MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C – YAPISMEN Tanda Tangani MoU Bantuan Renovasi Sekolah dan Pembanguan Sarana Ibadah di Mentawai

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menandatangani nota kesepahaman (MOU) dengan Yayasan Pembina Islam Mentawai (YAPISMEN) untuk bantuan renovasi sekolah, pembangunan sarana ibadah, dan bangunan pendukung lainnya yang berada di MTs.S. Al Muhtadin, di Dusun Muara Sikabaluan, Desa Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara, Kab. Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Jumat (05/01/2024).    Penandatanganan dilakukan oleh Dr. dr. Yusrie Dianne Jurnalis, Sp.A (K) mewakili MER-C selaku Pembina MER-C Sumatera Barat, dengan Ustadz Bayu Pringadi selaku Pembina YAPISMEN. Selain sarana ibadah (musala) dan renovasi sekolah, MER-C juga akan membangun fasilitas pendukung lainya seperti posko kesehatan serta rumah singgah, yang akan digunakan menjadi pusat kegiatan kemanusiaan MER-C di wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. *Latar Belakang Program Bantuan Mentawai* Presidium MER-C Ir. Faried Thalib mengatakan, program bantuan ke Mentawai dibuka saat terjadi gempa tahun 2007. “Program ini cukup panjang perjalanannya. Jadi 2007 ada gempa kita coba membantu. Itu gempa yang cukup dahsyat ya. Setelah itu tsunami tahun 2010, kita berbulan-bulan di wilayah Pariaman, di Koto Tinggi. Kita siapkan rumah sebanyak puluhan unit kemudian merenovasi masjid, memperbaiki sekolahan, madrasah, puskesmas. Saya sendiri ketika itu tiga sampai empat bulan bolak-balik ke wilayah itu,” ujarnya. Faried mengatakan, gempa di Mentawai ini cukup sering terjadi. Potensi gempa di Kepulauan Mentawai bersumber dari zona megathrust maupun pada zona sesar Mentawai. “Akhirnya MER-C mulai fokus ke sana dan tim relawan sudah beberapa kali melakukan pengobatan untuk yang terdampak sampai ke daerah-daerah terpencil. Tim relawan datang berkala dan saat itu tidak punya tempat. Untuk posko bekerjasama dengan penduduk atau puskesmas setempat. Kemudian donasi untuk Mentawai masih dibuka dan kami masih terus aktifkan MER-C cabang Padang,” katanya. “Akhirnya sebelum pandemi, sekitar tahun 2018 kami mulai memikirkan bantuan yang nantinya bisa berkelanjutan dan berkepanjangan. Apakah itu rumah ibadah, puskesmas atau tempat-tempat pendidikan,” tutur Faried. Sampai tahun 2023, ia mengatakan MER-C sudah mulai aktif dimana sebelumnya fokus terpecah ke beberapa isu dan program internasional. Kemudian diputuskan untuk mengirimkan relawan ke Mentawai selama hampir dua pekan untuk meninjau lokasi pembangunan. “Kita kirim dua orang, Khoirul Mustofa dan Rohmat, relawan yang memang sudah berpengalaman untuk melakukan survei dan mencari lokasi pembangunan. Setelah sampai di Mentawai dan meninjau sejumlah lokasi, akhirnya diputuskan dibangun di Desa Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara, Kab. Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, di atas tanah wakaf seluas 5.000 m². *Target Pembangunan dan Renovasi* “Kondisi bangunan sekolah saat ini sangat memprihatinkan. Kalau kata tim konstruksi, ini sudah stadium empat. Hampir roboh,” ujarnya. Lebih lanjut ia menjelaskan, MER-C akan merenovasi bangunan sekolah yang berada di atas lahan wakaf, membangun musala di lahan tersebut seluas 150 m², lalu rumah singgah dengan luas lahan sekitar 150 m², dan juga pembangunan posko kesehatan dengan luas lahan sekitar 100 m². “Kita sepakat untuk membangun dari kayu karena ini yang paling ideal. Selain harganya cukup murah, ketika ada gempa juga lebih elastis dan lebih tahan,” ungkapnya. Faried memperkirakan total biaya pembangunan ini sekitar 1 miliar rupiah. Ia juga mengatakan, saat ini para relawan di divisi konstruksi sudah bersiap dan sedang menunggu tahap pengerjaan kayu yang diperkirakan selesai dalam waktu 45 hari, terhitung sejak MOU ditandatangani.  “Targetnya pembangunan musala dapat segera selesai sehingga bisa digunakan pada bulan Ramadhan. Kami ingin segera selesai karena dari pihak pengurus sekolah juga merasa sangat bersyukur dan terharu, sebab sejak 20 tahun berdiri belum pernah ada perbaikan. Namun nanti kita lihat lagi perkembangannya,” tambahnya.   Donasi untuk Misi Kemanusiaan Mentawai dapat disalurkan melalui:BSI, 3032000922Atas nama:Medical Emergency Rescue Committee Konfirmasi donasi dapat melalui Call Center MER-C (0811990176) dengan mengirimkan bukti transfer dan nama donatur.  

