MER-C dan MUI Sumbar Tanda Tangani Kerja Sama Penyaluran Bantuan untuk Warga Gaza
Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menanda tangani nota kesepahaman (MoU) dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat terkait penyaluran bantuan untuk warga Palestina. MoU ini ditanda tangani oleh Ketua Presidium MER-C dr. Sarbini Abdul Murad dan Ketua Umum MUI Sumatera Barat Dr. H. Gusrizal Gazahar, Lc., M.Ag. “Amanah ini coba kita salurkan, pertama adalah untuk jangka pendek memberikan bantuan makanan dan jangka panjang kita lakukan pembanguan kembali Rumah Sakit Indonesia,” kata dr. Sarbini. *MER-C Jajaki Kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Andalas dan Dewan Dakwah Sumbar* Selain dengan MUI, dalam kesempatan kunjungan ke Sumbar dr. Sarbini juga menjajaki kerja sama dengan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas terkait beasiswa untuk dokter umum Gaza yang ingin mengambil spesialis orthopedi dan anestasi, khususnya dokter umum di Rumah Sakit Indonesia. MER-C juga menjalin kerjasama dengan Dewan Dakwah Sumbar untuk mengirimkan da’i muda ke Siberut, Mentawai, di mana MER-C memiliki program renovasi sekolah, pembangunan mushola serta posko kesehatan di sana. Da’i muda yang dikirimkan Dewan Dakwah nantinya akan dibangunkan tempat tinggal selama mereka bertugas melakukan dakwah dan mengajar di wilayah tersebut. Program renovasi sekolah, pembangunan mushola dan posko kesehatan akan dimulai setelah Hari Raya Idul Fitri 1445 H. Hal ini dikarenakan saat ini Tim MER-C masih menunggu proses pengeringan kayu yang telah dipesan yang akan digunakan sebagai bahan bangunan sarana-sarana tersebut. Kayu dipilih karena lebih kuat dan elastis, mengingat Mentawai merupakan daerah yang cukup sering diguncang gempa bumi. Sarbini berharap, rangkai kerja sama yang dilakukan MER-C ini dapat bermanfaat bagi banyak orang, bagi umat dan juga bagi Palestina.
Bupati KLU Resmikan Masjid Silaturahim di Wilayah Pasca Gempa

Bupati Kabupaten Lombok Utara (KLU), H. Djohan Sjamsu SH, meresmikan bantuan masjid yang berada di SMPN 3 Kayangan, desa Gumantar, kec. Kayangan, Rabu/12 Oktober 2022. Masjid yang diberi nama Masjid Silaturahim dibangun atas donasi dari masyarakat Indonesia bagi korban gempa bumi Lombok yang diterima oleh MER-C (Medical Emergency Rescue Committee). Berbagai bantuan medis berupa pengiriman tim secara bergelombang, obat-obatan, bantuan logistik sudah disalurkan oleh MER-C saat awal bencana. Sisa donasi yang ada kini ditunaikan oleh MER-C dalam bentuk pembangunan sarana umum yang diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi warga terdampak gempa di KLU, NTB. Bupati KLU menyampaikan rasa syukur atas bantuan yang diberikan dan mengajak guru dan siswa mewujudkan rasa syukur dengan memakmurkan masjid ini agar amal jariyah para donatur bisa mengalir. “Terima kasih kepada saudara-saudara saya dari MER-C yang telah membangun masjid yang cukup indah ini, tinggal kita bersyukur terutama masyarakat sekitar dan warga sekolah di sini