MER-C Salurkan Bantuan Obat-obatan Tahap Dua untuk Sejumlah Rumah Sakit di Jalur Gaza

Medical Emergency Rescue Committee Rescue (MER-C) kembali menyalurkan bantuan obat-obatan dan alat kesehatan tahap dua untuk sejumlah rumah sakit di Jalur Gaza, tempat Tim Medis MER-C bertugas. Bantuan ini disalurkan oleh relawan MER-C di Jalur Gaza ke RS Abu Yousef An Najjar, RS Al Hilal El Emiraty dan Klinik Tal Al Sultan. Semua rumah sakit ini berlokasi di Rafah, Gaza Selatan, tempat yang masih cukup aman dan memungkinkan bagi tim medis bertugas. Masing-masing rumah sakit mendapat 6-7 dus berisi bantuan obat-obatan dan alat medis. Obat-obatan serta peralatan kesehatan yang disalurkan pada tahap kedua ini di antaranya; obat-obatan injeksi atau suntikan, obat lambung, obat nyeri, obat-obatan untuk persalinan dan pembalut, serta beberapa obat yang diperlukan untuk anestesi saat operasi. Kemudian alat untuk operasi seperti jarum dan benang jahit, gunting bedah, kasa steril, termometer, oximeter dan beberapa peralatan lainnya. Salah satu relawan medis MER-C dr. Reyfal Khaidar mengatakan, obat-obatan dan peralatan medis yang diberikan tersebut sangat dibutuhkan karena jumlahnya terbatas dan sudah mulai habis di seluruh kota Rafah. “Selain itu MER-C juga menyalurkan beberapa alat dasar seperti sandal operasi, karena di sini kondisinya cukup memprihatinkan. Banyak yang sudah rusak, robek, bahkan banyak yang sudah dijahit oleh perawat dan dokter. Untuk itu, kami menyumbangkan dua boks besar sandal operasi agar bisa digunakan oleh para nakes di sini,” ujar dr. Reyfal. Ia berharap akan ada bantuan yang terus berlanjut dan bukan hanya kebutuhan medis warga Gaza tapi juga makanan pokok seperti tepung dan lainya. “Semoga kami di sini bisa membuka jalan untuk teman-teman semua. Ini bukan akhir dari pertolongan kita. Banyak sekali yang menyampaikan terima kasih kepada Indonesia atas dukungan yang diberikan sejak awal. Insya Allah ini menjadi keberlanjutan bagi kita untuk terus membantu Palestina,” katanya.
MER-C kembali Kirim Tim Medis ke Jalur Gaza, Palestina

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kembali mengirimkan Tim Medis yang tergabung dalam Emergency Medical Tim (EMT). Ini merupakan pengiriman kedua setelah sebelumnya 11 orang relawan MER-C berhasil memasuki Gaza pada Senin (18/03/2024). Tim kedua yang terdiri dari satu orang dokter umum, dua perawat dan satu liaison officer berhasil memasuki Gaza hari Rabu (03/04), pukul 15.00 waktu setempat setelah melewati proses pemeriksaan yang cukup ketat. Tim disambut langsung oleh relawan MER-C yang berada di Jalur Gaza. Manajer Operasional MER-C, Rima Manzanaris mengatakan, proses masuknya Tim EMT 2 MER-C relatif lebih mudah dibandingkan Tim sebelumnya yang sempat mengalami beberapa kali penundaan. “Alhamdulillah Tim EMT kedua ini lebih lancer. Mereka berangkat dari Kairo bersama konvoi dari WHO pada Rabu sekitar jam 05.00 pagi, lalu masuk ke Rafah bagian Mesir pukul 13.00 dan berhasil masuk Rafah bagian Gaza pukul 15.00 waktu setempat,” ujarnya. Rima mengatakan, dari Tim EMT yang bertugas sebelumnya, terhitung sudah ada dua kali kepulangan yaitu pada tanggal 27 Maret 2024 sebanyak 2 relawan dan 3 April 2024 sebanyak 4 relawan. “Relawan yang telah menunaikan misi, telah tiba di tanah air dengan selamat. Sementara dengan datangnya Tim baru, jumlah relawan MER-C yang bertugas di Gaza masih sebanyak 11 orang,” lanjutnya. Ia juga mengatakan, MER-C berkomitmen akan terus berupaya mengirim relawan medis ke Jalur Gaza untuk membantu tenaga medis di Gaza dan membantu mengobati para korban. Adapun untuk penugasan Tim EMT kedua ini, Rima mengungkap wilayahnya masih sama yaitu di Rumah Sakit Abu Yusuf An Najjar dan Rumah Sakit Al Emirati. Satu orang dokter umum yang baru tiba ditempatkan di Tall Al Sultan Primary Health Care Center.