MER-C Hadiri Peresmian Puskesmas Pembantu (Pustu) Mahameru, Fasilitas Kesehatan bagi Penyintas Semeru

Pemerintah Daerah Kabupaten Lumajang meresmikan Puskemas Pembantu (Pustu) Mahameru, sebuah fasilitas kesehatan yang dibangun di Kawasan Relokasi Bumi Semeru Damai (BSD), Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Kamis (26/1/2023).    Salah satu Presidium MER-C, dr. Henry Hidayatullah, MSi turut hadir menyaksikan acara peresmian Pustu Mahameru yang sudah mulai dibuka untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi warga penyintas Semeru di wilayah ini. Sekretaris Daerah Kabupaten Lumajang, Agus Triyono menyampaikan bahwa Pustu Mahameru menjadi salah satu fasilitas yang sangat dibutuhkan masyarakat penyitas erupsi Gunung Semeru. Dengan total 1.951 KK akan bermukim di BSD, fasilitas untuk masyarakat haruslah memadai. Dipredikasi hingga saat ini, ada sekitar 6.000 orang sudah menempati hunian relokasi.  Agus juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, yang berpartisipasi dalam pembangunan Pustu Mahameru yang merupakan fasilitas pelayanan kesehatan di lingkungan BSD. MER-C hadir sebagai salah satu Lembaga yang turut berpartisipasi dalam program ini. Dengan donasi dari masyarakat Indonesia, MER-C menyumbangkan bantuan satu unit ambulans untuk melengkapi pelayanan Puskesmas Pembantu (Pustu) Mahameru. Bantuan telah diterima secara langsung oleh Wakil Bupati Lumajang Indah Amperawati didampingi jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang, bertempat di Kantor Bupati Lumajang, Kamis/5 Juli 2022 lalu. Sementara itu, Presidium MER-C, Henry Hidayatullah berharap bantuan ambulans yang diberikan C dapat bermanfaat bagi masyarakat yang ada di tempat relokasi,” ujar Henry.

Yayasan Pendidikan Daya Dutika Cenderawasih Kemenlu RI Serahkan Donasi untuk Cianjur melalui MER-C

Sejumlah perwakilan guru dan siswa-siswi serta Pengurus Yayasan Pendidikan Daya Dutika Cenderawasih (YPDDC) Kementerian Luar Negeri RI menyerahkan donasi bagi korban gempa bumi Cianjur melalui MER-C, Kamis/22 Desember 2022.    Donasi sebesar total 15 juta rupiah diserahkan oleh Rikha Indah Sari, SPd selaku Ketua Pengurus YPDDC kepada Luly Larissa Agiel, selaku Ketua Divisi Kampanye dan Penggalangan Dana MER-C. YPDDC adalah sekolah-sekolah yang berdiri di atas lahan Kementerian Luar Negeri RI mulai tingkat SD, SMP, dan SMA yang seluruhnya berjumlah enam sekolah. YPDDC terdapat di dua lokasi, yaitu Jakarta Selatan dan Pondok Aren, Tangerang Selatan.  Rikha menjelaskan bahwa donasi untuk korban gempa bumi di Cianjur dikumpulkan atas inisiatif bersama pasca terjadinya musibah bencana dahsyat tersebut.  “Kami menggalang dana dari siswa-siswi SD, SMP, SMA Cenderawasih. Kemudian karena kami biasa posting di media sosial kami, ada beberapa kawan dari KBRI dan kawan-kawan komunitas yang ikut berdonasi. Dalam waktu singkat terkumpul sejumlah nilai. Donasi kami salurkan internal sendiri secara langsung dan juga ke eksternal melalui MER-C,” papar Rikha.    Menurutnya, penyaluran donasi bekerjasama dengan pihak luar merupakan terobosan baru bagi YPDDC, karena biasanya mereka menyalurkan sendiri donasi yang ada. “Ini merupakan sebuah terobosan baru bagi kami. Kami rasa lebih terstruktur dan lebih amanah apabila bekerjasama dengan lembaga sosial yang lain, seperti MER-C. Hal ini agar amanah donator bisa disampaikan dengan baik. Apalagi donasi bukan berasal dari internal saja, namun ada juga donasi dari eksternal, sehingga pertanggung jawaban kepada para donator bisa lebih jelas. Sehingga dimasa yang akan datang bisa diberikan kepercayaan lagi. Itu sebetulnya tujuan utama dari Cenderawasih sendiri,” jelas Rikha. Ia juga berharap kolaborasi YPDDC dan MER-C bisa terus berlanjut, tidak hanya di Cianjur, namun juga di tempat-tempat lainnya.  “Saya rasa potensi kami cukup untuk membuat itu. Jika ada potensi kenapa tidak dimanfaatkan untuk kebaikan. Selain itu, kegiatan ini juga dalam rangka memberikan pendidikan empati kepada anak-anak. Salah satu programnya adalah penggalangan dana sosial untuk orang-orang yang membutuhkan. Supaya dari mereka sendiri OSIS yang berinisiatif mengumpulkan,” lanjutnya.    YPDDC juga memilih untuk mengunjungi dan menyerahkan secara langsung donasi ke Kantor Pusat MER-C di bilangan Senen, Jakarta Pusat dengan mengajak perwakilan siswa-siswi SD, SMP maupun SMA agar para siswa mendapatkan pembelajaran. “Kami harap dengan kegiatan ini, anak-anak bisa melihat kerja-kerja baik dari relawan MER-C dan memberikan inspirasi kepada mereka. Inspirasi harus kita tanamkan sejak kecil,” tambahnya.   Merespon bencana gempa bumi di Cianjur, MER-C telah menurunkan sebanyak 6 tim medis dengan melibatkan sedikitnya 48 relawan untuk membantu korban gempa bumi di sana. Sementara jumlah pasien yang mendapatkan layanan pengobatan baik di posko Kesehatan MER-C maupun melalui program mobile clinic mencapai 821 orang. Dalam rangka menyalurkan amanah donatur, MER-C akan terus melanjutkan misi kemanusiaan untuk Cianjur baik melalui program medis maupun bantuan lainnya sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Paguyuban Daksinapati UI Serahkan Donasi untuk Cianjur melalui MER-C

