RELAWAN INDONESIA MENIKAHI MUSLIMAH GAZA DI TENGAH PERANG

Ayah/wali pengantin wanita Fauzi Ar-Raqb saat melangsungkan ijab qabul dengan pengantin pria asal Indonesia Muhammad Husein bin Aji Muslim di Khan Younis selatan Gaza, Ahad (17/8). (Foto: MINA) Gaza, 21 Syawwal 1435/17 Agustus 2014 (MINA) – Setelah sempat tertunda, akhirnya seorang relawan Indonesia dari pesantren Al-Fatah yang tergabung dalam Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) berhasil melangsungkan akad nikahnya pada Ahad (17/8) di Jalur Gaza, di masa perang masih berlangsung sejak awal Juli lalu. Muhammad Husein bin Aji Muslim meminang seorang muslimah asal Khan Younis, selatan Gaza yang bernama Jinan Ar-Raqb kurang dari sebulan sebelumnya, di mana pernikahan itu sempat tertunda menyusul perang yang masih berkecamuk di Gaza awal Agustus lalu. Aqad nikah di masa gencatan senjata pihak Palestina dan Israel ini berlangsung sederhana di Kantor Urusan Agama Kota Gaza dan dihadiri oleh ayah pengantin wanita sedangkan Muhammad Husein didampingi para relawan MER-C diantaranya ketua MER-C cabang Gaza, Muqarrabin Al-Fikri, Reza Ardila, Lutfhi, dan Nur Ikhwan Abadi. Akad langsung dipimpin ayah pengantin wanita Fauzi Ar-Raqb, di mana suasana khidmat dan khusuk nampak terlihat terlepas masih dalam suasana belum berakhirnya peperangan antara pejuang Palestina dan penjajah Israel. Muhammad Husein sendiri mengaku bahagia bisa melangsungkan pernikahannya dengan muslimah di Gaza. “Alhamdulillah impian saya menjadi nyata, dan ini merupakan berkah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya dapat menikahi muslimah dari Gaza,” katanya kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA). Husein juga mengatakan, “Semoga ini menjadi perekat ukhuwah Islamiyah antar muslimin di Indonesia dan muslimin di Gaza,” kata Husein penuh bahagia. “Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung saya, baik dengan moril atau pun materiil hingga terlaksananya pernikahan ini, serta mohon doa dari semua untuk keberkahan pernikahan kami,” tambahnya mengucap syukur. Sementara itu, Jinan Ar-Raqb istri dari Muhammad Husein juga menyatakan kebahagiaanya atas keberlangsungan pernikahan yang sempat tertunda itu. “Saya sangat bahagia atas pernikahan ini, dan semoga Allah memberkahi kami berdua. Semoga pernikahan kami menjadi awal kemenangan Palestina dari penjajahan Israel,” ujar Jinan. Anak kelima dari keluarga Fauzi Ar-Raqb itu juga mendoakan semoga akan banyak lagi pemuda-pemuda dari Indonesia yang menikahi muslimah di Gaza atau pun sebaliknya agar ukhuwah atau jalinan persaudaraan antara kedua negeri ini bisa terjalin erat. Kronologis pertemuan kedua pengantin Relawan Indonesia Muhamad Husein dan Muslimah Gaza Jinan Ar-Raqb setelah melangsungkan akad nikah. (Foto: MINA) Muhammad Husein masuk ke jalur yang diblokade itu sejak awal 2011 melalui kafilah Asia Caravan to Gaza. Kemudian mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Islamic University of Gaza (IUG) jurusan Syari’ah Islamiyah dan sekarang memasuki tahun terakhir. Sementara Jinan, muslimah Gaza yang disebut ibunya sebagai “wanita spesial” itu lahir pada 11 Mei 1996. Ia menyelesaikan hafalan al-Quran 30 juz pada program tahfidzul Qur’an rutin di Gaza Taaj al-Waqar pada 2010. Ia juga juara lomba menghafal 300 hadits Nabawi pada 2012. Di usianya yang relatif muda, 18 tahun, Jinan berhasil menulis 20 novel karangannya sendiri. Perkenalan Husein dengan keluarga pengantin wanita terjadi pada 2011 ketika hendak mendaftar sebagai calon mahasiswa di IUG. Ayah Jinan merupakan seorang staf adminsitrasi di kampus tersebut. Perkenalan berlanjut hingga Muhammad Husein diundang secara khusus oleh Fauzi ke kediaman mereka di daerah Bany Suhaila Khan Younis. Terjadilah perkenalan antara Husein dan Jinan dan berselang waktu, keduanya direstui oleh keluarga untuk melangsungkan pernikahan, namun harus menunggu selesainya Jinan di masa sekolah pendidikan menengah atas terlebih dahulu. Setelah menunggu sekitar 2,5 tahun akhirnya Husein dan Jinan melangsungkan pernikahannya tepat pada hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69.(L/K01/P03/P02) Sumber : http://mirajnews.com/id/palestina/relawan-indonesia-menikahi-muslimah-gaza-di-tengah-perang
ANAK KORBAN LUKA AKIBAT SERANGAN ISRAEL AKHIRNYA TEWAS

Gaza – Seorang anak korban luka akibat serangan Israel pada rabu (11/6) menghembuskan nafas terakhirnya sabtu (14/6) sore waktu Gaza setelah mengalami koma sejak 3 hari yang lalu. Anak bernama Abdul Lathif Al Awoor (7) mengalami luka serius dibagian kepala. Demikian Juru bicara Kementrian kesehatan Ashraf Al Qadra mengatakan. Pada rabu malam Israel menembakkan rudal ke sebuah motor di daerah Sudaniyah, Utara Jalur Gaza seorang warga gaza pengendara sepeda motor. Akibat serangan tersebut satu orang meninggal bernama Muhammad Ahma Al Arrur (30) dari bayt lahiya Utara jalur Gaza. Sedangkan 2 orang lainnya mengalami luka-luka termasuk seorang anak bernama Abdul LAthif Al Awoor yang akhirnya meninggal sabtu (14/6) sore waktu gaza.