dengan memanfaatkan maksimal. Pertama, kita pelihara keramaiannya dengan beribadah supaya amaliah para donatur dan saudara-saudara MER-C bisa terus mengalir. Kedua, pelihara kebersihannya sebagai rumah ibadah,” ujar H. Djohan Sjamsu SH dalam sambutannya. Kepala Sekolah SMPN 3 Kayangan, Ahmad Maulidi, juga mengucapkan terima kasih dan rasa syukur atas bantuan ini karena sudah lama menanti tempat yang bisa digunakan untuk keperluan ibadah anak-anak didik dan para guru. Sementara itu, MER-C yang diwakili oleh dr. AD Irma Ramdhani selaku Ketua MER-C Cabang Mataram menyampaikan bahwa pembangunan masjid ini dalam rangka menunaikan amanah donasi dari masyarakat Indonesia. Ia juga menyampaikan pesan Presidium MER-C agar masjid yang diberi nama masjid Silaturahim dapat menjadi perekat persatuan umat. “Masjid ini diberi nama Silaturahim agar menjadi perekat persaturan umat. Umat jangan ada pengkotakan yang membuat rapuh persatuan. Kami berharap masjid senantiasa dimakmurkan dengan berbagai aktifitas ibadah baik oleh warga sekolah maupun warga sekitar,” ujar dr. AD. Irma. Masjid Silaturahim dibangun sejak 3 bulan lalu, tepatnya mulai tanggal 1 Juli 2022, sehari setelah acara peletakan batu pertama. Pembangunan dilakukan oleh relawan dari Divisi Konstruksi yang sudah berpengalaman membangun Rumah Sakit Indonesia di wilayah perang dan konflik dunia. Berdiri di atas lahan seluas 200 meter persegi, bangunan masjid memiliki luas 135 meter persegi dengan daya tampung mencapai 160 orang. Kubah masjid didatangkan dari Tulung Agung (Jawa Timur), pusat pembuat kubah yang biasa menerima pesanan dari seluruh Indonesia. Material kubah terbuat dari galvalum yang kedap air dan anti petir. Sementara ubin ruang utama masjid menggunakan granit ukuran 60 x 60 cm. Masjid juga sudah dilengkapi oleh pengeras suara atas dan bawah, lalu toilet dan tempat wudhu yang tersedia untuk laki-laki dan perempuan serta groundtank air dan toren air kapasitas 1.000 liter. Air khususnya air bersih untuk wudhu dan keperluan sehari-hari memang menjadi kendala utama yang dihadapi sekolah dan warga desa selama ini. Warga biasanya mengandalkan air tampungan dari saluran irigasi yang kurang bersih dan jadwalnya tidak teratur. Jika ingin air bersih, maka harus membeli atau berbayar. “Mengebor hingga kedalaman 100 meter pun belum tentu dapat air,” ujar Nur Ikhwan, Site Manager pembanguan masjid Silaturahim. “Alhamdulillah di akhir-akhir masa pembangunan, Allah berikan jalan. Kami mendapat akses air dari pegunungan. Setelah mendapat izin dari pengelola air, kami membeli dan nyambung pipa hingga ke groundtank sekolah dan masjid. Alhamdulillah air bersih sekarang sudah ada untuk dimanfaatkan warga sekolah dan warga desa,” lanjutnya.Selain Bupati, peresmian masjid turut dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan KLU, Camat Kayangan, Kapolsek Kayangan, Kepala Desa Gumantar, Toga Toma sekitar, Kepala Sekolah dan jajaran guru SMPN 3 Kayangan, Pengurus MER-C Cabang Mataram dan relawan Divisi Konstruksi MER-C.