Relawan MER-C, Faried Zanjabil Berbagi Cerita saat Saksikan Langsung Serangan Israel ke Jalur Gaza

Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Faried Zanjabil Al Ayubi hari Sabtu (30/3) membagikan ceritanya kepada peserta “Gemma Ramadhan bersama Shafwah Group”, saat menyakiskan langsung serangan Israel ke Jalur Gaza, Palestina. Ia mengatakan, sejak serangan Israel 7 Oktober lalu sudah tidak ada lagi tempat aman di Jalur Gaza. Mulai dari Gaza utara, tengah, Kota Gaza semua sudah hancur. Kini hanya tersisa Gaza selatan, yang terkahir juga terus mendapat serangan dari Israel. Bahkan pemerintah pendudukan Israel terus menyerukan serangan darat ke wilayah tersebut. Ia mengatakan, bersama dua relawan MER-C lainya Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldilla Kurniawan mereka melihat langsung saat roket Israel menghantam mobil operasional MER-C yang sedang terparkir di Rumah Sakit Indonesia. Serangan itu juga mengakibatkan satu orang relawan lokal MER-C meninggal dunia. “Tidak ada tempat aman di Gaza, karena bahkan rumah sakit yang tidak boleh diserang pun, mereka serang. Salah satunya Rumah Sakit Indonesia,” ujarnya. Ia menceritakan, saat terjadi pengepungan tentara Israel ke Rumah Sakit Indonesia yang merupakan tumpuan terkahir warga Gaza, ia dan dua relawan lainya berada di sana bersama ratusan pasien, tim medis serta puluhan ribu pengungsi. “Saat itu suasananya sangat kacau dan mencekam. Selama pengepungan, kami menyelamatkan diri ke basement Rumah Sakit. Puluhan ribu warga Gaza yang mengungsi di sana kemudian hanya tersisa ratusan saja karena keluar menyelamatkan diri,” kata Faried.Tentara Israel yang selama empat hari bertahan di tank-tanknya menembaki lantai dua dan tiga Rumah Sakit dan mengakibatkan 12 pasien meninggal dunia. Mereka juga memaksa untuk segera mengosongkan rumah sakit. “Mereka menggunakan alasan bahwa ada trowongan pejuang Palestina di bawah Rumah Sakit untuk bisa melakukan serangan, padahal tujuan sebenarnya adalah mengusir paksa warga Gaza. Mereka melakukan Genosida” ujarnya. Akhirnya Faried bersama dua relawan lainya, para pasien, tim medis serta warga Gaza yang masih bertahan terpaksa keluar dan mengungsi ke Gaza selatan. Israel kemudian berhasil memasuki Rumah sakit dan menjadikanya markas selama 18 hari. Lebih lanjut ia mengatakan, Israel tidak pandang bulu saat melakukan serangan. Justru mereka menargetkan perempuan dan anak-anak yang merupakan kunci dari regenerasi bangsa Palestina. Ada banyak cerita bagaimana biadabnya Israel saat menargetkan perempuan dan anak-anak, yang menjadi korban terbanyak dalam perang ini. Namun setelah semua yang ia lewati dan beberapa perang yang dialami, Faried mengatakan tetap ingin kembali lagi ke Jalur Gaza. Menurutnya, sejak pertama kali tiba, Jalur Gaza sudah seperti kampung halaman, tidak terasa sebagai tempat asing.
