Gempa Tapanuli Utara MER-C Kirimkan Tim Assessment

Sehubungan dengan bencana alam Gempa Bumi yang terjadi di Kabupaten Tapanuli Utara pada Tanggal 01 Oktober 2022, MER-C kirimkan relawan guna assessment pada tanggal 02 – 04 Oktober 2022, tim yang dikirimkan yaitu dr. Miftahul Masruri (Koordinator), Ns. Kipa Jundapri, M.Kep, Bima Anggara, S.Kep dan Budi. Selain assessment tim juga menyiapkan perlengkapan medis yang nantinya dapat digunakan untuk layanan kesehatan dasar. Do’akan kami bantu kami, mari kita ringankan bebang saudara kita yang tertimpa musibah. Info : MER-C Cabang Medan Jl. Setia Budi Kompleks Ruko Milala Mas No. B22, Kel. Tanjung Rejo, Kec. Medan Sunggal, Kota Medan. Telp : 0811 648 1408 FB : Relawan MER-C Medan IG : MER-C MEDAN Email : mercmedancenter@gmail.com Rekening Kemanusiaan : Bank Mandiri Syariah (BSM), 7074585099 Atas nama : MER-C Cabang Medan
Warga Antusias Datangi Posko MER-C di Mentawai
Setelah menempuh dua kali perjalanan laut selama 7,5 jam dari Muara Padang, Tim Medis MER-C yang terdiri dari empat orang relawan akhirnya sekitar pkl 15.30 tiba di wilayah pasca gempa Simalegi, Kec. Siberut Barat, Kab. Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Selasa/20 September 2022. Kedatangan Tim disambut hangat oleh Camat dan warga setempat. Bahkan mengetahui kehadiran Tim Medis, warga antusias mendatangi posko MER-C untuk berobat. “Kami disambut sangat baik oleh Bapak Camat dan diarahkan untuk menginap di salah satu rumah warga,” ujar Khoirul Mustafa, Ketua Tim MER-C untuk Misi Kemanusiaan Gempa Bumi Mentawai. “Kira-kira setengah jam kami istirahat, warga mulai berdatangan ke posko kami untuk berobat. Mereka antusias untuk mendapatkan pengobatan. Hingga pkl 18.30, kami memberikan pelayanan kesehatan bagi 36 warga,” tambah relawan yang sudah berpengalaman melakukan misi kemanusiaan di Mentawai saat gempa beberapa tahun lalu. Malamnya, Tim langsung memenuhi undangan pertemuan dengan pejabat setempat yang dihadiri oleh Camat, Sekretaris Camat, Kepala Puskesmas, Danramil, Babinkamtibmas dan beberapa staf kecamatan serta perwakilan LSM. Agenda pertemuan malam itu selain untuk menyambut kedatangan tim sekaligus membicarakan rencana kegiatan Tim Medis MER-C di Mentawai. Dari hasil pertemuan didapatkan informasi bahwa wilayah gempa terparah adalah Simalegi dan Simatalu, kecamatan Siberut Barat, Kab. Kepulauan Mentawai. Tidak ada korban jiwa di wilayah ini. Namun jumlah KK yang terdampak bencana sebanyak 553 KK atau sekitar 6.232 jiwa yang tersebar di 10 dusun. “Warga setiap hari masih mengungsi karena takut terjadi gempa susulan,” ungkap Mustafa. Relawan asal Lampung ini menyebutkan bahwa kebutuhan yang mendesak adalah pendampingan psyco social, MCK di tempat pengungsian, shelter dan pelayanan kesehatan. Untuk itu, dalam beberapa hari ke depan, Tim MER-C akan melakukan pelayanan kesehatan di Desa Simatalu. “Atas arahan pejabat setempat, kami mobile ke Dusun Bojo dan Saikoat yang berada di desa Simatalu. Kami akan terus menyisiri wilayah-wilayah terdampak gempa terparah dengan sistem mobile clinic, sesuai prinsip kerja MER-C,” imbuhnya. Tim MER-C yang terdiri dari satu dokter, satu perawat dan dua relawan non medis, bertolak ke Padang Sumbar pada hari Senin/19 September 2022. Senin pagi/20 September 2022, tim melanjutkan perjalanan melalui jalur laut dari Muara Padang menuju Sikabaluan dengan jarak tempuh selama 4,5 jam. Dari Sikabaluan, tim masih harus melanjutkan perjalanan dengan long boat selama 3 jam untuk mencapai Simalegi. Tim dijadwalkan akan bertugas selama 2 minggu untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi warga terdampak bencana gempa dan melakukan assessment kebutuhan warga korban gempa. Bantuan dan Donasi bagi Misi Kemanusiaan MER-C bagi Korban Gempa Bumi di Mentawai, Sumbar dapat disalurkan melalui: Bank Syariah Indonesia (BSI), 303.2000.922 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee Info lebih lanjut: Call Center MER-C 0811990176
Ketua DPD RI Minta Panglima TNI Fasilitasi Relawan Kemanusiaan MER-C Masuk Palestina

