MER-C Adakan Layanan Kesehatan dan Bantuan Kemanusiaan untuk Pengungsi Rohingya di Aceh

ER-C Indonesia pada hari Sabtu (13/7) mengadakan pelayanan kesehatan serta penyaluran bantuan kemanusiaan bagi ratusan pengungsi Rohingya di Aceh. Kordinator MER-C Aceh Ira Hadiati mengatakan, program bantuan dan layanan kesehatan ini dilakukan karena masih banyak pengungsi Rohingya yang mendarat di Aceh dengan kondisi memprihatinkan. “Terlepas dari masalah politik atau isu internasional tentang manusia kapal ini, MER-C selaku lembaga kemanusiaan yang bersifat netral tergerak untuk ikut serta menangani masalah ini. MER-C sendiri sudah pernah terjun langsung ke Rakhine, Myanmar, saat membangun Rumah Sakit Indonesia, jadi tahu bagaimana kondisi mereka di sana,” ujarnya. Terkait program bantuan lebih lanjut untuk pengungsi Rohingya ini, Ira mengatakan akan berkoordinasi dengan jajaran Presidium MER-C di Jakarta. Layanan kesehatan dilakukan oleh relawan dari MER-C Cabang Medan yang terdiri dari dua dokter umum yaitu dr. Miftahul Masruri sebagai Koordinator Lapangan dan dr. Aulia Rachman, tiga perawat Ade Andrian, S.Kep, Ns, M.Kep, Aspri Darmawan, S.Kep, Ns dan Bima Anggara, S.Kep serta satu dokter muda Norman Hakim, S.Ked. Kordinator Lapangan untuk pelayanan kesehatan pengungsi Rohingya, dr. Miftahul, mengatakan tim mendapati para pengungsi banyak mengalami penyakit kulit dan pernafasan karena kondisi lingkungan memang kurang bersih, di mana satu tempat pengungsian diisi oleh ratusan orang. “Para pengungsi sendiri menyambut hangat kedatangan Tim MER-C, karena memang mereka mengharapkan adanya bantuan. Kami sendiri tadi cukup kewalahan karena memang hampir semua ingin berobat dan hampir semua dari anak-anak hingga dewasa mengalami penyakit kulit atau pencernaan,” ujarnya. dr. Miftahul mengungkap, sudah ada tim medis yang memang ditugaskan untuk memberikan pelayanan bagi pengungsi Rohingya. Mereka bertugas dalam tiga shift dari Senin-Jumat, jadi saat relawan MER-C datang tim yang biasa bertugas sedang libur. Selain memberikan pelayanan kesehatan, relawan MER-C bersama Fakultas Bisnis Islam UIN Ar-Raniry juga membagikan bantuan berupa sembako dan obat-obatan, bantuan paket higienis untuk dewasa dan anak-anak yang berisi sikat gigi, handuk, sabun mandi, shampoo, serta pakaian bayi dan makanan tambahan untuk anak-anak, dengan total 237 paket. MER-C juga menyerahkan bantuan 7 buah kipas angin agar sirkulasi udara di pengungsian bisa lebih baik, serta peralatan ibadah seperti iqra dan Al Quran, mukenah, sarung, dan buku pengayaan agama. Saat ini para pengungsi membutuhkan fasilitas sanitasi yang lebih baik, karena yang ada sekarang masih belum memadai. PBB menggambarkan etnis Rohingya sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia dan kelompok hak asasi manusia menyebut mereka menghadapi genosida. Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar perempuan dan anak-anak, meninggalkan Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan keras pada Agustus 2017, sehingga menambah jumlah pengungsi Rohingya di Bangladesh menjadi lebih dari 1,2 juta orang. Setiap tahun, ribuan warga Rohingya juga meninggalkan Myanmar, mempertaruhkan nyawa dalam perjalanan laut yang panjang dengan kondisi kapal yang buruk, untuk bisa mencapai Malaysia atau Indonesia.
