MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Reshuffle di Tengah Pandemi

Pergantian kepemimpinan di Kemenkes menimbulkan pertanyaan; Apa langkah dan strategi Menkes dan Wamenkes baru dalam menghadapi pandemi di tengah situasi penuhnya dan sulitnya masyarakat mencari RS dan tempat isolasi untuk perawatan covid? Lalu bagaimana menghentikan atau mengurangi penyebaran covid di masyarakat? Proposal yang bisa diajukan untuk menghadapi tantangan tersebut antara lain: 1.    Program Isolasi Mandiri Terpantau (Isotau) Selama ini yang digaungkan adalah Isolasi Mandiri atau Isoman, yang konotasinya adalah swadaya masyarakat tanpa ada pantauan rawat tim Rumah Sakit. Pemerintah dan Dinas Kesehatan masih gamang menjalankan program isoman ini karena ada resiko perburukan dan datang ke RS dalam kondisi terlambat. Masyarakat sendiri banyak yang masih takut menjalankan isoman karena informasi-informasi yang diterima tentang covid ini cukup menakutkan, sehingga kebanyakan datang ke RS atau penampungan minta perawatan. Sementara itu program isoman itu sendiri sempat dilarang dan dihentikan oleh Pemda karena ditengarai menyebabkan kluster keluarga. Saat ini, wisma atlet dan tempat penampungan pun sudah penuh dan tidak bisa lagi menerima pasien. Penulis mempunyai pengalaman pribadi sebagai penyintas covid, yang mungkin bisa dijadikan model penanganan pasien covid gejala ringan dan sedang. Penulis pernah menderita covid-19 dan kluster keluarga. Covid yang diderita termasuk dalam kategori ringan-sedang dengan adanya gejala-gejala seperti demam mengigil, batuk pilek, mual, mencret, sakit kepala dan sedikit ada pneumonia pada gambaran x-ray. Diputuskan melakukan isolasi mandiri dengan pantauan tim medis dengan beberapa pertimbangan seperti derajat covid yang diderita ringan-sedang, RS juga sudah mulai penuh oleh penderita, karena kluster keluarga yang juga mengenai anak-anak yang sedang melaksanakan ujian-ujian daring. Tim yang memantau terdiri dari perawat, dokter PPDS IPD yang beberapa kali datang ke rumah untuk memeriksa dan mengambil darah, dan pantauan dokter spesialis penyakit dalam secara telemonitoring. Dilakukan pemeriksaan lab darah beberapa kali, rekam jantung (EKG) dan pemberian obat-obatan antivirus, steroid, antikoagulan, antipiretik, anti diare, dan vitamin-vitamin. Kemudian kami juga diberikan alat pemantauan berupa pemantauan saturasi oksigen dan pengukur suhu. Tiap hari kami dipantau melalui wa dan telepon, termasuk ketika ada gangguan fungsi hati akibat konsumsi obat antivirus avigan segera terpantau dengan telemonitoring dan obat antivirus segera dihentikan. Penulis dan keluarga merasakan ketenangan dan kenyamanan psikis dengan model isolasi terpantau ini, sehingga bisa berfikir positif dan memimpin keluarga menuju kesembuhan. Ditengah sulitnya mencari RS, model isolasi terpantau (Isotau) bisa menjadi solusi tanpa membahayakan pasien, dan bisa menangani pasien covid secara lebih dini untuk mencegah perburukan. Model isolasi terpantau juga dilakukan oleh Belanda dalam sebuah studi yang dilaporkan oleh Universitas Leiden, membuat model isolasi mandiri terpantau. Namun memang Isotau ini memerlukan persyaratan kelayakan rumah untuk isolasi untuk mencegah terjadinya penularan kepada sekitar. Dan juga memerlukan adanya Tim Pelayanan Pra Rumah Sakit (pra hospital) dimana belum banyak RS yang mempunyai layanan tersebut. Yang penulis tahu RSCM sudah mempunyai SK pelayanan Pra Rumah Sakit dan memiliki tim serta armada ambulance. Dengan adanya program Isotau ini, maka RS bisa fokus untuk menangani pasien covid sedang-berat dan menambah kemampuan fasilitas ICU serta perawatan intensif lainnya. 