Alumni penghuni asrama Daksinapati yang tergabung dalam Paguyuban Daksinapati Universitas Indonesia (PDUI) menyerahkan donasi untuk korban bencana gempa bumi Cianjur melalui Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Rabu/30 November 2022. Donasi diserahkan oleh perwakilan pengurus PDUI, yaitu Drs. Des Alwi, M.Phil., selaku Sekretaris dan dr. Imron Khazim, MS, SpOk selaku Pengurus Bidang Kesehatan PDUI. Donasi diterima secara langsung oleh dr. Arief Rachman, SpRad, selaku Presidium MER-C dan disaksikan oleh jajaran Presidium lainnya, yaitu dr. Yogi Prabowo, SpOT(K), dr. Henry Hidayatullah, MSi dan Ir. Faried Thalib serta sejumlah pengurus MER-C. “Donasi berjumlah total Rp 43.725.000,- dikumpulkan dari para anggota PDUI yang merupakan alumni penghuni asrama Daksinapati UI Namun ada juga titipan dari luar anggota,” ujar Des Alwi. Daksinapati merupakan asrama mahasiswa UI khusus putra pada tahun 1953 – 1990 yang berada di Kompleks Kampus UI Rawamangun. Asrama Daksinapati diresmikan mantan Presiden RI pertama, Ir. Soekarno pada tahun 1953. Mewakili pengurus dan anggota Daksinapati, Imron Khazim menjelaskan alasan menitipkan Amanah donasi untuk bencana gempa bumi Cianjur kepada MER-C. “Semua qodarullah. Kami bertemu dengan senior kami yang juga Ketua PDUI saat ini, Dr. H. Wahidin Halim, mantan Gubernur Banten yang menyarankan untuk ke MER-C saja. Kami sepakat ke MER-C. Pertama, menyambung silaturahim sesama alumni dan membangun emotional kami kembali karena Alm dr. Joserizal Jurnalis, aktifis kemanusiaan MER-C juga merupakan alumni asrama Daksinapati UI. MER-C juga paham lapangan dan memiliki reputasi yang sudah tidak diragukan,” jelas Imron. “Donasi berasal dari anggota PDUI yang beragam karena penghuni asrama Daksinapati UI juga berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, dari berbagai agama, etnis, namun semuanya percaya ke MER-C,” imbuhnya. Untuk penyaluran donasi, Imron mengatakan bahwa mereka menyerahkan sepenuhnya kepada MER-C. “Kami menyerahkan kepada MER-C yang insya Allah amanah dan tahu persis ini untuk apa dan bagaimana. Harapan kami semoga donasi ini dapat bermanfaat,” lanjutnya. Ia juga berharap donasi ini bukan yang terakhir, namun bisa berkelanjutan, tidak hanya pada fase emergency response namun juga pada fase recovery. “Apabila ada informasi kebutuhan lain di Cianjur agar bisa di share kepada kami dan menjadi masukan bagi kami sehingga mungkin bisa dikembangkan menjadi kegiatan yang sifatnya tidak hanya berkaitan dengan medis pada fase tanggap darurat tapi juga pada fase recovery. Mungkin kami atau ada anggota kami yang bisa membantu dan berpartisipasi jangka panjang,” tambah Imron. Mewakili MER-C, dr. Henry Hidayatullah, MSi menyampaikan ucapan terima kasih atas donasi dan kepercayaan dari PDUI. Menurutnya, donasi yang diberikan akan sangat bermanfaat untuk membantu korban bencana gempa bumi di Cianjur.

