Tujuh Relawan MER-C Ikut Konferensi Kemanusiaan Internasional di Kuala Lumpur

Tujuh relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengikuti Konferensi Kemanusiaan Internasional bertajuk ‘’Humanitarian Development Nexus: Building Resilience Transforming Lives” yang digelar di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) Kuala Lumpur, 27-29 Mei 2024, oleh Mercy Malaysia. Tujuh orang yang hadir yaitu Ketua Emergency Medical Team (EMT) MER-C Indonesia dr. Arief Rachman, Sp.Rad, yang menjadi pembicara dalam konferensi tersebut. Kemudian enam relawan lainya Apt. Dini Rahmawati, S.Farm. Wunandi Artia Binar Phasa, S.Farm, dr. Fahmi Anshori, Sp.OT, dr. Tonggo Meaty Fransisca, dr. Reyfal Khaidar dan Kipa Jundapri, S.Kep., Ners., M.Kep. Acara konferensi dibuka oleh Sultan Perak Darul Ridzuan, Sultan Nazrin Muizzuddin Shah bin (alm) Sultan Azzlam Muhibbuddin. Relawan MER-C Raih Juara ke-3 Poster Presentasi Terbaik Dalam konferensi ini Tim MER-C membawa lima poster presentasi terkait topik bencana di Indonesia dan konflik terkini yang terjadi di Jalur Gaza berdasarkan pengalaman langsung relawan MER-C di lapangan. Salah satu poster relawan MER-C berjudul “Profile of Desease and Injury in Primary Health Care During Gaza Conflict 2023/2024, MER-C Indonesia Experience” yang dipresentasikan oleh dr. Reyfal Khaidar, salah satu relawan yang baru kembali dari Gaza mendapat penghargaan sebagai poster terbaik ke-3. Konferensi Kemanusiaan Internasional MERCY Malaysia (MMIHC) adalah forum yang mempertemukan para aktor dan jaringan kemanusiaan dari berbagai belahan dunia dan pemangku kepentingan dari berbagai sektor. Konferensi ini mempertemukan para pemikir dan praktisi kemanusiaan terkemuka dari seluruh dunia untuk membahas praktik terbaik, pembelajaran dan implikasinya terhadap orang-orang yang menjadi inti pekerjaan kemanusiaan. Edisi 2024 membahas isu-isu jauh lebih kompleks yang memerlukan perhatian, mencakup meningkatnya kerapuhan dan konflik, krisis iklim, kesehatan, keuangan dan ekonomi akibat meningkatnya risiko bencana dan tantangan pembangunan, agenda lokalisasi, serta isu-isu kemanusiaan, diplomasi, pandemi global, ilmu pengetahuan dan teknologi, sumber daya keuangan yang didedikasikan untuk bantuan kemanusiaan juga pembangunan, dan banyak lainnya.