SIARAN PERS Ketua DPD RI ———- JAKARTA – Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, meminta Panglima TNI membantu memfasilitasi relawan kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang terhalang masuk ke Palestina melalui Mesir. Secara administrasi, relawan MER-C telah memenuhi seluruh prosedur yang diperlukan. Hanya saja, mereka terhalang oleh izin intelejen Mesir. “Ini butuh koordinasi antar intelejen negara, dalam hal ini BAIS yang memang di bawah kendali Panglima TNI. Maka saya meminta Panglima TNI untuk memfasilitasi hal ini, agar relawan MER-C dapat masuk ke Gaza dengan misi kemanusiaannya,” tutur LaNyalla saat menerima audiensi pengurus MER-C di kediaman Ketua DPD RI, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (12/6/2022). Senator asal Jawa Timur itu mengatakan segera berkoordinasi dengan Panglima TNI untuk membantu relawan kemanusiaan MER-C agar dapat membantu kesehatan rakyat Palestina, melalui rumah sakit yang didirikan dari donasi masyarakat Indonesia. “Secepatnya harus ditindaklanjuti agar masyarakat Palestina segera mendapatkan hak kesehatan yang layak. Saya sangat mendukung dan mendorong agar relawan MER-C dapat segera difasilitasi masuk ke Palestina,” tegas LaNyalla. Dalam audiensi tersebut, jajaran pengurus MER-C mengeluhkan akses yang sulit untuk dapat masuk ke Palestina melalui Mesir. “Kami meminta akses untuk dapat masuk ke Palestina. Hubungan Indonesia dan Mesir sangat bagus. Tapi pemerintah tak bisa meyakinkan Pemerintah Mesir, dalam hal ini intelejen mereka, agar relawan MER-C dapat diberikan akses masuk ke Palestina,” tutur Head of Presidium MER-C, dr Sarbini Abdul Murad. Menurutnya, bulan lalu dua orang relawannya tertahan di perbatasan Palestina-Mesir lantaran tak diberikan akses masuk oleh intelejen Mesir. “Untuk masuk ke Palestina, selain visa dan persyaratan lainnya, juga harus ada izin dari intelejen. Kami sudah berkoordinasi dengan KBRI di Mesir. Tapi tetap gagal masuk dari perbatasan karena terhambat oleh izin intelejen Mesir,” ujar Sarbini. Sementara untuk pengembangan rumah sakit di sana, mereka butuh akses yang mudah untuk masuk karena kita membawa material, tukang, tenaga ahli, dokter, relawan dan lainnya. Sebagaimana diketahui, akhir tahun 2015 rumah sakit hasil donasi masyarakat Indonesia telah beroperasi di Palestina. Setiap harinya lebih dari 500 pasien masyarakat Palestina memanfaatkan fasilitas kesehatan rumah sakit hasil donasi masyarakat Indonesia di Palestina. Karena kebutuhan fasilitas pelayanan, saat ini fasilitas ditambah dengan membangun dua lantai agar pelayanan dapat lebih maksimal. Hadir dalam kesempatan itu sejumlah pengurus MER-C, di antaranya dr Sarbini Abdul Murad, Tonggo Meaty, Ita Muswita, Luly Larissa, dr Zackya Yahya, dr Henry Hidayatullah, dr Hadiki Habib dan Rima Manzanaris.(***) *BIRO PERS, MEDIA, DAN INFORMASI LANYALLA* www.lanyallacenter.id
Tunaikan Misi Awal, Ini Komitmen dan Program Lanjutan MER-C untuk Afghanistan

Tim Advance MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) untuk Afghanistan, dr. Arief Rachman, SpRad dan dr. M. Reza Saputra, SpOT telah kembali ke tanah air usai bertugas selama kurang lebih satu pekan (20 – 26 Maret 2022) di wilayah yang tengah dilanda krisis kemanusiaan tersebut. Pengiriman Tim Advance dalam rangka memetakan isu kesehatan yang saat ini terjadi di Afghanistan, menyalurkan bantuan awal amanah dari masyarakat Indonesia dan mencanangkan program lanjutan MER-C bagi Afghanistan. Difasilitasi Tim Misi Kemanusiaan RI di Kabul melalui Kementerian Luar Negeri RI, Tim MER-C menemui tokoh-tokoh kunci Afghanistan seperti Deputy Minister of Public Health, dr. Habibullah Akhundzada, dan juga beberapa Direktur Rumah Sakit. Direktur yang ditemui diantaranya adalah Direktur Rumah Sakit Anak Indira Gandhi (Indira Gandhi Pediatric Hospital) dan Direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak Malalay (Malalay Maternity Hospital). Tim juga mengunjungi klinik Indonesia yang didedikasikan kepada masyarakat Afghanistan melalui