Kisah Pembangunan Masjid di Lombok:Sulitnya Mencari Sumber Air

Ir. Nur Ikhwan Abadi dan Tim tidak dapat menyembunyikan rasa haru dan bahagia melihat air bersih mengalir mengisi ground tank yang berada di halaman sekolah dimana masjid yang sedang dibangun oleh Divisi Konstruksi MER-C tengah dibangun. “Kami sangat terharu, sampai meneteskan air mata saking senangnya ada air. Pihak sekolah juga bersyukur, setelah sekian lama permasalahan air akhirnya bisa teratasi. Baru kali ini air bening, air bersih bisa masuk ke dalam sekolah,” ucap Nur Ikhwan, Site Manager Pembangunan Masjid di Lombok. Air memang menjadi satu kendala di lokasi pembangunan masjid -bantuan dari masyarakat Indonesia melalui MER-C-, yang terletak di SMP 3 Kayangan, desa Gumantar, kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), NTB. Sejak dulu, baik sekolah SMP 3 Kayangan beserta masyarakat warga desa, kendala kesehariannya adalah air yang sangat sulit. Kebanyakan warga desa mengandalkan beberapa sumber air yang berasal dari saluran irigasi, namun airnya sangat terbatas, tidak layak konsumsi dan jadwalnya tidak teratur. “Sumber air pertama berjarak 2,5 km dari lokasi masjid. Air ini yang sebelumnya dimanfaatkan tim dan warga sekitar untuk keperluan pekerjaan pembangunan dan keperluan sehari-hari. Karena air irigasi, selain untuk tanaman, persawahan dsb, juga dimanfaatkan warga untuk minum ternak, mencuci, dsb,” ujar Nur Ikhwan. “Di awal kami agak kesulitan beradaptasi dengan air ini, hampir semua mengalami gatal-gatal di kulit karena memang sumbernya dari irigasi. Kendala lainnya adalah jadwal pengalirannya yang kurang diperhatikan, kadang rebutan hingga ada kejadian pengrusakan pipa-pipa sehingga hampir beberapa waktu air tidak bisa masuk ke desa ini,” tambahnya. Sumber air ke-2 menurut Nur Ikhwan, berasal dari arah barat. Namun, lagi-lagi kendalanya adalah pengaturan atau jadwalnya pengalirannya yang kurang diperhatikan oleh pengurus. Kemudian timbul ide dari Tim untuk melakukan pengeboran guna mencari sumber air bersih bagi keperluan masjid, sekolah dan warga sekitar. Dari informasi yang didapat, ada 2 perusahaan yang biasa melakukan pengeboran di daerah Gumantar, asalnya dari Mataram. “Baik perusahaan bor pertama maupun kedua mengatakan bahwa daerah Gumantar adalah daerah yang sulit untuk mencari air. Kedalaman bor harus minimal 100 m ke bawah, baru kemungkinan ada air, itupun terkadang tidak ada.,” papar relawan yang pernah bertugas di Jalur Gaza – Palestina tersebut. “Harga yang ditawarkan pun cukup fantastis, mencapai hampir 200 juta rupiah Mereka akan mengebor hingga kedalaman 110 m, namun tidak menjamin sepenuhnya akan ada air, kalaupun ada air, debitnya sangat sedikit. Sehingga kalau dipaksakan, jika tidak ada, maka akan sia-sia,” jelasnya. Tidak putus asa, relawan asal Lampung ini bersama Tim terus mencari alternatif sumber air lainnya. Ada sumber air dari PAM, namun pihak sekolah agak keberatan karena biaya operasional sekolah yang minim, sehingga pihak sekolah khawatir akan sulit nanti ke depannya untuk membayar biaya air PAM. Alterhatif ini pun tidak dipilih. Akhirnya Tim mendapat informasi bahwa ada satu pipa lagi yang diurus secara lebih baik, yaitu sambungan pipa dari gunung. Jadi airnya benar-benar dari sumber mata air di gunung. Awalnya, Tim ingin memasang dan mempunyai pipa air sendiri dari gunung. Tapi setelah dihitung-hitung jaraknya lumayan jauh, yaitu 4 – 5 km dari gunung, bisa habis