MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Sebuah Serangan Udara Jatuh dekat Guest House MER-C di Gaza

Jum’at/17 Mei 2024, sekitar pukul 20.53 malam waktu Indonesia atau 16.53 waktu gaza, sebuah serangan udara menyasar sebuah bangunan rumah dekat guest house MER-C di Rafah, Gaza Selatan. Serangan terjadi ketika Tim MER-C Pusat Jakarta sedang menghubungi salah satu relawan di Gaza.   Alhamdulillah semua relawan selamat dan dalam kondisi baik. Namun beberapa bagian Guest house mengalami kerusakan dampak getaran yang cukup kuat. Saat ini semua relawan sudah dievakuasi ke Guest House MER-C yang baru di daerah Almawasi. MER-C sudah berkoordinasi dengan EMTCC WHO di Gaza dan Cairo serta Kemenlu RI terkait situasi ini. Saat ini masih ada 12 relawan MER-C di Gaza yang tergabung dalam Tim EMT (Emergency Medical Teams). Rotasi tim EMT MER-C Indonesia dan semua tim EMT di bawah WHO tertunda pasca operasi militer Israel di Rafah sejak 6 Mei 2024. Upaya untuk mengeluarkan relawan yang telah selesai bertugas dari Gaza masih terus diupayakan. Sementara menunggu izin keluar Gaza, relawan medis MER-C di sana masih melakukan pelayanan medis di fasilitas kesehatan yang direkomendasikan. Mohon doa dari seluruh rakyat Indonesia untuk keselamatan para relawan.

MER-C Berangkatkan Tim EMT ke-4 untuk Bertugas di Jalur Gaza

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) memberangkatkan Emergency Medical Team (EMT) ke-4 untuk bertugas di Jalur Gaza, Palestina. “Alhamdulillah hari ini MER-C bisa memberangkatkan Emergency Medical Team yang ke-4. Di Gaza saat ini masih bertugas Tim ke-3 yang nanti kemudian sebagian Tim ini akan bertukar dengan Tim ke-4 diperkirakan di tanggal 6,” ujar dr. Arief Rachman, salah satu anggota Presidium MER-C yang juga merupakan Ketua EMT MER-C, saat melepas keberangkatan Tim EMT ke-4 di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Jumat (3/5/2024).   “Tim yang berangkat hari ini terdiri dari 7 orang, sesuai dengan kapasitas maksimal yang diminta oleh EMTCC di Kairo bahwa untuk anggota dari setiap lembaga itu 7 orang, dan dalam 7 orang yang kita kirimkan ini terdiri dari satu dokter spesialis kandungan, satu dokter spesialis bedah, satu dokter spesialis anestesi, satu dokter umum dan dua perawat,” katanya. Arief mengatakan, tidak ada kendala berarti selama pengiriman tim ke Jalur Gaza yang telah memasuki tahap ke-4 ini karena adanya skema yang dibuat oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). “Hanya mungkin yang perlu menjadi perhatian adalah, untuk pemberangkatan itu memerlukan prosedur pendaftaran. Jadi untuk entri dan exit plan-nya itu sudah harus dikirimkan 7 hari sebelum pemberangkatan. Nah itu memerlukan waktu dan di satu sisi teman-teman yang akan berangkat dari Indonesia mereka bekerja di tempat-tempat seperti klinik dan rumah sakit yang memerlukan kepastian kapan mereka akan berangkat. Ini yang kemudian biasanya menyebabkan pengiriman diundur,” ungkapnya. Selain itu, ia menambahkan situasi keamanan di Jalur Gaza secara keseluruhan terutama di Gaza Selatan, tempat banyak lembaga bantuan asing bekerja, juga menjadi pertimbangan apakah jadwal pengiriman relawan akan mengalami penundaan. “Ini yang selalu kita pantau di Indonesia melalui Liaison Officer kami yang langsung berkomunikasi dengan Kementerian Kesehatan Palestina dan juga pihak WHO,” tuturnya. MER-C sejak 18 Maret 2024 terus mengirimkan bantuan Tim Medis ke Jalur Gaza, Palestina. Dengan dikirimnya Tim EMT ke-4, terhitung MER-C telah mengirimkan total 31 relawan yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat dan bidan. Saat ini Tim Medis MER-C bertugas di sejumlah rumah sakit yang masih berfungsi di Rafah, Gaza Selatan, yaitu Rumah Sakit An Najjar, Rumah Sakit Al-Helal Al-Emiraty dan Klinik Tal Al Sultan Primary Health Care Center.