program Indonesian – Afghanistan Friendship yang berada di Distrik Ahmad Shah Baba Mina, sekitar 20 km dari kota Qabul. Dalam kunjungan tersebut bisa kami sampaikan bahwa Afghanistan dalam perjalanannya yang sangat panjang, sekali lagi masuk dalam krisis kemanusiaan dan krisis kesehatan. Dimana saat ini Afghanistan menghadapi masalah seperti malnutrisi, stunting, ketergantungan obat dan juga kebutuhan-kebutuhan medis yang semakin menipis jumlahnya. Krisis ini juga tidak terlepas dari permasalahan keuangan dimana bantuan internasional saat ini dibekukan sehingga sudah selama 7 bulan staf kesehatan tidak menerima gaji. Oleh karena itu, kami MER-C Indonesia mengajak simpul-simpul masyarakat madani untuk mengarahkan pandangan dan memberikan perhatian kepada Afghanistan. Mari kita bersama-sama, bahu-membahu kembali untuk membantu masyarakat Afghanistan melalui krisis kemanusiaan ini. MER-C Indonesia sebagai lembaga kemanusiaan di bidang medis dalam hal ini berkomitmen untuk menyiapkan dan memberikan bantuan lebih lanjut baik berupa pengiriman tim relawan medis, obat-obatan, asistensi untuk capacity building dan bantuan lain yang diperlukan oleh masyarakat Afghanistan, agar krisis kemanusiaan ini bisa dilalui oleh masyarakat Afghanistan. Selengkapnya : https://youtu.be/eOZFinh_oG4 Dukungan dan donasi bagi Misi Kemanusiaan Afghanistan dapat disalurkan melalui: BSI – ex BSM, 701.565.8918 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee Jakarta, 1 April 2022 Medical Emergency Rescue Committee
Romo Benny Bertemu Ketua MER-C: Muhammadiyah dan NU Bisa Menjadi Penengah Konflik Palestina

Dalam rangka mendorong Kemerdekaan Palestina, Ketua Presidium MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Indonesia, Sarbini Abdul Murad terus melakukan Safari Kemanusiaan dengan berbagai elemen bangsa termasuk para tokoh lintas agama. Sebagai rangkaian dari kegiatan ini, Sarbini bertemu dengan Rohaniawan Katolik yang juga staf khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Romo Antonious Benny Susetyo, Senin/22 November 2021, di Gedung BPIP, Jakarta Pusat. Dalam pertemuan tersebut, Sarbini memperkenalkan MER-C sebagai sebuah lembaga sosial dengan misi kemanusiaan dan perdamaian yang saat ini salah satu fokusnya adalah mendorong kemerdekaan Palestina sebagai bagian dari tanggung jawab sejarah dan tanggung jawab konstitusi bangsa Indonesia. Romo Benny menyatakan dukungannya terhadap upaya MER-C. Menurutnya Palestina adalah masalah global yang harus didukung semua pihak. “Kami memberi dukungan, sikap Paus mengatakan bahwa Palestina juga harus memiliki negara sendiri dan Yerusalem sebagai kota internasional. Jadi ini sebenarnya momentum kita bersama untuk merajut kemanusiaan. Karena teman-teman Kristen juga ingin merdeka dari Israel. Ini persoalan global. Kita mendukung karena kemanusiaan dan ini harus didukung semua pihak. Ini bagian dari misi kemanusiaan yang tidak mengenal agama, suku, etnis. Kita punya komitmen yang sama bahwa Palestina harus memiliki kemerdekaan dan negeri,” tegasnya. Ia juga mengapresiasi langkah MER-C yang telah membangun Rumah Sakit Indonesia dan bantuanlainnya di Palestina. Baginya, apa yang dilakukan MER-C sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila. “Kita bersyukur karena MER-C mampu membangun solidaritas kemanusiaan itu. Ini harus didukung oleh semua umat beragama di Indonesia,” ujarnya. “Apalagi negara ini berdasarkan Pancasila, nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, mencintai Tuhan berarti mencintai manusia, sehingga yang dilakukan MER-C mengaktualisasi nilai Pancasila dalam praksis yang jelas sekali berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan yang universal,” tambahnya. Dalam pertemuan tersebut Sarbini juga menyampaikan harapannya agar Indonesia ke depan bisa memainkan peran lebih di Palestina. “Kami berharap Romo Benny dapat menyampaikan kepada Bapak Presiden Republik Indonesia, agar Indonesia bisa menjadi perekat antara Hamas, Fatah dan Kelompok-kelompok lain yang ada di Palestina,” ujar