MER-C SALURKAN SANTUNAN ANAK YATIM KORBAN AGRESI ISRAEL

Ketua MER-C Cabang Gaza, Muqarabbin Al-Fikri (kanan) memberikan santunan kepada salah seorang anak yatim korban serangan Israel 2008-2009, di RS Indonesia, Bayt Lahiya, utara Jalur Gaza-Palestina, Senin (9/6/2014). (Foto: MINA Gaza) Bayt Lahiya, 12 Sya’ban 1435/10 Juni 2014 (MINA) – Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyalurkan santunan bagi anak-anak yatim piatu korban agresi Israel di Jalur Gaza pada 2008-2009 lalu. Penyaluran bantuan berupa uang tunai kepada 20 anak yatim tersebut diserahkan langsung oleh ketua MER-C Cabang Gaza, Muqarabbin Al-Fikri di RS Indonesia, Bayt Lahiya, Senin waktu Gaza. Fikri mengatakan, walaupun MER-C saat ini sedang fokus pada pembangunan RS Indonesia dan pengadaan alat kesehatan, namun MER-C juga terus membantu menyalurkan bantuan kepada rakyat Palestina. “Selain pembangunan RS Indonesia dan pengadaan alat kesehatannya, MER-C juga senantiasa menyalurkan berbagai amanah bantuan untuk rakyat Gaza, seperti penyaluran hewan qurban, pembagian sembako, serta penyaluran uang tunai dan bantuan lainnya kepada masyarakat Gaza serta kepada anak-anak Yatim,” ujar Fikri kepada wartawan Mi’raj Islamic News Agency (MINA) Gaza. Menurut dia, MER-C mempunyai kelebihan dengan melakukan penyaluran bantuan secara langsung oleh MER-C kepada masyarakat Gaza dan tidak melalui lembaga-lembaga di Gaza. “sehingga bantuan yang diamanahkan kepada kami tepat sasaran dan tepat guna,” ujar Fikri. Kedatangan anak-anak Yatim tersebut selain bertujuan untuk bersilaturahim, juga untuk meningkatkan kepercayaan diri anak-anak para syuhada tersebut. Dalam pertemuan lebih kurang 45 menit itu, anak-anak yatim tersebut dengan antusias mengajukan pertanyaan kepada para relawan. Pertanyaan-pertanyaan seputar RS Indonesia dan Indonesia sendiri diajukan oleh anak-anak tersebut. Menurut Ummu Muhammad, kegiatan seperti itu diadakan untuk memberikan dukungan terhadap psikologis mereka yang telah ditinggal orang tuanya. “Mereka adalah korban perang Furqan (2008-2009) di mana orang tua mereka menjadi syuhada akibat serangan Israel tersebut. Jadi kami memberikan dukungan psikologis terhadap mereka dan juga untuk meningkatkan semangat mereka guna melanjutkan kehidupan mereka ke arah yang lebih baik,” ujar Ummu Muhammad. Sementara itu, salah seorang peserta bernama Mahmoud mengucapkan terimakasih kepada rakyat Indonesia atas bantuannya terhadap Gaza. “Kami berterimakasih kepada masyarakat Indonesia atas kontribusinya kepada Gaza-Palestina, untuk membangun RS Indonesia ini dan apa pun bentuk kontribusi lainnya yang belum saya ketahui,” Ujar Mahmoud. Seorang anak lainnya bernama Nihal turut mendoakan semoga Allah membalas segala yang telah diberikan oleh rakyat Indonesia. “Pada kunjungan ini kami berterimakasih atas dukungan ini dan semoga Allah memberikan taufiq kepada kalian,” kata Nihal.(L/K01/K02/K03/P02/P04) Sumber : http://mirajnews.com/id/palestina/mer-c-salurkan-santunan-anak-yatim-korban-agresi-israel
WANADRI: JANGAN PERNAH LARI DARI URUSAN NYAWA MANUSIA

Ketua Tim SAR Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri, Soma Suparsa. (Foto: MER-C) Bandung, 11 Sya’ban 1435/9 Juni 2014 (MINA) – Ketua Tim SAR Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri, Soma Suparsa atau akrab di panggil kang Soma mengatakan, jangan pernah lari dari urusan nyawa manusia. “Jangan pernah lari atau diam dari urusan nyawa manusia,” katanya saat menjadi salah satu pembicara dalam sesi diskusi pada acara Silaturahmi dan Kampanye Pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Dalam diskusi tersebut Kang Soma menegaskan bahwa Wanadri akan menolong siapa saja yang membutuhkan bantuan tidak pernah membedakan suku, ras dan bangsanya. “Kami akan menolong siapa saja yang membutuhkan