MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Relawan MER-C, Faried Zanjabil Berbagi Cerita saat Saksikan Langsung Serangan Israel ke Jalur Gaza

Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Faried Zanjabil Al Ayubi hari Sabtu (30/3) membagikan ceritanya kepada peserta “Gemma Ramadhan bersama Shafwah Group”, saat menyakiskan langsung serangan Israel ke Jalur Gaza, Palestina. Ia mengatakan, sejak serangan Israel 7 Oktober lalu sudah tidak ada lagi tempat aman di Jalur Gaza. Mulai dari Gaza utara, tengah, Kota Gaza semua sudah hancur. Kini hanya tersisa Gaza selatan, yang terkahir juga terus mendapat serangan dari Israel. Bahkan pemerintah pendudukan Israel terus menyerukan serangan darat ke wilayah tersebut. Ia mengatakan, bersama dua relawan MER-C lainya Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldilla Kurniawan mereka melihat langsung saat roket Israel menghantam mobil operasional MER-C yang sedang terparkir di Rumah Sakit Indonesia. Serangan itu juga mengakibatkan satu orang relawan lokal MER-C meninggal dunia. “Tidak ada tempat aman di Gaza, karena bahkan rumah sakit yang tidak boleh diserang pun, mereka serang. Salah satunya Rumah Sakit Indonesia,” ujarnya. Ia menceritakan, saat terjadi pengepungan tentara Israel ke Rumah Sakit Indonesia yang merupakan tumpuan terkahir warga Gaza, ia dan dua relawan lainya berada di sana bersama ratusan pasien, tim medis serta puluhan ribu pengungsi. “Saat itu suasananya sangat kacau dan mencekam. Selama pengepungan, kami menyelamatkan diri ke basement Rumah Sakit. Puluhan ribu warga Gaza yang mengungsi di sana kemudian hanya tersisa ratusan saja karena keluar menyelamatkan diri,” kata Faried.Tentara Israel yang selama empat hari bertahan di tank-tanknya menembaki lantai dua dan tiga Rumah Sakit dan mengakibatkan 12 pasien meninggal dunia. Mereka juga memaksa untuk segera mengosongkan rumah sakit. “Mereka menggunakan alasan bahwa ada trowongan pejuang Palestina di bawah Rumah Sakit untuk bisa melakukan serangan, padahal tujuan sebenarnya adalah mengusir paksa warga Gaza. Mereka melakukan Genosida” ujarnya. Akhirnya Faried bersama dua relawan lainya, para pasien, tim medis serta warga Gaza yang masih bertahan terpaksa keluar dan mengungsi ke Gaza selatan. Israel kemudian berhasil memasuki Rumah sakit dan menjadikanya markas selama 18 hari. Lebih lanjut ia mengatakan, Israel tidak pandang bulu saat melakukan serangan. Justru mereka menargetkan perempuan dan anak-anak yang merupakan kunci dari regenerasi bangsa Palestina. Ada banyak cerita bagaimana biadabnya Israel saat menargetkan perempuan dan anak-anak, yang menjadi korban terbanyak dalam perang ini. Namun setelah semua yang ia lewati dan beberapa perang yang dialami, Faried mengatakan tetap ingin kembali lagi ke Jalur Gaza. Menurutnya, sejak pertama kali tiba, Jalur Gaza sudah seperti kampung halaman, tidak terasa sebagai tempat asing.