Sarbini. Menanggapi hal ini Romo Benny menyampaikan bahwa ini adalah komitmen sejak Presiden Indonesia pertama bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. “Itulah komitmen Ir. Soekarno. Siapapun Presidennya, Indonesia punya misi, yaitu Palestina harus merdeka. Itu harus kita perjuangkan bersama-sama.” Menurutnya Indonesia sudah berperanan aktif untuk Palestina. Ia juga sependapat bahwa tidak hanya pemerintahan, namun civil society seperti NU dan Muhammadiyah juga bisa berperan menjadi penengah dalam konflik Palestina. “Kita berharap organisasi NU dan Muhammdiyah bisa menjadi mediator untuk mengupayakan rekonsiliasi dan perdamaian, menghentikan kekerasan kemudian terciptanya Palestina yang merdeka. Ini bisa, saya yakin,” pungkasnya. “Safari Kemanusiaan” adalah bagian dari upaya MER-C sebagai lembaga sosial untuk kemanusiaan dan perdamaian dalam rangka mendorong kemerdekaan Palestina. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari tanggung jawab sejarah dan tanggung jawab konstitusi MER-C sebagai eleman anak bangsa untuk menguatkan dukungan bagi kemerdekaan Palestina dan mengkomunikasikan ke semua pihak bahwa persoalan Palestina bukan hanya milik umat Islam, namun merupakan masalah dan tanggung jawab bersama. Dalam rangka mendorong kemanusiaan dan perdamaian, selain di Palestina, MER-C juga telah membangun Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State (Myanmar) yang dilakukan bersama PMI (Palang Merah Indonesia) dan Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia).
Serdang Bedagai Dilanda Banjir, MER-C Siapkan Tim Medis.

Hampir sebulan Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara dilanda banjir, pada tanggal 12 November 2021 MER-C telah melaksanakan Assessment. Insha Allah MER-C Cabang Medan akan mengirimkan tim untuk melaksanakan layanan kesehatan lebih lanjut pada hari Minggu, 14 November 2021. Kebutuhan Mendesak :1. Makanan2. Selimut3. Matras4. Obat-obatan5. Tenda pengungsian Rekening Kemanusiaan :Bank Mandiri Syariah (BSM) 7074585099 Atas nama : MER-C Cabang Medan Info : MER-C Cabang MedanJl. Setia Budi Kompleks Ruko Milala Mas No. B22, Kel. Tanjung Rejo, Kec. Medan Sunggal, Kota Medan.Telp : 0811 648 1408FB : Relawan MER-C MedanIG : MER-C MEDANEmail : mercmedancenter@gmail.com
Wakil Ketua MPR RI : Konflik Palestina Bukan Perang Agama, Ini Masalah Kemanusiaan

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat menekankan bahwa apa yang terjadi di Palestina bukanlah perang agama, bukan pertikaian muslim dan non muslim, namun ini adalah masalah kemanusiaan. Ia juga mengapresiasi apa yang telah dilakukan MER-C di Palestina sebagai wujud dari pelaksanaan konsensus kebangsaan yang menjadi amanah dari para pendiri bangsa, yaitu menjaga perdamaian dunia. Hal ini disampaikannya saat menerima kunjungan Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad dan Tim di rumah dinasnya, Kamis/23 September 2021. Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 45 menit tersebut, kedua belah pihak berdiskusi mengenai masalah Palestina. Mewakili MER-C, Sarbini Abdul Murad menyampaikan progress program MER-C di wilayah Jalur Gaza serta kendala yang dihadapi saat ini yaitu masih sulitnya perizinan masuk ke Jalur Gaza untuk menindaklanjuti program pengembangan RS Indonesia di sana. Menanggapi paparan Ketua Presidium MER-C, Wakil Ketua MPR RI periode 2019 – 2024 ini mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh MER-C di Palestina yang menurutnya merupakan pelaksanaan konsensus kebangsaan dan UUD 1945 dalam rangka ikut mewujudkan perdamaian dunia. Ia juga menekankan bahwa masalah Palestina bukan pertikaian muslim dan nonmuslim, namun merupakan masalah kemanusiaan yang menjadi tanggung jawab semua. “Saya sendiri mengikuti perjalanan program MER-C di Palestina dari pembicaraan awal sejak 3-4 tahun lalu sejak saya masih di Media Grup. Saat ini ada dua saya melihat apa yang dilakukan MER-C dalam konteks kapasitas saya sekarang. Kita mengenal yang namanya konsensus kebangsaan. Salah satu yang jelas-jelas ada di dalam