MER-C: Kudeta Militer Membuat Myanmar Mundur dalam Berbangsa Bernegara

SIARAN PERS Kudeta yang dilakukan militer terhadap pemerintahan sipil yang terpilih melalui pemilu demokratis merupakan keputusan ilegal yang membuat Myanmar mundur dalam berbangsa dan bernegara. MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) sebagai organisasi kemanusiaan bersama PMI (Palang Merah Indonesia) dan WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia) sudah berupaya merekat persatuan dan kebersamaan antara umat Budha dan Muslim di sana dengan membangun rumah sakit di Myanmar. Keputusan membangun Rumah Sakit Indonesia tepatnya di negara bagian Rakhine (Rakhine State) adalah wujud kepedulian kami dalam merekatkan persaudaraan antar umat beragama di Myanmar. Langkah kudeta yang dilakukan oleh militer menimbulkan keprihatinan kami akan kelangsungan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine. MER-C meminta kepada pihak militer menghormati hasil pemilu dan menghormati supremasi sipil. Selanjutnya kami menghimbau terutama kepada ASEAN untuk memastikan agar militer Myanmar tidak melakukan langkah yang berlebihan terhadap etnis Rohingnya dan warga negara lainnya sehingga tidak terjadi bencana kemanusiaan yang hebat. Selanjutnya kami minta agar bantuan Indonesia seperti sekolah dan rumah sakit agar tetap sebagaimana mestinya. Jakarta, 2 Februari 2021 Dr. Sarbini Abdul MuradKetua Presidium MER-C
Dubes Myanmar untuk Indonesia Berharap RS Indonesia di Rakhine State Dapat Segera Diresmikan

Dubes Myanmar untuk Indonesia, Ei Ei Khin Aye berharap Rumah Sakit yang dibangun di Mrauk U, Rakhine State, Myanmar dapat segera diresmikan dan dibuka. Hal ini disampaikannya saat menerima kunjungan Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad, Selasa/3 Maret 2020 di Kantor Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta. Dubes Myanmar Ei Ei Khin Aye memberikan apresiasi atas kedatangan Ketua Presidium MER-C untuk menginformasikan perkembangan Rumah Sakit dan mengucapkan terima kasih atas upaya pembangunan rumah sakit di Rakhine State, Myanmar. “Ini suatu hal yang mulia, membangun rumah sakit yang tentunya sangat bermanfaat bagi masyarakat di sana. Ini adalah suatu keputusan yang konstruktif,” ujarnya. Menurutnya, membangun rumah sakit di wilayah Rakhine State membutuhkan upaya yang besar. Terlebih, di wilayah Rakhine State, seperti di Mrauk U dimana rumah sakit berada, di Minbya dan sekitarnya yang hingga saat ini masih terjadi konflik antara Tentara Myanmar dan Tentara Arakan. “Kami sangat mengapresiasi dapat selesainya pembangunan rumah sakit di Rakhine State,” tambahnya. Pada kesempatan ini, Ketua Presidium MER-C juga mengucapkan terima kasih atas akses, kerjasama dan kesempatan yang telah diberikan Pemerintah Myanmar untuk membangun Rumah Sakit Indonesia. “Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan akses dan kesempatan sehingga dapat membangun rumah sakit di Rakhine State dimana saat awal tidak sedikit yang meragukan program ini dapat terwujud. Namun kita lihat sekarang rumah sakit ini sudah berdiri,” ungkap Sarbini. “Kami bersyukur bisa diterima dengan baik oleh Pemerintah dan Masyarakat Myanmar. Kami bahagia menjadi bagian dari hubungan sejarah dua bangsa serta berharap rumah sakit ini dapat menjadi simbol persatuan, mempersatukan hubungan batin antara kedua bangsa,” tambahnya. Rumah Sakit Indonesia dibangun atas kerjasama MER-C, PMI dan Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia), merupakan symbol dari kebhinekaan Indonesia yang terdiri dari berbagai macam agama. Sarbini memaparkan bangunan rumah sakit sudah selesai dibangun oleh MER-C pada November 2019. Saat ini rumah sakit dalam proses pengadaan dan instalasi alat kesehatan oleh PMI. Menanggapi hal ini, Dubes Myanmar untuk Indonesia sangat berharap proses pengadaan alat kesehatan bisa cepat selesai dan rumah sakit bisa segera diresmikan dan dibuka. Sambil menyerahkan foto-foto rumah sakit Indonesia yang terdiri dari 2 lantai dengan kapasitas 32 tempat tidur, Sarbini berharap setelah penyerahan rumah sakit, hubungan kerjasama yang ada dapat terus berlanjut. “Kami berharap kerjasama yang ada antara Indonesia dan Myanmar dapat terus berlangsung meskipun rumah sakit telah diserahkan, seperti pelatihan bagi tenaga medis lokal yang akan bertugas.” Rencana pelatihan ditanggapi positif oleh Kedutaan Besar Myanmar yang akan mengkoordinasikan lebih lanjut dengan Kementerian Kesehatan Myanmar.
Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Diserah Terimakan

Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar diserahterimakan kepada pemerintah Myanmar melalui Kemenetrian Kesehatan dan Olahraga Myanmar di Ibukota Myanmar, Nay Pyi taw, Selasa 10/12. Hadir dalam acara serah terima tersebut, Menteri Kesehatan dan Olahraga Myanmar, Dr. Myint Htwe, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Prof. Dr. Iza Fadri, Koordinator Relawan MER-C, Dr. Tonggo Meaty Fransisca, dan Kepala Kantor PMI, Sunarbowo Sandi Hardjosudiro. Dalam sambutannya, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, menyatakan ucapan terima kasih dan apresiasi atas kerja PMI dan MER-C sebagai inisiator dan eksekutor pembangunan Rumah Sakit ini. “Selama pelaksanaan pekerjaan konstruksi, tim MER-C yang berada di lapangan telah menghadapi banyak tantangan seperti, kendala keamanan, hujan yang terus menerus sehingga menyebabkan banjir, dan kesulitan dalam mencari pekerja dan material serta performance kontraktornya” kata Iza di Meeting Hall Kementrian Kesehatan dan Olahraga di Nay Pyi Taw. Profesor dalam bidang hukum itu juga menyampaikan penghargaan khusus kepada 4 orang tim MER-C yang telah berada di lokasi selama proses pengerjaan pembangunan hingga selesai. “Saya ingin menyampaikan penghargaan khusus kepada empat orang pengawas dari MER-C Indonesia, Saudara Nur Ikhwan Abadi, Ahmad Fauzi, Karidi dan Wanto yang telah berada di lokasi sejak awal pekerjaan konstruksi pada 2017 dan membuat upaya keras untuk menyelesaikan project ini” kata Iza. Iza juga menekankan bahwa pembangunan rumah sakit ini akan membawa pesan perdamaian antar dua komunitas baik Islam maupun Budha. “Saya sangat yakin bahwa Rumah Sakit ini akan membawa pesan yang sangat penting bagi kedua agama, Islam dan Budha bisa bekerja secara bersama – sama” katanya. Sementara itu Menteri Kesehatan dan Olaharaga Myanmar, Dr. Myint Htwe, menyampaikan apresiasinya kepada rakyat Indonesia. Pada kesempatan tersebut, MER-C juga diminta untuk memaparkan proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine, yang diwakili oleh Nur Ikhwan Abadi, selaku Site Manager pembangunan Rumah Sakit ini. “Pada hari yang sangat berharga bagi kedua negara ini, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Indonesia atas Rumah Sakit ini, dan saya meyakini bahwa Rumah Sakit ini akan terus diingat dan oleh warga di Myaung Bwe Rakhine State dan akan makin mempererat hubungan Indonesia dan Myanmar” kata Myint Htwe. Ia juga menegaskan bahwa Islam dan Budha bisa bekerja secara bersama-sama dan mengharapkan bahwa Rumah Sakit ini akan menjadi symbol perdamaian bukan hanya bagi warga Rakhine namun juga seluruh Myanmar. “Rumah Sakit ini sangat penting bagi kami, bukan hanya bagi warga Rakhine State, namun juga bagi seluruh negara ini” lanjutnya. Myint Htwe juga menyatakan kegembiraanya terhadap fasilitas bangunan yang dimiliki oleh Rumah Sakit tersebut. “Saya juga sangat mengapresiasi apa yang telah disampaikan oleh insinyur tadi, bahwa rumah sakit ini juga telah dilengkapi dengan generator yang cukup besar dari 125 KVa yang dibutuhkan, namun disediakan 220 KVA, dan juga Kamar Jenazah, Landscaping, Groundtank yang cukup besar yang artinya Indonesia memiliki visi jangka panjang bagi rumah sakit ini, karena mungkin saja ke depan Rumah Sakit ini akan dibesarkan menjadi 30 atau 50 beds” ujar menteri yang mengaku sudah puluhan kali datang ke Indonesia ini. Dia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia dan semua tim yang terlibat dalam pembangunan Rumah Sakit. “Saya juga ingin menyampaikan salam hangat dan terima kasih saya kepada rakyat Indonesia atas bangunan Rumah Sakit yang cukup baik ini, dan mewakili masyarakat Myaung Bway Rakhine State, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih saya kepada masyarakat Indonesia, MER-C Indonesia dan semua insinyur yang telah berada hampir dua tahun di sana. Disini kita bisa membuktikan kepada dunia bahwa Muslim dan Budha bisa bekerjasama, dan pesan ini harus disebarluaskan secara luas ke seluruh dunia”.Htwe juga berharap ke depan Rumah Sakit ini akan menjadi Rumah Sakit yang modern dan semua data pasien bisa tercatat dengan baik dalam sistem komputerisasi. “Rumah sakit ini juga bukan hanya akan melayani kesehatan masyarakat, namun juga akan melayani segala aktivitas yang berkaitan dengan kesehatan dan akan dirawat dengan baik dan diharapkan nantinya akan disediakan juga sistem informasi yang baik, registrasi yang sudah terkomputerisasi dan lain sebagainya, dan Kementerian Kesehatan akan menjaga dan bertanggungjawab secara penuh menjaga rumah sakit ini,” pungkasnya. Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar merupakan inisiasi dari MER-C sejak tahun 2012 lalu. Saat inisiasi ini digulirkan banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh MER-C mengingat sangat sulitnya perizinan yang diberikan oleh pemerintah Myanmar. Perizinan dikeluarkan oleh pemerintah Myanmar tiga tahun kemudian atau pada 2015 setelah melihat netralitas MER-C dilapangan. Pemerintah Myanmar bahkan memberikan lahan kepada MER-C seluas 4.000 meter persegi guna dibangun satu rumah sakit untuk dua komunitas, yaitu Budha dan Muslim. Keluarnya perizinan tersebut mendapat sambutan yang sangat positif dari pemerintah Indonesia, Wakil Presiden RI saat itu, Jusuf Kalla yang juga Ketua Umum PMI, menyatakan kegembiraanya dan kemudian mengajak PMI dan Walubi untuk bergabung dengan MER-C mensukseskan pembanguan RS ini. Pesan perdamaian kepada rumah sakit ini akan terus disebarluaskan, semoga RS Indonesia di Myaung Bway Village, Mrauk U Township, Rakhine State menjadi simbol perdamaian bagi warga di Rakhine, Myanmar dan juga Dunia. Info:Website : www.mer-c.orgCall center : 0811990176
Relawan MER-C Iedul Fitri Bersama Muslimin Rohingya

Empat orang Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang sedang melaksanakan tugas mengawasi pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Myaung Bwe Village, Mrauk U Township, Rakhine State, Myanmar melaksanakan shalat Iedul Fitri 1440 Hijriah bersama dengan muslimin Rohingya, Rabu (5/6). “Alhamdulillah, ini yang kedua kalinya kami berempat melaksanakan shalat Iedul Fitri bersama muslim Rohingya” ujar Karidi salah satu relawan MER-C asal Wonogiri. Karidi yang juga pernah bertugas di Jalur Gaza, Palestina ini menjelaskan bahwa, shalat Iedul Fitri kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya, konflik yang terjadi di Rakhine, meluas hingga mencapai lokasi RS Indonesia. “Ied kali ini sedikit berbeda, suasananya lebih mencekam, karena tiga hari sebelumnya terjadi pertempuran di dekat RSI, dan biasanya kami shalat di salah satu masjid di Kampung Muslim dekat RS Indonesia tersebut,” ujar relawan spesialis Mekanikal Electrikal ini. Karidi menambahkan, para relawan tidak bisa shalat di tempat biasanya karena kampung tersebut dijadikan basis tentara Myanmar untuk menyerang Arakan Army. “Kami tidak mendapatkan izin dari pihak keamanan untuk shalat Ied di kampung tersebut, karena situasi sedang tidak memungkinkan karena kampung tersebut dijadikan basis bagi 230 orang personel tentara Myanmar,” ujarnya. Para relawan akhirnya diperkenankan shalat di salah satu Masjid di Kampung Bina Para, berjarak 8 kilometer dari lokasi RSI. “Akhirnya kami shalat di salah satu kampung yang berjarak 8 km dari lokasi Rumah Sakit, itupun kami harus hati-hati, karena tentara sedang siaga satu, berjaga-jaga di setiap sisi jalan,” terangnya. Menurutnya perayaan Iedul Fitri Muslim Rohingya di kampung tersebut cukup sederhana, ratusan warga memulai shalat sekitar pukul 09.00 waktu setempat di dalam sebuah Masjid. “Warga di sini sangat sederhana, shalat ied di dalam masjid sekitar pukul sembilan, ratusan warga mengikuti shalat ied tersebut, sebelum shalat mereka biasanya tausiyah dengan menggunakan bahasa lokal, untuk kemudian shalat Ied dan diikuti khutbah berbahasa arab _full_” terangnya. Selesai shalat Ied dan Khutbah, Imam sekaligus Khatib memimpin doa, puluhan orang terlihat menagis tersedu-sedu saat doa dibacakan dalam bahasa Rohingya. Kami pun turut sedih melihat mereka menangis, meski kami tidak mengerti doa apa yang sedang dipanjatkan. Kemudian para warga bersalaman, satu sama lain dan juga dengan para relawan. Selesai bersalaman warga keluar dan kemudian membagi-bagikan uang kepada para fakir miskin yang sudah menunggu di depan Masjid. Nampak kebahagiaan menyelimuti warga muslim Rohingya ini, di luar halaman Masjid, banyak warga berjualan jajanan, anak-anak tua dan muda, bahagia menyambut datangnya hari kemenangan umat Islam ini. Sementara relawan diundang ke rumah salah satu warga untuk menyantap hidangan khas Iedul Fitri, makanan berupa bihun dicampur susu dan irisan kelapa. Alhamdulillah, meskipun berlebaran jauh dari keluarga, namun para relawan tetap semangat menunaikan amanah kemanusiaan pembangunan RS Indonesia di wilayah ini. Info : Website : www.mer-c.org Call Center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia / @rsindonesia Twitter : @mercindonesia
