MER-C Kirimkan Tim ke Manado

Jakarta – Empat relawan MER-C dikirimkan ke Manado untuk memberi bantuan medis bagi warga korban banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang wilayah ini. Relawan yang dikirimkan semua medis terdiri dari dokter & dokter muda yang berasal dari Makassar, Jakarta dan Mataram. Di Manado, Tim akan berkoordinasi dengan instansi terkait kebencanaan dan kesehatan serta mendatangi wilayah-wilayah yang terkena dampak bencana terparah yang masih membutuhkan bantuan kesehatan. “Lama misi dijadwalkan satu minggu, namun hal ini akan menyesuaikan dengan kondisi di lapangan dan hasil assessment teman-teman tim,” ujar dr. Arief Rachman, salah satu Presidium MER-C. Bantuan untuk korban bencana alam Manado dapat disalurkan melalui rekening amanah kemanusiaan MER-C: BCA, Cab Kwitang, 686.0099339 BSM, Cab Salemba, 701.5658899 an. Medical Emergency Rescue Committee
MER-C Medan Buka Posko Penerimaan Bantuan Bencana Sinabung

Medan – Salam Kemanusiaan. Seiring kita melakukan aktivitas hari ini, kami dari MER-C Medan mengajak kita semua untuk turut bersimpati dan sambung rasa kepada saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah di sekitar Gunung Sinabung. Mari kita doakan dengan sepenuh hati kepada Tuhan semesta alam, agar kiranya bencana ini segera usai dan Sinabung kondusif kembali. Mari pula kita salurkan bantuan Logistik & Medis kepada para pengungsi. Mari kita advokasi bersama kepada pihak pemerintah mulai dari pusat hingga daerah, untuk melakukan langkah-langkah penanganan bencana yang lebih komprehensif, termasuk melakukan upaya relokasi penduduk. Kita lihat hari ini terdapat lebih dari 25.000 jiwa pengungsi, jika 1 jiwa membutuhkan konsumsi sekitar Rp 5.000 – 10.000 per hari, maka sehari dibutuhkan Rp 125 – 250 juta per harinya. Doa, harapan, dan kerja kita semua membantu nyawa dan kualitas hidup saudara-saudara kita. Mari membantu dan selamatkanlah sesama manusia, karena pada hakikatnya itulah tujuan kehidupan manusia. MER-C Medan telah berkoordinasi dengan MER-C Indonesia untuk kesiapsiagaan pengiriman Tim Bedah jika terjadi gempa vulkanik yang lebih besar. Juga kami bersama dengan seluruh relawan mahasiswa FK, membuka posko penerimaan bantuan bencana, dalam bentuk uang tunai, bahan pangan, dan medis. Posko Utama : Kantor MER-C Medan : Jl. Setiabudi Kompleks Ruko Milala Blok C-6 contact person : Ruslan (085362976538) BBM MER-C Medan pin 28C45767 Rek. Donasi Kemanusiaan : Bank Syariah Mandiri, Rek. 7019895167, Atas nama MER-C Medan Contact Person di beberapa Kampus Kesehatan di Sumatera Utara: CP: FK USU – M. Naufal (085270922694) CP: FK UISU – Al Munawarah Yani (085270191155) CP: FK UISU – Al Manar Mustawa (081396303202) CP: FK UMSU – Zulfadli (085297383067) CP: Poltekkes Kemenkes RI – Syarif (082369153320) (Dr. Rahmad Gunawan/Sekretaris Umum MER-C Cabang Medan)
5 Relawan MER-C Mulai Layani Kesehatan Pengungsi Sinabung

Medan – Selasa subuh ini (14/1), MER-C Medan memberangkatkan 5 relawannya yang terdiri dari 2 dokter, 2 perawat, dan 1 relawan non medis ke lokasi bencana erupsi Sinabung. Ini adalah tim ke-5 yang telah dikirimkan MER-C Cabang Medan ke gunung yang terletak di Kabupaten Karo. Saat menuju Sinabung, ambulans yang dikendarai Tim tiba-tiba mogok di Sibolangit. Dengan pertolongan warga sekitar, tidak berapa lama kendaraan operasional MER-C Cabang Medan ini dapat melanjutkan pemberian bantuan medis kepada para pengungsi korban erupsi. Setibanya di lokasi, tim langsung mencari titik pengungsian yang masih minim layanan kesehatan. Berdasarkan informasi yang diterima tim, total pengungsi saat ini disemua titik pengungsian terdapat lebih dari 25 ribu jiwa, yang tersebar di 30 titik pengungsian. Sampai dengan Selasa siang, Tim MER-C Medan telah memberikan pengobatan di dua titik pengungsian, yaitu Rumah Kabanjahe dan Masjid Taqwa Kabanjahe. Jumlah pasien terdiri dari 70 orang dari total 200 orang pengungsi yang ada. Selain melakukan pengobatan,tim juga menyerahkan bantuan berupa bahan makanan berupa beras. Ketua MER-C Cabang Medan, dr. Ahmad Handayani mengingatkan anggota timnya agar senantiasa berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan dan minuman selama di lokasi bencana. Hal ini dikarenakan erupsi dapat mencemarkan sumber air dan tanah. “Sebisa mungkin minum air mineral dan makan yang higienis,” tuturnya. Dr. Ahmad Handayani juga berpesan kepada anggotanya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar menjaga higienitas dengan baik walau dengan sumber air dan makanan seadanya.
