MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Tim MER-C Mobile Clinic ke Wilayah Banjir di Pesisir Selatan yang Terisolir

 Tim MER-C Indonesia yang berasal dari Padang dan Medan yang turun ke lokasi bencana banjir dan longsor di Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat melakukan mobile clinic untuk bisa menjangkau wilayah terdampak bencana banjir dan tanah longsor yang terisolir, Selasa/12 Maret 2024. Mobile clinic dilakukan bekerjasama dengan Tim Kesehatan dari Puskesmas setempat.   “Selain membuka pelayanan pengobatan di Posko Induk di nagari Lubuk Nyiur, Tim MER-C juga melakukan mobile clinic di nagari Teratak Tempatih. Pasien yang ditangani tercatat sebanyak 108 orang, dengan kasus penyakit tertinggi yaitu gatal gatal dan nyeri otot serta 2 perawatan luka,” Wirsal, salah satu perawat anggota Tim MER-C melaporkan. Ia memaparkan bahwa banjir yang melanda Kab. Pesisir Selatan terjadi di beberapa titik. Korban terbanyak berada di Kec. Bayang, Kec. Terusan dan Kec. Sutera. Berdasarkan informasi yang didapat dari BPBD Pesisir Selatan, jumlah korban jiwa akibat bencana ini berkisar 23 orang yang sudah teridentifikasi, 1 orang masih diidentifikasi, dan 5 orang lainnya masih dalam proses pencarian. Sementara total pasien korban bencana yang telah ditangani oleh Tim MER-C sejak Senin/11 Maret 2024 mencapai sekitar 345 orang. Hasil pantauan Tim MER-C di lapangan, masih banyak reruntuhan reruntuhan rumah warga yang belum ditangani dan infrastruktur yang terputus akibat longsoran juga masih belum ditangani. Rabu/13 Maret 2024, Tim MER-C masih terus melanjutkan kegiatan mobile clinic yang akan menelusuri desa yang terisolir, yaitu nagari Langgai kec. Sutera. Akses ke nagari atau desa ini masih sulit karena sempat terputus akibat longsoran. Listrik juga maish padam dan jaringan internet tidak ada.  

Bantu Korban Bencana Banjir dan Longsor di Pesisir Selatan Sumbar, MER-C Turunkan Tim Relawan dari Dua Cabang

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kembali mengirimkan dua Tim Relawan ke lokasi bencana banjir dan longsor di Pesisir Selatan, Sumatera Barat pada hari Ahad (10/3).  Tim MER-C Cabang Padang yang diketuai Dr. dr. Yusri Dianne Jurnalis, SpA(K) bersama Ir. Zirma Juneldi, MSi, Isra Monalisa, S.Psi dan Furqon berangkat lebih dulu menuju lokasi dengan membawa berbagai bantuan logistik dan obat-obatan. Kemudian menyusul Tim MER-C Cabang Medan yang terdiri dari 9 orang relawan medis.   Sementara Tim yang diterjunkan membawa bantuan logistik berupa air mineral, kasur matras, selimut, mantel hujan, serta bahan makanan seperti beras, mie instan, minyak goreng, gula, cabe, ikan asin, kentang, teh dan minuman serta biskuit. dr. Riri mengatakan, Kabupaten Pesisir Selatan, merupakan daerah paling terdampak, di mana posko MER-C didirikan di Nagari Lubuk Nyiur, yang sekaligus menjadi posko pengobatan. Ia menuturkan, perjalanan menuju lokasi bencana sempat terhambat macet selama tiga jam di Barung-barung, Belantai dan Duku.  “Tadi malam sudah ada yang sakit dan minta obat, kami sampai di Posko setelah maghrib. Pagi ini mulai jam 9 kami buka posko pengobatan dan pembagian logistik berupa beras, gula, minyak, biskuit, air mineral, selimut, matras untuk tidur, dan lainnya,” ujar dr. Riri.  Ia mengungkap, karena jembatan putus dan belum ada bantuan logistik dari Pemerintah, sedangkan banyak kasur dan beras warga terendam air maka bantuan bagi yang membutuhkan segera dibagikan oleh Tim MER-C. dr. Riri juga mengatakan, saat ini air PDAM mati dan jarang penduduk yang memiliki sumur jadi ketersediaan air bersih sangat terbatas.  Salah satu daerah, Lubuk Nyiur Batang Kapeh, terisolir karena akses jalan keluar hanya bisa jalan kaki atau menggunakan motor akibat jembatan putus “Air bersih sulit didapat, saat ini pemerintah fokus pembersihan lumpur dan jalan yang rusak oleh banjir,” katanya.  Selain banjir, hujan lebat juga memicu terjadi tanah longsor. BPBD setempat menyebutkan material longsor telah menghambat akses jalan. Sementara BNPB mencatat setidaknya 26 orang warga meninggal dunia 11 lainnya masih dilaporkan hilang akibat banjir dan longsor yang melanda 9 kabupaten 3 kota di Sumbar pada Kamis (7/3) lalu.  Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar, telah menetapkan masa tanggap darurat bencana banjir bandang selama 14 hari terhitung sejak 8 Maret 2024.

