Cerita Haru Relawan MER-C Bantu Persalinan di Jalur Gaza

Salah satu relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang merupakan seorang bidan dan ikut menjadi bagian dari tim medis yang berhasil memasuki Gaza beberapa waktu lalu membagikan ceritanya saat membantu persalinan di wilayah yang sedang berada di bawah blokade itu. Sebelas relawan MER-C yang telah berhasil memasuki Gaza sejak Senin (18/3/2024) lalu langsung ditempatkan dan bertugas di sejumlah rumah sakit untuk membantu warga Gaza. Relawan MER-C dibagi menjadi tiga tim yang disebar di tiga fasilitas Kesehatan di Gaza bagian Selatan yang masih beroperasi. Pembagian tim berdasarkan hasil kordinasi dengan Kementrian Kesehatan Palestina. Relawan MER-C yang merupakan seorang bidan masuk ke Tim 2, yang ditempatkan di RS Bersalin Al-Helal Al-Emirati di Rafah yang memang didedikasikan untuk perawatan pasien-pasien melahirkan. Jumlah operasi Sectio Caesaria di RS ini mencapai 15 operasi perhari. Sementara jumlah persalinan yang ditangani di RS ini mencapai 7000 kasus perbulannya. Mendapat kesempatan menjadi tim medis yang bisa masuk ke Jalur Gaza dan membantu tim medis di sana meski serangan masih terus berlangsung, ia justru merasa beruntung. Ia juga punya cerita tersendiri saat menangani persalinan bayi-bayi di Gaza. Ia menceritakan, satu waktu ia sedang dinas di delivery room, untuk menolong persalinan. Selama proses persalinan, ia berbicara dengan dokter di sana. Dokter itu mengungkapkan, pertolongan spartan selama perang membuat semua staf medis lelah. Tentu saja, sejak agresi berlangsung pada 7 Oktober, tim medis di Jalur Gaza harus bekerja selama 24 jam karena jumlah pasien yang cukup banyak. Mereka juga harus berjuang di tengah keterbatasan obat-obatan dan peralatan medis akibat blokade Israel. Untuk itu, mereka sangat membutuhkan bantuan tim medis. “Saya bilang, saya merasa sangat bersyukur bisa menolong persalinan di sini, karena saya merasa menjadi orang yang beruntung membantu lahirnya para pejuang Gaza. Mendengar jawaban saya, dokter itu terdiam,” ujarnya. “Lalu saya bilang, apalagi kamu yang sudah membantu melahirkan ratusan pejuang.” Kemudian ia hanya menjawab berkali-kali dengan “Alhamdulillah! Alhamdulillah!” Setiap anak yang lahir di Jalur Gaza tentu saja calon pejuang. Lahir di tengah agresi ini mereka sudah harus berjuang sejak di dalam kandungan. Situasi mengerikan, kekurangan kebutuhan dasar seperti air, makanan dan listrik. Setelah lahir mereka masih harus berjuang tinggal di pengungsian. “Tidak terasa, air mata saya mengalir di tengah percakapan kami saat menolong persalinan calon pejuang Gaza ini,” tuturnya. Ia lebih lanjut mengatakan bahkan sudah empat kali menolong persalinan sendirian karena banyaknya jumlah persalinan yang harus ditangani dan terbatasnya ketersediaan meja persalinan. Hal ini juga mengharuskan ibu-bu yang baru melahirkan dipulangkan kebih awal. Apabila melahirkan secara normal tiga jam sudah pulang, sedangkan jika dioperasi, sembilan jam sudah harus pulang. “Cukup sedih, kita melihat ibu-ibu yang baru melahirkan pulang ke pengungsian dengan tertunduk memegangi perutnya bersama keluarganya yang menggendong bayi. Tapi ini realita yang terjadi di Gaza dan mereka sudah terlatih. Saya juga akhirnya mengerti,” ujarnya. Selama beberapa hari bertugas di Gaza, ia mengungkapkan setiap malam Tim mendengar suara drone hingga menjelang subuh. Tak jarang mereka juga mendengar suara dentuman dan tembakan. Padahal, ledakan dan tembakan itu terjadi di Khan Younis, cukup jauh dari tempat Tim berada. Para relawan dokter dan nakes dari berbagai negara mulai masuk ke Gaza untuk membantu. EMT MER-C merupakan tim Indonesia pertama yang memberikan pertolongan medis sejak agresi 7 Oktober terjadi. Tim membantu melakukan operasi pasien trauma, layanan maternal dan layanan umum. Tim akan bekerja selama dua pekan hingga maksimal satu bulan. Pengiriman bantuan tim medis ini membutuhkan keberlanjutan program. Oleh karena itu, besar harapan Kementrian Kesehatan Gaza, Indonesia bisa mengirimkan bantuan tim medis secara berkelanjutan dengan kebutuhan dokter-doketer spesialis ortopedi traumatologi, obgyn, bedah saraf, bedah plastik, spesialis anestesi, spesialis anak, spesialis penyakit dalam dan dokter umum serta layanan bidan dan perawat. Apa saja yang kita punya amat sangat dibutuhkan oleh warga Palestina di Gaza saat ini. Bantuan medis dari Indonesia bagaikan oase persaudaraan Indonesia-Palestina
