan yang terjadi di Palestina, yaitu Dwiki Dharmawan World Peace Orchestra, Penyair Taufik Ismail, Penyanyi Putri Ariani, Once Mekel, Bella dan Chiki Fawzi, Lucky Resha serta pengisi acara lainnya, dr. Ary Ginanjar Agustian, Ustadz Erick Yusuf, David Chalik, dan masih banyak lagi musisi serta seniman yang akan memeriahkan acara ini. Manajer Operasional MER-C Rima Manzanaris mengajak masyarakat untuk bisa ikut menghadiri dan meramaikan acara ini, karena dengan membeli tiket berarti sudah berdonasi untuk Palestina. “Kami mengajak masyarakat, apapun agama anda, siapa pun yang peduli pada Gaza dan kemanusiaan, untuk hadir pada acara ini, karena dengan membeli tiket berarti Anda sudah berdonasi untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina. Dan MER-C menjadi salah satu lembaga yang nantinya akan menyalurkan donasi yang terkumpul,” ujarnya. Terkait informasi pendaftaran, dapat menghubungi nomor 08111337165 (June) dan mengirimkan donasi Anda melalui rekening nomor 7274.5878.86, Bank Syariah Indonesia (BSI) atas nama Simfoni Indonesia untuk Gaza. Donasi dari pembelian tiket konser amal ini dibagi menjadi tiga paket, yaitu Gold 1.5 juta rupiah, Titanium 2 juta rupiah dan Diamond 3 juta rupiah. MER-C sejak agresi Israel pada 7 Oktober 2023 terus menyalurkan bantuan yang langsung diserahkan oleh relawan MER-C di Jalur Gaza, berupa kebutuhan dasar seperti makanan siap saji, obat-obatan, sembako dan air bersih untuk para pengungsi. Selain itu, MER-C bekerja sama dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) sejak 18 Maret 2024 juga terus mengirimkan tim medis yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, bidan dan juga perawat, untuk bertugas di sejumlah fasilitas kesehatan yang masih beroperasi di wilayah itu. Pengiriman tim medis dari MER-C ini masih berlangsung dan akan memasuki tahap ke-5. Sebagai program jangka Panjang, MER-C berkomitmen untuk merenovasi Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara yang mengalami kerusakan parah akibat agresi Israel.
Jusuf Kalla Apresiasi Program Bantuan MER-C di Afghanistan

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, M. Jusuf Kalla mengapresiasi dan mendukung program bantuan yang disalurkan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) di Afghanistan. Hal ini disampaikannya saat menerima kunjungan Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad, Ketua Tim MER-C untuk Afghanistan, dr. T. Meaty Fransisca, dan Manager Operasional, Rima Manzanaris di kediamannya, Senin (1/7). “Jadi kalau MER-C ingin mengadakan upaya sosial di sana tentu sangat dihargai, membantu masyarakat dengan operasi kesehatan, sanitasi atau pendidikan, sangat dihargai sama dengan di Gaza,” ujar Jusuf Kalla. “Kita tahu semua bahwa sekarang ini Afghanistan setelah Amerika mundur, di bawah pemerintahan yang dipimpin oleh Taliban keadaanya lebih damai karena tidak ada lagi konflik yang besar tetapi kondisi masyarakat tetap tentu membutuhkan bantuan karena soal kemiskinan di sana, kekurangan sarana setelah 20 tahun perang,” katanya. Ia juga mengatakan, bantuan yang diberikan MER-C ini mewakili wajah Indonesia untuk membantu orang yang sedang dalam keadaan susah. Bantuan dalam keadaan sulit tentu berbeda dan mereka sangat hargai itu karena mereka membutuhkan. “Itulah hal-hal yang dilakukan MER-C selama ini dan sekarang kita hargai,” tuturnya. Jusuf Kalla berharap, masyarakat dapat membantu warga Afganistan yang saat ini dalam keadaan susah setelah perang. “Tentu membantu mereka itu merupakan amal ibadah yang baik dan dibutuhkan partisipasi masyarakat secara keseluruhan. Mereka 20 tahun dalam perang, otomatis mereka kekurangan ekonomi dan fasilitas sosial yang sulit,” ungkapnya. Sebelumnya, MER-C mengirimkan Tim Medis ke Afghanistan pada 14 Desember 2023 – 9 Januari 2024 lalu untuk membantu korban bencana gempa bumi dahsyat di Herat. Tim menempuh perjalanan darat selama 36 jam dari ibukota Afghanistan Kabul ke Herat dengan membawa bantuan dari masyarakat Indonesia. Bantuan berupa obat-obatan, alat kesehatan, perlengkapan musim dingin, dan makanan semua disalurkan langsung oleh Tim MER-C setelah mendapat izin dan pengamanan dari otoritas setempat. Bahkan Tim Medis MER-C juga mendapatkan izin melakukan pengobatan bagi warga terdampak gempa di Herat. Seiring musim dingin ekstrem yang melanda Afghanistan, MER-C kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan tahap 2 ke Herat tepatnya di Distrik Zenda, pada 12 – 13 Maret 2024. Bantuan berupa perlengkapan musim dingin dan bahan makanan didistribusikan ke empat desa yang terdampak gempa paling parah. MER-C terus menjalankan bantuan berkelanjutan di wilayah pasca gempa Afghanistan. Saat ini tengah berlangsung penyaluran bantuan kemanusiaan tahap 3 yaitu program pembuatan sumur air bersih di beberapa desa di wilayah pasca gempa di sana.
IDI Kabupaten Bogor Salurkan Donasi untuk Palestina Melalui MER-C