Tim MER-C Yogyakarta Gerak Cepat Bantu Korban Longsor di Brebes

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) cabang Yogyakarta bergerak cepat mengirimkan tim relawan ke lokasi bencana tanah longsor di Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tim berjumlah empat orang yang terdiri dari satu dokter, satu paramedis dan dua logistik yaitu; dr. Galuh Shafira Safitri, Lucia Maya Dian Pramesti, Ade Mahendra dan Eti Suci Ningrum. Tim bertugas dari hari Kamis 29 Februari – Senin 4 Maret 2024. dr. Galuh mengatakan, misi Tim MER-C kali ini adalah recovery pasca banjir dan longsor. Menjangkau daerah-daerah yang masih terisolir dan belum mendapatkan layanan kesehatan. “Pada hari Kamis 29 Februari 2024, kami telah berkoordinasi dengan BPBD kabupaten Brebes dan Puskesmas Bentar dalam rangka penempatan petugas kesehatan untuk daerah atau desa yang terisolir dan belum mendapatkan akses pelayanan kesehatan,” katanya. Tim MER-C melakukan pelayanan kesehatan di tiga desa yang terisolir yaitu Desa Gandoang, Tanggenan dan juga Pabuaran. “Kami memilih tiga lokasi ini karena memang sejak empat hari terakhir tiga desa tersebut belum mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat,” kata dr. Galuh. Ia mengungkap, beberapa kendala yang dihadapi dalam penerjunan misi kali ini  adalah masyarakat masih tersebar di beberapa lokasi sehingga menyulitkan untuk pelayanan yang terkoordinir di satu titik. Namun saat ini BPBD sudah menetapkan dua posko utama untuk pelayanan kesehatan. Kendala lainnya yaitu curah hujan yang masih tinggi di daerah Brebes sehingga pada beberapa kondisi menyulitkan untuk mengakses lokasi yang masih terisolir tersebut. Curah hujan yang tinggi juga bisa berisiko tinggi terjadi longsor susulan. “Untuk penyakit yang banyak dialami masyarakat yaitu seperti batuk, pilek, kemudian nyeri kepala, demam dan juga banyak pasien atau masyarakat yang mengalami trauma sehingga mengakibatkan kondisi tertentu seperti gula darah sangat tinggi atau tensi yang naik,” tuturnya. “Kemudian untuk beberapa kondisi seperti pasien yang seharusnya mendapatkan perawatan kesehatan atau rawat luka setiap hari, ini juga mengalami kendala sehingga kami sempat menjumpai beberapa pasien ada yang sudah muncul luka bernanah di bagian kakinya, sehingga sempat kami juga melakukan perawatan luka agar kondisi pasien bisa membaik. Tim juga melakukan pemberian obat-obatan yang dibutuhkan oleh pasien,” tambahnya. dr. Galuh lebih lanjut mengatakan, untuk tindak lanjut secepatnya dari Tim yaitu melakukan follow up kemudian melakukan pemeriksaan atau pelayanan kesehatan kembali di desa-desa yang masih terisolir serta melakukan evaluasi setiap harinya. Curah hujan yang tinggi di berbagai daerah mengakibatkan bencana alam seperti tanah longsor dan banjir. Salah satunya terjadi di Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, pada Ahad hingga Senin (25-26/2/2024). Ribuan warga terisolasi dan sedikitnya ada 210 rumah di Brebes, Jawa Tengah terisolir. Bencana tanah longsor juga memutus satu-satunya akses jalan.