konsensus kebangsaan, ada dalam pembukaan UUD 1945 adalah ikut melaksanakan tercapainya perdamaian dunia. Itu tugas dan tanggung jawab kita menurut saya. Sebagai warga negara yang baik, yang memegang teguh janji-janji kita terhadap konsensus kebangsaan, yang dilakukan MER-C sesungguhnya melaksanakan betul apa yang menjadi amanah dari para founding fathers, amanah kita dan tugas kita sebagai warga negara untuk ikut menjaga terciptanya perdamaian dunia dalam konteks negara. Saya betul-betul mengapresiasi rekan-rekan semua yang tergabung di MER-C yang terpanggil untuk bergerak,” ujarnya. “Gaza bukan pertikaian muslim dan nonmuslim, ini betul-betul masalah politik. Tapi di atas itu semua saya melihat ini masalah kemanusiaan. Dengan cara kita masing-masing memiliki tugas untuk bisa mengambil peran dan tanggung jawab. Saya kira kehadiran MER-C sangat baik, membantu kita semua untuk meluruskan berbagai isu yang beredar atau terutama memberikan pemahaman sehingga kita bisa meletakkan permasalahan yang ada di Gaza Palestina ini pada konteks yang tepat. Kehadiran MER-C merepresentasikan keberadaan bangsa kita, menjalankan apa yang diamanahnya kepada kita sebagai warga negara dan juga sebagai manusia,” tambahnya. Mengenai peran pemerintah, ia juga menjelaskan bahwa Pemerintah sudah mengambil posisi dan peran, Menlu RI juga sudah aktif berbicara dan mengambil peran. Namun menurutnya, konflik Palestina bukan sebuah konflik yang sederhana, cukup kompleks dan merupakan sebuah perjuangan kemanusiaan. “Pemerintah dalam konteks politik luar negeri kita, sepanjang yang saya ketahui sudah mengambil posisi dan peran. Saya rasa Menlu kita sudah cukup aktif berbicara. Tapi kita juga tahu bahwa konflik Palestina ini bukan sebuah konflik yang sederhana, ini cukup kompleks, sekali lagi ini sebuah perjuangan kemanusiaan. Ini salah satu tugas kita semua, bukan hanya pemerintah, yaitu memberikan pemahaman yang tepat dan benar kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk bisa melihat dan menempatkan masalah Palestina sesuai konteksnya. Saya kira ini baru bisa selesai kalau memang seluruh bangsa bersama-sama bersatu menyelesaikannya,” tegasnya. Untuk itu, Lestari berharap dan mengajak agar semua pihak tidak lelah menyuarakan hal ini sehingga gerakan membela Palestina bisa lebih luas tidak terbatas sekat-sekat agama. “Marilah kita tidak lelah menyuarakan ini kepada saudara-saudara kita seluruh masyarakat Indonesia bahwa sekali lagi ini bukan perang agama, ini betul-betul murni masalah kemanusiaan, sehingga dengan demikian gerakan-gerakan untuk membela Palestina bisa kita rangkul secara lebih luas tidak terbatas sekat-sekat agama. Seluruh warga Indonesia yang memiliki perhatian dan simpati bisa terlibat. Yang kita kedepankan adalah peran kita sebagai warga dunia dan tugas kita untuk menjaga perdamaian dunia,” ujarnya. Sebelumnya pada 10 Juli 2019, Lestari Moerdijat dalam kapasitasnya saat itu sebagai Deputy Chairman Media Group telah menyerahkan donasi dari Media Group kepada MER-C sebesar Rp 6.507.911.514,- sebagai wujud dukungan untuk pembangunan tahap 2 RS Indonesia di Gaza, Palestina. Berkat dukungan dari seluruh rakyat Indonesia, pembangunan tahap dua untuk membangun lantai 3 dan 4 RS Indonesia di Gaza sudah selesai pada pertengahan tahun 2020 lalu dan kini dalam proses pengadaan alat-alat kesehatan. MER-C sejak beberapa waktu lalu telah mempersiapkan Tim relawannya untuk bertugas selanjutnya ke Gaza Palestina untuk mengawasi proses pengadaan alat kesehatan serta rencana pengembangan RS Indonesia ke depan. Namun keberangkatan Tim hingga saat ini belum bisa terlaksana karena masih terkendala izin masuk. Jakarta, 24 September 2021Medical Emergency Rescue Committee
Dubes RI untuk Afghanistan: Saya berharap MER-C Bisa Berperan Lebih Aktif Pasca Perang