2.    Program Covid Semesta Program ini adalah mengajak partisipasi masyarakat dalam menghadapi Covid. Sudah sering kita dengar BNPB dan Kemenkes menggaungkan perlunya partisipasi masyarakat, kolaborasi pemerintah dengan masyarakat dalam menangani pandemi covid-19. Namun gaung tersebut kurang atau bahkan tidak sesuai implementasinya di masyarakat. Karena ada aspek non medis, aspek psikososioekonomi masyarakat yang tidak terkelola. Kesimpangsiuran informasi, kebingungan masyarakat dalam mencari informasi RS atau tempat rawat ketika terkena covid. Kurang pedulinya masyarakat terhadap protokol kesehatan. Bagaimana mengelola keluarga yang sedang menderita covid, bagaimana nafkahnya, bagaimana pendidikan anak-anaknya dan lain-lain belum terkelola oleh pemerintah. Adanya gap informasi antara nakes dengan masyarakat tentang bahaya covid kurang sinkron dan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap bahaya covid ini, akibat penjelasan tentang covid yang kurang proporsional, cenderung hiperbolik. Sementara itu, pemerintah kurang atau tidak menggunakan kekuatan media, informasi, dan undang-undang tentang perlunya menjalankan prokes setiap saat. Media dan undang-undang lebih cenderung digunakan sebagai instrumen politik ketimbang menyelesaikan pandemi ini.  Jadi usulan penulis agar pemerintah dapat mengelola covid-19 ini secara komprehensif berbagai aspek kehidupan masyarakat (psikososioekonomi) dan membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat agar masyarakat mau berpartisipasi penuh membantu pemerintah dalam menghadapi Covid. Termasuk dalam program vaksinasi covid-19 harus dilakukan secara transparan, memberikan informasi yang terbuka tentang perkembangan vaksin serta memilihkan vaksin yang terbaik bagi masyarakat. Penulis sangat yakin masyarakat juga merindukan proteksi vaksin terhadap covid ini, walaupun cuma segelintir kecil orang saja yang benar-benar antivaksin. Namun karena pengelolaan informasi kurang terbuka dan menimbulkan kesimpangsiuran sehingga banyak pertanyaan di masyarakat. Kebebasan memilih vaksin juga harus dilindungi undang-undang. Pendekatan psikososial juga harus dilakukan untuk mensukseskan program vaksin 3.    Buat, fungsikan dan kelola Call Center Covid sebagai distributor pasien-pasien covid dengan melakukan Disaster Triage Sudah berulang kali penulis mengemukakan tentang pentingnya disaster triage ini, dan juga sudah pernah memberikan masukan kepada Kemenkes serta Dinkes, namun implementasinya belum terlihat dilakukan serius. Padahal call center covid dan disaster triage ini bisa menyelesaikan masalah sulitnya masyarakat mencari tempat perawatan covid dan mencegah RS overload pasien covid yang akan beresiko terhadap nakes tertular. Kedatangan Menkes dan Wamenkes baru ke RSCM untuk menggali informasi mudah-mudahan menjadi pertanda baik bagi perkembangan penanganan pandemi covid-19 yang sudah hampir setahun melanda dunia dan Indonesia. Minimal mau mendengarkan aspirasi, berfikir positif, dan bersikap kolaboratif antar kementerian, dengan masyarakat dan para pelaku kesehatan.  Salam, dr. Yogi Prabowo, SpOT(Pendiri, Presidium dan Relawan MER-C)