MER-C Siaga Banjir Jakarta

Jakarta – Hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak Sabtu malam (11/1) hingga Senin pagi (13/1) telah mengakibatkan bencana banjir di sejumlah wilayah. MER-C sebagai lembaga medis, telah menyiagakan relawannya khususnya relawan medis untuk mengantisipasi penyakit-penyakit yang biasanya bermunculan pasca banjir. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Tim MER-C akan menyusuri dan mencari wilayah banjir yang belum atau masih minim bantuan medis. Bantuan untuk korban bencana banjir Jakarta dapat disalurkan melalui rekening donasi amanah Kemanusiaan MER-C sbb: BCA, 686.0099339 BSM, 701.5658899 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee
MER-C Cabang Medan Turunkan Tim ke-5 Untuk Korban Sinabung

Medan – “Bapak/Ibu Penasehat, relawan, sahabat MER-C. Kami sampaikan bahwa hari ini (Senin, 13 Januari 2014), InsyaAllah MER-C akan memberangkatkan tim medis untuk ke 5 kalinya dalam rangka memberikan pertolongan medis bencana erupsi Gunung Sinabung. Tim terdiri dari 1 orang dokter, 2 perawat, dan 2 paramedis, dan masih membuka kesempatan seluas-luasnya kepada saudara-saudara dan sahabat-sahabat kami khususnya dokter / perawat / paramedic dan rekan-rekan mahasiswa kesehatan yang ingin turut berpartisipasi, mengingat hari Selasa adalah hari Libur nasional,” demikian isi pesan singkat dr. Ahmad Handayani, Ketua MER-C Cabang Medan yang diterima MER-C Pusat pagi ini. Masih dalam pesan yang sama, dr. Ahmad Handayani menyampaikan bahwa sebaran info ini bukan untuk membesarkan nama organisasi, atau untuk menyebutkan bahwa MER-C adalah organisasi yang paling peduli, namun pesan ini ada untuk menyampaikan ajakan dan menggelorakan semangat kepedulian kita kepada saudara-saudara kita di sekitar gunung Sinabung yang saat ini sedang ditimpa kesulitan dan kesedihan. Lebih lanjut katanya, “Kami sadari bahwa MER-C Medan sendiri masih jauh dari optimal untuk memberikan bantuan, untuk itu kami harapkan dukungan, kami mohonkan bantuan, dan kami pasrahkan semua upaya ini semata-mata mengharap ridho Ilahi.” Bagi Bapak/Ibu yang ingin memberikan donasi, MER-C cabang Medan menerima donasi dalam bentuk bahan pangan, uang tunai, dan obat-obatan untuk disalurkan langsung kepada para pengungsi. Untuk informasi lebih lengkap dapat menghubungi Kantor MER-C Cabang Medan : Alamat : Jl. Setiabudi Kompleks Ruko Milala Blok C-6 Contact Person : Ruslan (085362976538)/Sekretaris Eksekutif MER-C Cabang Medan Pin BB : 28C45767 Rek. Donasi : Bank Syariah Mandiri, No. Rek. 7019895167, atas nama MER-C Cab. Medan
DOH Filipina Apresiasi Kinerja Tim Bedah MER-C

Cebu, Filipina – DOH atau Department of Health of the Philippines dan sejumlah NGO asing dari berbagai negara menyampaikan rasa salut dan apresiasi yang besar bagi kinerja Tim Bedah MER-C. Hal ini disampaikan pada saat rapat koordinasi yang diadakan DOH Filipina, Selasa (3/12) di kantor DOH, Cebu City. Turut hadir tiga relawan MER-C pada rapat tersebut untuk memberikan laporan kegiatan tim. Ketiga relawan tersebut adalah dr. Abdul Mughni, SpB KBD, dr. Nurul Qomaruzzaman, SpOT dan dr. Dany Kurniadi Ramdhan, SpBS. “Kami tidak menyangka diberi applause (tepuk tangan) dan salut dari semua hadirin seperti Unicef, Japanese Army, dll sesaat setelah dr. Abdul Mughni Ketua Tim MER-C memberikan laporan,” ungkap dr. Nurul Qomaruzzaman yang juga merupakan Wakil Ketua Tim MER-C untuk