OPEN RECRUITMENT – “MER-C EMT for Gaza Response 2024”

*OPEN RECRUITMENT – “MER-C EMT for Gaza Response 2024”* Salam Sejawat Medis, *MER-C atau Medical Emergency Rescue Committee* adalah sebuah lembaga kegawatdaruratan medis Indonesia untuk korban perang, konflik dan bencana alam baik di dalam maupun luar negeri. Merespon krisis kemanusiaan di Gaza, pada *Senin/18 Maret 2024*, MER-C telah mengirimkan Tim Medis I ke Jalur Gaza, Palestina. Tim terdiri dari 11 relawan dari berbagai keahlian medis yang dibutuhkan di lapangan. MER-C berencana mengirimkan Tim yang berkelanjutan ke Jalur Gaza untuk memberikan bantuan pengobatan kepada para korban agresi. Kegiatan ini bersifat *Kerelawanan (unpaid volunteers)*, *Netral*, dan *Amanah*. Bagi rekan-rekan sejawat medis yang terpanggil untuk bergabung dan bertugas sebagai relawan *“MER-C EMT (Emergency Medical Teams) for Gaza Response 2024”*, silahkan mengisi form di link berikut ini dan melengkapi persyaratan yang diperlukan: Bagi rekan-rekan yang lolos seleksi akan dihubungi oleh Sekretariat MER-C untuk proses lebih lanjut. *NOTE:* Proses ini tidak dipungut biaya. Harap berhati-hati terhadap semua informasi yang mengatasnamakan MER-C Indonesia. Informasi resmi melalui official website MER-C Indonesia: www.mer-c.org atau Call Center MER-C Indonesia : 0811990176 (wa only) Atas perhatian rekan-rekan, kami mengucapkan terima kasih. Salam Kemanusiaan, *MER-C Indonesia*
Tiba di Jalur Gaza, Relawan MER-C Langsung Bertugas di Sejumlah Rumah Sakit

Sebelas relawan MER-C yang telah berhasil memasuki Gaza sejak Senin (18/3/2024) lalu langsung ditempatkan dan bertugas di sejumlah rumah sakit untuk membantu warga Gaza. Salah satu relawan yang merupakan Dokter Spesialis Orthopedi, dr. Reza, SpOT mengatakan, Rabu (20/3/2024) pagi Tim sudah melakukan koordinasi terkait penempatan relawan bersama Emergency Medical Teams (EMT) Gaza dan Kementrian Kesehatan Palestina (MoH) di Gaza. Tim langsung disambut dr. Muhammad yang merupakan Koordinator Rumah Sakit Se-Gaza. Relawan medis MER-C langsung dibagi menjadi tiga tim yang disebar di tiga fasilitas Kesehatan di Gaza bagian Selatan yang masih beroperasional. Pembagian tim berdasarkan hasil kordinasi dengan Kementrian Kesehatan Palestina. Tim 1 terdiri dari Tim bedah ditempatkan di RS Abu Yousef Al Najjar di Rafah yang diperuntukkan melayani pasien-pasien bedah dan trauma. Kasus terbanyak adalah open fraktur yang terinfeksi dan luka bakar. Tim 2 terdiri dari bidan dan perawat ditempatkan di RS Bersalin Al-Helal Al-Emirati di Rafah yang memang didedikasikan untuk perawatan pasien-pasien melahirkan. Jumlah operasi Sectio Caesaria di RS ini mencapai 15 operasi perhari. Sementara jumlah persalinan yang ditangani di RS ini mencapai 7000 kasus perbulannya.Sedangkan Tim 3, merupakan Primary Care Team yang terdiri dari dokter umum dan perawat ditempatkan di Tall Al-Sultan Primary Health Clinic di Rafah yang cukup besar dengan fasilitas seperti X Ray dan laboratorium. Pasien yang dilayani dalam satu hari bisa mencapai 1500 orang. “Alhamdulillah ketiga tempat di atas cukup sesuai bagi Tim kita sebagai spesialis, dokter umum, dan bidan. Sesuai dalam artian pasiennya memang banyak, peralatan yang kita miliki memang dibutuhkan dan cukup membantu tim medis di sini yang telah lelah,” tutur Reza. “Jadi dengan mendapat tempat yang sesuai di daerah yang relatif aman, kami sudah sangat bersyukur,” tambahnya. Relawan MER-C itu juga mengatakan berdasarkan hasil penilaian Tim hari pertama, dengan jumlah dokter, nakes, obat obatan serta peralatan yang tidak cukup, pihak rumah sakit sangat berharap mereka dapat