Ikatan Dokter Indonesia Kabupaten Bogor hari Rabu (5/6/2024) menyalurkan donasi untuk Palestina sebesar Rp. 25.000.000 melalui Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) “Alhamdulillah hari ini kami bisa hadir di kantor pusat MER-C untuk menyalurkan donasi untuk Palestina yang kami dapatkan dari para anggota IDI Kabupaten Bogor,” kata dr. Kornadi Sp.JP (K) FIHA, MKM, Ketua IDI Kabupaten Bogor. Ia mengatakan, donasi ini diserahkan kepada MER-C karena melihat track record yang telah dilakukan, sehingga dari beberapa pertimbangan IDI melihat kerja besar untuk membantu Palestina ini perlu dukungan. “Situasi Gaza saat ini rumit dan butuh perjuangan serta kepedulian semua pihak. Kita harus terus berjuang dan tetap optimis sampai merdeka,” ujarnya. Ia berharap semoga donasi ini sampai kepada yang berhak dan bermanfaat bagi yang membutuhkan. Dalam kesempatan itu, Ketua Presidium MER-C Sarbini Abdul Murad mengucapkan terima kasih atas donasi yang telah diberikan oleh IDI Kabupaten Bogor. “Apa yang terjadi di Palestina saat ini merupakan kerja besar yang harus dilakukan bersama-sama. Setiap donasi yang diberikan juga merupakan amanat besar yang akan kami salurkan,” kata Sarbini. Sejak serangan Israel ke Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, MER-C terus menyalurkan berbagai bantuan baik berupa obat-obatan, makanan siap saji, paket sembako, air bersih dan kebutuhan warga Gaza lainnya. Bahkan sejak 18 Maret 2024, berkolaborasi dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO), MER-C telah berhasil mengirimkan Tim EMT (Emergency Medical Team) secara bertahap ke Jalur Gaza untuk memberikan bantuan langsung kepada para korban. Tim EMT MER-C menjadi satu-satunya Tim dari Indonesia yang bertugas di dalam Jalur Gaza.
Hadiri Halal Bihalal HMI, dr. Sarbini Ceritakan Perjuangan Membangun RS Indonesia di Gaza

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad menceritakan perjuangan membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina, saat menghadiri Halal Bihalal Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). “Ini adalah mission impossible, karena kita membangun di tempat yang diblokade. Tidak hanya orang yang sulit masuk, bahkan uang pun sulit masuk Gaza,” katanya di Halal Bihalal dengan tema ‘Kemerdekaan Palestina, Amanah UUD 1945 dan Khittah Perjuangan HMI MPO’, yang digelar di Gedung Djoeang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/5). “Dulu kami datang ke Gaza, kemudian terdengar ledakan bom, saat itu yang kami rasakan bukan takut. Kami justru sangat marah karena tidak ada yang bisa dilakukan menyaksikan hal tersebut. Maka dari itu kita berusaha membangun Rumah Sakit yang sangat monumental, hadiah rakyat Indonesian untuk bangsa Palestina,” ujarnya. Ia mengungkap, Rumah Sakit yang dibangun dari sumbangan masyarakat Indonesia ini dibangun sebaik mungkin, dengan peralatan dan fasilitas terbaik, karena MER-C sangat menghargai usaha pembangunan RS ini. Sarbini mengatakan, untuk itu RS Indonesia memiliki fasilitas terbaik dan terbesar kedua di Jalur Gaza. Terakhir sebelum diserang Israel karena tuduhan adanya terowongan Hamas, RS Indonesia menjadi rujukan korban-korban serangan Israel dan tempat berlindung bagi ribuan warga Palestina di Gaza. “Di dalamnya pun kita rancang dengan baik, ruangannya kita beri nama-nama Indonesia seperti Pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi ada pahlawan seperti Cut Nyak Dhien, Cut Dik Tiro karena kita ingin mengenakan Indonesia kepada Bangsa Palestina,” tambahnya. “Warga Gaza sendiri saat awal Rumah Sakit ini dibangun mengatakan, ” Kami tidak tahu di mana Indonesia. Yang kami tahu itu negara sangat jauh” untuk itu warga Gaza sangat menghargai kehadiran dan bantuan kita,” kara Sarbini. Lebih lanjut, Sarbini menyerukan dukungan kepada warga Gaza yang saat ini masih terus diserang Israel. Ia sendiri menyayangkan di Indonesia masih ada orang yang mendukung tindakan Israel setelah menyaksikan apa yang terjadi. Rumah Sakit Indonesia berlokasi di atas bukit dekat Jabaliya, kamp pengungsi terbesar di Gaza yang dibangun dari sumbangsih rakyat Indonesia melalui Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). Serangan pasukan pendudukan Israel pada Kamis (23/11) malam telah menyebabkan kerusakan parah di RS Indonesia dan menyebabkan tiga relawan MER-C, staf Rumah Sakit, serta seluruh pasien dan warga Gaza yang berada di sana terpaksa mengungsi ke Gaza Selatan.
Secara Bertahap, Relawan MER-C Kembali ke Tanah Air Usai Bertugas di Jalur Gaza