Shafwah Group Gandeng MER-C Gelar Gema Ramadhan 2024

Shafwah Group menggandeng Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dan sejumlah lembaga serta komunitas lainya menggelar Gema Ramadhan 2024, di Gedung D Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Sabtu (30/3/2024). Gema Ramadhan bersama Shafwah Group ini dimeriahkan dengan berbagai rangkaian acara yaitu talkshow, painting workshop, coloring competition for kids dengan tema “Bangun kembali Rumah Sakit Indonesia di Palestina”, mini bazar, live music charity for Gaza dan ifthar bersama. Talkshow bertajuk “Let’s Talk About Mindfulnes” menghadirkan tiga pembicara di antaranya Direktur Shafwah Holidays Muhammad Syafiq Helmi, Psikologi Klinis Marissa Meditania dan Founder of Kami Idea Istafiana CandariniRelawan MER-C Farid Zanjabil juga ikut memeriahkan acara dengan membagikan kisah inspiratifnya saat bertugas di Jalur Gaza dan menyaksikan langsung serangan Israel yang terjadi sejak 7 Oktober 2023. Farid mengatakan, selama bertugas menyalurkan bantuan masyarakat Indonesia yang diberikan melalui MER-C, banyak cerita mengharukan di mana warga Gaza, meski kekurangan dan sangat membutuhkan bantuan mereka tetap memikirkan saudaranya yang lain.Ia mengungkapkan, jika mendapatkan kesempatan lagi ia ingin kembali ke Jalur Gaza. Karena baginya Gaza sudah seperti kampung halaman. Dalam kesempatan ini, The Saba, salah satu merek modest wear Indonesia yang berkomitmen menyalurkan hasil penjualanya untuk membantu warga Palestina, menyerahkan donasi kepada MER-C sebesar Rp. 30.500.000.  

OPEN RECRUITMENT – “MER-C EMT for Gaza Response 2024”

*OPEN RECRUITMENT – “MER-C EMT for Gaza Response 2024”* Salam Sejawat Medis, *MER-C atau Medical Emergency Rescue Committee* adalah sebuah lembaga kegawatdaruratan medis Indonesia untuk korban perang, konflik dan bencana alam baik di dalam maupun luar negeri.    Merespon krisis kemanusiaan di Gaza, pada *Senin/18 Maret 2024*, MER-C telah mengirimkan Tim Medis I ke Jalur Gaza, Palestina. Tim terdiri dari 11 relawan dari berbagai keahlian medis yang dibutuhkan di lapangan. MER-C berencana mengirimkan Tim yang berkelanjutan ke Jalur Gaza untuk memberikan bantuan pengobatan kepada para korban agresi. Kegiatan ini bersifat *Kerelawanan (unpaid volunteers)*, *Netral*, dan *Amanah*. Bagi rekan-rekan sejawat medis yang terpanggil untuk bergabung dan bertugas sebagai relawan *“MER-C EMT (Emergency Medical Teams) for Gaza Response 2024”*, silahkan mengisi form di link berikut ini dan melengkapi persyaratan yang diperlukan: Bagi rekan-rekan yang lolos seleksi akan dihubungi oleh Sekretariat MER-C untuk proses lebih lanjut. *NOTE:* Proses ini tidak dipungut biaya. Harap berhati-hati terhadap semua informasi yang mengatasnamakan MER-C Indonesia. Informasi resmi melalui official website MER-C Indonesia: www.mer-c.org atau Call Center MER-C Indonesia : 0811990176 (wa only) Atas perhatian rekan-rekan, kami mengucapkan terima kasih. Salam Kemanusiaan, *MER-C Indonesia*