Eksklusif dari Gaza Utara : Kondisi RS Indonesia Bantuan MER-C yang Terus Berjalan di Tengah Situasi Gaza Utara yang Memprihatinkan

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) terus menyalurkan bantuan masyarakat Indonesia untuk warga Gaza yang saat ini berada dalam situasi yang memprihatinkan akibat agresi Israel sejak 7 Oktober 2023. Warga Gaza saat ini mengungsi di kamp-kamp penampungan, sekolah-sekolah atau tetap bertahan di rumah mereka yang telah hancur. Mereka kekurangan air bersih, makanan, obat-obatan dan kebutuhan dasar lainya akibat tindakan Israel yang melarang masuknya bantuan ke Jalur Gaza. Di tengah situasi ini, MER-C melalui relawannya di Jalur Gaza terus membagikan bantuan secara langsung kepada para pengungsi. Saat ini dua relawan MER-C asal Indonesia Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldila Kurniawan terus melanjutkan program bantuan MER-C di Gaza bagian Selatan. Keduanya bersama para pasien dan tenaga Kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara serta warga yang berlindung di sana terpaksa mengungsi saat Pasukan Israel menyerang dan menghancurkan Rumah Sakit. Namun MER-C akhirnya kembali terhubung dengan relawan lokal yang masih bertahan di Gaza Utara, setelah sebelumnya wilayah ini terisolasi akibat serangan baik darat maupun udara yang dilakukan oleh pasukan Israel. Sejak 21 Januari 2023, MER-C juga dapat menyalurkan bantuan untuk warga Gaza Utara. MER-C terus melakukan komunikasi dengan relawan lokal di Gaza Utara, menanyakan situasi di sana serta kebutuhan apa saja yang diperlukan oleh para pengungsi. Berikut up date situasi yang disampaikan relawan lokal MER-C; 1. Bagaimana kondisi di Gaza Utara saat ini? Apakah masih ada tentara Israel dan serangan udara atau darat? Situasi di Jalur Gaza bagian utara saat ini sangat sulit untuk mendapatkan makanan. Masyarakat tidak punya uang untuk membeli bahan pangan dan stoknya sudah hampir habis dalam waktu sepekan. Selain itu, harga bahan pokok juga sangat mahal. Harga sekantong tepung adalah 1.200 shekel, satu kilo daging 120 shekel dan beras per kilo mencapai 20 shekel. Tentara Israel sendiri saat ini telah ditarik sepenuhnya dari Jalur Gaza utara, tetapi serangan udara masih sesekali terjadi. 2. Bagaimana kondisi warga dan pengungsian di Gaza Utara? Sebagian besar masyarakat di Jalur Gaza bagian utara saat ini berada di pusat-pusat penampungan dan sebagian lainnya berada di rumah-rumah. Meskipun kondisinya rusak dan hancur namun mereka tinggal di ruangan yang layak huni. Para pengungsi sangat sulit mendapatkan air dan makanan. Kondisi masyarakat di Jalur Gaza sangat tragis. Kami kesulitasn dalam segala hal. Kondisi kami di pengungsian tidak dapat digambarkan. Penyakit menyebar pada anak-anak dan kami kekurangan makanan.3. Bantuan apa saja yang sangat dibutuhkan warga Gaza di pengungsian saat ini? Semua orang di sini membutuhkan makanan, pakaian dan susu untuk bayi serta pakaian hangat 4. Apakah pembagian bantuan makanan ini dapat dilakukan setiap hari? Ya, saya berusaha menghemat lebih banyak uang, agar bisa membantu lebih banyak saudara-saudara yang mengungsi 5. Apa kendala yang dihadapi relawan lokal dalam pelaksanaan program bantuan makanan ini mulai dari pencarian bahan, pengelolaan dan pembagiannya? Karena harga beras dan daging setiap hari naik dan harga satu kilo daging hari ini mencapai 120 Shekel. Sekarung beras mencapai lebih dari 500 shekel 6. Berapa banyak paket makanan yang biasa dibagikan oleh relawan untuk warga Gaza? Saya sekarang membagikan bantuan sebanyak 500 nampan nasi, namun ini tentu tidak cukup untuk semua pengungsi yang ada di satu sekolah. 