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Afghanistan Dr. Ir. Arief Rachman, MM., MBA menyampaikan harapannya agar Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang sudah memulai di Afghanistan saat perang dulu, kini bisa berperan lebih aktif pasca perang. Hal ini disampaikannya saat menerima kunjungan Tim MER-C di kediamannya, 5 September 2021. “Terima kasih, suatu kehormatan berjumpa lagi dengan MER-C setelah hampir 20 tahun lalu kita berpisah di Pakistan. Saya termasuk senang pada waktu itu, karena kedatangan MER-C di daerah tugas saya di Pakistan dan saya sempat melepas MER-C saat di Pakistan,” ungkap Duta Besar RI untuk Afghanistan, Arief Rachman. “Saya berharap MER-C yang sebelumnya dulu sudah pernah memulai di Afghanistan saat perangnya, saat ini pasca perang harus lebih aktif, karena tentunya banyak bicara tentang rekonsiliasi pasca perang apalagi kaitannya dengan orang sakit, korban yang tentunya banyak dan memerlukan pemeliharaan ke depan,” tambahnya. Dalam kesempatan kunjungan silaturahim tersebut, Tim MER-C terdiri dari dr. Sarbini Abdul Murad selaku Ketua Presidium dan dr. Henry Hidayatullah selaku Presidium, keduanya merupakan relawan yang pernah bertugas dalam misi kemansnuiaan ke Afghanistan pada tahun 2001 dan 2002 silam, serta dr. Zackya Yahya, SpOk dan Rima Manzanaris (Manajer Operasional MER-C). Kepada Duta Besar RI untuk Afghanistan, Ketua Presidium MER-C menyampaikan rencana MER-C ke depan untuk Afghanistan apabila sudah terbentuk pemerintahan yang efektif di sana. Sebagai lembaga sosial kegawatdaruratan medis, MER-C akan berfokus membantu pada bidang kesehatan berupa pembangunan klinik atau Rumah Sakit Indonesia di Afghanistan. “MER-C pernah diminta oleh Afghanistan untuk membangun sarana kesehatan di sana, setelah mereka melihat kami membangun RS Indonesia di Gaza, Palestina,” ujar Sarbini. “Alm. Dr. Joserizal Jurnalis, SpOT dan Tim MER-C pernah bertemu Menlu Afghanistan dan membahas mengenai hal ini,” ucapnya. Menanggapi hal ini, Duta Besar RI untuk Afghanistan menyampaikan dukungannya kepada MER-C dalam melakukan second track diplomacy di Afghanistan. Ia juga yakin MER-C mempunyai kemampuan untuk mengubah tantangan menjadi peluang, apalagi kesehatan sangat diperlukan. “Untuk ke depan tentunya Afghanistan ini menarik buat semuanya. Tantangan-tantangan yang ada mesti disikapi untuk menjadi peluang. Salah satunya MER-C punya kemampuan untuk mengubah tantangan itu menjadi peluang, untuk menjadi satu peran atau kiprah Indonesia di Afghanistan. Kalau secara diplomasi ini disebut sebagai second track. Tidak hanya pemerintah, tapi semua pihak bisa mengambil bagian, agar diplomasi yang sudah menjadi amanat konstitusi kita betul-betul terus berkembang. Dan itu menjadi bagian dari kita sebagai bangsa Indonesia, sebagai warga negara Indonesia,” ujarnya. Duta Besar Arief Rachman menambahkan pasca perang tentunya korban-korban ada yang penyelesaiannya butuh waktu satu bulan, tiga bulan bahkan mungkin tahunan. Dan apabila MER-C membangun rumah sakit adalah yang paling tepat di daerah-daerah yang belum ada RS, sehingga peluang untuk ikut dalam kemanfaatan apalagi kesehatan bisa lebih besar. Ia berharap agar semua upaya dapat dilakukan semaksimal mungkin sehingga dapat bermanfaat bagi masa depan yang berikutnya di Afghanistan.
Perang Tak Goyahkan Tekad Bapak dan Anak Jadi Relawan di Gaza

Bekerja sebagai relawan sudah menjadi candu bagi Edy Wahyudi. Aktivitasnya selama bertahun-tahun membantu sesama ‘menular’ ke putra pertamanya, Fikri Rofi’ul Haq. Bapak dan anak sempat bersama-sama menjadi relawan di Gaza, Palestina. VOA — Edy Wahyudi sudah beberapa kali aktif menjadi relawan dan terjun dalam tim kemanusiaan ketika terbuka kesempatan ke Gaza, Palestina. Ia bergabung dengan Medical Emergency Rescue Committee, yang lebih dikenal dengan singkatannya MER-C, yang kala itu membutuhkan banyak relawan untuk pembangunan rumah sakit Indonesia di Gaza. “(Menjadi) relawan karena panggilan hati dan dalam perjalanan akhirnya kami terpanggil untuk memberi sumbangsih pemikiran, sumbangsih fisik untuk pengawasan rumah sakit Indonesia di Gaza,” ungkapnya. Edy yang sehari-hari berkecimpung dalam bisnis konsultan dan pembangunan berangkat ke Gaza pada 2011. Perannya adalah manajer