MER-C Indonesia Kirimkan Tim Trauma untuk Gempa Lombok

Jakarta, Gempa terbaru yang melanda Lombok Utara (5/8/2018) menimbulkan banyak korban jiwa dan cedera, berdasarkan informasi dari MER-C Mataram yang sejak awal gempa berada di lapangan. Merespon gempa besar dengan kekuatan mencapai 7 SR ini, MER-C mengirimkan Tim Trauma dalam fase tanggap bencana. Tim pertama yang terdiri dari 3 orang dokter, 1 orang perawat dan 1 orang logistik/dokumentasi, telah bertolak dari Jakarta menuju Lombok pada Senin malam ini (6/8). Tim kedua yang merupakan tim khusus bedah dijadwalkan berangkat segera pada hari Selasa besok (7/8). Tim Bedah merupakan kerjasama antara MER-C, PABOI Jaya (Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi Indonesia) dan Fakultas Kedokteran UI. Tim medis dan bedah selanjutnya akan terus dikirimkan berdasarkan kebutuhan di lapangan. Sementara itu, kelompok relawan lain di MER-C yang tergabung dalam tim logistik sejak Minggu (5/8) terus mempersiapkan kebutuhan alat-alat medis untuk tindakan gawat darurat trauma dan operasi. MER-C for LOMBOK Ayo satukan Hati dan Tangan-tangan kita melalui Rekening : BCA: 686.0099339BSM: 701.5658.899BNI Syariah: 303.2000.922 Atas Nama : Medical Emergency Rescue Committee Info:www.mer-c.org0811990176FB : MER-C Indonesia #mercpedulilombok
MER-C FOR LOMBOK

Innalillahi wa Innailaihi rojiun MER-C Indonesia akan mengirimkan Tim Advance pada hari ini Senin dan Selasa 6 & 7 Agustus 2018 untuk MenDukung Misi Kemanusiaan yang telah dilakukan oleh MER-C cabang Mataram. Gempa terbaru di Lombok Utara menimbulkan dampak yang lebih berat lagi Sahabat,Mereka sangat membutuhkan Bantuan kita semua. Ayo satukan Hati dan Tangan-tangan kita melalui Rekening : BCA: 686.0099339BSM: 701.5658.899BNI Syariah: 303.2000.922 Atas Nama : Medical Emergency Rescue Committee Info:www.mer-c.org0811990176FB : MER-C Indonesia #mercpedulilombok
MER-C Kirim Tim Lanjutan ke Lokasi Gempa Lombok

Hari ini, Senin (30/7), MER-C melalui cabang Mataram kembali menurunkan relawan sebagai Tim lanjutan untuk membantu korban bencana gempa di Lombok. Relawan dibagi kedalam dua tim. Tim pertama terdiri dari dr. Muhammad Nauval turun bersama Tim Mahasiswa dan TBM FK Unizar. Tim berangkat sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Sementara tim kedua yang terdiri dari dr. Lalu Yan Hidayat dan dr. Denuna Enjana berangkat bersama Tim Tanggap Bencana RSUD Awet Muda Narmada dibawah naungan Dinas Kesehatan Lombok Barat. Tim ini mulai bergerak pada pukul 11.00 waktu setempat. Tujuan tim adalah wilayah terdampak gempa di Lombok Timur yaitu daerah Sembalun dan Sambelia. Bantuan dan donasi bagi korban bencana alam gempa bumi di Lombok dapat disalurkan melalui: Rekening Donasi Amanah Kemanusiaan Umum MER-C BCA, 686.0099339BSM, 701.5658.899BNI Syariah, 303.2000.922 Semua rekening atas nama :Medical Emergency Rescue Committee Bantuan dalam bentuk obat-obatan dan logistik dapat menghubungi: 1. dr. AD Irma Ramdani : 0818036146312. dr. Denuna Enjana : 089674115662 Info:www.mer-c.org0811990176FB : MER-C Indonesia
Lombok Dilanda Gempa, MER-C Kirim Relawan