Filipina. Lebih lanjut relawan yang berprofesi sebagai ahli bedah tulang ini memaparkan bahwa sejak awal peserta rapat yang lain menyampaikan bahwa di Medellin dan sejumlah wilayah di Cebu Utara yang dilanda topan belum ada bantuan medis dan warga yang sakit belum tertangani. Padahal, menurutnya lagi, Tim MER-C sudah menjangkau seluruh daerah yang disebutkan tadi. “Kami sudah melayani sekitar 1.670 pasien rawat jalan melalui program mobile clinic dan telah melakukan 12 kali operasi mayor di seluruh radius North District Cebu sampai ke pulau terjauh Kinatarcan,” tambahnya. Paparan inilah yang membuat para hadirin salut dan bertepuk tangan karena apa yang telah dilakukan Tim MER-C menjawab semua permasalahan dan keluhan yang semenjak tadi dibicarakan, yakni belum adanya bantuan medis di Medellin. Ungkapan terima kasih juga berdatangan dari sejumlah sejawat medis Bogo Medellin Medical Center (BMMC), Rumah Sakit yang turut mengalami kerusakan akibat topan yang juga merupakan tempat Tim MER-C berposko selama menunaikan tugas kemanusiaan di Filipina. “Selamat kepada grup Merc Indonesia yang telah menjadi grup pertama dari 20 negara yang telah memberikan bantuan medis di Cebu utara, terimakasih banyak.” (Enirhtak Ocificap Atelom). “Selamat kepada seluruh grup Merc! Merupakan sebuah kehormatan bagi kami untuk dapat bekerja sama dengan anda semua. Dengan cinta dari kami bbmc Dan seluruh warga Medellin.” (LZ Hurado Iscanilla) Tim Medical Emergency Rescue Committee dari Indonesia telah membuat kami sadar bahwa kami tidak sendirian Dan andalah Salah satu Alasan mengapa kami dapat bertahan Dan bangkit kembali. Terima kasih. (Holda)
Rindu Suara Adzan

Cebu, Filipina – Ada satu hal yang sangat dirindukan sembilan relawan MER-C yang telah bertugas di Filipina selama satu minggu ini. Ya, rindu akan suara adzan yang biasanya akrab terdengar di Indonesia kala memasuki waktu-waktu shalat. Rasa rindu itu akhirnya terobati. Bukan karena pulang ke Indonesia, namun karena ketika melakukan pengobatan keliling (mobile clinic) hari itu, Sabtu (30/11), tim bertemu dengan komunitas muslim di wilayah Bogo, tepatnya di San Remigio yang ternyata letaknya tidak jauh dari posko tempat Tim MER-C tinggal selama ini. San Remigio adalah salah satu wilayah yang turut dilanda topan dahsyat Haiyan. Karena bertepatan dengan hari libur nasional di Filipina, yaitu Bonifacio Day atau hari kemenangan pahlawan lokal terhadap penjajahan di Filipina, maka pada hari ini hampir tidak ada aktifitas di semua sektor kehidupan. Meskipun demikian, Tim Bedah MER-C tetap melakukan jadwal operasi seperti biasa dan perawatan luka pada beberapa pasien post operasi. Sebelumnya Tim mobile clinic MER-C agak kesulitan untuk mencari transportasi. Menjelang sore hari tim baru bisa mendapatkan mobil untuk menuju San Remegio, Cebu. Seorang kontak person warga lokal yang memandu dan mengantarkan Tim ke sana. San Remegio merupakan perkampungan muslim yang baru berkembang pada tahun 2007 dan mungkin satu-satunya kampung muslim di pulau Cebu ini. Diawali oleh seorang muallaf yang berdakwah sendirian secara perlahan. Di desa ini, dan berkat upaya dakwahnya, meskipun belum selesai pembangunannya, tampak sudah berdiri tegak sebuah masjid dengan luas bangunan kira-kira 40×20 m persegi. Ini adalah satu-satunya masjid yang tim temui selama menunaikan misi kemanusiaan di Filipina, mesjid ini diberi nama masjid Madinah. Tim