proyek. Ketika pembangunan fisik rumah sakit belum tuntas pada 2014, Gaza berperang dengan Israel selama 52 hari. Edy mengenang ketakutannya kala itu. “Ya namanya orang sipil, gemetar juga lah mendengar suara bom. Kaget-kaget. Karena, waktu itu di seberang jalan masih ada lokasi pelatihan para pejuang. Sempat jatuh di situ berkali-kali, bom-bom besar dari F16, dan konstruksi rumah sakit sampai mengayun, saking dahsyatnya,” lanjutnya. Ir. Edy Wahyudi di Gaza. Pengalaman menjadi relawan dan dalam binis pembangunan mengantarnya menjadi relawan selama 10 tahun di Gaza, mengawasi pembangunan rumah sakit Indonesia. (foto: courtesy) Tidak ada pihak yang menjamin keselamatan relawan. Walaupun diliputi ketakutan dan kekhawatiran, tidak ada satupun relawan yang meminta pulang. Memang ada imbauan agar relawan keluar tetapi Edy memilih berlindung dalam bangunan setengah jadi rumah sakit. Alasannya… “Kita secara akidah bahwa mati itu tidak akan maju, tidak akan mundur. Kita tawakal saja, pasrah, karena yang kita bangun juga rumah sakit, untuk kemanusiaan,” kata Edy. Setelah beberapa hari perang tak juga usai, ia dan tim yang terdiri dari 20an relawan melanjutkan pekerjaan yang tertunda di sela-sela guncangan dan dentuman bom. Kesadaran bahwa rumah sakit akan sangat dibutuhkan, mendorong semangat kerja mereka. Rumah sakit Indonesia akhirnya tuntas. Dari rencana tiga lantai, bangunan itu menjadi lima lantai. Seiring pertambahan bangunan, masa tugas Edy bertambah. Ia terus di sana meskipun rumah sakit itu tuntas, sudah dilengkapi alat-alat medis, dan sudah diresmikan wakil presiden ketika itu, Jusuf Kalla. Setelah berada di Gaza 10 tahun, Edy, usia 51 tahun, pulang. Yang membuatnya bertahan, walaupun sempat dilanda ketakutan semasa perang? “Sederhana saja, saya ingin bermanfaat untuk orang lain,” tuturnya. Selama bertugas di Gaza, Edy sempat pulang, menemui istri dan anak-anaknya. Ia tidak menyangka, anak pertamanya Fikri Rofi’ul Haq, akan mengikuti jejaknya. Tiga pemuda Indonesia yang kini menjadi relawan MER-C di Gaza, Palestina. Fikri paling kiri. (foto: courtesy) Selepas Madrasah Aliyah, setingkat SMU, Fikri memenuhi kewajiban pondok pesantren, mengabdi pada masyarakat selama satu tahun. Setelah itu, seperti santri umumnya, Fikri mendaftar ke beberapa institusi di luar negeri untuk melanjutkan pendidikan. Ia mendaftar ke Sudan dan Mesir. Ia juga mendaftar menjadi relawan MER-C. Fikri kecewa karena tidak diterima di kedua institusi pendidikan yang diincar. “Nah, alhamdulillah-nya beberapa bulan kemudian ada berita kalau saya akan diberangkatkan (ke Gaza). Jadi, ya alhamdulillah banget. Jadi, takdir gitu yang membawa saya ke sini. Tidak pernah menyangka,” tukas Fikri. Fikri, yang ketika itu berusia 20 tahun, berangkat ke Gaza pada Februari 2020 sebelum dunia ‘lumpuh’ akibat pandemi virus corona. Di Gaza, ia sempat bertemu ayahnya. Selama beberapa bulan keduanya menjadi relawan untuk membangun rumah sakit Indonesia. Edy kembali ke Indonesia pada September 2020. Fikri Rafi’ul Haq dalam salah satu kegiatan sebagai relawan di Gaza, mengantar dan menanam pohon zaitun, salah satu sumber nafkah rakyat Palestina. (foto: courtesy) Ketakutan yang dialami Edy hampir tujuh tahun lalu dirasakan Fikri ketika Gaza dan Israel kembali terlibat perang, pertengahan Mei. “Takut banget. Hampir setiap jam kami mendengar suara roket dari pejuang Palestina. Kalau setiap malam, kami merasakan gempuran dari serangan Israel. Saat itu kami memang takut,” ujarnya. Fikri, usia 22 tahun, dan dua pemuda relawan Indonesia, tinggal di Wisma Indonesia di sebelah rumah sakit Indonesia. Mereka tidak pernah keluar selama 11 hari agresi. Itulah pertama kali mereka mengalami langsung peperangan. Serangan udara Israel menghancurkan sebuah rumah di Gaza yang menewaskan satu keluarga (foto: dok). “Apalagi waktu itu yang menjadi salah satu target adalah rumah warga yang sekarang sudah rata dengan tanah, yang hanya beberapa ratus meter dari rumah sakit. Waktu itu kami sempat keluar, melihat jendela. Memang ledakannya