MER-C Penuhi Panggilan Kedua Polres Kota Bogor

Bogor, MINA – Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue – Committee (MER-C) memenuhi panggilan kedua dari Polres Kota Bogor, Rabu, 16 Desember 2020. Mereka dimintai keterangan selama enam jam.   Ketua Presidium MER-C dr. Sarbini Abdul Murad mengatakan, pihaknya datang memenuhi panggilan sebagai saksi. Relawan MER-C, kata dia, mendapat 38 pertanyaan soal posisi dan kedudukan tim medis MER-C dan hubungannya dengan pimpinan FPI. “Kami datang sebagai saksi. Saya dalam hal ini bersama relawan MER-C dipanggil untuk memberikan kesaksian. Ada sekitar 38 pertanyaan yang menyangkut tentang tugas dan fungsi saya sebagai Ketua Presidium, juga hubungan MER-C dengan FPI,” kata Sarbini usai pemeriksaan. Sarbini mengatakan, pihaknya terbuka memberikan informasi yang dibutuhkan kepolisian. MER-C, kata dia, akan selalu transparan, independen, dan tidak pernah ragu untuk melaksanakan tugas dan profesi selama dalam jalur yang benar. “Kami mendukung apa yang mereka lihat, mereka periksa, dan mereka lakukan. Kami terbuka untuk semua itu. Kami juga meminta semua pihak untuk menghormati independensi dokter, sehingga tidak mengganggu independensi dokter dari arah hal yang bisa menimbulkan kegaduhan,” katanya. Dia menegaskan, dokter bekerja sesuai dengan Undang-Undang (UU), kode etik, dan juga sumpah sebagai dokter. “Ini pelajaran bagi semua agar bisa melihat sesuatu secara proporsional, terutama menghormati setiap profesi,” katanya. (L/R2/RI-1) Sumber : https://minanews.net/mer-c-penuhi-panggilan-kedua-polres-kota-bogor/

Maklumat MER-C : Pendampingan Medis HRS dan Penanganan Bencana Covid-19 di Indonesia

MAKLUMAT MER-C Tentang Pendampingan Medis HRS dan Penanganan Bencana Covid-19 di Indonesia     Assalamu’alaikum Wr Wb Relawan MER-C di seluruh Indonesia,   Terima kasih atas dukungan relawan MER-C semua. Harap dipahami, kegiatan kita adalah selalu dalam konteks pandemi Covid-19, yang merupakan bencana kemanusiaan di Indonesia.     Semua relawan MER-C, baik secara personal maupun melalui MER-C, diharapkan aktif berpartisipasi mengatasi bencana ini.   Terkait Habib Rizieq Shihab (HRS), sikap kita adalah membantu beliau yang sekarang ini menjadi individu yang vulnerable dan terabaikan, banyak yang takut membantu beliau ketika memang membutuhkan.   Penanganan pandemi Covid-19 juga harus proporsional, tujuan kita adalah menurunkan transmisi di masyarakat dan mencegah kematian.   Di komunitas, dua isu yang harus dilawan adalah: ABAI terhadap protokol kesehatan dan STIGMA bagi yang sakit.   Dua kondisi ini semakin meruncing dengan pengelolaan kasus HRS yang tidak proporsional, menggunakan perangkat medis dalam pandemi untuk menyerang martabat individu, dan menghilangkan semangat partisipatif. Di sini letak misi kemanusiaan MER-C dijalankan.   Sekali lagi, semua relawan MER-C, baik secara personal maupun melalui MER-C, diharapkan aktif berpartisipasi mengatasi bencana Covid-19. Uluran tangan dan ide-ide konstruktif dalam misi kemanusiaan sangat diharapkan.    Wassalam   Jakarta, 12 Desember 2020 MER-C (Medical Emergency Rescue Committee)   www.mer-c.org

ABAIKAN RESIKO KEMANUSIAAN JATUH KORBAN JIWA, PILKADA DITENGAH PANDEMI COVID ADALAH KEJAHATAN KEMANUSIAAN. (PELAJARAN PILPRES 2019 TANPA COVID YANG TIMBULKAN 800 LEBIH KORBAN JIWA KPPS)

