Perjalanan Mobile Clinic Tim MER-C ke Desa Lalonga

Galela – Kembali kegiatan mobile clinic sebagai agenda rutin bulanan klinik sosial BNI Berbagi dan MER- C di Galela, kabupaten Halmahera Utara, provinsi Maluku Utara dilakukan. Bulan Oktober ini tujuan mobile clinic adalah desa Lalonga yang berada di Galela Utara. Wilayah Lalonga sebenarnya masuk ke wilayah binaan Puskesmas Salimuli. Namun untuk dapat sampai ke puskesmas Salimuli, masyarakat yang ingin berobat harus melewati jalan berbukit dengan jurang dan tebing tanah dipinggirnya. Karena kondisi inilah, desa Lalonga dipilih menjadi salah satu desa binaan Klinik Sosial MER-C Galela. Kamis (16/10), Tim klinik yang dipimpin oleh dr. Siti Lirih Chumairah mulai menyiapkan keperluan untuk mobile clinic besok seperti obat-obatan. Jumat (17/11) sekitar jam 6 pagi, Tim mulai berangkat dari klinik dengan menggunakan motor. Kurang lebih sekitar 1 jam perjalanan Tim tiba di desa Limau. Desa ini merupakan wilayah binaan klinik juga, sehingga tim sempat singgah sebentar di rumah Kepala Desa Limau, tempat tim biasanya menggelar pengobatan untuk mengecek apakah ada warga yang sakit dan memerlukan pemeriksaan. Karena tidak ada warga yang berobat, Tim pun langsung melanjutkan perjalanan ke desa Lalonga. Jarak dari Limau ke Lalonga sebenarnya cukup dekat hanya saja jalannya terjal. Sampai di Lalonga Tim menuju rumah Kepala Desa dan di sana Tim membuka pelayanan kesehatan. Warga desa Lalonga sangat antusias datang berobat baik tua, muda maupun anak-anak. Mereka semua antri bergiliran untuk diperiksa kesehatannya oleh Tim Klinik. Penyakit yang dikeluhkan juga beragam. Penyakit batuk pilek banyak diderita anak-anak. Sedangkan orang yang usianya sudah lanjut banyak yang mengeluh pusing dan badan pegal-pegal. Dari 43 pasien di Lalonga terdapat 5 penyakit tertinggi, yaitu: ISPA, Hipertensi, Mialgia, Abses, dan Dispepsia. ISPA banyak dijumpai di sini mungkin salah satu penyebabnya adalah letak geografis desa Lalonga dimana jalan menuju desa belum beraspal sehingga banyak debu. Pengobatan akhirnya selesai dalam jangka waktu 3 jam. Sekitar jam 11 tim pun pamit untuk kembali ke Galela. Jam 12 an tim sudah tiba di klinik, istirahat sebentar dan tim pun harus segera bersiap untuk melayani pasien yang datang berobat ke klinik.
Penyuluhan Kesehatan Reproduksi dan Pergaulan Remaja SMA NEGERI 2 HALUT

Galela – Berawal dari keperihatinan melihat tingginya kasus kehamilan diluar pernikahan akibat dari hubungan seks bebas diusia dini di wilayah Halmahera Utara, BNI dan MER-C berinisiatif untuk melakukan penyuluhan mengenai Kesehatan Reproduksi dan Pergaulan Remaja sebagai upaya promotif dan preventif kasus ini. Kegiatan yang dilakukan tanggal 16 Mei 2014 ini digelar di sekolah yang letaknya sangat dekat dari lingkungan klinik BNI MER-C yaitu SMA Negeri 2 Halmahera utara. Dibantu para guru SMA NEGERI 2 HALUT, BNI MER-C mendapat kesempatan untuk dapat melakukan penyuluhan di SMA tersebut. Kegiatan ini juga dilakukan dengan bekerja sama dengan Puskesmas Soasia. Tim MER-C sendiri terdiri dari drg.Herlina (Dokter Gigi PTT Puskesmas Soasio dan dari BNI MER-C) dan dr. Siti Lirih Chumairoh. Peserta yang hadir merupakan siswa-siswi kelas X dan XI SMA Negeri 2 HALUT. Presentasi yang diberikan berisi materi seputar pengetahuan yang dibutuhkan bagi remaja, seperti penjelasan mengenai pubertas dan reproduksi, serta dampak dari seks pra-nikah.