bantuan tidak pernah membedakan suku, ras dan bangsanya. Oleh karena itu kami siap menurunkan relawan ke Gaza jika memungkinkan,” kata Soma. Kemudian Soma juga menegaskan bahwa Wanadri siap membekali relawan yang akan di kirim ke Gaza, Palestina jika memang diperlukan. Maximum Theory Band, melaui Vokalisnya Hengy Saing dalam sesi itu juga mengatakan bahwa bandnya sangat mensupport gerakan 50 ribu untuk pengadaan alkes RS Indonesia di Gaza ini. Ia mengatakan banyak musisi Indonesia yang juga concern dalam kegiatan kemanusiaan. “Mereka (para musisi) banyak yang bersedia membantu orang yang membutuhkan,” kata Hengky. Acara Silaturahmi dan Kampanye Pengadaan alat kesehatan (alkes) RS Indonesia diadakan di Saung Angklung Udjo, Bandung dihadiri oleh istri wali kota Bandung Ridwan Kamil, Budayawan Aat Suratin, Maximum Theory Band dan pelukis cilik, Salma Khairannisa. Sebelumnya, kampanye Pengadaan Alkes RS Indonesia dilakukan di Jakarta. Kampanye untuk Pengadaan alkes RS Indonesia tersebut juga didukung oleh beberapa musisi ternama Indonesia seperti Slank, Wali, Naif, Ombat Tengkorak dan lain-lain. (L/P015/P04). Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/nasional/wanadri-jangan-pernah-lari-dari-urusan-nyawa-manusia
Misi Konflik Myanmar, 2012

Jakarta – Setelah menunaikan tugas kemanusiaan selama satu minggu di Myanmar, Rabu (19/9) Tim Medis MER-C alhamdulillah telah tiba dengan selamat ke tanah air. Adapun tim yang telah diberangkatkan untuk melaksanakan misi kemanusiaan di Myanmar yaitu dr.Yogi Prabowo,SpOT (Ketua Tim), dr.Zakya Yahya, SpOk, dr.Tonggo Meaty Fransisca, dr. Kresna Agung Prabowo, dan Azis Muslim (logistik). Tim medis MER-C pertama ini bertugas untuk melakukan assessment awal kondisi konflik Myanmar serta kebutuhan para korban dan pengungsi. Selain itu, tim juga mempersiapkan untuk melakukan pelayanan kesehatan kepada para pengungsi yang sakit dan menyalurkan bantuan berupa uang serta obat-obatan kepada para pengungsi di beberapa kamp pengungsi. Tiba di Myanmar Rabu (12/9), Tim MER-C dijemput oleh staf KBRI dan dibawa ke Hotel Clover. Kemudian tim MER-C berkoordinasi dengan Kedutaan Besar RI di Myanmar yaitu dengan Bpk Jumara Supriyadi. KBRI kemudian membantu Tim berkoordinasi lebih lanjut dengan Ministry of Border Myanmar dan Myanmar Red Cross. Dari hasil koordinasi tersebut Tim MER-C memperoleh izin mengunjungi Rakhine State. Namun menurut KBRI, Tim MER-C tidak mendapatkan izin melakukan pengobatan kepada para pengungsi. Tim MER-C juga berkoordinasi dan mencari informasi dengan beberapa organisasi lokal seperti Al-Azhar Institute of Myanmar dan Rakhine Relief. Diperoleh informasi bahwa situasi di Rakhine dengan ibukota Sitwee masih mencekam walaupun pertikaian sudah diredam. Di Yangon tim mempersiapkan tiket ke Sitwee dan membeli obat-obatan senilai 3500 USD dari PT Kalbe Farma cabang Yangon. Di Yangon Tim MER-C sempat mengalami kesulitan dalam menggunakan alat komunikasi. Walaupun sudah membeli nomor lokal, namun buruknya sistem telekomunikasi di Myanmar menjadi hambatan yang cukup mengganggu. Dengan koordinasi dan adanya surat izin dari Kemenlu Myanmar, pada Jum’at siang (14/9), Tim akhirnya bisa memasuki kota Sittwe (ibukota Rakhine State). Setibanya di bandara Sittwe, tampak militer dan polisi Myanmar masih berjaga ketat. Suasana ketegangan mulai terasa di sini. Pemerintah dan militer Myanmar memeriksa setiap orang yang datang. Tim dijemput oleh perwakilan dari Red Cross Myanmar, Ministry of Border dan Pejabat Militer setempat. Selama berada di Sittwe, tim juga mendapat pengawalan yang sangat ketat dari tentara Myanmar. Satu mobil pasukan dan satu mobil komando senantiasa mengiringi perjalanan Tim bahkan pada saat mengunjungi kamp-kamp pengungsian. Dari pengamatan Tim MER-C mengunjungi kamp-kamp