ratusan juta juga. Akhirnya setelah meminta arahan dan berdiskusi dengan MER-C Pusat Jakarta, diputuskan untuk menyambung dari pipa terdekat milik warga yang sudah ada. Jaraknya kurang lebih 200 m dari ground tank sekolah/masjid. “Bersama pihak sekolah, Tim MER-C lebih dahulu menuemui pengurus sumber air gunung, baik pengurus bagian hulu, tengah dan hilir. Kami duduk bersama dan meminta untuk bisa menyambungkan pipa. Alhamdulillah pengurus menyetujui. Kami pun meminta semacam jaminan dari pengurus agar air ini bisa masuk ke dalam sekolah sehingga bisa dimanfaatkan baik untuk sekolah, masjid dan warga sekitar. Akhirnya dibuat surat pernyataan yang ditanda tangani bersama antara pihak pengurus, pihak sekolah, dan kami dari MER-C,” ungkap Nur Ikhwan yang pernah memimpin pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State/Rohingya, Myanmar. Setelah adanya izin, Tim membeli pipa-pipa. Kemudian bersama warga sekitar dan anak-anak sekolah, Tim bergotong royong memasang dan menyambung pipa. Sementara itu, ground tank sekolah yang tadinya pecah, lumayan hancur dan lumpurnya tebal karena lama tidak digunakan, juga bersama-sama dibersihkan dan diperbaiki dengan menambahkan adukan beton, kawat, diaci dan diberikan waterproof agar tidak bocor. “Sudah beberapa hari ini kita coba isi ground tank. Alhamdulillah, air mengalir lancar dan deras, sehingga untuk memenuhi groud tank dengan panjang 6 m, lebar 3,7 m, dan kedalaman 1,8 m, dalam 2- 3 jam sudah bisa terisi penuh,” ucap Nur Ikhwan penuh rasa syukur. “Intinya kita yang banyak air harus benar-benar bersyukur, daerah lainnya di Indonesia mungkin hanya menggali 8 – 10 m sudah mendapat air. Kalau di sini, Subhanallah, air sebagai sumber kehidupan sangat sulit didapat. Kami sempat membeli air di awal-awal pembangunan, menampung air irigasi bahkan air hujan dengan membuat kolam penampungan dari terpal. Air sekecil apapun tetap kami tampung karena sangat berharga,” kenang Nur Ikhwan. “Mari bersama-sama kita bersyukur kepada Allah atas nikmat air yang luar biasa, karena tanpa air kita tidak bisa hidup. Kami juga menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas sumbangan dan bantuan dari semua pihak sehingga air yang dibutuhkan untuk sekolah, masjid dan warga sekitar bisa terlaksana. Mudah-mudahan menjadi amal jariyah yang akan mendapat ganjaran besar dari Allah karena sudah menyediakan air bagi kebutuhan masyarakat dan umat manusia,” pungkasnya. Sementara itu, proses pembangunan masjid di Lombok sudah mencapai 90% lebih, ditargetkan minggu pertama Oktober bisa selesai, minggu berikutnya masjid bisa resmikan dan diserah terimakan untuk dimanfaatkan bagi warga sekolah dan masyarakat setempat.
Meski Terkendala Air, Pembangunan Bantuan Musholla di Lombok Terus Berlanjut

Kayangan, Lombok Utara – Memasuki 1,5 bulan pengerjaan, progress pembangunan musholla di Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat mencapai lebih dari 50 persen. Saat ini sedang dilakukan pemasangan begisting dan pembesian atap serta pemasangan instalasi listrik. Site Manager program, Ir. Nur Ikhwan Abadi mengatakan kendala terbesar pembangunan di wilayah ini adalah sulitnya air baik untuk aktifitas pembangunan maupun untuk keperluan sehari-hari. “Air di sini kurang lancar, karena memakai saluran irigasi dan bergantian. Tiap hari Jum’at dan Rabu, air berhenti mengalir karena dialihkan ke kampung lain. Bahkan pernah selama 3 hari air tidak mengalir,” ujar Nur