Mobile clinic di Jere – Klinik Galela

Galela – Bulan Maret ini kami merencanakan untuk Mobile Clinic MER-C ke ujung Halmahera Utara yaitu Desa Jere. Untuk mobile clinic kali ini ada dua dokter gigi yang suka rela untuk berpartisipasi, yaitu drg.Herlina (dokter gigi PTT di Puskesmas Soasio) dan drg.Besse (dokter gigi PTT dipuskesmas Kupa-Kupa). Wilayah Jere sendiri sebenarnya masuk ke wilayah puskesmas salimuli untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakatnya untuk dapat sampai ke puskesmas salimuli haru melewati jalan berbatu yang berbukit-bukit dengan jurang disisi sampingnya (ini menurut cerita orang Galela mengenai Jere). Pasien Gigi dan umum saat penobatan di Jere Baru. (ket. Foto) Hari ini Sabtu, 9 Maret 2014, kami berangkat menuju Jere siang nanti. Persiapan untuk berangkat Kami berkumpul di Galela pukul 13.00 WIT dan berangkat pukul 13.55 WIT dari klinik MER-C Galela dengan menggunakan motor. Jalan menuju ke Jere medannya cukup berat sebelum sampai kesana kami harus melalui beberapa desa, dari mulai Limau hingga Jere. Sesampainya di kali Aru kami harus menyebrang kali karena jembatan yang baru dibangun sudah rusak kembali. Baru setelah melewati kali Aru kami sampai didesa Salimuli. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Saluta. Kami sampai di Saluta pukul 16.15 WIT dan rencana awal kami akan ke Jere dari Saluta dengan ketingting menyebrang laut, setelah sampai di Saluta kami tidak mendapatkan ketingting karena ombak bulan ini masih sangat tinggi dan berbahaya sehingga tidak ada jasa penyewaan ketingting yang stand by dipelabuhan Saluta. Akhirnya kami memutuskan lanjutkan perjalanan lewat jalan darat, dimana medan yg harus dilalui sangat sulit. Bismilah… Insya Allah aman. Daerah ini disebut gunung es karena posisinya yg curam, ini dua teman saya drg.Besse dan drg.Herlina (ransel hitam) sedang mendaki jalan. (ket. Foto) Saluta ke Jere lewat jalan darat sama artinya perjalan kesana baru akan dimulai (heheee.. lebayatun ya teh), kenapa?? Karena jalan yang menanjak, menurun, berkelok dan sisi kanan adalah jurang yg tinggi dengan dasar laut lepas ditambah lagi permukaan jalan yg penuh bebatuan. Untuk lebih amannya ketika menanjak kami berjalan kaki dan motor dikendarain dengan pelan. Tapi kami tetap semangat ini pengalaman yang baru untuk kami. Setelah melewati sekian belas tanjakan dan turunan (ga ngitung tepatnya) kami sampai juga didesa Jere Baru pukul 18.45 WIT. Selamat datang di Jere Baru. Jalan menuju rumah Kepala Desa Jere Baru (ket. Foto) Pak Kades memberitahu wilayah Jere kalau sudah tiba malam mati lampu hingga pagi hari. Saya harap untuk saat ini jangan mati lampu dulu karena disini tidak ada Genset dan emergency lamp pun kami tak punya. Setelah istirahat sebentar dan sholat maghrib, pelayanan pengobatan dari MER-C BNI kami bukan pukul 19.30 WIT untuk Jere Baru lokasinya tepat disampin rumah kepala desa setempat. Kedua teman saya pun ikut buka pengobatan gratis atas nama MER-C BNI untuk pasien gigi. Partisipasi masyarakat setempat sangat baik walaupun pengobatan dibuka malam hari, mereka antusias untuk dating ke lokasi. Tidak hanya pasien umum tapi pasien gigi juga lumayan terhitung ada 5 tindakan exo (cabut gigi) yang dilakukan di Jere Baru. Karena ketersedian alat, bahan serta obat yang terbatas untuk pasien-pasien gigi, hanya bias dilakukan 5 tindakan. Pengobatan malam itu kami tutup pukul 22.00 WIT. Alhamdulillah hari ini tidak mati lampu, suatu kebetulan. Mobile Clinic MER-C BNI di Jere Baru (ket. Foto) Dan pagi harinya kami lanjutkan ke desa tetangga yaitu Jere Tua. Jarak dari Jere Baru ke Jere Tua tidak terlalu jauh dengan menggunakan motor hanya sekitar 10 menit. Kami berangkat dari Jere Baru pukul 08.00 WIT kemudian singgah di rumah kepala desa Jere Tua dan membuka pengobatan tepat didepan halaman rumah pak kades ini. Disini kami mulai pengobatan pukul 08.30 dan tutup pengobatan setelah pasien habis semua sekitar pukul 11.30 dan pukul 13.00 kami berangkat pulang ke Galela. Dan tiba di Galela sekitar pukul 19.00. Alhamdulillah perjalanan kami selamat dari berangkat hingga tiba kembali di Galela. Selamat pagi Jere Tua. Dari Atas ke bawah searah jarum jam: Istihad, bu Nur, Wandi, drg.Herlina, dr.Lirih, dan drg.Besse (ket. Foto) Don, bu Nur, Wandi, drg.Herlina dr.Lirih, dan drg.Besse (ket. Foto) Mobile Clinic MER-C BNI Jere Tua (ket. Foto) Kesan kami untuk Jere adalah wilayah yang sangat amat terpencil bahkan untuk listrik saja hanya menyala sampai pukul 7-8 malam kemudian mati lampu hingga pagi hari. Keadaan geografisnya pun sangat sulit ditempuh jika menggunakan motor harus berhati-hati. Jarak puskesmas terdekat dengan Jere sangat jauh. Ini pengalaman yang menyenangkan semoga lain waktu kami bisa ke Jere lagi.