Dr Ben: MER-C Kedepankan Jihad Profesional Dalam Menjalankan Misi Kemanusiaannya

Jakarta, PJMI – Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad, menyampaikan MER-C mengedepankan kasih sayang, pengabdian pada profesi dan kemanusiaan, juga solidaritas umat dalam menjalankan setiap misi kemanusiaannya. Dia menyatakan, sebagaimana idealisme kemanusiaan yang menjadi pemantik lahirnya MER-C, dalam keanggotaannya ditanamkan ideologi bahwa setiap relawan harus mempunyai sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela, dan mobilitas tinggi. Untuk itu, MER-C menjadi organisasi yang diterima oleh semua komunitas dan pihak yang berkonflik maupun saat ada bencana karena MER-C mengusung landasan kemanusiaan yang menjadikannya profesional dan berdiri di semua komunitas. “Kami bersama para relawan mempunyai spirit perjuangan dengan satu semangat bersama berjihad secara profesional dalam bidang medis dan kemanusiaan,” kata Sarbini saat menjadi narasumber Diskusi Dwi Mingguan bertema “Respon MER-C terhadap Bencana Kemanusiaan di Berbagai Belahan Dunia” di Kantor Sekretariat Barisan Nusantara, Jatinegara, Jakarta, Rabu (23/11) malam. Diskusi Publik Dwi Mingguan ini merupakan kolaborasi Barisan Nusantara (BN) dengan Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) dan sudah masuk edisi kelima, yang dimoderatori oleh Wakil Ketua PJMI, Gunawan MY. Menurut dr Ben sapaan dr Sarbini Abdul Murad,  MER-C yang sudah memasuki usia ke-23 tahun pada 14 Agustus 2022, dapat terus berkiprah bagi kemanusiaan baik di dalam negeri maupun luar negeri, karena memegang prinsip dan idealisme tersebut yang bermuara pada keikhlasan dan ketulusan memenuhi panggilan jiwa untuk kemanusiaan. Dokter Ben sendiri selama menjadi relawan sejak berdirinya MER-C, tak cuma mengabdi di berbagai daerah bencana, baik di tanah air maupun negara lain. Dia juga pernah bertugas di empat negara yang sedang berperang, yaitu Afghanistan (2002), Irak (2003), Lebanon (2006), dan Palestina (2009). “MER-C telah melaksanakan ribuan misi kemanusiaan bencana alam, perang dan konflik, baik dalam negeri maupun luar negeri. Tidak memandang siapapun atau pihak yang harus diberi pertolongan,” tegasnya. Dalam menjalankan misi kemanusiaannya, lanjut dr Ben, MER-C mengutamakan pertolongan medis kegawatdaruratan di wilayah terdampak bencana atau konflik yang belum tersentuh bantuan dan sangat membutuhkan. “Dalam misi kemanusiaan gempa Cianjur, saat ini Tim MER-C akan terus melakukan mobile clinic untuk menyisiri wilayah-wilayah terdampak gempa yang belum terjangkau atau masih minim bantuan medis,” jelasnya. Update Misi Kemanusiaan Gempa Cianjur Dalam kesempatan itu, Ketua Presidium MER-C mengupdate misi kemanusiaan pada korban gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat. Dr Ben menjelaskan, Tim relawan medis MER-C memberi pengobatan di salah satu lokasi terdampak gempa terparah di Kabupaten Cianjur, tepatnya di Desa Gasol, Kecamatan Cugenang sejak Selasa (22/11). Menurut data sementara, Desa Gasol merupakan wilayah dengan jumlah warga meninggal terbanyak, yaitu sebanyak 62 orang, akibat gempa yang mengguncang Kabupaten Cianjur M 5,6 , Senin (21/11). Meski hari yang sudah mulai gelap, Tim MER-C tetap menyisiri posko-posko pengungsian yang ada di desa Gasol, tepatnya di RT 01, 02, 03 RW 04. Jumlah warga yang mengungsi di titik ini mencapai 400 jiwa. “Dengan penerangan seadanya, Tim MER-C memeriksa satu-persatu warga korban gempa yang mengeluhkan kondisi kesehatannya dan memberikan pengobatan,” jelasnya. Jumlah total pasien yang diobati pada hari Selasa itu mencapai 43 orang. Pasien terdiri dari 32 dewasa, 4 remaja, 1 anak-anak, 1 ibu hamil, dan 5 lansia. Tim MER-C juga melakukan perawatan luka pada warga yang mengalami luka akibat terkena reruntuhan atau menginjak sesuatu yang tajam saat panik berlari menyelamatkan diri ketika gempa mengguncang. Sementara itu Sekjen Barisan Nusantara (BN) Dr. Suryadi Nomi, menyampaikan kegiatan kolaborasi BN dengan PJMI melalui pelaksanaan diskusi publik dwi mingguan yang digelar seriap hari Rabu malam ini diharapkan terus menjadi trendsetter isu-isu yang dapat mencerahkan masyarakat. “Diskusi kali ini dengan tema kebencanaan memang sudah direncakan satu bulan sebelumnya, namun dengan adanya gempa Cianjur ini tema menjadi aktual,” ujarnya. Ketua PJMI Ismail Lutan, mengatakan, diskusi ini banyak memberikan manfaat terutama meningkatkan literasi kebencanaan. “Kita mengharapkan kerja sama PJMI dengan MER-C bersama Barisan Nusantara dapat terjalin lebih erat. Dengan momen pelaksanaan pelatihan jurnalisme kebencanaan,” pungkasnya.(RS)