bantuan tim medis berikutnya. Para relawan dokter dan nakes dari berbagai negara mulai masuk ke Gaza untuk membantu. EMT MER-C merupakan tim Indonesia pertama yang memberikan pertolongan medis sejak agresi 7 Oktober terjadi. Tim membantu melakukan operasi pasien trauma, layanan maternal dan layanan umum. Tim akan bekerja selama dua pekan hingga maksimal satu bulan.Pengiriman bantuan tim medis ini membutuhkan keberlanjutan program. Oleh karena itu, besar harapan Kementrian Kesehatan Gaza, Indonesia bisa mengirimkan bantuan tim medis secara berkelanjutan dengan kebutuhan dokter-doketer spesialis ortopedi traumatologi, obgyn, bedah saraf, bedah plastik, spesialis anestesi, spesialis anak, spesialis penyakit dalam dan dokter umum serta layanan bidan dan perawat. Apa saja yang kita punya amat sangat dibutuhkan oleh warga Palestina di Gaza saat ini. Bantuan medis dari Indonesia bagaikan oase persaudaraan Indonesia-Palestina.
Ketua Presidium MER-C: Pengriman Tim Medis ke Gaza Tanggung Jawab Besar untuk Bantu Saudara Kita

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad dalam konfereni pers yang digelar hari Selasa (19/3) mengatakan, pengiriman tim relawan medis ke Jalur Gaza merupakan tanggung jawab besar untuk membantu warga Gaza.Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad dalam konfereni pers yang digelar hari Selasa (19/3) mengatakan, pengiriman tim relawan medis ke Jalur Gaza merupakan tanggung jawab besar untuk membantu warga Gaza. “Perjalanan panjang ini tidaklah melelahkan buat kami, karena ini merupakan tanggung jawab besar untuk membantu saudara kita yang ada di Gaza. Walaupun situasi dan kondisi hari ini di Indonesia begitu dinamis, tapi kami tidak akan pernah melupakan perjuangan dan penderitaan yang dialami oleh saudara kita yang ada di Gaza,” kata Sarbini di Kantor MER-C di Jakarta. Ia mengatakan, pengiriman 11 relawan MER-C yang saat ini sudah tiba di Gaza merupakan tujuan utama sejak awal terjadinya agresi, untuk membantu warga Gaza yang pada hari ini sangat membutuhkan tenaga medis. Sarbini mengungkapkan, MER-C telah berupaya sekuat tenaga untuk bisa mengirimkan tim medis ke Gaza dengan bekerjasama ke semua pihak tapi sejak dulu belum ada kabar gembira, hingga akhirnya melalui kerja sama dengan WHO di bawah naungan Emergency Medical Tim (EMT), Tim Medis MER-C berhasil masuk ke Jalur Gaza pada hari Senin (18/3) pukul 17.15 waktu Gaza atau jam 22.15 waktu Indonesia. “Maka hari ini ada 11 orang relawan MER-C yang berada di Jalur Gaza terdiri dari dokter bedah orthopedi, dokter umum, perawat dengan berbagai keahlian, bidan dan lainya. Semua ada 11 orang ditambah dua relawan yang sudah ada di sana jadi total ada 13 relawan. Mereka akan bekerja di sana minimal selama dua minggu, maksimal satu bulan dan nanti akan ada estafet selanjutnya karena kami tidak mau ini berhenti selama ada relawan kita di sana,” tambahnya. Pada kesempatan ini, Sarbini mengajak semua elemen bidang Kesehatan baik yang berada di naungan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI) maupun di bawah lembaga rumah sakit atau pemerintah untuk bersama membangun koalisi besar mengirim tim medis ke Gaza secara berkelanjutan. “Ini pekerjaan besar, masalah besar, kasus besar, maka harus melibatkan segala elemen anak bangsa. Pada kesempatan ini kita mengajak kepada pemerintah untuk bisa terdepan, secara bersama kita membantu warga Gaza. Masalah Gaza adalah masalah dunia, masalah kita bersama yang tidak cukup hanya satu elemen membantu . Kita harus saling berkontribusi membangun kerja sama, sehingga satu bidang kesehatan bisa kita tangani bersama,” tuturnya.