Press Release   Pandemi covid-19 masih melanda dunia dan Indonesia, angka kasus positif yang semakin bertambah dari hari ke hari hingga mencapai angka 300 ribu, dengan angka kematian akibat covid mencapai lebih dari 10.000. Hal ini harusnya membuat kita semua lebih berhati-hati menyusun langkah. Segala upaya pencegahan dilakukan untuk mengurangi transmisi penularan dan mencegah kematian baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Kegiatan sehari-hari, mulai dari kegiatan Pendidikan, keagamaan, bahkan bekerja dilakukan secara virtual. Pilkada serentak yang akan diselenggarakan akhir 2020 mengancam keselamatan warga, meningkatkan resiko transmisi penularan Covid-19. Kegiatan pilkada masih belum bisa dilakukan secara virtual, sehingga masih terjadi pengumpulan orang baik kegiatan kampanye ataupun kegiatan pencoblosan itu sendiri. Masih segar dalam ingatan kita  tentang penyelenggaraan Pilpres 2019 yang menimbulkan lebih dari 800 korban jiwa dan ribuan yang jatuh sakit. Harga yang begitu mahal untuk sebuah resiko penyelenggaraan pesta demokrasi. Banyak spekulasi berkembang mengenai penyebab kematian ratusan petugas kpps, namun yang tampak kasat mata adalah faktor beratnya dan lamanya pekerjaan yang diemban oleh kpps sehingga menyebabkan kesakitan dan kematian. Situasi diperburuk dengan kesiapan penanganan medis yang kurang. Sistem rujukan kegawatdaruratan medis yang dipersiapkan belum mampu menangani para kpps yang mendadak sakit. Banyak kpps yang mengeluh sakit dada yang disinyalir sebagai gangguan jantung, lalu dibawa ke fasilitas kesehatan seperti pukesmas, RS kecamatan atau bahkan tidak berobat, namun tidak berhasil diselamatkan karena fasilitas kesehatan tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk menangani gangguan jantung. Kemudian juga tidak adanya call center dan sistem ambulance yang bisa bergerak cepat apabila ada kpps yang jatuh sakit. Kesimpulannya adalah sistem kegawatdaruratan medis yang dibangun belum siap. Pilkada 2020 yang akan digelar ini akan melibatkan 600 ribu TPS yang akan berpotensi menjadi kluster penularan Covid-19 diseluruh Indonesia. MER-C menilai memaksakan penyelenggaraan Pilkada ditengah situasi Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung berpotensi menimbulkan korban yang signifikan karena 2 hal penting, yaitu situasi pandemic yang belum menunjukkan tanda-tanda usai dan ketidaksiapan sistem rujukan kesehatan dan kegawatdaruratan. Bahkan Covid-19 sudah menginfeksi bebrapa calon kepala daerah, ketua KPU dan petingginya, ini harus dijadikan peringatan dan sinyal bahwa Pilkada harus ditunda. Apabila KPU tidak mengindahkan kondisi pandemic dan resiko jatuhnya korban, artinya adalah mengabaikan nyawa manusia dan bisa menjadi kejahatan kemanusiaan dan tentu saja akan menambah catatan hitam KPU yang harus dipertanggung jawabkan di kemudian hari. Maka MER-C merekomendasikan :1.    Penundaan Pilkada sampai kondisi pandemic membaik2.    Menyiapkan sistem rujukan kegawatdaruratan dan kesehatan yang memadai sebagai upaya mitigasi jatuhnya korban jiwa seperti Pilpres 20193.    KPU dan pemerintah bisa menahan diri, demi keselamatan masyarakat4.    KPU mempersiapkan sistem Pilkada yang mengurangi pengumpulan massa dan kerja berat para kpps, KPU harus mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditetapkan dan melakukan modifikasi sistem pilkada Jakarta, 30 September 2020 Medical Emergency Rescue Committee Selengkapnya : https://youtu.be/MA2Bd22TEP8