7. Kemana saja area distribusi bantuan makanan? Saya membagikan makanan di sekolah dekat RS Indonesia yang menjadi tempat pengungsian, di beberapa daerah padat penduduk di sekitar RS Indonesia dan terkadang di Kamp Jabalia. 8. Bagimana kondisi RS Indonesia saat ini? Rumah sakit Indonesia kini ditutup karena pendudukan Israel dengan sengaja menyabotase peralatan medis, menghancurkan total ruang gawat darurat, merusak lantai tiga, menghancurkan ruangan dokter, membakar generator listrik, menghancurkan saluran listrik dan air. Banyak bagian rumah sakit yang hancur, namun kini ditutup dengan pembatas tanah. Memperbaiki dan memulihkan layananya akan membutuhkan banyak usaha dan dana. 9. Bagaimana kondisi wisma indonesia (Wisma dr. Joserizal)? Bagian dalam hancur, semua barang mulai dari meja, kaca dan pintu rumah semuanya rusak. Bangunan di sebelah utara dibom, mobil rusak parah, listrik dan jaringan air telah dirusak. Hampir semuanya hancur. 10. Berapa rumah sakit yang masih bisa beroperasi di Gaza Utara? Kini terdapat dua rumah sakit yang masih beroperasi di Jalur Gaza bagian utara yaitu Rumah Sakit Kamal Adwan dan Rumah Sakit Al Awda, dengan kemampuan yang tentu sangat tidak memadai. 11. Apa pesan yang ingin disampaikan untuk rakyat Indonesia? Saya ingin menyampaikan pesan dari masyarakat Gaza dan menggambarkan situasi kami kepada Anda, saudaraku. Kami telah mencapai titik di mana Anda akan menangis karena tidak mampu memberi anak-anak Anda satu syikal pun atau menyediakan makanan untuk mereka. Sekarang di Gaza, 100 syikal tidak berarti apa-apa dan hanya cukup untuk satu kali makan karena harga yang mahal. Rakyat di Gaza sedang sekarat karena penindasan dan kesedihan. Kami sedang mengalami keadaan di mana tidak ada yang dapat memahaminya kecuali Allah. Bayangkan seorang lelaki tua mendatangi Anda dan meminta makan siang, Demi Tuhan, inilah puncak kehinaan yang telah kami capai saat ini. Tapi kami bersyukur kepada Allah atas apa yang telah menimpa kami dan kami akan diberi pahala, Insya Allah. Insya Allah kami akan berdiri teguh, bersabar dan memenangkan surga, Insya Allah.  Kami berharap syahid di jalan Allah setiap hari, kami tahu pahala kami di sisi Allah. Semoga Allah memberkati Anda karena telah berdiri di samping kami, mendukung kami dan menyediakan makanan untuk orang-orang di Gaza, dan semoga Allah menjadikan ini sebagai pahala atas perbuatan baik Anda. Apa yang terjadi di Gaza, saudaraku, adalah ujian dari Tuhan bagi seluruh dunia dan Allah akan memberi pahala kepada orang-orang yang berbuat baik, sabar, dan tabah. Insya Allah kami akan meraih kemenangan besar, betapapun hancurnya kami dan telah kehilangan orang yang kami cintai. Alhamdulillah atas segalanya. Anak-anak Gaza telah tumbuh dewasa sebelum waktunya dan kesedihan memenuhi wajah masyarakat karena kurangnya kemampuan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak dan perempuan mereka. Ya Allah, Rabb semesta alam, kasihanilah kami. Demikian up date terkini dari relawan kami di Gaza Utara. Mohon doa dari saudara-saudara sekalian semoga relawan MER-C serta seluruh warga Gaza senantiasa dalam lindungan Allah  dan semoga mereka diberi kesabaran atas apa yang sedang terjadi.