Tim Medis MER-C Tiba di Jalur Gaza Palestina

Siaran Pers Setelah menunggu beberapa pekan, Senin/18 Maret 2024, Tim Medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang terdiri dari dokter spesialis bedah orthopedi, dokter umum, perawat dengan berbagai keahlian, bidan dan lainnya, sekitar pkl 22.15 wib atau pkl 17.15 waktu setempat mengabarkan bahwa mereka sudah tiba di Jalur Gaza, Palestina. “Sudah sampai di sisi Palestina,” demikian isi pesan singkat yang diterima MER-C Pusat Jakarta Senin malam, tepat pukul 22.15 wib. Kedatangan Tim disambut oleh relawan MER-C yang berada di Gaza dan pejabat Kementerian Kesehatan Palestina. Suasana haru dan syukur mewarnai Gedung imigrasi di Perbatasan Rafah sisi Gaza ketika 11 relawan MER-C turun dari bis yang membawa mereka dari Perbatasan Rafah Mesir ke Perbatasan Rafah Gaza yang hanya berjarak sekitar 100-meter saja. Dengan masuknya 11 relawan, maka total relawan WNI MER-C di Gaza saat ini sebanyak 13 orang. Tim MER-C akan bertugas selama minimal dua pekan. Mereka akan bekerja di fasilitas kesehatan yang ditunjuk oleh WHO dan Kementerian Kesehatan Palestina. Wilayah penugasan akan berada di Jalur Gaza bagian Selatan, karena rumah sakit di wilayah ini yang masih berfungsi, di tengah lumpuhnya sebagian besar fasilitas kesehatan di sepanjang Jalur Gaza. Tim Medis MER-C bisa mencapai Jalur Gaza atas kolaborasi dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang mengkoordinir Tim medis dari berbagai negara dibawah payung Emergency Medical Team (EMT) untuk memberikan bantuan di wilayah Gaza yang masih membara. MER-C atas kolaborasi dengan WHO berkomitmen untuk dapat mengirimkan Tim Medis yang berkelanjutan ke Jalur Gaza, Palestina. Untuk itu, kami mengajak sejawat dari organisasi profesi, Lembaga medis, Fakultas Kedokteran dan instansi medis lainnya untuk dapat bersama-sama atas nama bangsa Indonesia mengirimkan Tim medis ke Jalur Gaza. Pengiriman Tim dan bantuan medis diharapkan dapat menjadi salah satu dukungan nyata bangsa Indonesia, khususnya untuk Palestina sesuai dengan amanat UUD 1945 dan politik luar negeri Indonesia. Hal ini dapat terlaksana tentunya atas doa dan dukungan rakyat Indonesia. Bantuan-bantuan medis dan kemanusiaan akan terus disalurkan oleh MER-C secara bertahap ke Jalur Gaza. Kami berharap jika situasi sudah kondusif, MER-C dapat melakukan kembali Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza bagian Utara yang saat masih sulit untuk dijangkau karena situasi yang masih mencekam. Dukungan dan Donasi dapat disalurkan melalui: Bank Central Asia (BCA), 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111.925Bank Syariah Indonesia (BSI), 700.1352.061Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400Bank Muamalat Indonesia (BMI), 358.000.1720Bank Rakyat Indonesia (BRI), 033.501.0007.60308 Semua rekening atas nama:Medical Emergency Rescue Committee Jakarta, 19 Maret 2024MER-C Indonesia
Relawan MER-C Jalani Ramadhan di Tengah Agresi Israel

Seperti halnya sebagian umat muslim di dunia, umat muslim di Jalur Gaza sudah memulai puasa Ramadhan pertamanya pada hari Senin/11 Maret 2024. Demikian pula dengan dua relawan MER-C yang masih bertahan di Jalur Gaza, Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldilla Kurniawan. Di tengah agresi yang masih terus dilancarkan Israel, relawan MER-C bersama warga Gaza lainnya tetap menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan tahun ini, meski dengan segala keterbatasan.