MER-C memulai pengobatan massal pada pukul 16.00 di area depan masjid dan diakhiri saat azan maghrib berkumandang, dengan jumlah pasien sebanyak 112 orang. ” Subhanallah … Kami sangat terharu bertemu dengan komunitas muslim yang hanya 10 kepala keluarga. Kami juga terharu akhirnya bisa mendengar suara adzan dan bisa sholat berjamaah dengan saudara-saudara seiman kami di sini,” ungkap Islamiyah salah satu anggota tim MER-C. Bertindak sebagai Imam sholat maghrib adalah anggota Tim MER-C, dr. M. Nurul Qomaruzzaman, SpOT. “Kami juga menyampaikan salam dari muslim Indonesia,” tambah Islamiyah, yang juga akrab disapa dengan Iis. “Rasa haru tidak bisa kami sembunyikan. Sampai yang mengantar kami kesini warga local yang nonmuslim pun juga ikut terharu,” lanjutnya. ———- Selama menunaikan misi medis di Filipina, Tim MER-C tinggal di Bogo-Medellin Medical Center, sebuah RS Advent. Tim mengoperasikan dan mengobati siapa saja korban topan Haiyan di RS ini tanpa memandang ras dan agama. Meskipun berada di lingkungan nonmuslim, namun Tim MER-C merasakan perlakuan yang luar biasa dari sejawat medis di RS dan warga lokal. “Subhanallah perlakuan saudara kita di sini luar biasa, selalu menyiapkan makanan halal bagi kami,” tutur Islamiyah
Misi Konflik Myanmar, 2012

Jakarta – Setelah menunaikan tugas kemanusiaan selama satu minggu di Myanmar, Rabu (19/9) Tim Medis MER-C alhamdulillah telah tiba dengan selamat ke tanah air. Adapun tim yang telah diberangkatkan untuk melaksanakan misi kemanusiaan di Myanmar yaitu dr.Yogi Prabowo,SpOT (Ketua Tim), dr.Zakya Yahya, SpOk, dr.Tonggo Meaty Fransisca, dr. Kresna Agung Prabowo, dan Azis Muslim (logistik). Tim medis MER-C pertama ini bertugas untuk melakukan assessment awal kondisi konflik Myanmar serta kebutuhan para korban dan pengungsi. Selain itu, tim juga mempersiapkan untuk melakukan pelayanan kesehatan kepada para pengungsi yang sakit dan menyalurkan bantuan berupa uang serta obat-obatan kepada para pengungsi di beberapa kamp pengungsi. Tiba di Myanmar Rabu (12/9), Tim MER-C dijemput oleh staf KBRI dan dibawa ke Hotel Clover. Kemudian tim MER-C berkoordinasi dengan Kedutaan Besar RI di Myanmar yaitu dengan Bpk Jumara Supriyadi. KBRI kemudian membantu Tim berkoordinasi lebih lanjut dengan Ministry of Border Myanmar dan Myanmar Red Cross. Dari hasil koordinasi tersebut Tim MER-C memperoleh izin mengunjungi Rakhine State. Namun menurut KBRI, Tim MER-C tidak mendapatkan izin melakukan pengobatan kepada para pengungsi. Tim MER-C juga berkoordinasi dan mencari informasi dengan beberapa organisasi lokal seperti Al-Azhar Institute of Myanmar dan Rakhine Relief. Diperoleh informasi bahwa situasi di Rakhine dengan ibukota Sitwee masih mencekam walaupun pertikaian sudah diredam. Di Yangon tim mempersiapkan tiket ke Sitwee dan membeli obat-obatan senilai 3500 USD dari PT Kalbe Farma cabang Yangon. Di Yangon Tim MER-C sempat mengalami kesulitan dalam menggunakan alat komunikasi. Walaupun sudah membeli nomor lokal, namun buruknya sistem telekomunikasi di Myanmar menjadi hambatan yang cukup mengganggu. Dengan koordinasi dan adanya surat izin dari Kemenlu Myanmar, pada Jum’at siang (14/9), Tim akhirnya bisa memasuki kota Sittwe (ibukota Rakhine State). Setibanya di bandara Sittwe, tampak militer dan polisi Myanmar masih berjaga ketat. Suasana ketegangan mulai terasa di sini. Pemerintah dan militer Myanmar memeriksa setiap orang