Berkoordinasi dengan WHO dan UNOCHA, Tim ke-3 EMT (Emergency Medical Teams) MER-C yang tertahan di Rafah akibat serangan darat Israel akhirnya bisa keluar. Relawan pertama berhasil keluar dari Jalur Gaza pada hari Selasa (21/5) pukul 22:15 waktu Amman Yordania dan telah tiba di tanah air pada hari ini, Jumat (24/5). Selanjutnya, satu relawan lagi berhasil keluar dari Jalur Gaza pada hari Kamis (23/5). “Kedua relawan berhasil keluar dari Jalur Gaza bersama konvoi WHO UNOCHA dengan menempuh perjalanan sekitar 7 jam dari pintu perbatasan Karem Shalom menuju Amman Yordania,” ujar Ketua EMT MER-C Indonesia, dr. Arief Rachman, SpRad yang terus memantau proses exit relawan langsung di Amman, Yordania. Pada hari ini, Jum’at (24/5), dua relawan EMT MER-C lainnya juga dijadwalkan keluar dari Jalur Gaza melalui pintu perbatasan Karem Shalom bersama konvoi WHO UNOCHA. “Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses ini. Kepada WHO, lalu kepada KBRI Amman yang turut menjemput relawan di Imigrasi King Husein Bridge Yordania,” ucap Arief. “Terima kasih juga kami sampaikan kepada teman-teman relawan dari Tim Peduli pimpinan Pak Eko Sulistio atas dukungan dan bantuannya dalam hal akomodasi serta transportasi bagi Tim EMT MER-C selama berada di Yordania,” lanjut Arief. Semua relawan yang telah berhasil keluar dari Jalur Gaza tergabung dalam Tim 3 EMT MER-C yang berhasil masuk Jalur Gaza, Palestina, sejak Senin (22/4). Saat ini, masih terdapat delapan relawan MER-C di Jalur Gaza. MER-C terus berkomunikasi dengan EMTCC WHO agar relawan yang telah menyelesaikan misi kemanusiaan di Jalur Gaza, bisa segera kembali ke tanah air.
Lima Hari Bertugas, Relawan MER-C Beri Sejumlah Bantuan kepada Korban Banjir Sumbar

Tim Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) bertugas selama lima hari di lokasi bencana banjir lahar dingin dan tanah longsor di Padang, Sumatera Barat untuk memberikan sejumlah bantuan kepada para korban. Tim bertugas dari tanggal 15-20 Mei 2024. MER-C mengirimkan empat relawan dari pusat yaitu Iis Islamiah (Ketua Tim), dua dokter umum yaitu dr. Asfianti Eka Pratiwi dan dr. Ilham Wahyu, serta satu perawat Rina Hertanti, AMK. Di Padang, bergabung Tim lokal yang juga berjumlah empat orang; dr. Yusri Dianne, SpA(K) yang juga merupakan Pembina MER-C Padang, Ir. Zirma Juneldi, Msi, Hanifah Farhatal ‘Aisy dan Melky Anggara. Selama bertugas Tim berkordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat untuk memberikan bantuan pengobatan yang dilakukan di posko atau bergerak mengunjungi rumah-rumah warga. Banyak korban memilih untuk tinggal di rumah kerabat nya daripada pengungsian yang telah disediakan. Selain itu, Tim juga melakukan kegiatan trauma healing di Nagari Parambahan, Kecamatan Lima Kaum yang diikuti sekitar 40 anak-anak di pengungsian. Kegiatan dipimpin langsung oleh dr. Yusri Dianne, SpA(K). Salah satu relawan, dr. Ilham Wahyu mengatakan, berdasarkan hasil assestment di lapangan saat ini para korban sangat membutuhkan bantuan psikolog karena banyak yang mengalami trauma pasca terjadinya bencana.Sedangkan untuk pengobatan baik luka-luka dan penyakit lainya sudah terpenuhi oleh tenaga dari dinas kesehatan setempat. Lebih lanjut, dr. Ilham mengatakan tantangan saat menjalankan misi kali ini adalah luasnya wilayah yang harus dijangkau oleh Tim, sehingga dibutuhkan lebih banyak relawan. Banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah Sumatera Barat pada Sabtu (11/5/2024) dan Minggu (12/5/2024). Banjir dipicu oleh hujan lebat dan meluapnya aliran sungai yang sebagian besar berhulu di Gunung Marapi. Banjir diperparah dengan terbawanya material vulkanik dari Gunung Marapi melalui sungai karena hujan lebat di sekitar puncak. Terdapat lima kabupaten/kota di Sumatera Barat yang terdampak banjir lahar, yakni Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Padang.