Menyusul gempa berkekuatan 6,4 SR yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Minggu pagi (29/7), MER-C segera mengirimkan relawan dari MER-C Cabang Mataram untuk melakukan initial assessment ke lokasi bencana. Pada hari itu juga, sekitar pukul 14.00, relawan MER-C, dr. AD Irma Ramdhani bergabung bersama Tim Dinas Kesehatan Lombok Barat yang dipimpin oleh dr. Sapto Sutardi berangkat menuju lokasi terdampak gempa. Tim bergerak menuju Lombok Utara, tepatnya daerah Bayan untuk melakukan initial assessment (penilaian awal) bencana, guna mengetahui dan mendata secara langsung apa saja yang dibutuhkan saat ini dan mengatur rencana pengiriman bantuan selanjutnya. Tim juga membawa bantuan obat-obatan, air minum dan makanan sebagai bantuan awal untuk korban bencana. Rekening Donasi Amanah Kemanusiaan Umum : BCA, 686.0099339BSM, 701.5658.899BNI Syariah, 303.2000.922 Semua rekening atas nama :Medical Emergency Rescue Committee Info :www.mer-c.orgFB : MER-C IndonesiaCall Center : 0811990176
Tim Initial Assessment MER-C Bergerak ke Lokasi Gempa Lombok
Update bencana gempa Lombok: Sekitar pukul 14.00 MER-C melalui cabang mataram mengirimkan relawan dr. AD Irma Ramdhani bersama gabungan tim Dinas kesehatan Lombok Barat yg dipimpin oleh dr. Sapto Sutardi berangkat menuju lokasi bencana. Tim berangkat menuju lombok utara yaitu daerah bayan untuk melakukan initial assessment (penilaian awal) di lokasi bencana, untuk mencatat apa saja yang dibutuhkan saat ini dan mengatur rencana selanjutnya, tim juga membawa obat-obatan, air minum dan mie instan sebagai bantuan awal untuk korban bencana. MER-C Cabang Mataram
Cerita Relawan Medis Indonesia Bertaruh Nyawa di Jalur Gaza