Dengan Penerangan Seadanya, Tim MER-C Obati Warga Korban Gempa Cianjur

Tim Medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) beri pengobatan di salah satu lokasi terdampak gempa terparah di Kabupaten Cianjur, tepatnya di Desa Gasol. Kec Cugenang, Selasa/22 November 2022. Menurut data sementara, desa Gasol merupakan wilayah dengan jumlah warga meninggal terbanyak, yaitu sebanyak 62 orang, akibat gempa yang mengguncang Kab. Cianjur, Senin/21 November 2022.   Meski hari yang sudah mulai gelap, Tim MER-C tetap menyisiri posko-posko pengungsian yang ada di desa Gasol, tepatnya di RT 01, 02, 03 RW 04. Jumlah warga yang mengungsi di titik ini mencapai 400 jiwa.  Dengan penerangan seadanya, Tim MER-C memeriksa satu-persatu warga korban gempa yang mengeluhkan kondisi kesehatannya dan memberikan pengobatan.  Jumlah total pasien yang diobati pada hari Selasa/22 November 2022 mencapai 43 orang. Pasien terdiri dari 32 dewasa, 4 remaja, 1 anak-anak, 1 ibu hamil, dan 5 lansia. Tim MER-C juga melakukan perawatan luka pada warga yang mengalami luka akibat terkena reruntuhan atau menginjak sesuatu yang tajam saat panik berlari menyelamatkan diri ketika gempa mengguncang. Tim MER-C akan terus melakukan mobile clinic untuk menyisiri wilayah-wilayah terdampak gempa yang belum terjangkau atau masih minim bantuan medis. Bantuan & Donasi dapat disalurkan melalui Rekening Amanah Kemanusiaan MER-C: BCA, 686.0099339 BSI, 701.5658.899 a/n. Medical Emergency Rescue Committee Salam, www.mer-c.org

MER-C Kerahkan Tim Bedah dan Medis Bantu Korban Gempa Cianjur

Indonesia Kembali berduka. Gempa bumi berkekuatan 5,6 SR mengguncang Cianjur, Jawa Barat pada Senin/21 November 2022 sekitar pukul 13.21 waktu setempat. Data sementara menyebutkan jumlah korban jiwa akibat gempa yang berpusat di daratan dengan kedalaman 10 km diperkirakan sudah mencapai angka 162 orang dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah seiring masih banyak warga yang tertimpa reruntuhan bangunan menunggu proses evakuasi. Merespon bencana tersebut, Selasa pagi ini/22 November 2022, MER-C telah menurunkan dua tim relawannya untuk membantu korban gempa di Cianjur. Tim Pertama berjumlah tiga relawan yang terdiri dari Dokter Spesialis Bedah Orthopedi dan Traumatology, Dokter Spesialis Bedah Syaraf dan juga Insinyur. Tim akan melakukan assessment kebutuhan bedah, medis dan juga konstruksi di wilayah terdampak gempa. Tim kedua telah menyusul berangkat ke Cianjur pada hari ini, Selasa (22/11) pukul 10 tadi pagi. Tim terdiri dari lima relawan, yaitu dua dokter umum, satu perawat bedah dan dua logistic. Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad mengatakan bahwa mempertimbangkan dampak gempa yang cukup besar, maka MER-C mempersiapkan Tim Medis lanjutan dan juga Tim Bedah. “Karakteristik bencana gempa adalah banyaknya korban-korban yang mengalami patah tulang akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Ini spesifikasi lembaga MER-C. Kami cukup banyak mempunyai relawan di bidang bedah, khususnya bedah orthopedi. Apabila diperlukan berdasarkan assessment tim awal ini, kami siap mengerahkan Tim Bedah MER-C,” ujar Sarbini. Sementara itu, Tim MER-C di Kantor Pusat sedang mempersiapkan peralatan dan perlengkapan bedah untuk membantu korban gempa yang memerlukan tindakan operasi. #PrayforCianjurBantuan & Donasi dapat disalurkan melalui Rekening Amanah Kemanusiaan MER-C:BCA, 686.0099339BSI, 701.5658.899a/n. Medical Emergency Rescue Committee Salam,www.mer-c.orgCall Center : 0811990176