MER-C Yogyakarta Kirim Tim untuk Bantu Korban Banjir Demak

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) melalui Cabangnya di Yogyakarta mengirimkan Tim Medis untuk membantu korban banjir di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yang terjadi akibat tanggul jebol. “Dalam misi pertama ini, MER-C Yogyakarta mengirim tim medis beranggotakan 5 personel yaitu dr. Rais Aliffandy Damroni (Dokter Umum), Hapsah (perawat), Fifi Ariana Himawan, Fakhrur Razi, dan Mohammad Miftahul Alim,” kata Ketua Tim dr. Rais Aliffandy Damroni. Ia mengatakan, Tim MER-C Yogyakarta bertugas selama tiga hari, terhitung dari hari Minggu, 11 Februari 2024 – Selasa, 13 Februari 2024. Saat ini Tim MER-C berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas Gajah I untuk mengisi pos kesehatan di posko pengungsian Wilayah Kecamatan Gajah. “Kami melakukan pelayanan kesehatan personal kepada pasien yang datang ke pos kesehatan dan kami juga mendatangi pasien untuk melakukan pemeriksaan di dalam posko pengungsian. Kami bekerja sama dengan puskesmas, menyediakan obat-obatan dasar untuk warga yang memeriksakan diri,” ujar Fandy.Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini warga membutuhkan bantuan-bantuan pokok diantaranya logistik/makanan cepat saji, tikar dan selimut, serta obat- obatan. Kebutuhan lainnya adalah pembalut, pempers anak dan dewasa, MPASI, alat mandi (gayung, handuk, sabun, shampo, pasta gigi, sikat gigi), pakaian dalam, air mineral, obat dan lotion anti nyamuk serta dan sandal. “Berdasarkan pemeriksaan kami, kebanyakan pasien yang memeriksakan diri mengeluhkan nyeri kepala, nyeri otot dan gangguan kulit,” tuturnya. Hujan deras di wilayah Hulu dan debit air yang meningkat mengakibatkan beberapa tanggul di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, jebol. Banjir masih berlangsung dan terus meluas. Menurut data BPBD Terdapat 7 kecamatan dengan total 39 desa yang terdampak dengan warga terdampak sejumlah 84.012 jiwa (22.123 KK). Dari keseluruhan warga yang terdampak, 20.772 jiwa mengungsi di berbagai lokasi. Lokasi pengungsian dikondisikan di beberapa fasilitas umum seperti sekolah, gedung pertemuan, dsb. Ayo bantu kuatkan saudara kita di Demak dengan berdonasi melalui:Bank Syariah Mandiri700-499-5818a.n MER-C DIJ Narahubung:0851 5072 3118 (MER-C Yogyakarta)

Tim MER-C Berangkat ke Yordania untuk Ikuti Konferensi Pembangunan Kembali Fasilitas Kesehatan Gaza

Senin/5 Februari 2024, Tim MER-C bertolak ke Yordania untuk mengikuti konferensi terkait pembangunan kembali fasilitas kesehatan di Jalur Gaza yang hancur akibat serangan Israel.   Tim yang berangkat terdiri dari tiga orang, yaitu Presidium MER-C Dr. Arief Rachman, SpRad, Relawan MER-C Marissa Noriti, S.Farm dan Relawan MER-C Cabang Medan Kipa Jundapri, S.Kep., Ners., M.Kep. “Insyaallah kita akan berangkat ke Amman, Yordania dalam rangka menghadiri konferensi membangun kembali fasilitas kesehatan di Jalur Gaza. Jadi konferensi ini diikuti berbagai organisasi internasional yang memang mempunyai concern membangun kembali fasilitas kesehatan di Gaza,” kata Marissa, salah satu anggota Tim yang berangkat ke Yordania. Ia mengatakan, di sana Tim akan melakukan kordinasi dengan berbagai pihak, sehingga diharapkan dengan mengikuti konferensi ini bisa membantu membuka jalan pembangunan kembali Rumah Sakit Indonesia di Gaza yang juga mengalami kerusakan akibat serangan Israel. “Sebenarnya kita ada agenda lain juga yaitu koordinasi dengan berbagai NGO, serta melihat situasi di sana. Kita juga sedang mencari jalan untuk masuk ke Gaza,” ujarnya. Marissa menambahkan, Tim sendiri rencananya berada di Yordania sekitar 1- 2 minggu, kemudian akan menyusun strategi kembali apa yang akan dilakukan setelah konferensi. “Nanti kita atur strategi lagi, apakah kita langsung kembali ke Indonesia atau bagaimana, nanti kita akan putuskan,” katanya.