Siap Mengabdi di Galela

Galela – Malam itu, Kamis (12/12), diantar orang tua dan keluarga, dr Siti Lirih Chumairoh tiba di bandara Soekarno Hatta. Bersama Islamiyah Samaun (Koordinator Klinik MER-C di Indonesia), dokter lulusan Universitas Sebelas Maret Surakarta ini akan menuju Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Ia akan mengabdi sebagai Dokter PTT (pegawai Tidak Tetap) di Klinik Sosial BNI Berbagi – MER-C wilayah Galela menggantikan dr. Dewintha Airene yang telah bertugas selama 1 tahun di sana. Galela adalah wilayah yang pernah mempunyai sejarah kelam akibat konflik. Untuk mencapainya, dibutuhkan perjalanan yang cukup panjang, melalui udara, darat dan laut. Penerbangan dari Jakarta ke Ternate, ibukota Maluku Utara, membutuhkan waktu sekitar 6 jam. Dari bandara dilanjutkan perjalanan darat ke pelabuhan Kota Baru sekitar setengah jam, lalu naik speedboat sekitar 1 jam ke Sofifi. Dari Sofifi, tim kembali harus menempuh perjalanan darat kembali selama kurang lebih 4 jam atau kira-kira sejauh 200 km dengan kondisi jalan yang berliku-liku masuk hutan keluar hutan hingga akhirnya bertemu Tobelo, ibukota kabupaten Halmahera Utara. Dari Tobelo ke Galela tinggal berjarak 1 jam lagi. Di sinilah Klinik Sosial BNI Berbagi dan MER-C berada, tepatnya di Desa Towara, tempat relawan dokter MER-C setiap tahunnya mengabdi memberikan pelayanan medis bagi masyarakat Galela dan sekitarnya. Program Klinik Sosial di Galela sudah berjalan sejak Oktober 2006. Pelayanan dimulai pada hari Senin Sabtu dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore. Namun dokter dan SDM klinik harus siap sedia karena malam haripun banyak juga pasien yang datang berobat. Dokter bahkan kadang harus homevisit mendatangi rumah pasien karena pasien yang tidak bisa ke klinik dan harus segera ditolong. Mengabdi sebagai dokter di wilayah terpencil seperti ini memang tidak mengenal waktu, kadang tengah malam dengan cuaca hujan tetap dilakukan untuk menolong warga yang sakit. Selain program di klinik, ada juga program mobile clinic yang rutin dilakukan setiap 1 minggu sekali ke Desa Binaan Klinik. Desa Binaan klinik saat ini adalah desa Limau yang berjarak sekitar 25 km. Desa Limau dipilih karena letaknya jauh dari pusat pelayanan kesehatan dan harus melalui sungai yang jika musim hujan tidak dapat dilewati kare airnya yang meluap. Perjalanan ke desa binaan ini biasa ditempuh oleh dokter dan SDM klinik dengan menggunakan dua motor. Masyarakat desa Limau terdiri dari pemeluk agama Islam dan Kristen. Desa ini adalah merupakan daerah endemis malaria, selain banyak juga ditemukan kasus TB serta kusta. Satu hal yang menjadi perhatian Tim MER-C adalah adanya balita-balita yang mengalami kekurangan gizi. Untuk itu, Tim Klinik akan memadukan kegiatan pengobatan dan posyandu. Tim MER-C merencanakan pemberian makanan bergizi untuk balita yang akan berkerja sama dengan bidan dan kader posyandu setempat setiap 1 bulan sekali. Hingga saat ini sudah 5 relawan dokter MER-C yang ditugaskan secara rotasi ke Galela. dr. Siti Lirih Chumairoh, adalah dokter berikutnya yang siap untuk mengabdi selama satu tahun ke depan di Galela, dimana MER-C dengan masyarakat setempat juga tengah melakukan pembangunan Rumah Sakit.