Gempa 5,6 SR Guncang Cianjur, MER-C Siapkan Tim Medis

Gempa bumi berkekuatan 5,6 SR menguncang Cianjur, Jawa Barat, Senin/21 November 2022 sekitar pukul 13.21 waktu setempat. Getaran gempa terasa kuat hingga di DKI Jakarta dan sekitarnya. Data sementara dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan korban meninggal mencapai 56 jiwa dan sebanyak 700 lainnya mengalami luka-luka.  Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah seiring banyaknya bangunan yang rusak diakibatkan oleh gempa dengan kedalaman 10 km. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan himbauan agar masyarakat yang berada di dalam ruangan untuk keluar terlebih dahulu karena adanya potensi gempa susulan. Pasca gempa mengguncang, MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Indonesia segera berkoordinasi membentuk tim relawan medisnya dan mempersiapkan bantuan obat-obatan serta alat kesehatan yang diperlukan untuk turut memberikan bantuan medis bagi para korban. Semoga saudara-saudara kita di Cianjur, khususnya para korban dan keluarganya diberikan perlindungan dan kekuatan menghadapi musibah ini. #PrayforCianjur Bantuan & Donasi dapat disalurkan melalui Rekening Amanah Kemanusiaan MER-C:BCA, 686.0099339BSI, 701.5658.899a/n. Medical Emergency Rescue Committee Salam,www.mer-c.orgCall Center : 0811990176

Bupati KLU Resmikan Masjid Silaturahim di Wilayah Pasca Gempa

Bupati Kabupaten Lombok Utara (KLU), H. Djohan Sjamsu SH, meresmikan bantuan masjid yang berada di SMPN 3 Kayangan, desa Gumantar, kec. Kayangan, Rabu/12 Oktober 2022. Masjid yang diberi nama Masjid Silaturahim dibangun atas donasi dari masyarakat Indonesia bagi korban gempa bumi Lombok yang diterima oleh MER-C (Medical Emergency Rescue Committee). Berbagai bantuan medis berupa pengiriman tim secara bergelombang, obat-obatan, bantuan logistik sudah disalurkan oleh MER-C saat awal bencana. Sisa donasi yang ada kini ditunaikan oleh MER-C dalam bentuk pembangunan sarana umum yang diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi warga terdampak gempa di KLU, NTB. Bupati KLU menyampaikan rasa syukur atas bantuan yang diberikan dan mengajak guru dan siswa mewujudkan rasa syukur dengan memakmurkan masjid ini agar amal jariyah para donatur bisa mengalir. “Terima kasih kepada saudara-saudara saya dari MER-C yang telah membangun masjid yang cukup indah ini, tinggal kita bersyukur terutama masyarakat sekitar dan warga sekolah di sini dengan memanfaatkan maksimal. Pertama, kita pelihara keramaiannya dengan beribadah supaya amaliah para donatur dan saudara-saudara MER-C bisa terus mengalir. Kedua, pelihara kebersihannya sebagai rumah ibadah,” ujar H. Djohan Sjamsu SH dalam sambutannya. Kepala Sekolah SMPN 3 Kayangan, Ahmad Maulidi, juga mengucapkan terima kasih dan rasa syukur atas bantuan ini karena sudah lama menanti tempat yang bisa digunakan untuk keperluan ibadah anak-anak didik dan para guru. Sementara itu, MER-C yang diwakili oleh dr. AD Irma Ramdhani selaku Ketua MER-C Cabang Mataram menyampaikan bahwa pembangunan masjid ini dalam rangka menunaikan amanah donasi dari masyarakat Indonesia. Ia juga menyampaikan pesan Presidium MER-C agar masjid yang diberi nama masjid Silaturahim dapat menjadi perekat persatuan umat. “Masjid ini diberi nama Silaturahim agar menjadi perekat persaturan umat. Umat jangan ada pengkotakan yang membuat rapuh persatuan. Kami berharap masjid senantiasa dimakmurkan dengan berbagai aktifitas ibadah baik oleh warga sekolah maupun warga sekitar,” ujar dr. AD. Irma. Masjid Silaturahim dibangun sejak 3 bulan lalu, tepatnya mulai tanggal 1 Juli 2022, sehari setelah acara peletakan batu pertama. Pembangunan dilakukan oleh relawan dari Divisi Konstruksi yang sudah berpengalaman membangun Rumah Sakit Indonesia di wilayah perang dan konflik dunia. Berdiri di atas lahan seluas 200 meter persegi, bangunan masjid memiliki luas 135 meter persegi dengan daya tampung mencapai 160 orang. Kubah masjid didatangkan dari Tulung Agung (Jawa Timur), pusat pembuat kubah yang biasa menerima pesanan dari seluruh Indonesia. Material kubah terbuat dari galvalum yang kedap air dan anti petir. Sementara ubin ruang utama masjid menggunakan granit ukuran 60 x 60 cm. Masjid juga sudah dilengkapi oleh pengeras suara atas dan bawah, lalu toilet dan tempat wudhu yang tersedia untuk laki-laki dan perempuan serta groundtank air dan toren air kapasitas 1.000 liter. Air khususnya air bersih untuk wudhu dan keperluan sehari-hari memang menjadi kendala utama yang dihadapi sekolah dan warga desa selama ini. Warga biasanya mengandalkan air tampungan dari saluran irigasi yang kurang bersih dan jadwalnya tidak teratur. Jika ingin air bersih, maka harus membeli atau berbayar. “Mengebor hingga kedalaman 100 meter pun belum tentu dapat air,” ujar Nur Ikhwan, Site Manager pembanguan masjid Silaturahim. “Alhamdulillah di akhir-akhir masa pembangunan, Allah berikan jalan. Kami mendapat akses air dari pegunungan. Setelah mendapat izin dari pengelola air, kami membeli dan nyambung pipa hingga ke groundtank sekolah dan masjid. Alhamdulillah air bersih sekarang sudah ada untuk dimanfaatkan warga sekolah dan warga desa,” lanjutnya.Selain Bupati, peresmian masjid turut dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan KLU, Camat Kayangan, Kapolsek Kayangan, Kepala Desa Gumantar, Toga Toma sekitar, Kepala Sekolah dan jajaran guru SMPN 3 Kayangan, Pengurus MER-C Cabang Mataram dan relawan Divisi Konstruksi MER-C.