Tiba di Jalur Gaza, Relawan MER-C Langsung Bertugas di Sejumlah Rumah Sakit

Sebelas relawan MER-C yang telah berhasil memasuki Gaza sejak Senin (18/3/2024) lalu langsung ditempatkan dan bertugas di sejumlah rumah sakit untuk membantu warga Gaza. Salah satu relawan yang merupakan Dokter Spesialis Orthopedi, dr. Reza, SpOT mengatakan, Rabu (20/3/2024) pagi Tim sudah melakukan koordinasi terkait penempatan relawan bersama Emergency Medical Teams (EMT) Gaza dan Kementrian Kesehatan Palestina (MoH) di Gaza. Tim langsung disambut dr. Muhammad yang merupakan Koordinator Rumah Sakit Se-Gaza. Relawan medis MER-C langsung dibagi menjadi tiga tim yang disebar di tiga fasilitas Kesehatan di Gaza bagian Selatan yang masih beroperasional. Pembagian tim berdasarkan hasil kordinasi dengan Kementrian Kesehatan Palestina. Tim 1 terdiri dari Tim bedah ditempatkan di RS Abu Yousef Al Najjar di Rafah yang diperuntukkan melayani pasien-pasien bedah dan trauma. Kasus terbanyak adalah open fraktur yang terinfeksi dan luka bakar. Tim 2 terdiri dari bidan dan perawat ditempatkan di RS Bersalin Al-Helal Al-Emirati di Rafah yang memang didedikasikan untuk perawatan pasien-pasien melahirkan. Jumlah operasi Sectio Caesaria di RS ini mencapai 15 operasi perhari. Sementara jumlah persalinan yang ditangani di RS ini mencapai 7000 kasus perbulannya.Sedangkan Tim 3, merupakan Primary Care Team yang terdiri dari dokter umum dan perawat ditempatkan di Tall Al-Sultan Primary Health Clinic di Rafah yang cukup besar dengan fasilitas seperti X Ray dan laboratorium. Pasien yang dilayani dalam satu hari bisa mencapai 1500 orang. “Alhamdulillah ketiga tempat di atas cukup sesuai bagi Tim kita sebagai spesialis, dokter umum, dan bidan. Sesuai dalam artian pasiennya memang banyak, peralatan yang kita miliki memang dibutuhkan dan cukup membantu tim medis di sini yang telah lelah,” tutur Reza. “Jadi dengan mendapat tempat yang sesuai di daerah yang relatif aman, kami sudah sangat bersyukur,” tambahnya. Relawan MER-C itu juga mengatakan berdasarkan hasil penilaian Tim hari pertama, dengan jumlah dokter, nakes, obat obatan serta peralatan yang tidak cukup, pihak rumah sakit sangat berharap mereka dapat bantuan tim medis berikutnya.   Para relawan dokter dan nakes dari berbagai negara mulai masuk ke Gaza untuk membantu. EMT MER-C merupakan tim Indonesia pertama yang memberikan pertolongan medis sejak agresi 7 Oktober terjadi. Tim membantu melakukan operasi pasien trauma, layanan maternal dan layanan umum. Tim akan bekerja selama dua pekan hingga maksimal satu bulan.Pengiriman bantuan tim medis ini membutuhkan keberlanjutan program. Oleh karena itu, besar harapan Kementrian Kesehatan Gaza, Indonesia bisa mengirimkan bantuan tim medis secara berkelanjutan dengan kebutuhan dokter-doketer spesialis ortopedi traumatologi, obgyn, bedah saraf, bedah plastik, spesialis anestesi, spesialis anak, spesialis penyakit dalam dan dokter umum serta layanan bidan dan perawat. Apa saja yang kita punya amat sangat dibutuhkan oleh warga Palestina di Gaza saat ini. Bantuan medis dari Indonesia bagaikan oase persaudaraan Indonesia-Palestina.

Ketua Presidium MER-C: Pengriman Tim Medis ke Gaza Tanggung Jawab Besar untuk Bantu Saudara Kita

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad dalam konfereni pers yang digelar hari Selasa (19/3) mengatakan, pengiriman tim relawan medis ke Jalur Gaza merupakan tanggung jawab besar untuk membantu warga Gaza.Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad dalam konfereni pers yang digelar hari Selasa (19/3) mengatakan, pengiriman tim relawan medis ke Jalur Gaza merupakan tanggung jawab besar untuk membantu warga Gaza. “Perjalanan panjang ini tidaklah melelahkan buat kami, karena ini merupakan tanggung jawab besar untuk membantu saudara kita yang ada di Gaza. Walaupun situasi dan kondisi hari ini di Indonesia begitu dinamis, tapi kami tidak akan pernah melupakan perjuangan dan penderitaan yang dialami oleh saudara kita yang ada di Gaza,” kata Sarbini di Kantor MER-C di Jakarta. Ia mengatakan, pengiriman 11 relawan MER-C yang saat ini sudah tiba di Gaza merupakan tujuan utama sejak awal terjadinya agresi, untuk membantu warga Gaza yang pada hari ini sangat membutuhkan tenaga medis.  Sarbini mengungkapkan, MER-C telah berupaya sekuat tenaga untuk bisa mengirimkan tim medis ke Gaza dengan bekerjasama ke semua pihak tapi sejak dulu belum ada kabar gembira, hingga akhirnya melalui kerja sama dengan WHO di bawah naungan Emergency Medical Tim (EMT), Tim Medis MER-C berhasil masuk ke Jalur Gaza pada hari Senin (18/3) pukul 17.15 waktu Gaza atau jam 22.15 waktu Indonesia. “Maka hari ini ada 11 orang relawan MER-C yang berada di Jalur Gaza terdiri dari dokter bedah orthopedi, dokter umum, perawat dengan berbagai keahlian, bidan dan lainya. Semua ada 11 orang ditambah dua relawan yang sudah ada di sana jadi total ada 13 relawan. Mereka akan bekerja di sana minimal selama dua minggu, maksimal satu bulan dan nanti akan ada estafet selanjutnya karena kami tidak mau ini berhenti selama ada relawan kita di sana,” tambahnya. Pada kesempatan ini, Sarbini mengajak semua elemen bidang Kesehatan baik yang berada di naungan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI) maupun di bawah lembaga rumah sakit atau pemerintah untuk bersama membangun koalisi besar mengirim tim medis ke Gaza secara berkelanjutan. “Ini pekerjaan besar, masalah besar, kasus besar, maka harus melibatkan segala elemen anak bangsa. Pada kesempatan ini kita mengajak kepada pemerintah untuk bisa terdepan, secara bersama kita membantu warga Gaza. Masalah Gaza adalah masalah dunia, masalah kita bersama yang tidak cukup hanya satu elemen membantu . Kita harus saling berkontribusi membangun kerja sama, sehingga satu bidang kesehatan bisa kita tangani bersama,” tuturnya.