Tim Medis ke-3 MER-C kembali Berhasil Memasuki Jalur Gaza

Tim Medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang tergabung dalam Emergency Medical Teams (EMT) ke-3 bersama rombongan WHO lainnya kembali berhasil memasuki Jalur Gaza, Palestina, pada Senin (22/4/2024). Tim EMT ke-3 MER-C berjumlah sembilan orang relawan, terdiri dari lima dokter dan empat perawat. Kelima dokter tersebut adalah; satu Dokter Spesialis Anak (Neonatologi), satu Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi, PD HCHM, Hand Microsurgery and Upper Limb Surgery Fellow Consultan, satu Dokter Spesialis Bedah Orthopedi dan Traumatologi, satu Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer (KKLP) serta satu Dokter Umum. Tim EMT ke-3 berangkat dari Jakarta ke Kairo pada Jumat (19/4/2024). Tiba di Kairo hari Sabtu, Tim langsung membeli alat-alat operasi bedah orthopedi dan bedah plastik yang sudah dipesan sebelumnya serta alat-alat medis lainnya, sejumlah bahan medis habis pakai, obat-obatan dan beberapa keperluan yang dibutuhkan selama bertugas di Jalur Gaza. Pada Minggu (21/04/2024), Tim mengikuti security briefing yang diadakan EMTCC (Emergency Medical Teams Coordination Cell) WHO di Kairo untuk teknis konvoi perjalanan darat dari Kairo ke Jalur Gaza. Tim Medis MER-C berjumlah 11 orang pertama kali berhasil memasuki Jalur Gaza pada Senin (18/03/2024). Kemudian MER-C kembali mengirimkan Tim ke-2 yang terdiri dari empat relawan, yaitu satu dokter umum, dua perawat dan satu liaison officer, yang berhasil masuk ke Gaza hari Rabu (03/04/2024).
Relawan Medis MER-C Bertugas di Tengah Keterbatasan di RS An Najjar Rafah

Relawan Medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang bertugas di Rumah Sakit An Najjar di Rafah, Gaza Selatan, harus berjuang di tengah keterbatasan fasilitas dan obat-obatan. Tidak ada lagi tempat di IGD untuk menangani pasien. Jadi tindakan terpaksa dilakukan di kursi-kursi yang ada di sekitar ruang IGD. Tempat tidur yang tersedia sudah penuh. Menjadi salah satu dari empat rumah sakit yang masih berfungsi di Gaza Selatan, RS An Najar menerima 1000 hingga 2000 pasien per harinya. Salah satu relawan MER-C yang bertugas di Rumah Sakit tersebut mengatakan, ia bisa melakukan tindakan penjahitan kepada 30-40 pasien per harinya atau bahkan lebih jika sedang terjadi serangan. “Tantangan paling sulit karena lokasinya terbatas dan ada pasien yang cukup banyak. Di ruang ini hanya ada satu tempat tidur, yang bisa kami gunakan untuk 2-3 orang sekaligus. Kebutuhan medis juga tidak full di suplay hanya beberapa poin yang dipenuhi,” ujarnya. Relawan MER-C mengungkap, di RS An Najjar mereka menangani banyak pasien kelelahan, beberapa pasien yang mengalami infeksi saat di pengungsian, demam serta pasien luka. Pasien didominasi oleh anak-anak. Menariknya, saat Relawan MER-C melakukan peliputan langsung salah satu anak yang mengalami luka di kepalanya terus membaca ayat suci Al Quran selama dokter melakukan penanganan. 11 relawan MER-C berhasil memasuki Gaza sejak Senin (18/3/2024) lalu dan langsung bergabung dengan sejumlah rumah sakit untuk membantu warga Gaza. Berdasarkan hasil kordinasi dengan Kementrian Kesehatan Palestina Relawan Medis MER-C dibagi menjadi tiga tim. Tim 1 terdiri dari dokter bedah ditempatkan di An-Najar Hospital di Rafah yang diperuntukkan melayani pasien-pasien bedah dan trauma. Tim 2 terdiri dari bidan ditempatkan di Emiraty Hospital di Rafah yang didedikasikan untuk perawatan pasien ibu dan anak. Sedangkan Tim 3, Primary Care Team, ditempatkan di Tal Al-Sultan Primary Health Clinic di Rafah yang cukup besar dengan fasilitas seperti X Ray dan laboratorium. Di sini ada lima poli, satu poli spesialis anak (SpA), dua poli General Practitioner (umum) dan dua poli lain-lain.