Ikhwan. “Musim kemarau ini mata air mengecil dan warga berebutan untuk mendapatkan air,” lanjutnya. “Alhamdulillah, pada pertengahan Juli lalu, dari Dinas Damkar Pos Kayangan sempat mengirimkan 2.000 liter air gratis ke sini.” Untuk keperluan pembangunan dan kebutuhan sehari-hari, Nur Ikhwan dan Tim membuat tampungan air sementara dengan memakai terpal dan menyediakan tank kapasitas 1.100 liter. Tim juga membuat tampungan untuk mengalirkan air dari atap guna menampung air hujan. “Kami membuat tampungan air dari terpal, seperti yang pernah kami lakukan di Rakhine State, Myanmar karena air di sana juga sulit,” kenang relawan yang pernah bertugas sebagai Site Manager Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State (Myanmar) dan Jalur Gaza (Palestina). Untuk itu, menggunakan donasi yang ada, setelah pembangunan selesai, program selanjutnya adalah pencarian sumber air dan pembuatan sumur untuk mengatasi permasalahan air di wilayah ini. “Kami sudah arahkan teman-teman relawan baik relawan MER-C Cabang Mataram dan relawan pembangunan untuk mencari sumber air dan membuat sumur bagi kepentingan musholla, sekolah dan juga warga sekitar. Mohon doanya semoga rencana ini dimudahkan,” ujar Faried Thalib, salah satu Presidium MER-C yang berlatar belakang insinyur, yang mengomandoi program-program konstruksi MER-C baik di wilayah konflik dan bencana alam di dalam maupun di luar negeri. Selain melaksanakan tugas pembangunan, para relawan yang semuanya pernah bertugas di Jalur Gaza (Palestina) untuk membangun RS Indonesia, menyempatkan diri untuk memenuhi undangan dari kampung-kampung sekitar. Hal ini dalam rangka bersilaturahmi dan sharing pengalaman melakukan pembangunan RS Indonesia di wilayah terblokade dan rawan agresi tersebut. “Alhamdulillah pada tanggal 21 Juli 2022 lalu, kami bersilaturahmi ke Dusun Karang Langu, Kec. Tanjung, KLU sekaligus sosialisasi dan sharing pengalaman membangun RS Indonesia di Gaza dan di juga di Rakhine State Myanmar dengan warga di sana,” ujar Nur Ikhwan. “Tanggal 7 Agustus kami juga memenuhi undangan ke desa Gerung, Lombok Barat untuk silaturahmi dan sharing pengalaman yang sama kepada warga. Bahkan pada saat itu, turut hadir Bapak Camat Gerung, Sekretaris Camat, dan Tokoh Masyarakat setempat,” imbuhnya. “Kemudian pada tanggal 12 Agustus lalu ini kami juga bersilaturahmi ke Desa Mareje, Lombok Barat, untuk sharing pengalaman kepada pejabat desa, tokoh masyarakat dan juga warga. Kebetulan kami bertemu dengan mahasiswa asal Gaza yang sedang menjalani studi di Universitas Mataram. Kami senang sekali bisa bertemu mahasiswa tersebut yang merupakan satu-satunya warga Gaza di Lombok dan saling berbagi cerita tentang Gaza,” tambahnya. Apabila tidak ada kendala, pembangunan bantuan musholla di Lombok diperkirakan memakan waktu tiga bulan dan diharapkan bisa rampung pada akhir September 2022. Jakarta, 16 Agustus 2022
MER-C Mulai Bangun Mushalla di Kabupaten Lombok Utara