pengungsian, konflik Myanmar sendiri terjadi antara etnis Rakhine yang beragama Budha dan etnis Rohingya yang beragama Islam. Akar permasalahan belum jelas, ada dua informasi yang berbeda (versi pemerintah Myanmar dan versi masyarakat rohingya). Namun kami melihat konflik ini terbatas pada dua etnis tersebut dan belum menjadi konflik agama karena di Yangon antara umat Budha dan umat Islam masih berdampingan. Namun demikian kami melihat konflik ini bisa berpotensi meluas apabila diprovokasi oleh pihak lain, seperti demo para biksu di Mandalay atau sikap pemerintah Myanmar yang menganggap etnis Rohingya bukan bagian dari warga Negara (stateless). Konflik terjadi dibeberapa daerah di Rakhine state, yaitu di Sitwee, Minbya, Maungdwe, dan Kyauktaw. Di Sitwee kami melihat beberapa lokasi kerusakan, sisa puing-puing rumah yang di bakar namun kami hanya bisa mengunjungi Sitwee. Situasi di Sitwee masih sangat sensitif antara kedua belah pihak, dan masih terasa penuh rasa curiga, juga terhadap orang asing yang memberikan bantuan. Militer Myanmar membatasi ruang gerak bantuan kemanusiaan, dengan alasan keamanan mereka mengawal setiap bantuan kemanusiaan yang masuk. Tidak semua organisasi kemanusiaan diperbolehkan, bahkan sangat besar penolakan masyarakat terhadap bantuan UN (PBB), kami melihat di surat kabar lokal tentang dokter UN yang ditahan. Berikut Hasil temuan tim MER-C dilapangan. Ada beberapa potensi yang dapat memicu konflik didalam memberikan bantuan yaitu ; · Ketidak netralan pihak pemerintah dan Myanmar Red Cross dalam memberikan bantuan kedua belah pihak. Hal ini terjadi karena seluruh aparat dan Myanmar Red Cross beragama Budha, sehingga mereka juga takut bila masuk ke kamp pengungsian rohingya, akibatnya pengungsi rohingya lebih terabaikan, terutama dalam pelayanan kesehatan. Ketika kami tiba di kamp rohingya tampak beberapa pasien tergeletak sakit tanpa perawatan. · Kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat Myanmar dengan pemerintah daerah Rakhine State. Hal ini terbukti walaupun pemerintah pusat Myanmar menginstruksikan harus membantu kedua belah pihak, namun tetap saja pemerintah daerah tidak atau sulit melaksanakan hal tersebut. Di lapangan tim kami sempat tidak diizinkan ke kamp rohingya · Usaha untuk membangun shelter atau perumahan dengan memindahkan lokasi juga merupakan hal yang sensitif dan dapat memicu konflik baru, karena masyarakat tidak mau meninggalkan tanah leluhur mereka yang sudah mereka diami ratusan tahun Kamp pengungsian terbagi menjadi 2 kelompok yaitu kamp pengungsian Muslim dan kamp pengungsian Budha. Tim MER-C mengunjungi 4 lokasi pengungsian, yaitu Danyawaddy Football Camp, Min Ban Camp, Danyawaddy North Camp dan Chaung Camp/Clinic Camp (Rohingya Camp). Jumlah pengungsi warga Rakhine sekitar 8.000 orang, sementara pengungsi Rohingya mencapai sekitar 18.000 orang. Kebutuhan para pengungsi yang mendesak antara lain bahan makanan, air bersih, tempat tinggal dan kesehatan (obat-obatan dan pelayanan kesehatan). Bahkan di lokasi pengungsian Rohingya Camp, Tim MER-C menjumpai beberapa pasien dewasa dan anak-anak terbaring lemah tanpa pelayanan medis. Pemerintah Myanmar dan Myanmar Red Cros mengalami kesulitan dalam memberikan bantuan kepada kedua belah pihak karena alasan keamanan. Awalnya Tim MER-C juga tidak diperbolehkan mengunjungi Rohingya Camp karena alasan yang sama. Namun setelah melobi dan mendesak Pemerintah dan Militer Myanmar bahwa MER-C harus menyampaikan amanah donasi dari rakyat Indonesia dan meyakinkan bahwa Rohingya Camp dapat menerima keberadaan Tim MER-C, akhirnya tim MER-C diizinkan memberikan pelayanan kesehatan dan memberikan donasi di Kamp Rohingya. Bahkan Tim MER-C juga memfasilitasi Pemerintah dan Myanmar Red Cross untuk melakukan pelayanan kesehatan di kedua belah pihak