Tak Hanya Rafah, Relawan MER-C juga Lakukan Tindakan Operasi di Gaza Tengah

Relawan Medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang saat ini bertugas di Jalur Gaza, Palestina, masih terus membantu tim medis di sejumlah rumah sakit di wilayah itu. Terbaru, tidak hanya di rumah sakit yang terletak di Rafah, Gaza Selatan, Tim Medis MER-C juga melakukan tindakan operasi di Rumah Sakit Syuhada Al Aqsa yang berada di Kota Dirbalah, Gaza Tengah. Dua Relawan Medis MER-C dr. Fahmi Anshori, SpOT dan dr. Reyfal Khaidar bersama dua relawan MER-C lainya di Jalur Gaza Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldilla Kurniawan telah melakukan kunjungan ke RS Syuhada Al Aqsa untuk melakukan assessment, guna memastikan kondisi Rumah Sakit sebelum kedua dokter tersebut bertugas. Dr. Reyfal mengatakan, karena kondisi yang terbatas, ruang kebidanan yang ada di RS Syuhada Al Aqsa saat ini digunakan untuk ruang operasi. Pada kesempatan itu, dua relawan medis MER-C melakukan tindakan operasi korban fraktur tulang paha yang disebabkan oleh reruntuhan rumahnya yang hancur terkena bom.Dr. Fahmi mengatakan, ada situasi berbeda saat bertugas di Gaza Tengah di mana suara ledakan lebih sering terdengar dibandingkan di Gaza Selatan, yang sekarang memang menjadi satu-satunya wilayah aman serta memungkinkan bagi tim medis untuk bertugas. “Kalau di Gaza Selatan itu kita mendengar ledakan bom setiap jam, kalau di Gaza Tengah ini setiap menit. Ini cukup mendebarkan tapi Alhamdulillah Allah masih menjaga kita,” ujarnya. Ia mengungkap, untuk alasan keamanan WHO melarang Tim melakukan perjalanan saat malam hari dan menginap di Rumah Sakit, sehingga operasi yang dilakukan masih terbatas dan tim harus segera kembali ke Gaza Selatan sebelum matahari tenggelam. Dr. Fahmi menyerukan kepada dokter maupun relawan yang ingin membantu warga Gaza secara langsung untuk bisa melalui MER-C. Saat ini tim medis di Jalur Gaza sangat membutuhkan bantuan. 11 Relawan Medis MER-C berhasil memasuki Gaza pertama kali pada Senin (18/3/2024). Tim ke-2 sebanyak empat orang relawan menyusul masuk ke Jalur Gaza pada tanggal 3 April 2024. MER-C secara berkelanjutan terus mengirimkan relawanya untuk bertugas di Jalur Gaza yang tergabung dalam Emergency Medical Teams (EMT).