Tim Medis MER-C Tiba di Jalur Gaza Palestina

Siaran Pers Setelah menunggu beberapa pekan, Senin/18 Maret 2024, Tim Medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang terdiri dari dokter spesialis bedah orthopedi, dokter umum, perawat dengan berbagai keahlian, bidan dan lainnya, sekitar pkl 22.15 wib atau pkl 17.15 waktu setempat mengabarkan bahwa mereka sudah tiba di Jalur Gaza, Palestina. “Sudah sampai di sisi Palestina,” demikian isi pesan singkat yang diterima MER-C Pusat Jakarta Senin malam, tepat pukul 22.15 wib. Kedatangan Tim disambut oleh relawan MER-C yang berada di Gaza dan pejabat Kementerian Kesehatan Palestina. Suasana haru dan syukur mewarnai Gedung imigrasi di Perbatasan Rafah sisi Gaza ketika 11 relawan MER-C turun dari bis yang membawa mereka dari Perbatasan Rafah Mesir ke Perbatasan Rafah Gaza yang hanya berjarak sekitar 100-meter saja. Dengan masuknya 11 relawan, maka total relawan WNI MER-C di Gaza saat ini sebanyak 13 orang. Tim MER-C akan bertugas selama minimal dua pekan. Mereka akan bekerja di fasilitas kesehatan yang ditunjuk oleh WHO dan Kementerian Kesehatan Palestina. Wilayah penugasan akan berada di Jalur Gaza bagian Selatan, karena rumah sakit di wilayah ini yang masih berfungsi, di tengah lumpuhnya sebagian besar fasilitas kesehatan di sepanjang Jalur Gaza. Tim Medis MER-C bisa mencapai Jalur Gaza atas kolaborasi dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang mengkoordinir Tim medis dari berbagai negara dibawah payung Emergency Medical Team (EMT) untuk memberikan bantuan di wilayah Gaza yang masih membara. MER-C atas kolaborasi dengan WHO berkomitmen untuk dapat mengirimkan Tim Medis yang berkelanjutan ke Jalur Gaza, Palestina. Untuk itu, kami mengajak sejawat dari organisasi profesi, Lembaga medis, Fakultas Kedokteran dan instansi medis lainnya untuk dapat bersama-sama atas nama bangsa Indonesia mengirimkan Tim medis ke Jalur Gaza. Pengiriman Tim dan bantuan medis diharapkan dapat menjadi salah satu dukungan nyata bangsa Indonesia, khususnya untuk Palestina sesuai dengan amanat UUD 1945 dan politik luar negeri Indonesia. Hal ini dapat terlaksana tentunya atas doa dan dukungan rakyat Indonesia. Bantuan-bantuan medis dan kemanusiaan akan terus disalurkan oleh MER-C secara bertahap ke Jalur Gaza. Kami berharap jika situasi sudah kondusif, MER-C dapat melakukan kembali Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza bagian Utara yang saat masih sulit untuk dijangkau karena situasi yang masih mencekam. Dukungan dan Donasi dapat disalurkan melalui: Bank Central Asia (BCA), 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111.925Bank Syariah Indonesia (BSI), 700.1352.061Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400Bank Muamalat Indonesia (BMI), 358.000.1720Bank Rakyat Indonesia (BRI), 033.501.0007.60308 Semua rekening atas nama:Medical Emergency Rescue Committee Jakarta, 19 Maret 2024MER-C Indonesia