Seminar Hybrid & Workshop mass Casualities Management in Conflict Area

SEMINAR HYBRID & WORKSHOP“MASS CASUALITIES MANAGEMENT IN CONFLICT AREA“ SUNDAY, OCTOBER 2nd 2022AUDITORIUM RS ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIHCOLLABORATION MER-C – RS ISLAM CEMPAKA PUTIH – ILUNI FKUI – PPNI BACKGROUND The world often experiences conflicts and wars that will cause many victims who require medical treatment. In some parts of the world, such as Palestine, Afghanistan and even Indonesia, they are often faced with the management of conflict victims due to war. Therefore, it is necessary to learn from each other and share experiences in terms of mass casualty management. At this time we are holding a collaborative seminar between Indonesia, Afghanistan and Palestine. PURPOSE To increase , capacity building of experience in mass casualties management at conflict area ACTIVITY We invite distinguished expert from Afghanistan, Palestine (gaza) and local speakers to share their experiences in mass casualties management at conflict area ; Emal Wardak, MD, MBBS, M.S (Orthopaedic Surgery) , Assistant ProfessorHead of Orthopaedic & Trauma Departement Wazir Mohammad Akbar Khan Hospital, Kabul AfghanistanStaf of Orthopaedic Training Programme in Kabul Afghanistan Yogi Prabowo, dr, SpOT(K), SpEm , Associate ProfessorHead of Emergency Departement Ciptomangunkusumo National Hospital, Jakarta IndonesiaPresidium of Medical Emergency Rescue Committee Indonesia Indragiri, dr, SpAnMedical Emergency Rescue Committee IndonesiaAnesthesia specialist & Intensive care Pondok Kopi Islamic Hospital, Jakarta Jajang Rahmat, Skep, Ners, SpKep.Kom, MKepChief of PPNI (Indonesian Nurse Organization)Emergency Departement RS Indonesia in Gaza Palestine Hadiki Habib,dr, SpPD, SpEmMedical Emergency Rescue CommitteeEmergency Departement Ciptomangunkusumo National Hospital, Jakarta Indonesia This seminar was held in a hybrid manner on Sunday, October 2, 2022, at the Meeting Room of the Islamic Hospital Cempaka Putih, Central Jakarta Indonesia The seminar will also be streamed via YouTube to Afghanistan and Palestine The seminar will be delivered in English MATRIX OF ACTIVITY NO TIME TOPIC SPEAKERS 1 07.30 – 08.30 registration 2 08.30 – 08.40 Opening MC 3 08.40 – 08.45 Organizing Committee Report Zecky Eko Triwahyudi, dr, SpOT, MARS 4 08.45 – 08.50 Welcome Speech Chief of MER-C Presidium Sarbini A Murad, dr 5 08.50 – 08.55 Welcome Speech CEO of RS Islam Jakarta Cempaka Putih Pradono Handojo, dr, MARS, MM 6 09.00-09.05 Welcome Speech Chief of ILUNI FKUI Wawan Mulyawan, Kolonel (Kes), DR, dr, SpBS, SpKP, FINNS, FINPS, AAK 7 09.05 – 09.10 Welcome Speech Chief of PPNI DKI Jakarta Jajang Rahmat, Skep, Ners, SpKep.Kom, MKep Moderator Session 1 Guntur Utama Putera, dr, SpOT 8 09.10 – 09.25 Mass Casualties Management Overview Yogi Prabowo, dr, SpOT(K), SpEm 9 09.25 – 09.55 Mass Casualites Management : Afghanistan Experience Emal Wardak, MD, MBBS, M.S, Asst Prof 10 09.55 – 10.25 Mass Casualties in Rural Area, Mollucas Conflict 1999 Management Indragiri,dr, SpAn 11 10.25 – 10.35 Discussion moderator Moderator Session 2 Arief Rahman, dr, SpRad 12 11.05 – 11.35 Role of Nurse in Mass Casualties Management Jajang Rahmat, Skep, Ners, SpKep.Kom, MKep 13 11.35 – 12.05 Role of Indonesian Hospital Gaza Palestine in Mass Casualties Management Head of Indonesian Hospital in Gaza Palestine 14 12.05 – 12.15 Discussion moderator Praying & Coffe Break 15 13.00 – 15.00 Workshop Triage in Mass Casualties Hadiki Habib, dr, SpPD, SpEm 16 15.00 Closing Organizing Committee ORGANIZING COMMITTEE This seminar was organized by a collaboration between MER-C, Cempaka Putih Islamic Hospital, ILUNI FKUI and PPNI.