RS Indonesia di Gaza jadi Rujukan Pasien COVID-19

Gaza, MINA – Melonjaknya jumlah kasus Covid-19 di jalur Gaza menyebabkan Rumah Sakit Indonesia yang belum rampung pembangunannya menjadi rumah sakit rujukan bagi pasien positif COVID-19. Ir. Edy Wahyudi Site Manager Pembangunan RS Indonesia tahap dua yang saat ini berada di Gaza mengatakan, sejak meletusnya serangan berupa virus secara tiba-tiba dan jatuhnya 100 korban positif hanya dalam waktu satu malam di luar karantina di jalur gaza yaitu pada hari Selasa 25 Agustus lalu, maka pihak Manajemen Rumah Sakit meminta lantai tiga RS Indonesia yang belum diserahterimakan oleh Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kepada Kementrian Kesehatan Gaza. “Awalnya hanya dua ruangan yang diminta tetapi begitu ada ledakan jumlah korban serangan virus COVID-19 yang begitu besar akhirnya hampir seluruh lantai tiga RS Indonesia diminta untuk digunakan,” ujar Edy kepada MINA pada Jumat (4/9). “Petugas RS Indonesia baik dokter dan paramedis terus bekerja siang dan malam menerima masyarakat yang sempat berinteraksi dengan korban meninggal akibat COVID-19,” tambahnya. Edy juga mengatakan, saat ini petugas kesehatan RS Indonesia sedang mengalami kelelahan karena harus menangani pasien selama 24 jam. Setidaknya dua dokter, satu paramedis dan satu petugas kebersihan dari RS Indonesia juga terinfeksi COVID-19. Data dari Kementerian Kesehatan  Sektor Gaza per Kamis (3/9), Jumlah sampel baru yang diperiksa ada 1421 sampel, sekitar 98 orang  terinfeksi dalam 24 jam terakhir, total kumulatif terinfeksi 581 kasus orang, pasien sembuh 76 orang dan Kematian 5 orang (4 dari dalam masyarakat dan 1 dari yang kembali). RS Indonesia di Gaza merupakan inisiasi Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang dalam pembangunannya bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia. Pada Pembangunan tahap kedua, sebanyak 31 relawan dikirimkan ke Jalur Gaza. (L/R7/P2) Sumber : https://minanews.net/rs-indonesia-di-gaza-jadi-rujukan-pasien-covid-19/

MER-C ajak masyarakat Indonesia bekerja sama menangani COVID-19

Jakarta (ANTARA) – Lembaga medis dan kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) mengajak seluruh elemen masyarakat dan para tenaga kesehatan untuk saling bahu membahu bekerja sama dalam menangani pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia agar bisa segera terbebas dari penyakit virus corona baru tersebut. Pendiri sekaligus prresidium dan relawan medis MER-C Dr Yogi Prabowo, SpOT dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa, mengatakan penanganan COVID-19 di Indonesia harus dilakukan dengan manajemen krisis yang baik agar tidak menimbulkan masalah baru di tengah perjuangan semua pihak dalam menghadapi pandemi.Terlebih lagi, kata Yogi, bangsa yang terpecah belah di dalam menghadapi suatu masalah dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk kepentingan golongan tertentu.“Sejatinya negara yang terdampak bencana sedang menjadi lokus minoris bagi kekuatan asing lain menginvasi negeri untuk dikuasainya. Mari kita sesama anak bangsa segera menyadarinya. Lebih baik bersatu menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan dan ancaman pihak-pihak lain yang berusaha menguasai negeri,” kata Yogi. Dia mendorong agar proses pemeriksaan laboratorium untuk COVID-19 dipercepat agar tidak terjadi friksi antara masyarakat dengan tenaga kesehatan di lapangan.Yogi menerangkan kegelisahan masyarakat butuh kepastian akan anggota keluarganya yang sakit apakah terinfeksi COVID-19 atau bukan akan berdampak pada aspek sosial dan spiritual. Dari sisi tenaga medis yang sudah bekerja keras menangani pasien harus menjelaskan kepada keluarga pasien dalam situasi yang rumit dan menunggu hasil tes yang cukup lama bisa menjadi benturan.Selayaknya harus ada penjelasan aspek hukum kebencanaan oleh pemerintah kepada masyarakat, sehingga bukan hanya dibebankan kepada tenaga kesehatan yang dihadapkan pada keluarga pasien yang gelisah. “Di tengah situasi tersebut sangat rentan emosi para tenaga kesehatan menghadapi situasi,” kata dia.Namun Yogi mengajak agar seluruh pihak harus bekerja sama dan tidak menambah masalah baru di tengah kondisi yang masih terjadi pandemi.“Selayaknya kedua belah pihak bisa menahan diri, sebab dalam konsep manajemen bencana salah satu kunci keberhasilan adalah ‘jangan membuat masalah di tempat yang sedang bermasalah’ atau jangan memantik api di dekat bensin. Crisis management akan menentukan keberhasilan penanganan bencana. Hendaklah pemerintah, organisasi profesi, tokoh masyarakat bisa memberikan imbauan tentang pentingnya kerja sama dalam menangani bencana,” kata Yogi.   Sumber : https://www.antaranews.com/berita/1542344/mer-c-ajak-masyarakat-indonesia-bekerja-sama-menangani-covid-19  