Relawan MER-C Jalani Ramadhan di Tengah Agresi Israel

Seperti halnya sebagian umat muslim di dunia, umat muslim di Jalur Gaza sudah memulai puasa Ramadhan pertamanya pada hari Senin/11 Maret 2024. Demikian pula dengan dua relawan MER-C yang masih bertahan di Jalur Gaza, Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldilla Kurniawan.  Di tengah agresi yang masih terus dilancarkan Israel, relawan MER-C bersama warga Gaza lainnya tetap menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan tahun ini, meski dengan segala keterbatasan.“Tadi subuh kita sahur seadanya. Saya sendiri sahur dengan mie” tutur Fikri.  Namun ia merasa bersyukur masih ada makanan untuk sahur karena banyak warga Gaza yang beribadah puasa namun tidak bisa sahur karena tidak adanya makanan. “Banyak warga Gaza, hari ini mereka puasa tapi tidak sahur karena keterbatasan stok bahan pangan yang mereka miliki,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa data dari Kemenkes Palestina mengatakan terdapat 2.000 tim medis yang hari ini ikut berpuasa tapi tidak ikut sahur karena selama 24 jam mereka harus merawat korban dan pasien-pasien. Mayoritas tim medis ini menurutnya ada di Gaza Utara. Kondisi ini disebabkan bantuan-bantuan yang masuk ke Gaza memang masih sulit, terutama untuk mencapai ke Jalur Gaza bagian utara. Ketika tiba adzan maghrib, Fikri bersama Reza ditemani satu relawan lokal berbuka puasa di ruangan tempat mereka mengungsi, di salah satu kamp pengungsian berupa bangunan sekolah bersama ribuan warga Gaza lainnya. Walaupun berbuka hanya dengan menu seadanya, namun mereka sangat bersyukur. “Alhamdulillah beginilah buka puasa di Jalur Gaza, seadanya dan bahkan banyak saudara-saudara kita yang lebih menderita lagi. Semoga kita terus istiqomah dan bisa menyalurkan bantuan,” ujarnya. “Kita berbuka puasa dengan roti, dicolek dengan daging kornet dan campuran lainnya yang dimasak seadanya. Setelah itu, dengan buah Zaytun atau bisa dengan cabai atau daun bawang dan bombay sebagai lalapan,” jelas Fikri sambil menikmati makanan berbuka. Relawan yang telah berada di Gaza sejak awal 2019 ini mengingatkan agar rakyat Indonesia terus mendoakan rakyat Gaza, khususnya mendokan agar gencatan senjata di Jalur Gaza bisa terlaksana.