Kolaborasi TPG dengan MER-C Indonesia

Foto (ki-ka) dr. Zackya Yahya S. SpOk (MER-C) dan Ahmad Gunung (CEO TPG) “Lihatlah apakah anda hanya melihat orang yang mendapat ujian saja dan apakah Anda hanya menyaksikan orang yang menderita saja?. Disetiap rumah ada ratapan tangis, disetiap pipi ada air mata mengalir” (Jangan Bersedih, La Tahzan) Kutipan kalimat diatas diambil dari buku “Senja Merah di Tanah Maluku” yang berisi untaian hikmah misi kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee). Siapa yang tak kenal dengan MER-C Indonesia?. Kegiatannya merupakan terobosan bagi bantuan kemanusiaan ke beberapa daerah konflik dan bencana. Saat ini yang sedang dilakukan adalah membangun rumah sakit di Palestina dan di wilayah timur Indonesia tepatnya di Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Kutipan kalimat diatas serta hikmah misi kemanusiaan MER-C Indonesia itulah yang menggerakkan hati untuk lebih jauh melangkah untuk berbuat sesuatu dan tidak membiarkan atau hanya menyaksikan cobaan penyakit yang datang kepada staf dan karyawan Perusahaan hingga air mata mereka mengalir. Berawal dari penandatangan nota kesepahaman dalam rangka program kerjasama antara Perusahaan dengan Pengurus MER-C Indonesia dilakukan pada tanggal 24 Mei 2012 di kantor pusat Jakarta, sangat didasari niat baik untuk lebih mensejahterakan karyawan serta masyarakat sekitar unit usaha di Bumi Etam, Kalimantan Timur. Seiring waktu berjalan pada tanggal 26 s/d 29 Juni 2012 tibalah saat yang sangat berarti untuk menapaki jalan di Bumi Etam bersama para dokter handal dari MER-C Indonesia dengan memulai langkah penempatan 4 orang dokter di empat unit usaha. Siapakah mereka; dr. Bintang Pamodana di MB1, dr. Zalela di PB1, dr. Makbruri di BP1 dan dr. Zecky Eko Triwahyudi di TS1. Selama perjalanan menapaki bumi etam, didampingi oleh Koodinator Program, dr. Zackya Yahya S. SpOk dan dr. Fransisca Tonggo Meaty serta Asmen HRM, Novianto H. Triwibowo dan staf HRM, Adhi Setyanto. Rombongan juga melakukan beberapa pertemuan dengan para pihak terkait seperti; pertemuan dengan Dekan & staf Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman untuk program kerjasama khususnya penempatan calon dokter lulusan Universitas tersebut, pertemuan dengan Kepala Dinas Pelayanan Kesehatan Kabupaten Kutai Timur untuk lebih lanjut bersama-sama membangun program-program pelayanan kesehatan di Unit Usaha serta masyarakat sekitar. Semoga rintisan upaya diatas dapat terus berkembang lebih baik lagi dan memberi pengaruh bagi staf dan karyawan yang semangat bekerja karena dirinya sehat. Seorang karyawan di satu unit usaha sempat berkata “terima kasih ya dok… Dokter mau bersama kami disini”. Sumber : http://www.teladanprima.com/renew/index.php/38-most-popular-news/50-mou-tpg-mer-c
Pembangunan RS MER-C di Galela Maluku Utara, Contoh RS Swadaya Masyarakat

Saat ini Divisi Konstruksi MER-C juga tengah melakukan proses Pembangunan RS MER-C di Galela, Halmahera Utara, Maluku Utara. RS ini akan menjadi contoh pembangunan sarana kesehatan yang dibangun atas swadaya masyarakat. Mengapa? Pertama, karena tanah RS seluas 4.000 m2 merupakan wakaf dari warga setempat. Kedua, warga juga berperan aktif melakukan penggalangan dana untuk membantu Pembangunan RS yang memang sangat diharapkan oleh warga. Ketiga, selain beberapa relawan tukang yang ditugaskan dari MER-C Pusat, warga juga aktif membantu secara bergotong royong dan bergiliran dari desa ke desa dalam melakukan pekerjaan pembangunan. Semua dilakukan oleh warga dengan ikhlas tanpa berharap imbalan. Setelah sempat vakum beberapa waktu karena terbatasnya dana, pada akhir Maret 2012 pembangunan dimulai kembali. Pembangunan RS ini berada dibawah pengawasan langsung Divisi Konstruksi MER-C yang juga tengah mengawasi pembangunan RS Indonesia di Gaza Palestina. Bagi Bapak/Ibu/Sahabat yang ingin membantu program Pembangunan RS di Galela, dapat menyalurkan bantuannya melalui: Rekening Donasi Pembangunan RS MER-C di Galela, Maluku Utara: BNI, Cab. Kramat, 0140600983 A/n. Medical Emergency Rescue Committee Terima kasih, semoga pembangunan RS ini akan menjadi amal baik bersama. Program ini didukung Rasil (Radio Silaturahim) 720AM & Pondok Pesantren AlFatah