tirto.id – Rumah sakit itu bernama Shifa. Letaknya berada di Gaza Tengah, Palestina. Pada halaman rumah sakit terbesar di Gaza itu, terdapat sebuah tenda yang didirikan memanjang, menutupi berbagai benda-benda hasil perang dari terik matahari. Kementerian Luar Negeri Indonesia diminta melakukan perlindungan terhadap para relawan Indonesia yang bertugas di Palestina. Benda-benda itu di antaranya tiga bangkai ambulans yang dipajang sebagai pesan kepada sejumlah relawan medis dari berbagai negara: serangan kepada pekerja kemanusiaan selalu bisa terjadi di Gaza. “Jadi dipajang juga pecahan bom, mortar yang tidak meledak, kemudian jas putih petugas medis yang terluka, beberapa foto lokasi sekolah yang kena bom, lokasi perumahan yang dihujani bom,” kata Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia Arief Rachman kepada Tirto, Kamis (7/6/2018). Arief merupakan salah satu dokter yang sempat bertugas di Gaza. Ia menjalani peran sebagai relawan kemanusiaan di daerah konflik itu pada Januari hingga awal Mei 2010. Waktu itu, ia bertugas bersama dokter spesialis penyakit dalam, dokter bedah, dan dokter bedah syaraf. Arief merupakan satu-satunya dokter umum dari MER-C yang ditugaskan ke Gaza saat itu. Arief mengatakan relawan dari berbagai negara yang hendak membantu di Gaza langsung ditempatkan di RS Shifa. Penempatan mereka diatur Kementerian Kesehatan Palestina. Dokter spesialis ditempatkan di rumah sakit yang memiliki fasilitas bedah, sementara dokter umum bertugas di unit gawat darurat (UGD). Para dokter dapat berpindah-pindah rumah sakit dalam menjalankan tugas asalkan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan Palestina. Keamanan Tenaga Medis Meski konflik bersenjata antara pejuang Palestina dan tentara Israel berkecamuk Arief merasa keamanannya tetap terjamin. Ini karena menurutnya pemerintah Palestina selalu melindungi para relawan. “Selama teman-teman mematuhi rambu-rambu yang diberikan staf dari kementerian, Insya Allah aman. Biasanya kalau memang kami mau bertugas ke RS tertentu dan perlu ke sana, biasanya akan diantar. Kemudian kalau pergi cuma sebentar, 3-4 jam, si sopir akan menunggu. Tapi kalau full shift, nanti si sopir akan menjemput,” ujar Arief. Dokter dari MER-C itu menyebut, fasilitas kesehatan di Gaza tak sebagus apa yang biasa ditemui di Indonesia. Bahkan tak ada fasilitas kesehatan setara puskesmas di sana. Namun, warga Palestina di Gaza bisa berobat gratis bila menggunakan fasilitas di klinik atau rumah sakit yang sudah bekerjasama dengan pemerintah. Meski kerap merasa aman, Arief mengaku bahwa ia juga kadang takut mendengar dentuman bom dan suara pesawat yang terbang rendah. Ia sering mendengar suara bom dari tentara Israel di beberapa lokasi yang diduga menjadi markas Pejuang Hamas. Kaget Mengetahui Nasib Pekerja Kemanusiaan Arief kaget saat mengetahui ada relawan medis di Gaza yang tewas ditembak tentara Israel. Sebab menurutnya serangan terhadap tenaga medis tak dibenarkan meski dalam kondisi perang. Hal ini sesuai isi dari Konvesi Jenewa. Pokok keempat Konvensi Jenewa menyatakan, menembaki petugas medis termasuk kejahatan perang. Dilarang keras pula menyerang rumah sakit, klinik, atau ambulans. Aturan yang sama ditegaskan kembali pada 2016 lewat Resolusi Dewan Keamanan PBB 2286 yang disponsori lebih dari 80 negara, termasuk Israel. “Diskusi saya dengan beberapa dokter di sana, hal itu [penembakan] sering terjadi di Gaza. Ambulans yang membawa korban sering ditembaki. Bahkan seorang warga di Gaza Utara bercerita, ketika perang itu ambulans tak bisa masuk untuk ambil korban. Sehingga terpaksa warga mengantar korban ke Gaza dengan kereta keledai,” kata Arief. Sepengetahuan Arief, hingga kini belum ada tenaga medis asal Indonesia yang menjadi korban di Gaza. Namun, ia berharap tak ada lagi korban baik dari warga sipil maupun pekerja kemanusiaan di Gaza. Arief berkata, peran Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk mengamankan tenaga medis dan pekerja kemanusiaan di Gaza sangat dibutuhkan. Ia meminta pemerintah melalui Kemenlu selalu memberi bantuan untuk relawan yang hendak pergi ke Gaza. Sebab tidak mudah untuk masuk ke Gaza, harus mendapat izin dari Mesir dan Israel. “Pengalaman kami, sebelum memberangkatkan tim ke Gaza selalu koordinasi dengan Kemenlu dan kedubes Indonesia di Kairo agar menyampaikan info untuk audiensi dengan kedubes Mesir. Jika ketiga [pihak] sudah beri lampu hijau, akan besar kemungkinan bisa masuk [ke Gaza],” katanya. Nasib relawan kemanusiaan di Jalur Gaza mendapat sorotan usai Razan Najjar, seorang paramedis asal Palestina meninggal. Perempuan berusia 21 tahun itu tewas karena timah panas tentara Israel bersarang di tubuhnya saat hendak menolong korban unjuk rasa, Jumat (1/6/2018). Ia ditembak di dadanya hingga peluru menembus punggung. Awalnya Razan diduga tak menyadari terkena tembakan, tapi ia mulai menangis dan berkata ‘punggungku, punggungku’ sebelum jatuh ke tanah. Proses pemakaman Razan pada Sabtu (2/6/2018) waktu setempat dihadiri ribuan warga Palestina. Para petugas media mengenakan seragam putih, berbaris dalam prosesi pemakaman. Razan Najjar menjadi perempuan kedua yang tewas di perbatasan Gaza dan Israel sejak protes massal yang dimulai pada awal Maret lalu. Perempuan pertama yang tewas adalah seorang pengunjuk rasa yang masih remaja. Ia juga menjadi warga Palestina ke-119 yang tewas sejak gelombang protes di Gaza dimulai pada Maret 2018. Data yang dikompilasi oleh Medical Aid for Palestinians (MAP) pada Oktober 2017 menunjukkan, sejak 2008 ada 145 petugas medis di Jalur Gaza yang terluka atau terbunuh oleh serangan militer Israel. Kebanyakan di antaranya berstatus sebagai sopir mobil ambulans. Pengamat Internasional dari Universitas Indonesia Yon Machmudi berpendapat, jatuhnya korban jiwa dari kalangan pekerja kemanusiaan di Gaza selama ini terjadi karena kesalahan Israel. Menurutnya, Israel tak bisa membedakan siapa saja orang yang berperan sebagai pekerja kemanusiaan dan lawannya saat di Gaza. “Ini saya kira persoalan ada di pihak Israel yang dalam beberapa hal tidak mengindahkan aturan-aturan internasional berkaitan dengan konflik dan perang,” ujar Yon. Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah UI itu menyarankan Indonesia terus menyerukan dunia internasional untuk menekan Israel. Menurutnya, harus ada sanksi dan peradilan yang digelar karena kebiasaan Israel menembak pegiat kemanusiaan atau wartawan di daerah konflik. “Karena kalau tidak ada tekanan, dan didukung dunia internasional, maka peristiwa ini akan berulang terus. Karena itu Indonesia melalui PBB atau OKI [Organisasi Konferensi Islam] harus terus mempersoalkan pelanggaran yang dilakukan Israel,” ujarnya. Yon juga menyerukan agar Indonesia berani memutus hubungan bisnis dan perdagangan dengan Israel. Menurutnya, hal itu paling mungkin dilakukan karena tak ada hubungan diplomasi resmi Indonesia dengan Israel hingga kini. Pendapat senada disampaikan pengamat internasional dari LIPI Dewi Fortuna Anwar. Eks Deputi Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) LIPI menyebut, seharusnya Indonesia tidak melakukan
MER-C Gaza Salurkan Bantuan Ramadhan dari Rakyat Indonesia