Tim Relawan MER-C untuk Misi Afghanistan Kembali ke Tanah Air

Tim Relawan MER-C yang telah menyelesaikan misi kemanusiaan ke Afghanistan telah kembali ke tanah air dan tiba di Jakarta pada Selasa (9/1). MER-C mengirimkan Tim Relawan ke Afghanistan sejak 14 Desember 2023 lalu untuk menjalankan misi kemanusiaan di lokasi bencana gempa bumi di Herat. Tim ini terdiri dari lima orang di antaranya; dr. Tonggo Meaty Fransisca sebagai Ketua Tim, dr. Rio Wikanjaya, SpOT, Ita Muswita (bidan) dan dua orang perawat, yaitu Ade Adrian, SKep., Ners  dan Wirsal Adiansyah Harahap, Skep., Ners. Ketua Tim Tonggo Meaty Fransisca mengaku lega telah kembali ke tanah air dan menyelesaikan misi kemanusiaan di Afghanistan serta menyalurkan bantuan  dari masyarakat Indonesia. Bantuan yang diberikan berupa obat-obatan, alat kesehatan, perlengkapan musim dingin, makanan juga pengobatan bagi warga terdampak gempa. “Kami lega karena dapat menjalankan tanggung jawab yang diberikan. Donasi masyarakat Indonesia untuk Afghanistan terutama di Herat, Alhamdulillah sudah bisa kita salurkan. Tapi yang pasti masih ada tanggung jawab memberikan hasil atau laporan untuk presidium kemudian bisa memberikan rekomendasi tentang apalagi yang bisa kita lakukan untuk masyarakat Afghanistan berikutnya,’ kata Meaty. Ia juga mengatakan, misi ini dapat terlaksana karena pemerintah Afganistan yang saat ini berada di bawah Taliban cukup terbuka dan mau bekerja sama dengan semua pihak untuk kemajuan Afghanistan.Ia berharap sepulangnya tim ke Indonesia tetap dalam keadaan baik dan sehat sehingga dapat segera menyampaikan laporan misi kemanusiaan ke Afghanistan ini. Gempa bumi berkekuatan 6.3 SR mengguncang Herat Oktober lalu menelan sekitar 4.000 korban jiwa dan sebagian besar warga mengungsi. MER-C mengirimkan Tim Relawannya untuk membantu langsung kondisi pengungsi di Herat yang terdampak gempa. Tim MER-C bertugas di Afghanistan selama hampir satu bulan. Donasi untuk Misi Kemanusiaan Afghanistan dapat disalurkan melalui:BSI : 701.5658918Atas nama:Medical Emergency Rescue Committee Konfirmasi donasi dapat melalui Call Center MER-C (0811990176) dengan mengirimkan bukti transfer dan nama donatur.

MER-C – YAPISMEN Tanda Tangani MoU Bantuan Renovasi Sekolah dan Pembanguan Sarana Ibadah di Mentawai