yang datang. Tim dijemput oleh perwakilan dari Red Cross Myanmar, Ministry of Border dan Pejabat Militer setempat. Selama berada di Sittwe, tim juga mendapat pengawalan yang sangat ketat dari tentara Myanmar. Satu mobil pasukan dan satu mobil komando senantiasa mengiringi perjalanan Tim bahkan pada saat mengunjungi kamp-kamp pengungsian. Dari pengamatan Tim MER-C mengunjungi kamp-kamp pengungsian, konflik Myanmar sendiri terjadi antara etnis Rakhine yang beragama Budha dan etnis Rohingya yang beragama Islam. Akar permasalahan belum jelas, ada dua informasi yang berbeda (versi pemerintah Myanmar dan versi masyarakat rohingya). Namun kami melihat konflik ini terbatas pada dua etnis tersebut dan belum menjadi konflik agama karena di Yangon antara umat Budha dan umat Islam masih berdampingan. Namun demikian kami melihat konflik ini bisa berpotensi meluas apabila diprovokasi oleh pihak lain, seperti demo para biksu di Mandalay atau sikap pemerintah Myanmar yang menganggap etnis Rohingya bukan bagian dari warga Negara (stateless). Konflik terjadi dibeberapa daerah di Rakhine state, yaitu di Sitwee, Minbya, Maungdwe, dan Kyauktaw. Di Sitwee kami melihat beberapa lokasi kerusakan, sisa puing-puing rumah yang di bakar namun kami hanya bisa mengunjungi Sitwee. Situasi di Sitwee masih sangat sensitif antara kedua belah pihak, dan masih terasa penuh rasa curiga, juga terhadap orang asing yang memberikan bantuan. Militer Myanmar membatasi ruang gerak bantuan kemanusiaan, dengan alasan keamanan mereka mengawal setiap bantuan kemanusiaan yang masuk. Tidak semua organisasi kemanusiaan diperbolehkan, bahkan sangat besar penolakan masyarakat terhadap bantuan UN (PBB), kami melihat di surat kabar lokal tentang dokter UN yang ditahan. Berikut Hasil temuan tim MER-C dilapangan. Ada beberapa potensi yang dapat memicu konflik didalam memberikan bantuan yaitu ; · Ketidak netralan pihak pemerintah dan Myanmar Red Cross dalam memberikan bantuan kedua belah pihak. Hal ini terjadi karena seluruh aparat dan Myanmar Red Cross beragama Budha, sehingga mereka juga takut bila masuk ke kamp pengungsian rohingya, akibatnya pengungsi rohingya lebih terabaikan, terutama dalam pelayanan kesehatan. Ketika kami tiba di kamp rohingya tampak beberapa pasien tergeletak sakit tanpa perawatan. · Kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat Myanmar dengan pemerintah daerah Rakhine State. Hal ini terbukti walaupun pemerintah pusat Myanmar menginstruksikan harus membantu kedua belah pihak, namun tetap saja pemerintah daerah tidak atau sulit melaksanakan hal tersebut. Di lapangan tim kami sempat tidak diizinkan ke kamp rohingya · Usaha untuk membangun shelter atau perumahan dengan memindahkan lokasi juga merupakan hal yang sensitif dan dapat memicu konflik baru, karena masyarakat tidak mau meninggalkan tanah leluhur mereka yang sudah mereka diami ratusan tahun Kamp pengungsian terbagi menjadi 2 kelompok yaitu kamp pengungsian Muslim dan kamp pengungsian Budha. Tim MER-C mengunjungi 4 lokasi pengungsian, yaitu Danyawaddy Football Camp, Min Ban Camp, Danyawaddy North Camp dan Chaung Camp/Clinic Camp (Rohingya Camp). Jumlah pengungsi warga Rakhine sekitar 8.000 orang, sementara pengungsi Rohingya mencapai sekitar 18.000 orang. Kebutuhan para pengungsi yang mendesak antara lain bahan makanan, air bersih, tempat tinggal dan kesehatan (obat-obatan dan pelayanan kesehatan). Bahkan