sangat besar sampai-sampai anginnya itu membuat kuping sakit,” kenangnya. Ketakutan dan rasa sakit tidak menggoyahkan tekad Fikri untuk bertahan di Gaza. Persis sikap ayahnya, Edy pada 2014. Ia malah berfokus menyelesaikan tugas, menyiapkan dan mendistribusi bantuan yang dipercayakan masyarakat Indonesia melalui MER-C. Ia juga memusatkan perhatian sebagai mahasiswa semester kedua pada Islamic University of Gaza. Ia bertekad baru akan pulang kalau sudah meraih sarjana. Fikri (kedua dari kanan) bersama para pemuda Indonesia yang menjadi relawan di Palestina. (foto: courtesy) Rima Manzanaris adalah manajer pelaksana MER-C di Jakarta. Sejauh ini, katanya, sudah dua bapak yang anaknya terjun juga sebagai relawan MER-C. Menurutnya, itu adalah suatu kebetulan. “Bapaknya memang relawan yang loyal, punya komitmen yang besar, dan ternyata anaknya juga punya keberanian,” puji Rima. Sebelum berangkat, kata Rima, semua relawan selalu diberi gambaran mengenai situasi di lapangan dan diingatkan bahwa mereka tidak setiap saat bisa pulang. Mereka juga diharuskan mengantongi izin orang tua. “Anak-anak ini walaupun masih muda, mereka sudah siap.” Fikiri (paling kanan) bersama anak-anak dan pemuda Gaza yang akan membantunya menanam pohon zaitun bantuan masyarakat Indonesia. (foto: courtesy) Pasca serangan bulan lalu, relawan berdatangan ke Gaza. Mereka membersihkan puing-puing ribuan rumah dan bangunan dan mencoba memperindah kembali kota di pesisir Laut Tengah itu. Fikri tentu saja ikut membantu setelah menyempatkan diri pergi ke pantai bersama pemuda setempat pasca Idul Fitri. “Kan sekarang musim panas. Juga mereka biasanya ke pantai. Istirahat habis perang inilah, ibarat kata,” ujar Fikri. Sementara Edy, yang terus menjadi relawan sepulangnya dari Gaza, merasa terpanggil untuk kembali ke Palestina. Bukan untuk menemui putranya melainkan membantu perluasan RS Indonesia. [ka/ab] Sumber : https://www.voaindonesia.com/a/perang-tak-goyahkan-tekad-bapak-dan-anak-jadi-relawan-di-gaza/5914306.html
Ramadhan di Tengah Pandemi di Gaza

Ramadhan adalah bulan mulia yang dinanti semua umat muslim di dunia, tak terkecuali umat muslim di Jalur Gaza, Palestina. Namun seperti tahun-tahun sebelumnya, warga Gaza menyambut Ramadhan kali ini masih dengan berbagai krisis kemanusiaan yang melanda akibat blokade. Harga kebutuhan pokok meningkat. Beberapa warga yang masih cukup mampu, menghias rumah-rumah mereka dengan lampion Ramadhan dan lampu-lampu tali. Dari sektor keamanan masih kondusif. Tidak ada serangan meski pesawat tempur tanpa awak milik zionis Israel masih terus beroperasi di langit Gaza selama 24 jam. Tidak hanya krisis kemanusiaan, ramadhan di Gaza juga diwarnai dengan jumlah kasus Covid-19 yang masih terus bertambah. Per tanggal 21 April 2021, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza merilis penambahan kasus baru di Gaza dalam 24 jam terakhir sebanyak 1.268 sehingga total kasus Covid-19 terkonfirmasi di Gaza sebanyak 93.910. Sementara kasus aktif 19.178, sembuh 73.924 dan sebanyak 808 meninggal dunia. Relawan MER-C di Gaza, Reza Aldilla Kurniawan menyampaikan bahwa Pemerintah Palestina di Gaza kembali menerapkan sejumlah pembatasan kepada warganya untuk menekan laju penyebaran Covid-19 di wilayah ini. Pembatasan yang diterapkan diantaranya pemberlakuan aturan jam malam untuk kendaraan bermotor selepas shalat maghrib setiap hari. Bahkan pada hari Jum’at dan Sabtu, penggunaan kendaraan bermotor dihentikan secara total. “Warga hanya boleh berkeliaran ke luar rumah tanpa kendaraan,” ujarnya. Sementara aktifitas ibadah di masjid untuk Ramadhan tahun ini masih diperbolehkan. “Pemerintah membolehkan warga sholat berjamaah di masjid dengan menerapkan protokol kesehatan, yaitu shaf berjarak, menggunakan masker dan membawa sajadah dari rumah,” ungkap Reza. Hal ini dimanfaatkan Reza dan dua relawan Indonesia lainnya untuk shalat taraweh berjamaah di masjid terdekat dengan Wisma dr. Joserizal Jurnalis, SpOT yang mereka tempati, yaitu masjid Glebo yang berjarak sekitar 200 meter dari Wisma.