MER-C Gelar Pelatihan Simulasi Bencana

Jakarta, MINA – Lembaga kegawatdaruratan medis, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia menggelar pelatihan simulasi bencana, pada Sabtu-Ahad, (24-25/9), di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur. Dalam pelatihan ini, 30 peserta yang mengikuti pelatihan mendapat materi triase, manajemen logistik, Basic Life Support (BLS), penanganan korban cedera, pendarahan, patah tulang, serta cara pembidalan, evakuasi dan transportasi, overview disaster management, dan manajement posko. Selain itu, digelar juga bincang bersama Presidium MER-C mengenai jihad profesi, dan pengenalan water rescue bersama Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS). Ketua Presidium MER-C Sarbini Abdul Murad, dalam kesempatan itu mengatakan, banyak hal besar yang telah dilakukan bersama MER-C, seperti di luar kendali atau tidak mungkin tapi akhirnya bisa dilakukan karena kebesaran Allah. “Banyak aktifitas besar itu terjadi bukan karena kehebatan kita. Tapi kita bisa melakukan aktivitas besar yang akal kita tidak sampai tapi kita bisa melakukan itu, ada keajaiban yang terjadi dan itu di luar kendali kita. Hal yang sulit menjadi mudah karena kuasa Allah,” ujarnya. “Menunaikan amanah yang menjadi keberkahan untuk apa yang kita lakukan. Tugas kita adalah memberi yang terbaik untuk umat, untuk bangsa,” kata Sarbini. Anggota Presidium Ir. Faried Thalib yang juga turut hadir menceritakan bagaimana perjuangan MER-C membangun beberapa Rumah Sakit Indonesia di daerah konflik, di Gaza, Palestina dan Rakhine State, Myanmar. MER-C telah melaksanakan lebih dari 300 misi kemanusiaan bencana alam, perang dan konflik, baik dalam negeri maupun luar negeri Sementara keanggotaan MER-C disebut relawan yang mempunyai sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela, dan mobilitas tinggi. Sumber : https://minanews.net/mer-c-gelar-pelatihan-simulasi-bencana-2022
Sistem Manajemen Bencana (Sudut Pandang Kesehatan)

Negara Indonesia merupakan salah satu supermarket bencana di dunia. Setiap wilayah di Indonesia mempunyai potensi bencana tersendiri. Dari sudut ketahanan nasional, bencana sering menjadi lokus minoris suatu bangsa dan negara dalam menghadapi intervensi bangsa atau negara lain. Oleh karena itu, pembangunan sistem manajemen bencana di Indonesia merupakan investasi besar untuk kejayaan suatu bangsa. Negara-negara besar dan maju seperti Jepang membuat sistem penanggulangan bencana secara terstruktur di setiap wilayah (perfecture) berdasarkan potensi bencana masing-masing wilayah. Lalu bagaimana dengan Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia? Sistem manajemen bencana seperti apa yang cocok? Bidang kesehatan merupakan pertahanan penting dan lini terdepan dalam penanggulangan bencana. Sistem Manajemen Bencana di bidang kesehatan menjadi tolok ukur dalam keberhasilan manajemen bencana di suatu negara terkait dampak mortalitas dan morbiditas. Dari sudut pandang kesehatan, sistem manajemen bencana dibedakan menjadi: 1. Sistem Manajemen Bencana Intra Hospital2. Sistem Manajemen Bencana Extra Hospital 1. Sistem Manajemen Bencana Intra Hospital Rumah sakit merupakan tempat yang sibuk dalam menghadapi dampak bencana. Pusat komando kesehatan berada di RS dan Dinas Kesehatan setempat. RS merupakan INDIKATOR level ketangguhan suatu wilayah dalam menghadapi bencana. Dalam akreditasi JCI (Joint Commission International) juga sudah mulai mensyaratkan suatu RS mempunyai sistem penanggulangan bencana (Hospital Disaster Plan). Menciptakan RS Tahan Bencana menjadi suatu keharusan di negara rawan bencana. Ketangguhan IGD suatu RS dalam menghadapi bencana merupakan tolok ukur suatu RS dalam ketahanan bencana. Seringkali RS terdampak bencana baik akibat gempa bumi, tsunami, dan pandemi Covid-19. Kita saksikan