di lokasi pengungsian Rohingya Camp, Tim MER-C menjumpai beberapa pasien dewasa dan anak-anak terbaring lemah tanpa pelayanan medis. Pemerintah Myanmar dan Myanmar Red Cros mengalami kesulitan dalam memberikan bantuan kepada kedua belah pihak karena alasan keamanan. Awalnya Tim MER-C juga tidak diperbolehkan mengunjungi Rohingya Camp karena alasan yang sama. Namun setelah melobi dan mendesak Pemerintah dan Militer Myanmar bahwa MER-C harus menyampaikan amanah donasi dari rakyat Indonesia dan meyakinkan bahwa Rohingya Camp dapat menerima keberadaan Tim MER-C, akhirnya tim MER-C diizinkan memberikan pelayanan kesehatan dan memberikan donasi di Kamp Rohingya. Bahkan Tim MER-C juga memfasilitasi Pemerintah dan Myanmar Red Cross untuk melakukan pelayanan kesehatan di kedua belah pihak yang bertikai. Oleh karena itu, Tim MER-C menjadi tim medis pertama yang dapat memberikan pelayanan kesehatan di kedua belah pihak. Kurang lebih selama 1 minggu tim MER-C memberikan pelayanan kesehatan terhadap ratusan pengungsi yang sakit. Dari rencana lama misi 2 minggu, namun sesuai tujuan awal sebagai tim assessment, maka dengan berbagai pertimbangan dan kondisi di lapangan, maka misi kemanusiaan awal ini berlangsung selama 1 minggu. Guna menindaklanjuti hasil assessment Tim awal dan menyalurkan lagi amanah donasi dari rakyat Indonesia, MER-C berencana mengirimkan tim lanjutan ke Myanmar. Fokus program Tim lanjutan adalah pelayanan kesehatan, bantuan obat obatan, makanan balita dan bila memungkinkan membangun Pusat Pelayanan Kesehatan Primer khususnya yang bersifat permanen bagi para pengungsi. Kami melihat penerimaan pemerintah dan masyarakat Myanmar terhadap bantuan Indonesia cukup baik. Keberhasilan
Misi Medis Badai Haiyan, Filipina
{gallery}207:::0:0{/gallery}
Sinabung Awas, MER-C Medan Turunkan Tim Medis

Medan, Sumatera Utara – “… Saat ini status Sinabung adalah AWAS yang merupakan status tertinggi dari gunung api. MERC Medan pada subuh ini (26 November 2013) memberangkatkan tim medis terdiri dari 2 dokter dan 2 perawat untuk melakukan bantuan medis dan sekaligus penyaluran bantuan sembako, selimut dan masker. Mohon doa dan dukungan kita semua untuk misi kemanusiaan ini…bantuan yang saat ini dibutuhkan antara lain: obat-obatan, makanan siap konsumsi dan air bersih… Bantuan dalam bentuk uang dapat dikirimkan via transfer ke Bank Mandiri, Rek 1060010570243, A.n. Rinaldi Sani Nst dan konfirmasi ke CP kami. Terima kasih…CP: RINALDI 085275025138,” demikian penggalan isi pesan singkat dari relawan MER-C Cabang Medan, dr. Rinaldi Sani Nasution. Saat ini Tim MER-C Medan mengabarkan bahwa mereka sudah tiba di kota Kabanjahe, ibukota Kabupaten Karo. “Di sini suasana kondusif, dan hari ini tidak ada abu vulkanik,” ujar Ketua Tim medis MER-C Medan dr. Rahmad Gunawan. Lebih lanjut ia melaporkan bahwa kegiatan tim hari ini adalah melakukan assessment lapangan. “Saat ini ada 31 titik pengungsian dengan jumlah pengungsi 17 ribu. Tapi pengungsi ini kalau pagi beraktivitas biasa, sore malam mereka ke pengungsian,” tambahnya. Hari ini Tim MER-C akan melakukan rapat koordinasi dengan posko bencana BNPB, karena saat ini BPBD daerah Karo belum dibentuk. Dari hasil koordinasi dan pengamatan sementara Tim MER-C di lapangan, ada 3 titik di luar kota Kabanjahe yang perlu jadi perhatian, karena jauh dari akses Puskesmas atau RS, yakni di wilayah Payung, Tiga Binanga, dan Berastagi.