Atap dan Dinding RS Indonesia di Rakhine Bolong Terkena Peluru

Setidaknya delapan titik di atap dan dinding Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State bolong akibat terkena peluru, saat terjadi baku tembak antara Arakan Army (AA) sayap militer suku Arakan yang beragama Budha dengan tentara Pemerintah Myanmar (Tatmadaw), Minggu (2/6) lalu. “Hari kamis ini kami baru bisa kembali ke lokasi Rumah sakit setelah Ahad lalu, terjadi pertempuran sengit antara AA dan Tatmadaw di dekat lokasi RSI, dan setelah kami cek ternyata ada setidaknya delapan titik di dinding dan atap yang bolong akibat peluru saat pertempuran kemarin” terang Ahmad Fauzi, salah satu relawan MER-C yang berada di lokasi. Fauzi juga menambahkan ditemukan setidaknya tiga proyektil peluru di dalam lokasi Rumah Sakit Indonesia ini. “Kami temukan 3 proyektil peluru didalam lokasi RS Indonesia, 2 diantaranya berukuran 2,5 cm dan satu berukuran 3 cm, ini cukup besar juga” terangnya. Ia menambahkan selain bangunan rumah sakit, kantor atau direksi kit di lokasi yang biasa digunakan sehari-hari untuk berkantor para relawan juga terkena tembakan. “Ada setidaknya 3 lubang di atap kantor, saya juga heran padahal direksi kit ini terbilang rendah, dan terhalang banyak pepohonan dan bangunan, namun tetap kena juga” terangnya. Sebagaimana diberitakan sebelumnya telah terjadi pertempuran antara Arakan Army (AA) dengan tentara pemerintah Myanmar (Tatmadaw) Minggu (2/6). Baku tembak terjadi sekitar pukul dua sore hari, ketika truk militer Tatmadaw diserang menggunakan ranjau darat oleh AA. Dari laporan media setempat, AA mengklaim telah menewaskan 10 tentara Myanmar dan melukai 40 orang lainnya. Tatmadaw segera membalas serangan tersebut dengan menggempur salah satu tempat yang dianggap basis AA yang berada di dekat lokasi RS Indonesia. Pertempuran sengit pun terjadi, hingga malam hari, Tatmadaw mengerahkan sekitar 230 personel untuk menghalau para tentara dari Suku Arakan Budha ini. Tatmadaw membuat base camp di salah satu kampung dekat RSI, dimana kampung tersebut merupakan satu-satunya kampung muslim yang diizinkan oleh pihak keamanan ketika relawan akan menunaikan shalat jumat. Akibat selain itu, diberitakan juga ada 2 warga muslim meninggal dan satu orang anak luka-luka akibat terkena tembakan saat terjadi pertempuran antara kedua belah pihak. Seorang anak yang terluka saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit lama, disamping bangunan RS Indonesia. Akibat pertempuran tersebut, pekerjaan pembangunan Rumah Sakit Indonesia sempat terhenti beberapa hari. Saat ini bangunan utama telah mencapai 91,5 persen dan sedang dikerjakan pekerjaan bangunan pendukung seperti, kamar jenazah, ground tank, rumah genset dan landscaping. Info : Website : www.mer-c.org Call Center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia / @rsindonesia Twitter : @mercindonesia
Baku Tembak di Myaung Bwe, Pekerjaan RS Indonesia di Rakhine Terhenti

Pertempuran terjadi antara tentara Myanmar (Tatmadaw) dan Arakan Army (AA) di dekat lokasi pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Myaung Bwe Village, Mrauk U Township, Rakhine State, Myanmar, Minggu (2/6). “Ahad kemarin sekitar pukul dua siang, terdengar suara rentetan senjata di dekat lokasi pembangunan RS Indonesia, pekerjaan seketika terhenti, dan para pekerja berlindung menyelamatkan diri,” kata Ahmad Fauzi, salah satu relawan pembangunan RS Indonesia. Fauzi juga menambahkan, ketika terjadi baku tembak para pekerja yang sedang mengerjakan pekerjaan ground tank di bagian belakang berhamburan lari menyelamatkan diri. “Tiba-tiba saja, para pekerja berhamburan keluar dari dalam galian ground tank kemudian lari keluar dari lokasi,” terang insinyur yang pernah bertugas membangun RS Indonesia di Jalur Gaza ini. Ia menambahkan, warung-warung di sekitar lokasi RS Indonesia pun seketika tutup, situasi menjadi sangat mencekam dan warga masuk ke dalam rumahnya masing-masing. “Warung-warung seketika ditutup, warga berlarian masuk ke dalam rumahnya menyelamatkan diri” ujar Fauzi. Fauzi yang saat itu sedang bersama dengan seorang relawan lainnya, segera masuk ke dalam bangunan rumah sakit untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sementara