Kisah Pembangunan Masjid di Lombok:Sulitnya Mencari Sumber Air

Ir. Nur Ikhwan Abadi dan Tim tidak dapat menyembunyikan rasa haru dan bahagia melihat air bersih mengalir mengisi ground tank yang berada di halaman sekolah dimana masjid yang sedang dibangun oleh Divisi Konstruksi MER-C tengah dibangun. “Kami sangat terharu, sampai meneteskan air mata saking senangnya ada air. Pihak sekolah juga bersyukur, setelah sekian lama permasalahan air akhirnya bisa teratasi. Baru kali ini air bening, air bersih bisa masuk ke dalam sekolah,” ucap Nur Ikhwan, Site Manager Pembangunan Masjid di Lombok. Air memang menjadi satu kendala di lokasi pembangunan masjid -bantuan dari masyarakat Indonesia melalui MER-C-, yang terletak di SMP 3 Kayangan, desa Gumantar, kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), NTB. Sejak dulu, baik sekolah SMP 3 Kayangan beserta masyarakat warga desa, kendala kesehariannya adalah air yang sangat sulit. Kebanyakan warga desa mengandalkan beberapa sumber air yang berasal dari saluran irigasi, namun airnya sangat terbatas, tidak layak konsumsi dan jadwalnya tidak teratur. “Sumber air pertama berjarak 2,5 km dari lokasi masjid. Air ini yang sebelumnya dimanfaatkan tim dan warga sekitar untuk keperluan pekerjaan pembangunan dan keperluan sehari-hari. Karena air irigasi, selain untuk tanaman, persawahan dsb, juga dimanfaatkan warga untuk minum ternak, mencuci, dsb,” ujar Nur Ikhwan. “Di awal kami agak kesulitan beradaptasi dengan air ini, hampir semua mengalami gatal-gatal di kulit karena memang sumbernya dari irigasi. Kendala lainnya adalah jadwal pengalirannya yang kurang diperhatikan, kadang rebutan hingga ada kejadian pengrusakan pipa-pipa sehingga hampir beberapa waktu air tidak bisa masuk ke desa ini,” tambahnya. Sumber air ke-2 menurut Nur Ikhwan, berasal dari arah barat. Namun, lagi-lagi kendalanya adalah pengaturan atau jadwalnya pengalirannya yang kurang diperhatikan oleh pengurus. Kemudian timbul ide dari Tim untuk melakukan pengeboran guna mencari sumber air bersih bagi keperluan masjid, sekolah dan warga sekitar. Dari informasi yang didapat, ada 2 perusahaan yang biasa melakukan pengeboran di daerah Gumantar, asalnya dari Mataram. “Baik perusahaan bor pertama maupun kedua mengatakan bahwa daerah Gumantar adalah daerah yang sulit untuk mencari air. Kedalaman bor harus minimal 100 m ke bawah, baru kemungkinan ada air, itupun terkadang tidak ada.,” papar relawan yang pernah bertugas di Jalur Gaza – Palestina tersebut. “Harga yang ditawarkan pun cukup fantastis, mencapai hampir 200 juta rupiah Mereka akan mengebor hingga kedalaman 110 m, namun tidak menjamin sepenuhnya akan ada air, kalaupun ada air, debitnya sangat sedikit. Sehingga kalau dipaksakan, jika tidak ada, maka akan sia-sia,” jelasnya. Tidak putus asa, relawan asal Lampung ini bersama Tim terus mencari alternatif sumber air lainnya. Ada sumber air dari PAM, namun pihak sekolah agak keberatan karena biaya operasional sekolah yang minim, sehingga pihak sekolah khawatir akan sulit nanti ke depannya untuk membayar biaya air PAM. Alterhatif