MER-C Serahkan Bantuan APD Tahap 3 untuk Penanganan Covid-19

Selasa/9 Juni 2020, Tim MER-C kembali menyerahkan 200 paket bantuan APD (Alat Pelindung Diri) ke Posko Gugus Tugas Covid-19 di Balai Kota Provinsi DKI Jakarta. Ini merupakan bantuan tahap ke-3 yang telah diserahkan ke Posko Gugus Tugas Covid-19 dari 5 tahap yang direncanakan dengan total bantuan sebanyak 1.000 paket. Paket APD yang terdiri dari baju hazmat reuseable, face shield, kaca mata google, masker bedah, masker N95, nurse cap, sarung tangan, pelindung sepatu, sepatu boot dan alkohol 70% 5 liter, merupakan bantuan dari PT REPOWER ASIA INDONESIA bekerjasama dengan MER-C Indonesia. Sebelumnya serah terima bantuan simbolis telah dilakukan pada hari Selasa/5 Mei 2020 bertempat di Balai Kota dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan beserta jajaran, Direksi PT Repower Asia Indonesia serta Ketua Presidium MER-C Indonesia. Bantuan ini sebagai respon PT Repower Asia Indonesia sebagai perusahaan publik dan MER-C Indonesia sebagai lembaga medis kemanusiaan atas seruan Gubernur DKI Jakarta mengenai KSBB (Kolaborasi Sosial Berskala Besar). Harapannya, kolaborasi yang ada serta bantuan yang diberikan dapat bermanfaat dalam mendukung langkah-langkah Pemerintah untuk menangani dampak wabah ini serta membantu tenaga medis memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat. Bantuan lanjutan akan terus disalurkan secara bertahap dalam waktu dekat. Kepedulian dan Donasi Anda dapat disalurkan melalui : BCA, 686.0099.339BSM, 701.565.8899BNI Syariah, 303.2000.922 Atas namaMedical Emergency Rescue Committe #MERCIndonesia#LawanCorona#LawanCovid19#BersamaLawanCovid  Info:www.mer-c.org0811990176