banyak IGD yang tutup atau RS yang kolaps pada masa pandemi. Hal tersebut diakibatkan lemahnya sistem manajemen alur pasien, sistem logistik dan sistem SDM RS tersebut. Apabila IGD atau layanan emergensi tutup sama dengan lumpuhnya RS tersebut karena tidak bisa lagi menolong orang dalam kondisi gawat darurat. Sistem Manajemen Bencana Intra Hospital meliputi: A. Manajemen alur pasien dan triage, mulai dari IGD, kamar operasi hingga ruang perawatan dan juga sistem rujukan ke luar RS. B. Sistem mobilisasi sumber daya manusia, dokter, perawat dan nakes lainnya C. Sistem pasokan dan mobilisasi logistik serta penunjang. D. Luwesnya perubahan sistem quality control mutu pelayanan yang bisa bergeser cepat dari konsep mutu excellent ke arah konsep mitigasi dalam situasi serba terbatas. 2. Sistem Manajemen Bencana Extra Hospital Sistem manajemen bencana extra hospital sejatinya merupakan sistem manajemen bencana komunitas atau wilayah. Ada beberapa wilayah atau kota yang menggabungkan sistem manajemen bencana di bidang kesehatan dengan bidang lainnya seperti keamanan dll berupa Call Center Emergency (ambulans, damkar, polisi, dll). Sistem manajemen bencana extra hospital meliputi: A. Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT). Sistem ini memerlukan bukan hanya sistem data IT dan komunikasi tetapi juga perlu ada “Host” atau komandan berupa medical director yang memiliki kemampuan Triase Bencana (Disaster Triage). Jadi fungsi SPGDT sejatinya:a) Menerima, memilah rujukan pasien berdasarkan derajat keparahannya lalu memilihkan RS yang sesuai levelnya.b) Melakukan Triase Bencana (Disaster Triage) pada saat bencana. B. Sistem Ambulans Sistem ambulans yang dianut di suatu negara atau wilayah akan menentukan keberhasilan penanggulangan kegawatdaruratan atau bencana. Ada beberapa macam sistem ambulans di dunia, yaitu: a) Ambulans sebagai ranah medis: konsepnya ambulans merupakan bagian dari layanan medik, perluasan IGD (Extended Emergency Room). Sistem ini mempunyai: standar layanan medik ambulans, Surat Izin Praktik tenaga medis (SIP) yang berinduk kepada RS atau fasilitas kesehatan serta tarif pelayanan medis ambulans. Sistem ambulans seperti ini akan menciptakan safety bagi masyarakat dan memberikan layanan kesehatan yang paripurna mulai dari RS hingga sampai ke rumah. Selain itu, sistem ambulans seperti ini akan sangat membantu dalam kondisi bencana dan mass casualties karena memiliki medical director dan komandan yang akan memimpin proses triase dan rujukan. Pada sistem ini, ambulans tidak diperbolehkan dimiliki oleh selain fasilitas kesehatan seperti lembaga sosial, parpol dll. b) Ambulans sebagai ranah sosial: konsepnya ambulans sebagai bagian dari kegiatan sosial sehingga bisa dimiliki oleh siapa saja tanpa ada standarisasi layanan medis dan petugas tidak memiliki SIP. BPJS tidak bisa menanggung pembiayaan ambulans karena bukan ranah layanan medis dan sehingga sistem ini membuat layanan medis tidak paripurna dan terputus. Pada kondisi bencana, sistem ini akan membuat ambulans bergerak sendiri-sendiri tanpa ada koordinasi dan komando. Realitas kondisi di Indonesia saat ini SPGDT tidak mempunyai sistem “host” atau medical director sehingga masih kita saksikan pasien keliling RS untuk mencari ICU serta masih kita saksikan banyak RS yang overload pada kondisi bencana yang akan mengakibatkan “secondary disasters”. Sementara itu sistem ambulans di Indonesia masih berada di ranah sosial sehingga bisa menipu masyarakat yang “merasa sudah aman” ketika berada di ambulans padahal tidak demikian adanya. Tingginya angka DOA (Death on Arrival) ketika pasien sampai di IGD merupakan indikator penting keamanan sistem ambulans. Mari kita perbaiki bersama negeri ini. Salam Kebencanaan dan Kemanusiaan Dr. Yogi Prabowo, SpOT(K)Pendiri dan Relawan MER-C