MER-C Salurkan Bantuan Obat-obatan Tahap Dua untuk Sejumlah Rumah Sakit di Jalur Gaza

Medical Emergency Rescue Committee Rescue (MER-C) kembali menyalurkan bantuan obat-obatan dan alat kesehatan tahap dua untuk sejumlah rumah sakit di Jalur Gaza, tempat Tim Medis MER-C bertugas. Bantuan ini disalurkan oleh relawan MER-C di Jalur Gaza ke RS Abu Yousef An Najjar, RS Al Hilal El Emiraty dan Klinik Tal Al Sultan. Semua rumah sakit ini berlokasi di Rafah, Gaza Selatan, tempat yang masih cukup aman dan memungkinkan bagi tim medis bertugas. Masing-masing rumah sakit mendapat 6-7 dus berisi bantuan obat-obatan dan alat medis. Obat-obatan serta peralatan kesehatan yang disalurkan pada tahap kedua ini di antaranya; obat-obatan injeksi atau suntikan, obat lambung, obat nyeri, obat-obatan untuk persalinan dan pembalut, serta beberapa obat yang diperlukan untuk anestesi saat operasi. Kemudian alat untuk operasi seperti jarum dan benang jahit, gunting bedah, kasa steril, termometer, oximeter dan beberapa peralatan lainnya. Salah satu relawan medis MER-C dr. Reyfal Khaidar mengatakan, obat-obatan dan peralatan medis yang diberikan tersebut sangat dibutuhkan karena jumlahnya terbatas dan sudah mulai habis di seluruh kota Rafah. “Selain itu MER-C juga menyalurkan beberapa alat dasar seperti sandal operasi, karena di sini kondisinya cukup memprihatinkan. Banyak yang sudah rusak, robek, bahkan banyak yang sudah dijahit oleh perawat dan dokter. Untuk itu, kami menyumbangkan dua boks besar sandal operasi agar bisa digunakan oleh para nakes di sini,” ujar dr. Reyfal. Ia berharap akan ada bantuan yang terus berlanjut dan bukan hanya kebutuhan medis warga Gaza tapi juga makanan pokok seperti tepung dan lainya. “Semoga kami di sini bisa membuka jalan untuk teman-teman semua. Ini bukan akhir dari pertolongan kita. Banyak sekali yang menyampaikan terima kasih kepada Indonesia atas dukungan yang diberikan sejak awal. Insya Allah ini menjadi keberlanjutan bagi kita untuk terus membantu Palestina,” katanya.
MER-C kembali Kirim Tim Medis ke Jalur Gaza, Palestina

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kembali mengirimkan Tim Medis yang tergabung dalam Emergency Medical Tim (EMT). Ini merupakan pengiriman kedua setelah sebelumnya 11 orang relawan MER-C berhasil memasuki Gaza pada Senin (18/03/2024). Tim kedua yang terdiri dari satu orang dokter umum, dua perawat dan satu liaison officer berhasil memasuki Gaza hari Rabu (03/04), pukul 15.00 waktu setempat setelah melewati proses pemeriksaan yang cukup ketat. Tim disambut langsung oleh relawan MER-C yang berada di Jalur Gaza. Manajer Operasional MER-C, Rima Manzanaris mengatakan, proses masuknya Tim EMT 2 MER-C relatif lebih mudah dibandingkan Tim sebelumnya yang sempat mengalami beberapa kali penundaan. “Alhamdulillah Tim EMT kedua ini lebih lancer. Mereka berangkat dari Kairo bersama konvoi dari WHO pada Rabu sekitar jam 05.00 pagi, lalu masuk ke Rafah bagian Mesir pukul 13.00 dan berhasil masuk Rafah bagian Gaza pukul 15.00 waktu setempat,” ujarnya. Rima mengatakan, dari Tim EMT yang bertugas sebelumnya, terhitung sudah ada dua kali kepulangan yaitu pada tanggal 27 Maret 2024 sebanyak 2 relawan dan 3 April 2024 sebanyak 4 relawan. “Relawan yang telah menunaikan misi, telah tiba di tanah air dengan selamat. Sementara dengan datangnya Tim baru, jumlah relawan MER-C yang bertugas di Gaza masih sebanyak 11 orang,” lanjutnya. Ia juga mengatakan, MER-C berkomitmen akan terus berupaya mengirim relawan medis ke Jalur Gaza untuk membantu tenaga medis di Gaza dan membantu mengobati para korban. Adapun untuk penugasan Tim EMT kedua ini, Rima mengungkap wilayahnya masih sama yaitu di Rumah Sakit Abu Yusuf An Najjar dan Rumah Sakit Al Emirati. Satu orang dokter umum yang baru tiba ditempatkan di Tall Al Sultan Primary Health Care Center.