yang bertikai. Oleh karena itu, Tim MER-C menjadi tim medis pertama yang dapat memberikan pelayanan kesehatan di kedua belah pihak. Kurang lebih selama 1 minggu tim MER-C memberikan pelayanan kesehatan terhadap ratusan pengungsi yang sakit. Dari rencana lama misi 2 minggu, namun sesuai tujuan awal sebagai tim assessment, maka dengan berbagai pertimbangan dan kondisi di lapangan, maka misi kemanusiaan awal ini berlangsung selama 1 minggu. Guna menindaklanjuti hasil assessment Tim awal dan menyalurkan lagi amanah donasi dari rakyat Indonesia, MER-C berencana mengirimkan tim lanjutan ke Myanmar. Fokus program Tim lanjutan adalah pelayanan kesehatan, bantuan obat obatan, makanan balita dan bila memungkinkan membangun Pusat Pelayanan Kesehatan Primer khususnya yang bersifat permanen bagi para pengungsi. Kami melihat penerimaan pemerintah dan masyarakat Myanmar terhadap bantuan Indonesia cukup baik. Keberhasilan
Konflik Mesir dan Bulan Suci Ramadhan; Apa Kabar RSI dan Relawan Indonesia di Gaza?

Gaza, Palestina – Telah kita ketahui bersama konflik yang tengah terjadi di Mesir dengan segala kepahitannya bagi ummat Islam. Hal ini bukan tidak berdampak pada pembangunan RS Indonesia (RSI) di Gaza. Krisis beberapa bahan bangunan seperti semen yang saat ini sangat langka, krisis gas, bensin dan solar yang terlebih dahulu menimpa Gaza, bahkan hampir-hampir beras pun sangat sulit didapat. Inilah yang terjadi hingga saat ini di Jalur Gaza. Bahan bangunan berupa semen sangatlah vital dalam suatu proyek khususnya pembangunan RSI ini. Masuknya semen dari Mesir sangatlah terbatas melalui jalur normal. Kecil kemungkinan untuk mendapatkannya seperti sebelum-sebelumnya. Bukan hanya dibatasi untuk masuknya semen ke Jalur Gaza, tetapi juga harga dinaikkan berkali lipat. Yang semula harga perton semen sebesar 400 shekel kini menjadi 1000 shekel. Terwongan-terowongan yang biasa warga Jalur Gaza gunakan sebagai wasilah ke dua untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka pun hancur oleh sebab dampak dari konflik Mesir. Segala usaha dilakukan para relawan RSI agar pembangunan dapat terus berjalan, Alhamdulillah semen bisa didapatkan walaupun tidak sejumlah target normal. Pekerjaan dapat terus berlanjut walaupun agak sedikit tersendat oleh beberapa faktor di atas. Hingga menjelang Ramadhan para relawan tetap fokus pada pekerjaan pembangunan RSI. Jenis pekerjaan yang sedang dilaksanakan adalah mekanikal elektrikal (ME), pengecatan, pemasangan dinding batu alam (hajar quds), perataan jalan dan halaman RSI, pagar dinding, main entrance dan granolitik. Kegiatan Relawan Kala Ramadhan Menjelang bulan suci Ramadhan para relawan yang saat ini berjumlah 33 orang berunding mengenai waktu kerja yang akan mereka jalankan. Pada umumnya saat Ramadhan warga Gaza berkerja malam hari setelah shalat tarawih hingga menjelang sahur. Berdasarkan kesepakatan bersama akhirnya diputuskan bahwa waktu kerja para relawan RSI pada bulan Ramadhan ini ialah mulai ba’da shubuh jam 05.00 hingga menjelang Dzuhur jam 12.30 dengan sekali istirahat untuk shalat Dhuha pada jam 09.00 hingga setengah jam ke depan. Tersisa waktu sekitar 45 menit dari selesainya waktu kerja menjelang Dzuhur, para relawan menggunakannya untuk beristirahat sejenak kemudian mandi untuk persiapan shalat Dzuhur di masjid. Setelah shalat Dzuhur para relawan menggunakan waktu mereka dengan bertadarrus Al-qur’an di masjid dan ada pula yang di RSI. Diantara mereka yang menetap di masjid dari shalat Dzuhur hingga menjelang buka puasa dengan bertadarrus Al-qur’an diselingi dengan istirahat sejenak. Pada bulan Ramadhan seluruh masjid di Gaza tidak ada jeda waktu setelah adzan Maghrib dan Isya. Iqomah langsung dikumandangkan oleh muadzin setelah adzan. Ini membuat para relawan berangkat ke masjid jauh sebelum waktu