Pada tahun ini, MER-C kembali mendapat kepercayaan dari masyarakat Indonesia untuk menyalurkan bantuan Ramadhan bagi rakyat Gaza yang sedang mengalami masa sulit akibat blokade ditambah agresi Israel beberapa waktu terakhir. Bantuan Ramadhan disalurkan dalam bentuk bantuan sembako dan bantuan buka puasa bagi keluarga yatim, syuhada dan dhuafa di Jalur Gaza. “Alhamdulillah sebanyak 520 paket sembako sudah selesai kami distribusikan kepada warga yang membutuhkan khususnya di wilayah Gaza Utara dan Gaza Tengah. Paket sembako berisi beras, kurma, minyak goreng, gula, fasuliya, ful, adas dan ‘ajwah dibagikan langsung oleh para relawan MER-C di Gaza,” terang Reza, perwakilan relawan MER-C di Jalur Gaza. Reza menambahkan bahwa untuk bantuan ifthar akan dilakukan dengan mengumpulkan 1.000 anak yatim dan dhuafa untuk berbuka puasa bersama dengan relawan MER-C di Gaza. Diharapkan bantuan kali ini bisa turut memberi kebahagiaan bagi warga Gaza di bulan suci Ramadhan dan dalam menyambut hari raya Idul Fitri. Bantuan Ramadhan khususnya sembako akan terus disalurkan sesuai dengan donasi yang ada hingga menjelang hari raya Idul Fitri nanti. Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Indonesia yang sudah menyalurkan donasi untuk amanah Kemanusiaan Gaza melalui MER-C. Semoga menjadi catatan amal bagi para donatur dan mendapat balasan yang berkali lipat lebih baik dari ALLAH SWT. Aamiin yaa robbal aalamiin Dukungan dan donasi untuk Amanah Kemanusiaan Gaza, Palestina dapat disalurkan melalui : BSM, 700.290.5803BCA, 686.033.5555MANDIRI, 124.000.3753754 Semua rekening atas nama : Medical Emergency Rescue Committee Info :Website : www.mer-c.orgFB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesiaCall Center : 0811990176
Relawan Medis Jadi Target Sniper Israel