itu, dua relawan lainnya saat itu sedang berada di Sitwee dan dalam perjalanan menuju Mrauk U. Ditengah perjalanan keduanya mendapatkan kabar kejadian tersebut, dan meminta dua relawan yang masih terjebak di lokasi, untuk berhati hati dan sementara tidak keluar dari lokasi bangunan RS Indonesia. “Kami meminta kepada dua relawan yang masih terjebak di lokasi RS untuk tidak keluar, sambil memastikan, jika baku tembak mereda, agar mereka segera kembali ke penginapan di Mrauk U” ujar Nur Ikhwan, salah satu relawan MER-C. Nur Ikhwan juga menjelaskan, satu jam setelah baku tempak pertama mereda, kedua relawan akhirnya bisa kembali ke penginapan yang berjarak 16 km dari lokasi pembanguann rumah sakit Indonesia itu. “Alhamdulillah, setelah satu jam kedua relawan bisa dengan selamat kembali ke penginapan kami,” tambahnya. Pertempuran sengit terjadi antara Arakan Army (AA) dengan tentara pemerintah Myanmar (Tatmadaw) pada Minggu (2/6) kemarin. Baku tembak terjadi sekitar pukul dua sore hari, ketika truck militer Tatmadaw diserang menggunakan ranjau darat oleh AA. Dari laporan media setempat, AA mengklaim telah menewaskan 10 tentara Myanmar dan melukai 40 orang lainnya. Tatmadaw segera membalas serangan tersebut, dengan menggempur salah satu tempat yang dianggap basis AA yang berada di dekat lokasi RS Indonesia. Pertempuran sengit pun terjadi, hingga malam hari, bahkan Tatmadaw mengerahkan sekitar 230 personel untuk menghalau para tentara dari Suku Arakan Budha ini. Tatmadaw membuat base camp di salah satu kampung dekat RSI yang biasa digunakan oleh para relawan untuk shalat jumat di salah satu masjid di kampung tersebut. Selain itu, diberitakan juga ada dua warga muslim meninggal dan satu orang anak luka-luka akibat terkena tembakan saat terjadi pertempuran antara kedua belah pihak. Akibat pertempuran tersebut, pekerjaan rumah sakit Indonesia sempat terhenti beberapa hari. Para pekerja takut untuk datang ke lokasi, karena suasana masih dalam peperangan. Para relawan juga diingatkan oleh warga dan pihak keamanan untuk tidak datang ke lokasi hingga keadaan menjadi aman. Pekerjaan RS Indonesia, saat ini telah mencapai 91.5 persen memang sedikit tertunda. Berbagai kendala yang dihadapi dilapangan membuat bangunan yang harusnya sudah selesai sejak tahun lalu ini, menjadi terlambat. Selain, cuaca, sulitnya pengiriman material, dan kendala para pekerja, faktor keamanan menjadi hal utama penyebab keterlambatan pembangunan Rumah Sakit Indonesia ini. Beberapa kali pembangunan sempat terhenti, karena situasi keamanan yang tidak bisa di prediksi. Jika tidak ada hambatan diperkirakan bangunan RS Indonesia akan selesai dalam tiga bulan mendatang dan akan segera difungsikan. Info : Website : www.mer-c.org Call Center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia / @rsindonesia Twitter : @mercindonesia
Meski Situasi Mencekam, Relawan MER-C Tiba di Lokasi RS Indonesia

Meski situasi di beberapa wilayah Rakhine State masih mencekam akibat konflik yang terjadi antara Arakan Army dan Tentara Myanmar, empat relawan MER-C akhirnya tiba di lokasi pembangunan RS Indonesia yang terletak di desa Myaung Bwe, kota Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, Rabu/10 April 2019. “Sejak tengah malam hingga saat ini, terjadi pertempuran antara Arakan Army dan Tentara Myanmar. Suara tembakan, bom dan pesawat tempur terdengar jelas dari penginapan kami yang berjarak sekitar 16 km dari RS Indonesia,” ungkap Nur Ikhwan, Site Manager RS Indonesia di Rakhine State. “Helikopter masih hilir mudik di sini, suara-suara tembakan masih terus terdengar. Tadi kami ke pasar, banyak yang tutup, biasanya jam segini pasar sudah ramai,” tambahnya. Setibanya di RS Indonesia para relawan, Ir. Nur Ikhwan Abadi, Ir. Ahmad Fauzi, Karidi dan Wanto langsung bekerja mengecek pekerjaan pembangunan. Pekerjaan yang akan dilakukan selanjutnya adalah instalasi listrik. Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar adalah sebuah langkah diplomasi kemanusiaan di dunia internasional kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), PMI (Palang Merah Indonesia) dan Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia). Kita berharap RS Indonesia bisa menjadi simbol persatuan warga muslim dan non muslim di wilayah ini. Dukungan dan donasi : BSM, 700.1306.833BCA, 686.0280009Bank Mandiri, 124.000.8111982 Semua rekening atas nama:Medical Emergency Rescue Committee Info:Website : www.mer-c.orgCall Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesia; @rsindonesia |Humanity for Peace||Peduli untuk Kemanusiaan yang Lebih Baik|
Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State Myanmar Capai 91 Persen

Progres pembangunan bangunan utama RS Indonesia yang saat ini masih berlangsung di Rakhine State, Myanmar sudah mencapai 91 persen. Demikian pernyataan Ir. Nur Ikhwan Abadi, Site Manager pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar saat diwawancara menjelang keberangkatannya ke Yangon di Terminal 3, Bandara Soekarno Hatta, hari ini Senin/8 April 2019. “Alhamdulillah meskipun ada berbagai kendala yang di lapangan, sebagaimana halnya membangun di wilayah konflik, pembangunan RS Indonesia di Rakhine State terus berjalan. Berdasarkan perhitungan terakhir kami, progress pembangunan sudah mencapai 91,1 %,” papar Nur Ikhwan. Pembangunan memang mundur dari jadwal yang ditetapkan, namun perlahan tapi pasti progres terus berlanjut. Nur Ikhwan Abadi berangkat ke Yangon bersama tiga relawan lainnya, yaitu Ir. Ahmad Fauzi (Site Engineer), serta Karidi dan Wanto, keduanya adalah relawan bagian sipil dan mekanikal elektrikal. Tim Konstruksi MER-C ini dapat berangkat kembali ke Yangon, setelah adanya informasi dari Kedutaan Besar RI bahwa surat izin dari Kantor Presiden, Kementerian Kesehatan dan Olahraga, serta Pemerintah negara bagian Rakhine telah didapat. Dari Yangon, Tim akan melanjutkan penerbangan dengan maskapai lokal ke Sittwe, ibu kota Rakhine State. Seiring kondisi di Rakhine State yang masih bergejolak, maka di Sittwe Tim akan berkoordinasi dengan pihak terkait di wilayah ini dan melihat perkembangan situasi keamanan. Apabila memungkinkan, dari Sittwe tim akan langsung melanjutkan perjalanan ke lokasi pembangunan RS Indonesia di Myaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State dengan jarak tempuh sekitar 3 jam lebih via darat. “Kami berharap bisa segera masuk ke sana untuk menyelesaikan pekerjaan instalasi listrik, sanitasi dan lantai rumah sakit,” terang Nur Ikhwan. “Apabila pembangunan bangunan utama sudah selesai, akan dilanjutkan dengan pembangunan sarana lainnya, seperti ground tank atau tempat penampungan air bawah tanah yang akan berada di belakang bangunan utama RS Indonesia. Ground tank diperlukan karena sulitnya mendapatkan air bersih di wilayah ini, sementara air bersih sangat krusial bagi operasionalisasi rumah sakit,” jelas relawan Insinyur yang juga telah berpengalaman bertugas di Jalur Gaza, Palestina. Selain ground tank, tim juga akan membangun kamar jenazah dan jembatan yang akan menghubungkan jalan raya dan RS Indonesia,” tambahnya. Ia berharap dengan jangka waktu izin yang diberikan, pembangunan RS Indonesia serta semua sarana tadi bisa segera selesai. “Kami mohon doanya dari masyarakat Indonesia,” ujar Nur Ikhwan. Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar adalah sebuah langkah diplomasi kemanusiaan di dunia internasional kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), PMI (Palang Merah Indonesia) dan Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia). Bantuan dan Donasi dapat melalui : BSM, 700.1306.833BCA, 686.0280009Bank Mandiri, 124.000.8111982 Semua rekening atas nama :Medical Emergency Rescue Committee Info:Website : www.mer-c.orgCall Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesia; @rsindonesia |Humanity for Peace||Peduli untuk Kemanusiaan yang Lebih Baik|
Wawancara: Pembangunan RSI di Myanmar Capai 86 Persen

Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue – Committee (MER-C) terus berupaya menyelesaikan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Rakhine State, Myanmar. Hingga hari ini, Jumat (19/3), pembangunan RSI yang dimulai sejak dua tahun lalu itu sudah mencapai 86 persen. Pembangunan RSI di Rakhine State ini adalah salah satu cara diplomasi damai yang dilakukan MER-C dalam bidang kesehatan untuk merajut kembali asa dan harapan membangun kehidupan sosial masyarakat di sana yang terkoyak akibat kerusuhan pada 2012 lalu. Pada kesempatan kali ini, Wartawan Kantor Berita MINA Rendi Setiawan melakukan bincang-bincang ringan dengan salah satu relawan pembangunan RSI di Rakhine State Bapak Karidi yang saat ini sedang berada di Jakarta untuk menelusuri lika-liku, hambatan hingga gambaran situasi yang terjadi di Myanmar. MINA: Bisa diceritakan progres pembangunan RSI di Myanmar? Karidi: Alhamdulillah sampai saat ini sudah pada tahap pengerjaan platform, pemasangan keramik juga instalasi listrik. Selain itu, pemasangan jendela di rumah sakit ini juga sudah mulai. Jadi total pembangunan kurang lebih sudah mencapai 86 persen. Jadi kira-kira kurangnya 14 persen lagi akan segera kita selesaikan. MINA: Kapan RSI ini ditargetkan rampung pengerjaannya? Karidi: Kita sebetulnya target itu selesai pada November tahun lalu. Ini sebetulnya sudah mundur dari jadwal dikarekan beberapa hal seperti masalah material dan masalah keamanan. Selain itu, iklim yang tidak menentu juga menjadi faktor lain keterlambatan ini. Sebagai contoh ketika terjadi musim hujan kemarin, atap dari RSI ini belum dipasang, jadi cukup mengganggu sekali dalam proses pengerjaannya. Proses sampai 86 persen ini insya Allah kita sudah bekerja secara maksimal. MINA: Bagaimana dengan dukungan Pemerintah Myanmar selama pembangunan? Karidi: Selama ini, komunikasi dengan pemerintah berjalan lancar. Beberapa kali mereka melakukan kunjungan untuk melihat langsung progress pembangunan. Memang untuk masalah keamanan, pemerintah Myanmar sangat ketat dalam hal ini. Tapi hal itu tidak masalah bagi kami karena memang kami di sana dalam misi membangun rumah sakit dan itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat di sana, baik yang Muslim maupun Budha. Selama kami berada di sana untuk misi kemanusiaan, menolong yang membutuhkan, membantu orang yang memerlukan, maka kami yakin semua akan mendukung, termasuk pemerintah Myanmar, apalagi pemerintah Indonesia. MINA: Bisa dijelaskan lebih rinci mengenai masalah material dan keamanan? Karidi: Soal material, pembangunan RSI ini kan di wilayah yang terpencil, jadi beberapa peralatan seperti listrik, besi, baja dan beberapa peralatan lain yang kita butuhkan cukup sulit mendapatkan di wilayah itu, sehingga mau tidak mau kita harus mengambil dari luar wilayah. Dan ini selain sulit ditransportasi, juga membutuhkan waktu yang lama. Dari sisi keamanan, di sana itu kondisinya tidak bisa diprediksikan aman atau tidak. Sampai saat ini saja masih ada peraturan darurat militer. Aturan ini salah satunya membatasi jam kerja para pekerja maupun relawan di sana. Pada 2018 lalu, pemerintah di sana memberi kita waktu bekerja sampai jam 5 sore. Sementara sekarang kita hanya diberi waktu hingga jam 4 sore. Pembatasan waktu ini berdampak pada waktu pengiriman material-material, kita tidak bisa melakukannya semaunya. Pengiriman material ini hanya bisa dilakukan pada siang hari. Dengan situasi seperti ini, untuk sekali pengiriman saja bisa sampai tiga hari lamanya. MINA: Selain pengiriman material dan keamanan, apa kendala lainnya? Karidi: Ketika kita hendak masuk ke Rakhine State, kita harus mengurus tiga surat wajib. Yang pertama visa, ini sudah pasti. Yang kedua kita harus memiliki surat izin masuk ke Rakhine State. Untuk memiliki surat ini, setidaknya kita membutuhkan waktu hingga kurang lebihnya 10 hari. Dan yang ketiga kita harus memiliki surat izin tinggal di sana. Khusus untuk surat izin tinggal ini, kalau kita sudah keluar dari Rakhine State dan ingin kembali datang, kita harus mengurus suratnya lagi. Untuk mengurus surat ini dibutuhkan waktu kira-kira sampai tujuh pekan. Kita sadari memang di wilayah itu tidak terlalu kondusif sehingga pemerintah di sana sangat berhati-hati. Namun, kami sangat bersyukur mendapat kemudahan untuk memiliki tiga surat wajib tersebut. Kami ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada Dubes RI untuk Myanmar, Iza Fadri yang telah memberikan dukungan kepada kita dalam membangun rumah sakit ini. MINA: Setelah mundur dari jadwal, lalu bagaimana target selanjutnya? Karidi: Untuk rencana selanjutnya mudah-mudahan satu bulan ke depan semuanya sudah selesai. Setelah rumah sakit ini jadi memang ada pekerjaan lagi. Kita ingin membangun area parkir, pengerjaan ground tank (penampungan air) menampung air hujan untuk keperluan kegiatan di rumah sakit dan juga pembangunan jembatan ke area rumah sakit. Itu diperkirakan membutuhkan waktu dua bulan. MINA: Pesan untuk masyarakat Indonesia? Karidi: Saya mewakili seluruh relawan ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Indonesia karena telah bahu membahu ikut berpartisipasi pada pembangunan rumah sakit ini. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. (W/R06/RS1) Sumber : https://minanews.net/relawan-mer-c-pembangunan-rsi-di-myanmar-capai-86-persen/