“Tadi subuh kita sahur seadanya. Saya sendiri sahur dengan mie” tutur Fikri. Namun ia merasa bersyukur masih ada makanan untuk sahur karena banyak warga Gaza yang beribadah puasa namun tidak bisa sahur karena tidak adanya makanan. “Banyak warga Gaza, hari ini mereka puasa tapi tidak sahur karena keterbatasan stok bahan pangan yang mereka miliki,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa data dari Kemenkes Palestina mengatakan terdapat 2.000 tim medis yang hari ini ikut berpuasa tapi tidak ikut sahur karena selama 24 jam mereka harus merawat korban dan pasien-pasien. Mayoritas tim medis ini menurutnya ada di Gaza Utara. Kondisi ini disebabkan bantuan-bantuan yang masuk ke Gaza memang masih sulit, terutama untuk mencapai ke Jalur Gaza bagian utara. Ketika tiba adzan maghrib, Fikri bersama Reza ditemani satu relawan lokal berbuka puasa di ruangan tempat mereka mengungsi, di salah satu kamp pengungsian berupa bangunan sekolah bersama ribuan warga Gaza lainnya. Walaupun berbuka hanya dengan menu seadanya, namun mereka sangat bersyukur. “Alhamdulillah beginilah buka puasa di Jalur Gaza, seadanya dan bahkan banyak saudara-saudara kita yang lebih menderita lagi. Semoga kita terus istiqomah dan bisa menyalurkan bantuan,” ujarnya. “Kita berbuka puasa dengan roti, dicolek dengan daging kornet dan campuran lainnya yang dimasak seadanya. Setelah itu, dengan buah Zaytun atau bisa dengan cabai atau daun bawang dan bombay sebagai lalapan,” jelas Fikri sambil menikmati makanan berbuka. Relawan yang telah berada di Gaza sejak awal 2019 ini mengingatkan agar rakyat Indonesia terus mendoakan rakyat Gaza, khususnya mendokan agar gencatan senjata di Jalur Gaza bisa terlaksana.
Truk Bantuan Obat-obatan MER-C Bergerak Menuju Rafah

Setelah truk-truk bantuan makanan dan tepung yang telah berhasil masuk ke Jalur Gaza dan telah didistribusikan ke kamp-kamp pengungsian di Gaza Tengan dan Selatan, truk-truk yang berisi bantuan obat-obatan dan bahan medis MER-C juga dikabarkan telah bergerak menuju perbatasan Rafah. Hal ini dilaporkan oleh Tim MER-C yang saat ini masih berada di Kairo untuk melakukan pemantauan langsung pembelian, pengemasan dan pengiriman bantuan-bantuan dari rakyat Indonesia melalui MER-C. “Saat ini sudah pukul 08.00 malam waktu Kairo dan kami berada di gudang dimana bantuan dari Bapak Ibu sebanyak kurang lebih ada 18 palet yang berisi obat-obatan sudah siap untuk dilakukan proses pengiriman,” ujar dr. Arief Rachman, SpRad, Ketua Tim MER-C. “Di luar sudah menunggu truk yang akan mengangkat bantuan-bantuan ini berangkat dari pergudangan di Kairo menuju ke perbatasan Rafah dan berharap akan masuk ke Jalur Gaza,” lanjutnya. Mewakili MER-C, Dr. Arief memohon doa kepada rakyat Indonesia agar perjalanan truk-truk bantuan berjalan dengan lancar dan tidak mendapat hambatan. Ia berharap bantuan bisa segera diterima dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan yang semakin sulit di Jalur Gaza. Hal ini disebabkan blockade dan agresi yang masih terus dilancarkan Israel ke Jalur Gaza. Ia juga mengucapkan terima kasih atas semua partisipasi dan dukungan dari Masyarakat Indonesia sehingga berbagai bantuan dapat terus disalurkan oleh Tim MER-C baik bantuan yang berasal dari Kairo Mesir maupun bantuan-bantuan di dalam Gaza yang dilakukan oleh Tim MER-C baik di Gaza bagian Selatan maupun Gaza bagian Utara. “Kita berharap usaha kecil ini bisa membantu saudara-saudara kita di Gaza,” tuturnya. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa di samping bantuan kemanusiaan, MER-C masih terus berkomitmen untuk membangun kembali Rumah Sakit Indonesia yang berada di Bait Lahiya, Jalur Gaza Utara. RS Indonesia mengalami kerusakan berat dan sampai saat ini masih berhenti beroperasional pasca penyerangan dan pengepungan yang dilakukan Israel pada November 2023 lalu.