Cerita Haru Relawan MER-C Bantu Persalinan di Jalur Gaza

Salah satu relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang merupakan seorang bidan dan ikut menjadi bagian dari tim medis yang berhasil memasuki Gaza beberapa waktu lalu membagikan ceritanya saat membantu persalinan di wilayah yang sedang berada di bawah blokade itu. Sebelas relawan MER-C yang telah berhasil memasuki Gaza sejak Senin (18/3/2024) lalu langsung ditempatkan dan bertugas di sejumlah rumah sakit untuk membantu warga Gaza. Relawan MER-C dibagi menjadi tiga tim yang disebar di tiga fasilitas Kesehatan di Gaza bagian Selatan yang masih beroperasi. Pembagian tim berdasarkan hasil kordinasi dengan Kementrian Kesehatan Palestina. Relawan MER-C yang merupakan seorang bidan masuk ke Tim 2, yang ditempatkan di RS Bersalin Al-Helal Al-Emirati di Rafah yang memang didedikasikan untuk perawatan pasien-pasien melahirkan. Jumlah operasi Sectio Caesaria di RS ini mencapai 15 operasi perhari. Sementara jumlah persalinan yang ditangani di RS ini mencapai 7000 kasus perbulannya. Mendapat kesempatan menjadi tim medis yang bisa masuk ke Jalur Gaza dan membantu tim medis di sana meski serangan masih terus berlangsung, ia justru merasa beruntung. Ia juga punya cerita tersendiri saat menangani persalinan bayi-bayi di Gaza. Ia menceritakan, satu waktu ia sedang dinas di delivery room, untuk menolong persalinan. Selama proses persalinan, ia berbicara dengan dokter di sana. Dokter itu mengungkapkan, pertolongan spartan selama perang membuat semua staf medis lelah. Tentu saja, sejak agresi berlangsung pada 7 Oktober, tim medis di Jalur Gaza harus bekerja selama 24 jam karena jumlah pasien yang cukup banyak. Mereka juga harus berjuang di tengah keterbatasan obat-obatan dan peralatan medis akibat blokade Israel. Untuk itu, mereka sangat membutuhkan bantuan tim medis. “Saya bilang, saya merasa sangat bersyukur bisa menolong persalinan di sini, karena saya merasa menjadi orang yang beruntung membantu lahirnya para pejuang Gaza. Mendengar jawaban saya, dokter itu terdiam,” ujarnya. “Lalu saya bilang, apalagi kamu yang sudah membantu melahirkan ratusan pejuang.” Kemudian ia hanya menjawab berkali-kali dengan “Alhamdulillah! Alhamdulillah!” Setiap anak yang lahir di Jalur Gaza tentu saja calon pejuang. Lahir di tengah agresi ini mereka sudah harus berjuang sejak di dalam kandungan. Situasi mengerikan, kekurangan kebutuhan dasar seperti air, makanan dan listrik. Setelah lahir mereka masih harus berjuang tinggal di pengungsian. “Tidak terasa, air mata saya mengalir di tengah percakapan kami saat menolong persalinan calon pejuang Gaza ini,” tuturnya. Ia lebih lanjut mengatakan bahkan sudah empat kali menolong persalinan sendirian karena banyaknya jumlah persalinan yang harus ditangani dan terbatasnya ketersediaan meja persalinan. Hal ini juga mengharuskan ibu-bu yang baru melahirkan dipulangkan kebih awal. Apabila melahirkan secara normal tiga jam sudah pulang, sedangkan jika dioperasi, sembilan jam sudah harus pulang. “Cukup sedih, kita melihat ibu-ibu yang baru melahirkan pulang ke pengungsian dengan tertunduk memegangi perutnya bersama keluarganya yang menggendong bayi. Tapi ini realita yang terjadi di Gaza dan mereka sudah terlatih. Saya juga akhirnya mengerti,” ujarnya. Selama beberapa hari bertugas di Gaza, ia mengungkapkan setiap malam Tim mendengar suara drone hingga menjelang subuh. Tak jarang mereka juga mendengar suara dentuman dan tembakan. Padahal, ledakan dan tembakan itu terjadi di Khan Younis, cukup jauh dari tempat Tim berada. Para relawan dokter dan nakes dari berbagai negara mulai masuk ke Gaza untuk membantu. EMT MER-C merupakan tim Indonesia pertama yang memberikan pertolongan medis sejak agresi 7 Oktober terjadi. Tim membantu melakukan operasi pasien trauma, layanan maternal dan layanan umum. Tim akan bekerja selama dua pekan hingga maksimal satu bulan. Pengiriman bantuan tim medis ini membutuhkan keberlanjutan program. Oleh karena itu, besar harapan Kementrian Kesehatan Gaza, Indonesia bisa mengirimkan bantuan tim medis secara berkelanjutan dengan kebutuhan dokter-doketer spesialis ortopedi traumatologi, obgyn, bedah saraf, bedah plastik, spesialis anestesi, spesialis anak, spesialis penyakit dalam dan dokter umum serta layanan bidan dan perawat. Apa saja yang kita punya amat sangat dibutuhkan oleh warga Palestina di Gaza saat ini. Bantuan medis dari Indonesia bagaikan oase persaudaraan Indonesia-Palestina