Gaza, Palestina – Relawan medis muda Palestina, Razan Al Najjar, 21 tahun, syahid akibat tembakan sniper Israel. Razan terkena tembakan di dada ketika sedang bertugas merawat warga Gaza yang terluka pada rangkaian aksi damai “Great Return March” di perbatasan Gaza, Jum’at/1 Juni 2018. Menargetkan tenaga medis adalah sebuah kejahatan perang dan pelanggaran langsung terhadap Konverensi Jenewa1949. MER-C sebagai sebuah lembaga kegawatdaruratan medis yang kerap mengirimkan relawan untuk bertugas di berbagai wilayah perang dan konflik mengecam keras tindakan brutal tentara Israel. Tenaga medis seharusnya mendapatkan perlindungan khusus ketika berusaha menyelamatkan mereka yang terluka dalam perang atau konflik. Dan dunia diam dengan kejadian ini…. Turut berduka cita sedalam-dalamnya untuk sejawat kami, Razan Al Najjar. Selamat jalan saudariku, Insya Allah Syurga menantimu. #WeStandForPalestine #FreePalestine
MER-C membuka posko kesehatan di SD Tritis Sanjaya

Jogyakarta – Sabtu, 26 Mei 2018 MER-C cabang Jogja mengirimkan tim medis ke lokasi pengungsian Balai Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. Kondisi kesehatan warga sudah tidak ditemukan keluhan. Kemudian, Tim medis MER-C Jogja beralih membuka posko kesehatan di Titik kumpul SD Tritis Sanjaya dari pukul 21.00 – 23.30 WIB. Tim MER-C Jogja melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap 49 warga. Adapun Penyakit yang paling sering dialami pengungsi adalah nyeri kepala, pusing, batuk pilek, mual, sulit BAB, demam, gatal-gatal, dan mata perih. Bersumber dari Bapak Musdi, Relawan Turgo, Jumlah data warga yang berada pada titik kumpul daerah Tritis yaitu : 1. Titik kumpul di rumah Bapak Heru dan famili Turgo Rt 01/01 Tritis Purwobinangun Hari sabtu tgl 26 mei 2018, pukul 22:51 wib, Jumlah warga keseluruhan total 64 jiwa 2. Titik kumpul SD Sanjaya tritis, purwobinangun pakem Hari sabtu tgl 26 mei 2018, pukul 21.30 wib, Jumlah yg ada di titik kumpul SD Sanjaya Tritis 101 jiwa Bahan- bahan yang dibutuhkan untuk balita, dewasa, lansia : minyak telon, pempers, pmt balita, selimut bayi, popok dan cel baby, perlak, peralatan mandi, vitamin dan obat-obatan, pakaian dalam wanita, bantal, minyak kayu putih, tolak angin Bantuan dan donasi dapat disalurkan melalui rekening kemanusiaan MER-C JogjaBSM 7004995818 Atas Nama MER-C DIJ MER-C Jogja :Jl.Kaliurang Km 6,7, Gang Timor Timur No E4B, Sono, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta Telepon/WA: 082135258145 Facebook:MER-C Jogjakarta Instagram:@merc_jogja
Peningkatan Status Gunung Merapi, MER-C Siagakan tim Medis

Jogyakarta – MER-C cabang Jogja mengirimkan tim medis ke lokasi pengungsian Balai Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Jumat (25/5/2018). Tim medis MER-C Jogja membuka posko kesehatan dari pukul 17.00 – 21.00 WIB. Tim MER-C Jogja melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap 19 orang pengungsi. Diantaranya adalah lansia 17 orang, dan anak 2 orang. Penyakit yang paling sering dialami pengungsi adalah nyeri kepala, pusing, batuk pilek, mual, sulit BAB dan demam. Hal ini kemungkinan besar terjadi akibat kondisi hidup di barak pengungsian yang penuh tekanan psikis sehingga timbul cemas yang menimbulkan ketegangan otot dan hiperaktivitas saraf. Selain itu kondisi barak yang padat pengungsi meningkatkan risiko penyakit menular seperti demam ataupun batuk dan pilek. Untuk itulah, selama terjadi peningkatan status Gunung Merapi, MER-C Jogja akan rutin membuka posko kesehatan guna membantu pencegahan dan penanggulangan penyakit pada pengungsi dan relawan terutama kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. MER-C Jogja :Jl.Kaliurang Km 6,7, Gang Timor Timur No E4B, Sono, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta Telepon/WA: 082135258145 Facebook:MER-C Jogjakarta Instagram:@merc_jogja