ini pun tidak dipilih. Akhirnya Tim mendapat informasi bahwa ada satu pipa lagi yang diurus secara lebih baik, yaitu sambungan pipa dari gunung. Jadi airnya benar-benar dari sumber mata air di gunung. Awalnya, Tim ingin memasang dan mempunyai pipa air sendiri dari gunung. Tapi setelah dihitung-hitung jaraknya lumayan jauh, yaitu 4 – 5 km dari gunung, bisa habis ratusan juta juga. Akhirnya setelah meminta arahan dan berdiskusi dengan MER-C Pusat Jakarta, diputuskan untuk menyambung dari pipa terdekat milik warga yang sudah ada. Jaraknya kurang lebih 200 m dari ground tank sekolah/masjid. “Bersama pihak sekolah, Tim MER-C lebih dahulu menuemui pengurus sumber air gunung, baik pengurus bagian hulu, tengah dan hilir. Kami duduk bersama dan meminta untuk bisa menyambungkan pipa. Alhamdulillah pengurus menyetujui. Kami pun meminta semacam jaminan dari pengurus agar air ini bisa masuk ke dalam sekolah sehingga bisa dimanfaatkan baik untuk sekolah, masjid dan warga sekitar. Akhirnya dibuat surat pernyataan yang ditanda tangani bersama antara pihak pengurus, pihak sekolah, dan kami dari MER-C,” ungkap Nur Ikhwan yang pernah memimpin pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State/Rohingya, Myanmar. Setelah adanya izin, Tim membeli pipa-pipa. Kemudian bersama warga sekitar dan anak-anak sekolah, Tim bergotong royong memasang dan menyambung pipa. Sementara itu, ground tank sekolah yang tadinya pecah, lumayan hancur dan lumpurnya tebal karena lama tidak digunakan, juga bersama-sama dibersihkan dan diperbaiki dengan menambahkan adukan beton, kawat, diaci dan diberikan waterproof agar tidak bocor. “Sudah beberapa hari ini kita coba isi ground tank. Alhamdulillah, air mengalir lancar dan deras, sehingga untuk memenuhi groud tank dengan panjang 6 m, lebar 3,7 m, dan kedalaman 1,8 m, dalam 2- 3 jam sudah bisa terisi penuh,” ucap Nur Ikhwan penuh rasa syukur. “Intinya kita yang banyak air harus benar-benar bersyukur, daerah lainnya di Indonesia mungkin hanya menggali 8 – 10 m sudah mendapat air. Kalau di sini, Subhanallah, air sebagai sumber kehidupan sangat sulit didapat. Kami sempat membeli air di awal-awal pembangunan, menampung air irigasi bahkan air hujan dengan membuat kolam penampungan dari terpal. Air sekecil apapun tetap kami tampung karena sangat berharga,” kenang Nur Ikhwan. “Mari bersama-sama kita bersyukur kepada Allah atas nikmat air yang luar biasa, karena tanpa air kita tidak bisa hidup. Kami juga menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas sumbangan dan bantuan dari semua pihak sehingga air yang dibutuhkan untuk sekolah, masjid dan warga sekitar bisa terlaksana. Mudah-mudahan menjadi amal jariyah yang akan mendapat ganjaran besar dari Allah karena sudah menyediakan air bagi kebutuhan masyarakat dan umat manusia,” pungkasnya. Sementara itu, proses pembangunan masjid di Lombok sudah mencapai 90% lebih, ditargetkan minggu pertama Oktober bisa selesai, minggu berikutnya masjid bisa resmikan dan diserah terimakan untuk dimanfaatkan bagi warga sekolah dan masyarakat setempat.

Silahkan bertanya?