Truk Bantuan Obat-obatan MER-C Bergerak Menuju Rafah

Setelah truk-truk bantuan makanan dan tepung yang telah berhasil masuk ke Jalur Gaza dan telah didistribusikan ke kamp-kamp pengungsian di Gaza Tengan dan Selatan, truk-truk yang berisi bantuan obat-obatan dan bahan medis MER-C juga dikabarkan telah bergerak menuju perbatasan Rafah.   Hal ini dilaporkan oleh Tim MER-C yang saat ini masih berada di Kairo untuk melakukan pemantauan langsung pembelian, pengemasan dan pengiriman bantuan-bantuan dari rakyat Indonesia melalui MER-C. “Saat ini sudah pukul 08.00 malam waktu Kairo dan kami berada di gudang dimana bantuan dari Bapak Ibu sebanyak kurang lebih ada 18 palet yang berisi obat-obatan sudah siap untuk dilakukan proses pengiriman,” ujar dr. Arief Rachman, SpRad, Ketua Tim MER-C.  “Di luar sudah menunggu truk yang akan mengangkat bantuan-bantuan ini berangkat dari pergudangan di Kairo menuju ke perbatasan Rafah dan berharap akan masuk ke Jalur Gaza,” lanjutnya. Mewakili MER-C, Dr. Arief memohon doa kepada rakyat Indonesia agar perjalanan truk-truk bantuan berjalan dengan lancar dan tidak mendapat hambatan. Ia berharap bantuan bisa segera diterima dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan yang semakin sulit di Jalur Gaza. Hal ini disebabkan blockade dan agresi yang masih terus dilancarkan Israel ke Jalur Gaza. Ia juga mengucapkan terima kasih atas semua partisipasi dan dukungan dari Masyarakat Indonesia sehingga berbagai bantuan dapat terus disalurkan oleh Tim MER-C baik bantuan yang berasal dari Kairo Mesir maupun bantuan-bantuan di dalam Gaza yang dilakukan oleh Tim MER-C baik di Gaza bagian Selatan maupun Gaza bagian Utara. “Kita berharap usaha kecil ini bisa membantu saudara-saudara kita di Gaza,” tuturnya.  Lebih lanjut ia mengatakan bahwa di samping bantuan kemanusiaan, MER-C masih terus berkomitmen untuk membangun kembali Rumah Sakit Indonesia yang berada di Bait Lahiya, Jalur Gaza Utara. RS Indonesia mengalami kerusakan berat dan sampai saat ini masih berhenti beroperasional pasca penyerangan dan pengepungan yang dilakukan Israel pada November 2023 lalu.

MER-C: Bantuan Melalui Udara ke Gaza Tak Bermartabat

Droping bantuan melalui udara terpaksa dilakukan oleh sejumlah negara untuk dapat memberikan bantuan bagi warga di Jalur Gaza Palestina yang masih mengalami blokade dan agresi berkepanjangan. Penyaluran bantuan melalui udara sudah berhasil dilakukan oleh Yordania, UEA, Perancis dan Amerika Serikat. Yordania bahkan langsung Raja Abdullah yang turun mengkoordinasi droping bantuan melalui pesawat.   Indonesia juga berencana mendrop bantuan kemanusiaan melalui udara ke Jalur Gaza. Hal ini disampaikan oleh Presiden RI, Joko Widodo setelah sulitnya menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui jalur darat karena Israel tidak menginginkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza. Namun, Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad justru menyayangkan penyaluran bantuan melalui udara ke Jalur Gaza dan tidak menyarankan hal serupa turut dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Ia berpendapat bahwa memberikan bantuan kemanusiaan melalui udara tidaklah bermartabat. “Langkah ini tidaklah bermartabat. Sangat memilukan nurani kita ketika melihat warga Gaza berkuruman dan berebut bantuan serta mempertaruhkan nyawa dengan mengejar parasut bantuan yang jatuh di laut serta saling kuat-kuatan dalam merebut bantuan yang tidak seberapa dibanding dengan kebutuhan mereka,” kata Sarbini.Bahkan pada Jumat (8/3/2024), setidaknya lima orang dikabarkan meninggal dunia dan 10 lainnya terluka akibat paket bantuan yang dijatuhkan dari udara menimpa warga di kamp Al Shati sebelah barat Kota Gaza.  Untuk itu, Sarbini menyatakan bahwa cara seperti itu bukanlah suatu keputusan yang dapat membantu secara total persoalan kemanusiaan di Gaza. Tapi ironinya malah menggambarkan kekalahan dunia menghadapi sikap keras kepala Israel yang tidak peduli dengan tekanan dunia agar membuka akses bantuan kemanusiaan masuk ke Jalur Gaza.“Sampai kapan kita menonton drama kemanusiaan dengan Israel sebagai aktor dan Gaza sebagai korban,” ujarnya.Meski demikian, Sarbini menyampaikan bahwa niat Presiden patut diapresiasi namun perlu juga dikaji ulang efektifitas nya. Jangan sampai malah menimbulkan dan menambah korban di pihak warga Gaza.Sarbini malah menyarankan agar Indonesia mendirikan RS Lapangan di Rafah Mesir. “Mendirikan rumah sakit lapangan di Rafah Mesir adalah pilihan yang masuk akal dan memungkinkan dilakukan oleh Indonesia,” katanya. RS Lapangan menurut Sarbini dapat menjadi salah satu alternatif bantuan yang dapat diberikan Indonesia untuk turut mengatasi kelumpuhan sarana kesehatan di Jalur Gaza. Sarana kesehatan menjadi hal yang vital di tengah agresi yang masih terus berlangsung dan jumlah korban yang terus bertambah. Sementara rumah sakit di Mesir sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Jalur Gaza juga sudah kewalahan menerima rujukan korban warga Gaza yang tak terbendung.