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menandatangani nota kesepahaman (MOU) dengan Yayasan Pembina Islam Mentawai (YAPISMEN) untuk bantuan renovasi sekolah, pembangunan sarana ibadah, dan bangunan pendukung lainnya yang berada di MTs.S. Al Muhtadin, di Dusun Muara Sikabaluan, Desa Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara, Kab. Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Jumat (05/01/2024).    Penandatanganan dilakukan oleh Dr. dr. Yusrie Dianne Jurnalis, Sp.A (K) mewakili MER-C selaku Pembina MER-C Sumatera Barat, dengan Ustadz Bayu Pringadi selaku Pembina YAPISMEN. Selain sarana ibadah (musala) dan renovasi sekolah, MER-C juga akan membangun fasilitas pendukung lainya seperti posko kesehatan serta rumah singgah, yang akan digunakan menjadi pusat kegiatan kemanusiaan MER-C di wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. *Latar Belakang Program Bantuan Mentawai* Presidium MER-C Ir. Faried Thalib mengatakan, program bantuan ke Mentawai dibuka saat terjadi gempa tahun 2007. “Program ini cukup panjang perjalanannya. Jadi 2007 ada gempa kita coba membantu. Itu gempa yang cukup dahsyat ya. Setelah itu tsunami tahun 2010, kita berbulan-bulan di wilayah Pariaman, di Koto Tinggi. Kita siapkan rumah sebanyak puluhan unit kemudian merenovasi masjid, memperbaiki sekolahan, madrasah, puskesmas. Saya sendiri ketika itu tiga sampai empat bulan bolak-balik ke wilayah itu,” ujarnya. Faried mengatakan, gempa di Mentawai ini cukup sering terjadi. Potensi gempa di Kepulauan Mentawai bersumber dari zona megathrust maupun pada zona sesar Mentawai. “Akhirnya MER-C mulai fokus ke sana dan tim relawan sudah beberapa kali melakukan pengobatan untuk yang terdampak sampai ke daerah-daerah terpencil. Tim relawan datang berkala dan saat itu tidak punya tempat. Untuk posko bekerjasama dengan penduduk atau puskesmas setempat. Kemudian donasi untuk Mentawai masih dibuka dan kami masih terus aktifkan MER-C cabang Padang,” katanya. “Akhirnya sebelum pandemi, sekitar tahun 2018 kami mulai memikirkan bantuan yang nantinya bisa berkelanjutan dan berkepanjangan. Apakah itu rumah ibadah, puskesmas atau tempat-tempat pendidikan,” tutur Faried. Sampai tahun 2023, ia mengatakan MER-C sudah mulai aktif dimana sebelumnya fokus terpecah ke beberapa isu dan program internasional. Kemudian diputuskan untuk mengirimkan relawan ke Mentawai selama hampir dua pekan untuk meninjau lokasi pembangunan. “Kita kirim dua orang, Khoirul Mustofa dan Rohmat, relawan yang memang sudah berpengalaman untuk melakukan survei dan mencari lokasi pembangunan. Setelah sampai di Mentawai dan meninjau sejumlah lokasi, akhirnya diputuskan dibangun di Desa Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara, Kab. Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, di atas tanah wakaf seluas 5.000 m². *Target Pembangunan dan Renovasi* “Kondisi bangunan sekolah saat ini sangat memprihatinkan. Kalau kata tim konstruksi, ini sudah stadium empat. Hampir roboh,” ujarnya. Lebih lanjut ia menjelaskan, MER-C akan merenovasi bangunan sekolah yang berada di atas lahan wakaf, membangun musala di lahan tersebut seluas 150 m², lalu rumah singgah dengan luas lahan sekitar 150 m², dan juga pembangunan posko kesehatan dengan luas lahan sekitar 100 m². “Kita sepakat untuk membangun dari kayu karena ini yang paling ideal. Selain harganya cukup murah, ketika ada gempa juga lebih elastis dan lebih tahan,” ungkapnya. Faried memperkirakan total biaya pembangunan ini sekitar 1 miliar rupiah. Ia juga mengatakan, saat ini para relawan di divisi konstruksi sudah bersiap dan sedang menunggu tahap pengerjaan kayu yang diperkirakan selesai dalam waktu 45 hari, terhitung sejak MOU ditandatangani.  “Targetnya pembangunan musala dapat segera selesai sehingga bisa digunakan pada bulan Ramadhan. Kami ingin segera selesai karena dari pihak pengurus sekolah juga merasa sangat bersyukur dan terharu, sebab sejak 20 tahun berdiri belum pernah ada perbaikan. Namun nanti kita lihat lagi perkembangannya,” tambahnya.   Donasi untuk Misi Kemanusiaan Mentawai dapat disalurkan melalui:BSI, 3032000922Atas nama:Medical Emergency Rescue Committee Konfirmasi donasi dapat melalui Call Center MER-C (0811990176) dengan mengirimkan bukti transfer dan nama donatur.  

Relawan MER-C: Serangan Israel Terjadi Tepat di Depan Tempat Kami Mengungsi

Relawan MER-C yang saat ini masih di Jalur Gaza, Fikri Rofiul Haq melaporkan, serangan Israel Kembali terjadi pada Senin (08/01/2024) pukul 18:21 waktu setempat atau 23:21 WIB, tepat di depan sekolah tempat mereka mengungsi, di Khan Younis, Gaza Selatan.   “Terjadi ledakan yang sangat besar hari senin 8 Januari 2024, didekat sekolahan tempat kami berada. Dan ini sangat dekat sekali dengan sekolahan tempat kami tinggal, hanya berjarak beberapa puluh meter saja atau bahkan beberapa belas meter saja, karena persis di depan tempat kami berada,” kata Fikri. Dalam video yang ia kirimkan, terlihat asap sangat tebal setelah ledakan tersebut. “Dan tadi ledakannya sangat kencang sekali, sampai menggetarkan tempat kami mengungsi dan warga yang sedang berkegiatan mereka langsung masuk ke sekolahan tempat kita berada,” tambahnya. Israel masih terus menggempur Gaza hingga dan kini sudah memasuki bulan keempat. Perang ini telah menyebabkan sedikitnya 85 persen dari 2,4 juta penduduk Gaza mengungsi, menurut angka PBB. Pasukan Israel juga pada November lalu melakukan pengepungan serta serangan ke RS Indonesia di Bait Lahiya, Gaza Utara, selama berhari-hari. Mereka memerintahkan pengosongan Rumah Sakit yang memaksa tiga relawan MER-C, 550 pasien yang masih dirawat, bersama 200 pekerja medis dan setidaknya 1.500 warga Palestina yang mencari perlindungan harus mengungsi ke Gaza Selatan.