Nakes Dari Rakyat Dan Untuk Rakyat

  Kebijakan pembiayaan “Reimburse” dalam penanganan Pandemi Covid-19 yang diterapkan oleh Pemerintah menimbulkan Polemik. Pertama, Dalam konsep Disaster Management adanya Komando sangat penting dan menentukan keberhasilan. Harusnya pemerintahlah yang menentukan RS mana yang bisa menangani Covid-19, jangan diserahkan kepada pasar bebas. Selain pentingnya Zonasi dalam penanganan wabah penyakit menular, juga penting memastikan kesiapan Alat Pelindung Diri (APD), fasilitas isolasi dan protokol, sehingga bisa memberikan perlindungan kepada Tenaga Kesehatan (Nakes). Kedua, Dalam konsep Disaster Management, penting dalam mencapai response time yang cepat, sehingga harus memotong birokrasi keuangan dan kebijakan LIKUIDITAS pendanaan agar RS yang ditunjuk bisa segera di-support keuangan. Namun kenyataannya kebijakan pembiayaan yang ditempuh adalah “Reimburse” atau bahasa betawinya “Lo Obatin Dulu Ntar Gue Bayar”. Dengan janji pembiayaan yang cukup “menggiurkan” tersebut kembali membuat “celah” fitnah bagi Nakes dan RS. Sementara potret situasi lain pandemi adalah banyak fasilitas kesehatan yang terancam bangkrut akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Jadi mekanisme pembiayaan “Reimburse” ini dapat menimbulkan poin positif dan poin negatif. Poin positifnya adalah memudahkan bagi pemerintah dalam pembiayaan dan akuntabilitas. Selain menggunakan mekanisme verifikasi berlapis seperti BPJS, juga mewajibkan Nakes atau RS melakukan pengisian Penyelidikan Epidemiologi (PE) yang sejatinya dilakukan oleh Epidemiolog Kesehatan Masyarakat. Sementara poin negatifnya adalah ancaman terjadinya fraud medis ditengah situasi ekonomi Fasilitas Kesehatan (Faskes) yang menurun. Apalagi kunci paling penting dalam verifikasi, yaitu kecepatan hasil SWAB PCR sangat rendah. Juga sistem screening ala Kesehatan Masyarakat ODP (Orang Dalam Pemantauan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan) yang kriterianya sangat longgar memperbesar peluang terjadinya fraud tersebut. Potret sisi kegelisahan masyarakat butuh kepastian akan anggota keluarganya yang sakit apakah Covid atau bukan? Yang akan berdampak sosial dan spiritual terutama dalam prosesi pemakaman. Potret sisi tenaga medis yang sudah bekerja keras menangani pasien Covid-19 dengan resiko tertular, tanpa kepastian pembayaran yang jelas. Belum lagi harus menjelaskan kepada keluarga pasien dalam situasi yang tidak jelas. Selayaknya harus ada penjelasan Aspek Hukum Kebencanaan oleh Pemerintah kepada masyarakat, sehingga itu bukan hanya dibebankan kepada Nakes yang dihadapkan pada keluarga pasien yang gelisah. Ditengah situasi tersebut sangat rentan emosi para Nakes menghadapi situasi. Situasi membuat benturan antar Nakes dengan masyarakat. Masyarakat mem-bully nakes bahkan sampai mau menuntut. Sementara Nakes tak tinggal diam akan menuntut juga.Selayaknya kedua belah pihak bisa menahan diri, sebab dalam konsep manajemen bencana salah satu kunci keberhasilan adalah “Jangan Membuat Masalah di Tempat yang Sedang Bermasalah” atau jangan memantik api di dekat bensin. “Crisis Management” akan menentukan keberhasilan penanganan bencana. Hendaklah pemerintah, organisasi profesi, tokoh masyarakat bisa memberikan himbauan tentang pentingnya kerjasama dalam menangani bencana. Sejatinya negara yang terdampak bencana sedang menjadi Lokus Minoris bagi kekuatan asing lain menginvasi negeri untuk dikuasainya. Mari kita sesama anak bangsa segera menyadarinya. Lebih baik bersatu menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan dan ancaman pihak-pihak lain yang berusaha menguasai negeri. Salam, Dr. Yogi Prabowo, SpOTPendiri, Presidium & Relawan Medis MER-C   /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Rekomendasi Manajemen untuk Daerah yang Baru Mengalami Outbreak Kasus Covid-19