MER-C kembali Kirim Tim Medis ke Jalur Gaza, Palestina

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kembali mengirimkan Tim Medis yang tergabung dalam Emergency Medical Tim (EMT). Ini merupakan pengiriman kedua setelah sebelumnya 11 orang relawan MER-C berhasil memasuki Gaza pada Senin (18/03/2024). Tim kedua yang terdiri dari satu orang dokter umum, dua perawat dan satu liaison officer berhasil memasuki Gaza hari Rabu (03/04), pukul 15.00 waktu setempat setelah melewati proses pemeriksaan yang cukup ketat. Tim disambut langsung oleh relawan MER-C yang berada di Jalur Gaza. Manajer Operasional MER-C, Rima Manzanaris mengatakan, proses masuknya Tim EMT 2 MER-C relatif lebih mudah dibandingkan Tim sebelumnya yang sempat mengalami beberapa kali penundaan. “Alhamdulillah Tim EMT kedua ini lebih lancer. Mereka berangkat dari Kairo bersama konvoi dari WHO pada Rabu sekitar jam 05.00 pagi, lalu masuk ke Rafah bagian Mesir pukul 13.00 dan berhasil masuk Rafah bagian Gaza pukul 15.00 waktu setempat,” ujarnya. Rima mengatakan, dari Tim EMT yang bertugas sebelumnya, terhitung sudah ada dua kali kepulangan yaitu pada tanggal 27 Maret 2024 sebanyak 2 relawan dan 3 April 2024 sebanyak 4 relawan. “Relawan yang telah menunaikan misi, telah tiba di tanah air dengan selamat. Sementara dengan datangnya Tim baru, jumlah relawan MER-C yang bertugas di Gaza masih sebanyak 11 orang,” lanjutnya. Ia juga mengatakan, MER-C berkomitmen akan terus berupaya mengirim relawan medis ke Jalur Gaza untuk membantu tenaga medis di Gaza dan membantu mengobati para korban. Adapun untuk penugasan Tim EMT kedua ini, Rima mengungkap wilayahnya masih sama yaitu di Rumah Sakit Abu Yusuf An Najjar dan Rumah Sakit Al Emirati. Satu orang dokter umum yang baru tiba ditempatkan di Tall Al Sultan Primary Health Care Center.

Ketua Presidium MER-C: Pengriman Tim Medis ke Gaza Tanggung Jawab Besar untuk Bantu Saudara Kita