MER-C Kembali Salurkan Bantuan Makanan untuk 1600 Pengungsi Palestina di Gaza Selatan

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) melalui relawannya di Jalur Gaza, membagikan bantuan makanan kepada 1600 pengungsi Palestina, di Khan Younis, Gaza Selatan, Jumat (05/01/2024).   Salah satu relawan MER-C di Gaza, Fikri Rofiul Haq mengatakan untuk bantuan makanan kali ini, ia bersama relawan lokal MER-C memotong 15 ekor kambing dengan total daging 300 kg dan memasak nasi sekitar 75 kg. “_In Syaa Allah_ hari ini kita akan membuat makan besar untuk pengungsi Palestina di dua sekolah dekat rumah sakit Eropa, karena memang adat warga Gaza setiap Jumat mereka makan besar bersama keluarga, kerabat ataupun teman-teman mereka,” kata Fikri. Fikri mengatakan, sebenarnya orang Gaza biasanya memakan roti. Mereka tidak makan nasi setiap hari. Hanya pada hari Jumat saja saat makan besar ini, mereka makan nasi bersama-sama.  “Namun saat peperangan ini kita makan apa adanya, karena barang yang semakin sulit serta kondisi yang sangat memprihatikan sekali,” tuturnya. Ia mengungkapkan, rencananya mereka akan memotong sapi yang biasa beratnya bisa mencapai 500, 600 kg sampai 1 ton. Namun saat ini stoknya sudah tidak tersedia lagi. Terkahir Fikri mengatakan masih mendapatkan sapi dengan berat 350 kg, yang jika memotong dua ekor sapi jadi berat totalnya bisa mencapai 700 kg.  “Namun kemarin ketika kita ke Rafah hanya ada sapi yang beratnya 180 sampai 200 kg saja. Ini sangat kecil sekali.” ujarnya. “Kita juga mencari daging sapi jadi (yang sudah dipotong) untuk 350 kg awalnya dan satu kilo daging sapi harganya 50 syekel atau 200 ribu rupiah, jadi totalnya 70 juta untuk makan besar dua sekolah tersebut. Namun kita juga tidak mendapatkan dagingnya, jadi kita ganti dengan daging kambing 15 ekor,” tambahnya. Lebih lanjut ia mengungkapkan, sebelumnya warga Gaza yang mengungsi di sekolah tersebut hanya 1.200 orang. Namun saat ini bertambah menjadi 1600 lebih termasuk korban luka-luka. Program makanan siap saji MER-C di pengungsian Jalur Gaza bagian Selatan telah berlangsung sejak 30 November 2023.  Setiap hari, dua relawan MER-C yang masih bertahan di Jalur Gaza Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldilla Kurniawan dibantu staf lokal berupaya untuk mengadakan program makanan siap saji secara rutin bagi lebih dari 1.200 pengungsi. Serangan Israel ke Jalur Gaza hingga saat ini telah menewaskan sedikitnya 22.800 warga Palestina dan melukai lebih dari 58.400 lainnya. Serangan gencar Israel telah menyebabkan kehancuran di Gaza, dengan 60% infrastruktur di daerah tersebut rusak atau hancur, dan hampir 2 juta penduduk mengungsi di tengah kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan. Fikri sendiri melaporkan, saat ini drone-drone Israel masih berlalu-lalang di langit Gaza. Suara-suara tembakan antara pejuang Palestina dan pasukan Israel juga masih sering terdengar dari perbatasan-perbatasan. Jarak antara pengungsian yang mereka tempati ke perbatasan hanya 2 km saja sehingga terdengar sangat jelas.

Silahkan bertanya?