Seiring arus mudik, terjadi peningkatan jumlah kasus nasional, sementara di DKI Jakarta kurva kasus melandai. Mau tidak mau harus diakui walaupun PSBB di DKI Jakarta tidak sempurna, namun berkontribusi dalam penurunan kasus di DKI. Hal lain yang perlu dicermati dan difokuskan adalah angka mortalitas atau angka kematian. Kita lihat pada kurva nasional angka kematian mengalami penurunan pada bulan April dan awal Mei, tetapi naik lagi pada pertengahan Mei seiring arus mudik.     Faktor yang disinyalir berkontribusi dalam menaikkan angka mortalitas adalah “Shock Phenomena” tenaga kesehatan (nakes) dalam menangani kasus Covid-19. “Fearness”, kebingungan terjadi menyebabkan “Secondary Neglected Care” pasien-pasien terduga Covid-19. Namun seiring waktu berjalan, angka kematian menurun, faktor fearness dan kebingungan nakes berkurang, availabilitas alat cek PCR semakin baik dan kemampuan besar. Nah belajar dari pengalaman DKI Jakarta, maka manajemen yang bisa diusulkan untuk daerah sbb;   Gunakan keuntungan kondisi geografis daerah Anda:   1. Untuk daerah kota besar dan padat  – PSBB 2 minggu – Pakai masker – Budaya cuci tangan – Physical distancing – Screening Rapid Test, diikuti dengan PCR – Karantina, isolasi untuk yang positif – Siagakan sistem pelayanan dan rujukan Faskes   2. Untuk daerah kepulauan, penduduk tidak padat – Mass screening dgn rapid test dan PCR – Karantina/self isolation yang sakit saja – Screening ketat di bandara dan Pelabuhan – Pakai masker – Budaya cuci tangan – Siagakan sistem pelayanan dan rujukan Faskes   Kumpulkan nakes, briefing, motivasi dan beri perlindungan (APD) agar all out dalam menangani pasien yang sakit sehingga memberikan hasil optimal.   Peran dari pada para Ustadz dan pemuka agama dalam memberikan dukungan dalil dan moril kepada nakes dan penderita dioptimalkan karena unsur psikis & sosial pada nakes dan penderita begitu nyata dan bermakna.   Peran dari aparat hukum juga dimaksimalkan dalam mensosialisasikan aspek hukum dalam pengaturan manajemen pandemi, agar memberi perlindungan kepada nakes untuk bertindak.    Peran Kepala Daerah sebagai komandan sangat vital dalam keberhasilan manajemen Pandemi Covid-19.    Ingat untuk dokter fokus pada menurunkan angka mortalitas. Gunakan seluruh kemampuanmu. Jangan terlena. Untuk pencegahan kasih porsi ke epidemiolog.    Salam,   Dr. Yogi Prabowo, SpOT Pendiri, Presidium dan Relawan Medis MER-C

Terus Bergerak Membantu Penanganan Wabah Covid-19

  Hari ini, Rabu/20 Mei 2020, Tim MER-C kembali menyerahkan 200 paket APD (Alat Pelindung Diri) ke Posko Gugus Tugas Covid-19 di Balai Kota Provinsi DKI Jakarta. Ini merupakan bantuan tahap 2 yang telah diserahkan ke Posko Gugus Tugas Covid-19 dari 5 tahap yang direncanakan dengan total bantuan sebanyak 1.000 paket.     Paket APD yang terdiri dari baju hazmat reuseable, face shield, kaca mata google, masker bedah, masker N95, nurse cap, sarung tangan, pelindung sepatu, sepatu boot dan alkohol 70% 5 liter, merupakan bantuan dari PT Repower Asia Indonesia bekerjasama dengan MER-C Indonesia.   Semoga manfaat dan dapat membantu para tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan medis terbaik bagi masyarakat.   #BersamaLawanCovid #LawanCorona #LawanCovid19   Info: www.mer-c.org 0811990176 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Silahkan bertanya?