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad dalam konfereni pers yang digelar hari Selasa (19/3) mengatakan, pengiriman tim relawan medis ke Jalur Gaza merupakan tanggung jawab besar untuk membantu warga Gaza.Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad dalam konfereni pers yang digelar hari Selasa (19/3) mengatakan, pengiriman tim relawan medis ke Jalur Gaza merupakan tanggung jawab besar untuk membantu warga Gaza. “Perjalanan panjang ini tidaklah melelahkan buat kami, karena ini merupakan tanggung jawab besar untuk membantu saudara kita yang ada di Gaza. Walaupun situasi dan kondisi hari ini di Indonesia begitu dinamis, tapi kami tidak akan pernah melupakan perjuangan dan penderitaan yang dialami oleh saudara kita yang ada di Gaza,” kata Sarbini di Kantor MER-C di Jakarta. Ia mengatakan, pengiriman 11 relawan MER-C yang saat ini sudah tiba di Gaza merupakan tujuan utama sejak awal terjadinya agresi, untuk membantu warga Gaza yang pada hari ini sangat membutuhkan tenaga medis.  Sarbini mengungkapkan, MER-C telah berupaya sekuat tenaga untuk bisa mengirimkan tim medis ke Gaza dengan bekerjasama ke semua pihak tapi sejak dulu belum ada kabar gembira, hingga akhirnya melalui kerja sama dengan WHO di bawah naungan Emergency Medical Tim (EMT), Tim Medis MER-C berhasil masuk ke Jalur Gaza pada hari Senin (18/3) pukul 17.15 waktu Gaza atau jam 22.15 waktu Indonesia. “Maka hari ini ada 11 orang relawan MER-C yang berada di Jalur Gaza terdiri dari dokter bedah orthopedi, dokter umum, perawat dengan berbagai keahlian, bidan dan lainya. Semua ada 11 orang ditambah dua relawan yang sudah ada di sana jadi total ada 13 relawan. Mereka akan bekerja di sana minimal selama dua minggu, maksimal satu bulan dan nanti akan ada estafet selanjutnya karena kami tidak mau ini berhenti selama ada relawan kita di sana,” tambahnya. Pada kesempatan ini, Sarbini mengajak semua elemen bidang Kesehatan baik yang berada di naungan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI) maupun di bawah lembaga rumah sakit atau pemerintah untuk bersama membangun koalisi besar mengirim tim medis ke Gaza secara berkelanjutan. “Ini pekerjaan besar, masalah besar, kasus besar, maka harus melibatkan segala elemen anak bangsa. Pada kesempatan ini kita mengajak kepada pemerintah untuk bisa terdepan, secara bersama kita membantu warga Gaza. Masalah Gaza adalah masalah dunia, masalah kita bersama yang tidak cukup hanya satu elemen membantu . Kita harus saling berkontribusi membangun kerja sama, sehingga satu bidang kesehatan bisa kita tangani bersama,” tuturnya.

PWI dan IJTI Transfer Dana Aceh Peduli Palestina Tahap II, Kesempatan Berdonasi Masih Dibuka