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) memulai proses pembangunan mushalla di SMPN 3 Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, NTB. Ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Presidium MER-C dan Pemerintah Kabupaten Lombok Utara yang diwakili oleh Kepala Dinas Dikbudpora beserta sejumlah pejabat terkait termasuk Kepala Sekolah SMPN 3 Kayangan, Kepala KUA Kecamatan Kayangan, Kamis 30/6. “MER-C memiliki kewajiban dan tanggungjawab baik di dunia dan akhirat terhadap setiap amanah yang dititipkan oleh rakyat Indonesia melalui MER-C dan ini adalah uang yang diamanahkan oleh rakyat kepada warga di KLU yang terkena dampak musibah gempa beberapa waktu yang lalu,” ujar Faried Thalib, Presidium MER-C. Dalam sambutanya, Faried Thalib juga menyampaikan harapannya, agar mushalla yang didirikan ini dapat dimakmurkan. “Mushalla ini agar dimakmurkan dan perlu diketahui bahwa fasilitas yang dibangun ini merupakan uang yang diamanahkan melalui MER-C, dan kami berharap, dalam waktu tiga bulan mushalla ini akan segera selesai.” Sementara itu Kepala Dinas Dikbudpora Kabupaten Lombok Utara, Adenan menyatakan bahwa rasa syukurnya atas inisiatif MER-C membangun mushalla dan berharap akan ada peningkatan keimanan siswa. “Saya mengucapkan terima kasih atas pembangunan mushala dari bantuan MER-C dengan adanya mushalla ini, insya Allah peningkatan keimanan yang memang sangat dibutuhkan, terutama shalat, mengaji baca Al Qur’an dan akan lebih optimal di mushalla,” ujarnya. Ia juga berharap dengan adanya mushalla ini mendapatkan dukungan dari masyarakat sekitar sehingga dapat bersinergi dengan kegiatan masyarakat.“Kegiatan dengan masyarakat akan nampak lebih bagus dan mendapatkan dukungan yang signifikan dengan adanya mushalla, dan ini merupakan salah satu indikator peningkatan keagamaan akan tinggi, karena Lombok ini terkenal dengan seribu masjid,” harapnya. Pria paruh baya ini juga menjelaskan bahwa, selama dua tahun terakhir ini, pihak Dinas Pendidikan memang belum menganggarkan dana khusus mushala, karena dana yang ada digunakan untuk mengatasi pandemi Covid-19.“Untuk dua tahun terakhir ini, karena adanya pandemi covid -19 jadi banyak kegiatan-kegiatan kita yang tidak bisa anggarkan termasuk pendirian mushala. Karena sebelumnya program untuk itu (pembangunan mushalla) ada,” terangnya. Kepala Sekolah SMPN 3 Kayangan, Ahmad Maulidi menyatakan bahwa mushala ini akan dikhususkan untuk kegiatan Imtak (iman dan takwa) para siswa SMPN 3 Kayangan.“Rencana kita setelah mushala ini selesai, kegiatan imtak yang akan kita fokuskan, karena selama ini kegiatan imtak untuk siswa dan guru kita masih menggunakan teras depan ruang guru, kepala sekolah dan TU, karena kita tidak punya lokasi untuk kegiatan ini,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kegiatan imtak yang akan dilakukan untuk para guru dan memperbanyak shalat sunnah dan wajib di mushalla tersebut.“Kegiatan imtak kita fokuskan untuk shalat dhuha, dan shalat dzhuhur berjamaah, jadi sebelum anak-anak pulang ke rumah, kita jadwalkan mereka shalat dhzuhur dulu, supaya mereka ketika sampai rumah, bisa langsung istirahat dan membantu orang tua mereka,” imbuhnya. Ia menegaskan bahwa mushala ini bisa digunakan juga oleh warga setempat untuk lebih memakmurkan mushalla ini.“Dari segi ukuran mushala ini sudah cukup untuk menampung jumlah siswa dan guru, kalaupun semua ikut melaksanakan ibadah, insha Allah semua bisa tertampung. Mushalla ini termasuk di lingkungan masyarakat, artinya kalau masyarakat nanti ada yang mau beribadah di luar jam sekolah dipersilakan, sepanjang tetap menjaga kebersihan dan keutuhan mushalla ini,” tutupnya. Mushalla seluas 135 meter persegi ini, juga sudah diukur arah kiblatnya oleh Kementrian Agama, dalam hal ini, KUA Kecamatan Kayangan, pengukuran dilakukan oleh tim ahli dari Kementrian Agama Kabupaten Lombok Timur dan dipantau langsung oleh Sinardi, kepala KUA Kabupaten Kayangan. MER-C Indonesia