adzan Maghrib dikumandangkan dengan membawa bekal bukaan puasa berupa buah wajib bagi mereka setiap harinya, yaitu tiga butir kurma dan buah lainnya yang tersedia seadanya. Usai menunaikan shalat maghrib para relawan langsung kembali ke RSI untuk makan malam bersama, kemudian setelah makan malam mereka melanjutkan tadarrus hingga shalat Isya. Tibalah waktunya Sholat Tarawih berjamaah. Sebagian relawan melakukannya dengan safari sholat Tarawih, yaitu berpindah-pindah masjid setiap harinya. Sebagian lain memilih sholat Tarawih berjamaah di Basement RSI yang dimulai sekitar Jam 2 malam waktu Gaza dengan bacaan murotal Al Qur’an 1 juz setiap malamnya yang diimami oleh Reza Adilla Kurniawan, salah satu relawan RSI asal Pesantren Al Fatah yang hafal 30 juz Al Qur’an. Kegiatan ibadah relawan kemudian dilanjutkan dengan sholat witir yang diimami oleh Ust Abdurrahman, yang sudah dua kali bertugas di Gaza untuk RSI. Doa qunut pun dilantunkan para relawan untuk memohon pertolongan Allah agar kembalinya Palestina dan Masjidil Aqsha ke pangkuan kaum muslimin, juga berharap Allah memenangkan kaum muslimin yang tertindas dan terdzolimi di seluruh negeri muslim lainnya. Kegiatan pembangunan RSI dimulai lagi ketika para relawan selesai melakukan sahur bersama dan sholat Subuh berjamaah. “Alhamdulillah kami tetap terus bersemangat walau setelah Sholat Subuh melanjutkan kembali pekerjaan amal sholih pembangunan RS Indonesia yang kami mulai jam 05.00 pagi sampai dengan jam 12.30 siang nanti,” ujar Ir. Edy Wahyudi, Site Manager Pembangunan RSl di Gaza, Palestina. Dukungan berupa do’a dan lainnya masih sangat diharapkan oleh kami relawan RSI dan harapan kami jangan berhenti berdo’a untuk kelancaran pembangunan RSI demi terjalinnya hubungan silaturahim jangka panjang antara warga Indonesia dan warga Palestina ke depan. Bagi masyarakat Indonesia yang ingin berdonasi untuk Program Pembangunan RS Indonesia di Gaza, Palestina dapat mengirimkan melalui : BCA, No. Rek. 686.0153.678, a/n. Medical Emergency Rescue Committee BSM, No. Rek. 700.1352.061, a/n. Medical Emergency Rescue Committee BNI Syariah, No. Rek. 0811192973, a/n. Medical Emergency Rescue Committee RS MER-C di Galela Mulai Pemasangan Atap Galela, Maluku Utara – Sementara program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina terus berjalan diantara blokade Israel dan konflik yang tengah melanda Mesir, begitu juga dengan pembangunan Rumah Sakit di Galela, Maluku Utara. Di wilayah timur Indonesia yang memiliki sejarah kelam akibat konflik ini, bangunan Rumah Sakit yang dilakukan Divisi Konstruksi MER-C juga semakin hari semakin tampak kokoh dan cantik. Hal ini semua dapat terwujud atas pertolongan Allah SWT juga doa serta donasi dari warga lokal, Pemda dan rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Seperti RS Indonesia di Gaza, RS MER-C di Galela dengan luas bangunan 2.800 m2 juga tengah memasuki tahap Arsitektur. Setelah sempat terhenti, namun atas donasi dari masyarakat yang masuk ke rekening donasi amanah RS Galela, pekerjaan pembangunan bisa dimulai kembali. Kali ini fokus pekerjaan adalah pemasangan rangkap atap baja ringan dan atap RS yang berwarna biru. Material rangka baja ringan dan atap semua dipesan dan dibuat di Jakarta. Material tersebut kemudian dikirim menggunakan ekspedisi laut yang perjalanannya memakan waktu selama satu bulan. Alhamdulillah pada akhir Juni 2013, material tiba di Pelabuhan Galela sehingga pekerjaan pemasangan atap bisa mulai dilakukan per awal Juli 2013. Untuk mengawasi pekerjaan tahap ini, Divisi Konstruksi MER-C menugaskan satu orang relawan Teknis yang sejak awal sudah terlibat dalam proses pembangunan. Pemasangan atap dijadwalkan selama 1 bulan. Dalam awal pekan depan, Ketua Divisi Konstruksi MER-C dan Tim akan berkunjung ke Galela untuk melakukan supervisi pembangunan. “Awal pekan depan saya dan tim akan berkunjung ke Galela untuk melakukan supervisi pekerjaan atap bangunan RS yang sudah berjalan selama 2 minggu. Setelah Galela, dalam bulan ini juga kami berharap bisa melakukan supervisi pembangunan RS Indonesia di Gaza,” tutur Ir. Faried Thalib, Ketua Divisi Konstruksi MER-C. Bagi masyarakat Indonesia yang ingin