PORTALNUSA.com | BANDA ACEH – Penggalangan dana kemanusiaan untuk korban agresi Israel di Gaza, Palestina masih terus dibuka oleh dua organisasi pers nasional di Aceh, yaitu Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI). Aksi kemanusiaan berlabel “Aceh Peduli Palestina” itu dimulai Selasa, 7 November 2023 bersamaan dengan pelaksanaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 di Banda Aceh. Aksi tersebut didukung Bank Aceh dan relawan tanggap bencana Universitas Iskandar Muda (Unida) Banda Aceh. Setelah melakukan penggalangan selama empat hari, dana yang terkumpul pada tahap I sebesar Rp 60.583.801 diserahkan oleh Ketua PWI Aceh Nasir Nurdin kepada Presidium MER-C Indonesia, dr. Henry Hidayatullah, M.Si didampingi Koordinator MER-C Indonesia Wilayah Aceh, Ira Hidayati. Penyerahan bantuan tahap I itu berlangsung pada rangkaian penutupan PKA ke-8 di panggung utama Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Minggu sore, 12 November 2023. Bantuan terus mengalir Setelah penyaluran bantuan tahap I, ternyata semangat masyarakat untuk berdonasi terus mengalir melalui Rekening Aceh Peduli Palestina No. Rek. 500.02.24.500500-0 di Bank Aceh. Buktinya, hingga posisi Senin, 4 Maret 2024, dana yang terkumpul di Rekening Aceh Peduli Palestina mencapai Rp 242.793.000. Dari saldo tersebut, ditransfer tahap II sebesar Rp 242 juta ke Rekening 7001352061 atas nama Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia di Bank Bank Syariah Indonesia (BSI) guna diteruskan kepada korban konflik di Gaza melalui relawan MER-C di sana. “Dengan transfer tahap II itu, hingga posisi Senin, 4 Maret 2024 saldo di rekening Aceh Peduli Palestina sebesar Rp 793.000. Rekening Aceh Peduli Palestina masih tetap aktif untuk penggalangan donasi,” kata Nasir Nurdin didampingi Ketua IJTI Aceh, Munir Nur dan Koordinator MER-C Indonesia Wilayah Aceh, Ira Hidayati di Kantor Bank Aceh Cabang Balai Kota Banda Aceh, Senin siang, 4 Maret 2024. Bantuan darurat Koordinator MER-C Indonesia Wilayah Aceh, Ira Hidayati mengatakan, bantuan yang digalang MER-C Indonesia—termasuk dari masyarakat Aceh—dipergunakan untuk penanganan kondisi darurat (emergency) di berbagai wilayah Gaza. Berikut data penyaluran bantuan tahap emergency periode 7 Oktober 2023 hingga Februari 2024. Bantuan disalurkan secara langsung oleh relawan MER-C di Jalur Gaza, Palestina. Oktober 2023     Obat-obatan, alat operasi, bahan medis;    Baju/atribut dokter & paramedic;    1.000 makanan siap saji di RSI;    Peralatan untuk support RSI (seperti mesin cuci dll);    Bahan makanan, kurma, snack, minuman, buah dll untuk 800-1.000 orang (dokter, pekerja medis & pasien) serta warga korban agresi;    100 paket sembako di Gaza Selatan. November 2023     Obat-obatan untuk RSI Gaza Utara;    3.152 liter minyak goreng untuk bahan bakar genset RS Indonesia di Gaza Utara;    Makanan dan air minum;    Pampers dan lainnya untuk RSI;    1.000 makanan siap saji di Gaza Selatan;    1.200 makanan siap saji di pengungsian Gaza Selatan. Desember 2023     Bantuan Kemanusiaan di Gaza Selatan:    Makanan siap saji setiap hari untuk 1.200 pengungsi;    Bahan makanan untuk pengungsian, kurma, dsb;    Perlengkapan musim dingin untuk anak-anak di pengungsian Gaza Selatan;    Enam WC darurat dan air bersih untuk pengungsian Fukhori, Gaza Selatan;    1.500 karung tepung @50 kg. Januari 2024     Makanan siap saji setiap hari untuk 1.200 warga Gaza Selatan, bahkan pernah mencapai 5.800 warga/hari;    Makanan siap saji setiap hari untuk 400 – 500 warga Gaza Utara;    Air minum 2.000 ltr/hari untuk pengungsian Gaza Selatan;    Paket sayur mayur untuk Gaza Selatan;    Pampers bayi, pampers pasien luka;    Buku dan alat tulis untuk anak-anak. Februari 2024     Makanan siap saji setiap hari untuk 1.200 – 1.600 warga Gaza Selatan;    Makanan siap saji setiap hari untuk 400 – 500 warga di sekitar RS Indonesia Gaza Utara;    Paket sayur mayur untuk warga di Gaza Tengah;    Bantuan minyak goreng untuk pengungsi;    Snack dan biscuit untuk anak-anak. Februari 2024     Bantuan kemanusiaan yang dibeli dari luar Gaza (dari Mesir), dalam perjalanan menuju Gaza:    Dua truk container sembako;    Dua truk container tepung terigu;    Dua truk container air minum;    Obat-obatan dan bahan medis untuk dua rumah sakit di Gaza Selatan. []

Sempat Sakit, Dua Relawan MER-C di Jalur Gaza Mulai Membaik

Dua relawan MER-C yang saat ini berada di Jalur Gaza, Palestina, Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldilla Kurniawan sempat mengalami sakit sejak Kamis (25/1), namun dalam video yang dikirimkan hari Senin (29/1), mereka mengatakan sudah mulai membaik.   “Kembali lagi dengan kami, relawan MER-C di Gaza, hari ini Senin tanggal 29 Januari 2024, mengingat kondisi kami yang masih sedikit drop, kadang sembuh tapi kadang panas kembali tinggi, juga masih sedikit batuk tapi Alhamdulillah setiap hari semakin membaik,” ujar Fikri. “Tentunya ini berkat doa dari temen-temen semua, kami mengucapkan terima kasih teman-teman yang peduli terus mendoakan kami dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah SWT dan temen-temen juga semoga selalu diberikan kesehatan dan perlindungan oleh Allah SWT,” tambahnya. Fikri juga mengatakan, saat ini gempuran Israel masih terus terjadi. Tapi di wilayah tempat mereka mengungsi sedikit lebih kondusif, tidak banyak mendengar suara serangan. “Doakan semoga kondisi di Palestina ini terus membaik dan semoga ada genjatan senjata. Dan yang diharapkan warga Gaza adalah berakhirnya perang itu sendiri, jadi genjatan senjata tidak hanya bersifat sementara tapi permanen sehingga warga bisa kembali ke rumah masing-masing,” tuturnya. Dua relawan MER-C dibantu relawan lokal terus membagikan bantuan masyarakat Indonesia yang disalurkan melalui MER-C. Bantuan yang diberikan berupa makanan, baju hangat dan air bersih.

Silahkan bertanya?