MER-C: Bantuan Melalui Udara ke Gaza Tak Bermartabat

Droping bantuan melalui udara terpaksa dilakukan oleh sejumlah negara untuk dapat memberikan bantuan bagi warga di Jalur Gaza Palestina yang masih mengalami blokade dan agresi berkepanjangan. Penyaluran bantuan melalui udara sudah berhasil dilakukan oleh Yordania, UEA, Perancis dan Amerika Serikat. Yordania bahkan langsung Raja Abdullah yang turun mengkoordinasi droping bantuan melalui pesawat. Indonesia juga berencana mendrop bantuan kemanusiaan melalui udara ke Jalur Gaza. Hal ini disampaikan oleh Presiden RI, Joko Widodo setelah sulitnya menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui jalur darat karena Israel tidak menginginkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza. Namun, Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad justru menyayangkan penyaluran bantuan melalui udara ke Jalur Gaza dan tidak menyarankan hal serupa turut dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Ia berpendapat bahwa memberikan bantuan kemanusiaan melalui udara tidaklah bermartabat. “Langkah ini tidaklah bermartabat. Sangat memilukan nurani kita ketika melihat warga Gaza berkuruman dan berebut bantuan serta mempertaruhkan nyawa dengan mengejar parasut bantuan yang jatuh di laut serta saling kuat-kuatan dalam merebut bantuan yang tidak seberapa dibanding dengan kebutuhan mereka,” kata Sarbini.Bahkan pada Jumat (8/3/2024), setidaknya lima orang dikabarkan meninggal dunia dan 10 lainnya terluka akibat paket bantuan yang dijatuhkan dari udara menimpa warga di kamp Al Shati sebelah barat Kota Gaza. Untuk itu, Sarbini menyatakan bahwa cara seperti itu bukanlah suatu keputusan yang dapat membantu secara total persoalan kemanusiaan di Gaza. Tapi ironinya malah menggambarkan kekalahan dunia menghadapi sikap keras kepala Israel yang tidak peduli dengan tekanan dunia agar membuka akses bantuan kemanusiaan masuk ke Jalur Gaza.“Sampai kapan kita menonton drama kemanusiaan dengan Israel sebagai aktor dan Gaza sebagai korban,” ujarnya.Meski demikian, Sarbini menyampaikan bahwa niat Presiden patut diapresiasi namun perlu juga dikaji ulang efektifitas nya. Jangan sampai malah menimbulkan dan menambah korban di pihak warga Gaza.Sarbini malah menyarankan agar Indonesia mendirikan RS Lapangan di Rafah Mesir. “Mendirikan rumah sakit lapangan di Rafah Mesir adalah pilihan yang masuk akal dan memungkinkan dilakukan oleh Indonesia,” katanya. RS Lapangan menurut Sarbini dapat menjadi salah satu alternatif bantuan yang dapat diberikan Indonesia untuk turut mengatasi kelumpuhan sarana kesehatan di Jalur Gaza. Sarana kesehatan menjadi hal yang vital di tengah agresi yang masih terus berlangsung dan jumlah korban yang terus bertambah. Sementara rumah sakit di Mesir sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Jalur Gaza juga sudah kewalahan menerima rujukan korban warga Gaza yang tak terbendung.