Joserizal Jurnalis: Hentikan Perang Suriah

Jakarta, 17 Syaban 1434/26 Juni 2013 (MINA) Aktivis Lembaga Kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dr. Joserizal Jurnalis,Sp.OT. menyerukan hentikan perang di Suriah. Mereka harus duduk bersama untuk berunding, sehingga tidak menambah jumlah korban dari warga, ujar Joserizal, pada Diskusi Terbuka Kenapa Suriah di Universitas Yarsi Jakarta, Rabu (26/6). Menurutnya, salah satu upayanya adalah dengan mengijinkan lembaga kemanusiaan internasional untuk masuk ke Suriah membantu kedua belah pihak. Lembaga kemanusiaan termasuk MER-C harus diizinkan masuk membantu kedua belah pihak yang bertikai dengan membawa prinsip netralitas dan independen, ujar Presidium MER-C yang bersama groupnya sedang membangun Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza tersebut. Rancangan Zionis Dalam presentasinya, Joserizal mengungkapkan bahwa konflik berdarah yang terjadi di Suriah sudah dirancang oleh Zionis melalui program yang dikenal dengan istilah Novus Ordo Seclorum atau era zaman baru yang sekuler. Melalui program ini, Zionis membuat rancangan rahasia ditujukan kepada negara-negara yang menentang Israel agar menjadi negara kecil dan lemah, sehingga tak berdaya menghadapi kekuatan Zionis. Zionis mengetahui, bahwa Suriah secara fakta dan data membuktikan memang selama ini dikenal sebagai negara yang sering menentang kebijakan Israel, katanya. Suriah juga dikenal sebagai negara yang kuat dalam bidang militer dan intelejen. Hal ini terbukti ketika mereka berperang melawan Israel pada 1967 dan 1973, ungkap aktivis kemanusiaan yang juga pernah terjun langsung di Mindanau Selatan, Kashmir, Pattani, Lebanon dan Darfur. Untuk itu, sebagai bagian dari upaya kemanusiaan meredam konfik Suriah, hendaknya sesama kaum muslimin di belahan dunia lainnya yang mengiktui perkembangan Suriah, dituntut saling menghormati, menghargai dan menjaga ukhuwah Islamiyah. Kalau kita pernah terjun ke medan perang, kita pasti tidak galak sesama umat Islam. Sebab musuh kaum muslimin satu, Zionis. Jangan kita jadi alat permainan mereka, tegas dokter yang aktif dalam dunia kegawatdaruratan sejak 1999 itu. Tampil sebagai pembicara lain, Drs. M.Hamdan Basyar,M.Si (Peneliti LIPI), Jerry D. Gray (Penulis dan Pengamat Politik Internasional), sambutan dr. Sarbini Abdul Murad, serta dipandu Moderator Zulfatan Faizin (Metro TV). (L/P04/P06/P10/P015/R1). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/6230-joserizal-jurnalis-hentikan-perang-konflik-suriah.html
Relawan MER-C, Saksi Mata Perang 8 Hari Gaza

Jakarta, 20 Jumadil Awal 1434/1 April 2013 (MINA) – Relawan Pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza Nur Ikhwan Abadi pulang ke Indonesia hari Ahad (31/3). Nur ikhwan yang sempat beberapa tahun di Gaza sebagai tim koordinator teknis pembangunan RSI di Gaza yang saat ini masih terus berjalan, menuturkan kepada Miraj News Agency (MINA) pengalaman saat terjadi perang delapan hari di Gaza. Berikut penuturan Nur Ikhwan. Ketika perang terjadi, kami dan para relawan yang lain tetap bekerja meneruskan pembangunan RSI di Gaza, akan tetapi karena kondisi memang sangat genting, para relawan pindah ke basement (ruang di bawah tanah), yang hikmahnya bagian basement RSI bisa selesai pada waktu perang itu berlangsung. Setiap malam, para relawan bisa menghitung berapa kali bunyi bom yang diluncurkan Israel satu persatu. RSI di Gaza tidak