Penyaluran Bantuan ke Gaza Terus Berlanjut, MER-C Bagikan Susu di Pengungsian

Relawan MER-C di Jalur Gaza terus menyalurkan bantuan yang diberikan masyarakat Indonesia untuk warga Gaza, di tengah gempuran Israel yang masih berlangsung. Pada Senin (4/3/2024), MER-C membagikan susu untuk bayi yang berada di pengungsian.   “Selain susu, MER-C juga membagikan botol susu. Ini merupakan pertama kalinya kita membagikan susu karena memang harganya saat ini cukup tinggi dan kelangkaan barang tersebut yang sulit didapatkan. Jadi kita membagikan susu formula dan botol susunya kepada pengungsi yang ada di dua sekolah di sekitar Rumah Sakit Eropa” kata Relawan MER-C Fikri Rofiul Haq. “Data yang kita catat anak kecil di bawah satu tahun yang ada di pengungsian ini ada sekitar 65,” ujarnya.Ia mengatakan, MER-C hanya bisa membagikan susu untuk anak kecil di bawah satu tahun karena kondsi yang sangat sulit. Bahkan mereka membutuhkan waktu berhari-hari untuk bisa mengumpulkan 65 kaleng susu.  “Perlu diketahui ada 15 anak yang meninggal karena malnutrisi atau dehidrasi yang di rawat di Rumah Sakit Kamal Udwan di Gaza Utara. Untuk itu dibutuhkan lebih banyak lagi bantuan yang masuk ke Jalur Gaza,” tuturnya.Menurutnya, gencatan senjata segera sangat dibutuhkan agar bantuan bisa lebih banyak masuk. Karena saat gencatan senjata sebelumnya,  ada 200-an truk bantuan yang bisa masuk ke Jalur Gaza. Lebih lanjut Fikri mengatakan, saat ini mereka baru bisa intens menyalurkan bantuan di dua sekolahan tempat mereka mengungsi karena situasi yang memang belum memungkinkan untuk bergerak bebas dan lebih jauh.  “Kenapa kami hanya membuat program di dua sekolahan, perlu diingat sampai hari ini pihak Zionis Israel terus melakukan serangan-seranganya terhadap masyarakat sipil terutama yang baru hangat dibicarakan insiden sebuah truk bantuan yang masuk ke Gaza Utara dan warga berkumpul untuk menerima bantuan, namun Israel menembaki truk bantuan dan masyarakat sipil yang mengambil bantuan tersebut, sehingga dilaporkan 112 warga meninggal dan 760 lainnya mengalami luka-luka dalam beberapa menit saja,” katanya. Meski ada kesempatan menyalurkan bantuan di tenda-tenda ataupun di tempat lainnya, Fikri mengungkap Relawan MER-C harus melewati proses yang cukup sulit. Selain itu, mereka juga mengalami kesulitan dana yang menipis,  di mana bank juga menjadi target sasaran Israel. Mesin ATM juga banyak yang tutup atau antriannya sangat panjang. Jika antre pagi kemungkinan dapat menarik uang di malam hari. Hingga hari ini, bantuan air bersih dan air minum MER-C juga masih terus berjalan, dengan total 10.000 liter air per hari. Ada empat drum penampung air minum dan air bersih untuk dua sekolahan lokasi pengungsian. Saat ini tidak semua masyarakat bisa mecari air minum atau air bersih karena cukup langka.

Silahkan bertanya?