menjadi sasaran bom. Tetapi, disekitar RSI yang jaraknya begitu dekat, menjadi sasaran bom dari Israel karena di daerah tersebut merupakan tempat latihan sayap militer Hamas, Brigade Al Qasam, yang sempat di bombardir oleh Israel yang menyebabkan pecahan puing-puing yang sebesar karung hingga ke RSI. “Karena jarak yang begitu dekat, sehingga mendengar suara bom itu seperti mendengar suara petir didepan muka. Pada awal mendengar bom-bom tersebut tentunya kaget sekali, akan tetapi setelah beberapa hari kita sudah mulai terbiasa mendengar bom,” kata Nur Ikhwan Abadi. Sebenarnya ada beberapa dari orang Palestina yang bersedia memberikan tempat untuk mengungsi bagi para relawan agar segera melakukan evakuasi ketempat yang lebih aman, untuk menghindari hal yang lebih mengerikan lagi yaitu perang darat, Karena apabila terjadi perang darat matilah kalian, tutur Nur Ikhwan menirukan perkataan salah seorang warga Palestina saat itu. Kemudian saya bicarakan dengan para rekan relawan lain, kemudian kita bermusyawarah, sempat melakukan sholat Istikharoh juga, dan akhirnya kami memutuskan untuk tidak pindah dari RSI dan akan tetap disana walaupun harus kehilangan nyawa, kami harus tetap disini, karena ini sudah menjadi amanah kami. Selama di Gaza, Yang kami amati mengenai perang 8 hari tersebut adalah, sejak tahun 2009 sampai tahun 2012 sebelum terjadinya perang 8 hari Gaza itu, Israel memang selalu memancing HAMAS dengan bom-bomnya, dengan tujuan untuk mengetahui kekuatan HAMAS sejauh mana, akan tetapi HAMAS tidak mudah terpancing. Yang kami lihat justru Jihad Islam yang kemudian meladeni dan membalas bom-bom tersebut, tetapi sepertinya israel kurang menaggapi balasan Jihad Islam tersebut karena memang diperkirakan kekuatan Jihad Islam hanya 20 persen dari kekuatan HAMAS. Menurut saya, itulah yang membuat Israel kemudian merancang setrategi, yaitu membunuh Muhammad Aljabari dengan cara dibom, pada waktu kejadian tersebut kami sedang melakukan Rukyatul hilal (melihat bulan) di laut, ketika kita sampai pantai kemudian berita dibomnya Aljabari menyebar, yang menyebabkan para relawan sempat terpisah selama satu hari, sebagian dipantai termasuk saya, sebagian lagi berada di RS, karena jika dipaksakan pulang saat itu akan sangat berbahaya mengingat baku tembak masih terus berlangsung. Rindukan Persatuan Rakyat Palestina sangat merindukan persatuan di antara mereka. Saat terjadi perang 8 hari itu, semua faksi bersatu dengan sayap militer mereka masing-masing, bersatu menyerang Israel, belum pernah ada dalam sejarah Palestina hal itu terjadi, dan sebetulnya mereka rindu persatuan tersebut, hanya saja yang mereka bingungkan adalah format persatuan melalui apa dan seperti apa. jika melalui jalur politik, saya ibaratkan seperti rebutan kue, ada kepentingan dari masing-masing faksi yang berbeda, akan saling ambil keuntungan sesuai misi mereka masing-masing. Mengingat tentang diselenggarakanya deklarasi Bandung (Conferensi Internasional Al Quds), salah satu poinnya adalah mengirimkan ulama dan Zuama Indonesia dan Malaysia ke Gaza. Jika memungkinkan, menurut kami segera mungkin difollow up, karena sangat diperlukan sekali saat ini, posisi kita yang ditengah-tengah faksi-faksi tersebut untuk menjadi pemersatu kaum Muslimin disana. Jangan kita memihak salah satu golongan kemudian golongan lain akhirnya terabaikan. Begitulah sekelumit pengalaman kami sewaktu perang 8 hari berlangsung di Gaza, ketika terjadi penyerangan dari Israel semua masyarakat Palestina menyerukan kalimat takbir di radio-radio, masjid-masjid, dan semua orang mengucapkan kata Allohu Akbar, seperti tidak ada rasa takut, mereka menyambut serangan tersebut dengan kalimat takbir. (L/P02/P015/R2). Sumber : http://mirajnews.com/id/palestina/3467-relawan-merci-saksi-mata-perang-8-hari-gaza.html