Bertugas di RS Abu Yusuf An Najjar Gaza, Tim Bedah MER-C Telah Tangani 25 Operasi

Ketua Tim EMT 1 MER-C, dr. Muhammad Reza Saputra, SpOT mengatakan, selama bertugas 10 hari di Rumah Sakit Abu Yusuf An Najjar, di Gaza Selatan, ia dan tim telah menangani 25 operasi bahkan per hari mencapai 5-6 operasi per harinya. “Sampai hari ke 10 ini kita sudah banyak membantu masyarakat Gaza. Tapi yang perlu menjadi catatatan membantu Gaza yang saat ini sedang perang bukan berarti membantu perang. Pasien yang ditangani bukan hanya korban perang tapi juga korban secondary impact,” ujar dr. Reza. “Di RS An Najjar kita melakukan operasi lebih kurang 25 orang. Sebagian besar korban perang dan sebagian lagi korban yang memang tidak langsung kena perang seperti kena tembak atau terkena ledakan tetapi karena mengungsi kemudian terjatuh, posisinya tidak bagus. itu juga banyak harus kita lakukan tindakan,” katanya. Ia juga mengatakan, pengungisan yang terlalu padat di mana Gaza Selatan atau Rafah dengan luas sekitar 50 km2 diisi oleh sekitar 1,5 juta warga Gaza mengakibatkan kebersihan, sanitasi dan kesehatan sangat terganggu sehingga penyakit menular juga banyak saat ini. Dr. Reza mengungkap, dari 14 rumah sakit di Jalur Gaza hanya ada tiga yang beroperasi yaitu RS Eropa, RS Al Aqsa, RS An Najar kemudian ada rumah sakit khusus ibu dan anak yaitu RS Al Emirati. Dari ketiga rumah sakit itu, Relawan Medis MER-C yang berjumlah 11 orang dibagi menjadi tiga tim. Di RS An Najjar tempatnya bertugas bersama satu orang dokter ortopedi lainya, satu perawat anestasi dan satu perawat operasi dari Tim MER-C, fasilitas yang ada sangat kurang karena banyak yang rusak. IGD yang sebelumnya menerima 100 pasien, saat ini harus menerima 700 pasien. Pasien yang tidak bisa ditangani dirujuk ke RS Eropa. “Sebenarnya memang yang paling banyak melakukan operasi itu di RS Eropa, tapi saat ini kita masih di tempatkan di An Najjar oleh Kementrian Kesehatan Palestina. Tapi kita sudah berencana melakukan kerja sama dengan tim dokter di RS Eropa untuk melakukan operasi,” tuturnya. Sebelumnya, ketika masuk ke Jalur Gaza Tim MER-C telah membawa bantuan obat-obatan, instrumen orthoopedi, peralatan orthopedi dan implant orthopedi yang sangat bermanfaat bagi tim medis di Gaza. Mereka memang mengharapkan alat-alat ortopedi dan alat-alat medis lainnya yang sangat mereka butuhkan untuk membantu melayani masyarakat. Proses Sulit Masuk ke Gaza Lebih lanjut, dr. Reza mengungkap terkait proses masuknya Tim yang cukup sulit hingga berhasil tiba di Jalur Gaza.“Kita dari tim MER-C sudah berkordinasi dengan WHO sebelum-sebelumnya dan ketika kita mencoba untuk masuk, kita masih harus menunggu hampir sebulan di Kairo. Hingga pada tanggal 18 Maret pukul 17.15 kita berhasil masuk,” katanya. Tiba di Gaza, Tim MER-C langsung berkordinasi dengan Kementerian Kesehatan Palestina dan pihak-pihak terkait untuk penugasan dan penempatan tim. Terharu dengan Ketabahan Warga Gaza dr. M. Reza Saputra, SpOT mengatakan, selama bertugas di Jalur Gaza, ia menyaksikan ketabahan warga Gaza dan tersentuh bagaimana mereka masih berbagi meski dalam kondisi kekurangan. “Yang paling menyentuh hati saya adalah masyarakat Gaza ini mereka tidak merendahkan diri. Walaupun ada yang minta-minta anak-anak begitu, tetapi yang paling saya rasakan adalah mereka selalu senyum dan tidak merendahkan diri,” kata dr. Reza. Ia mengatakan, saat ini masih ada akifitas ekonomi dan perdagangan yang menjadi bukti warga Gaza tidak mau menerima dengan tangan di bawah. Mereka masih mau berusaha. Cerita lain yang mengesankan baginya adalah ketika ia bersama Tim MER-C lainnya tiba dan saat itu sudah masuk bulan puasa, mereka melihat ternyata walau kekurangan masih ada warga Gaza yang membagikan air. “Itu menyebabkan kami sangat tersentuh,” ujar Dokter Spesialis Ortopedi itu. “Dan bagi saudara saudara kami di Indonesia warga Gaza sangat membutuhkan bantuan kita semua,” ujarnya.
Makis Kementerian BUMN Serahkan Bantuan untuk Palestina Melalu MER-C

Majelis Kerohanian Islam (Makis) Kementerian BUMN menyerahkan bantuan untuk warga Palestina melalui Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). Bantuan sebesar Rp. 150.000.000 diserahkan secara simbolis oleh Wakil Menteri (Wamen) BUMN Kartika Wirjoatmodjo kepada Ketua Presidium MER-C dr. Sarbini Abdul Murad, pada kesempatan Tabligh Akbar dalam rangka memperingati Nuzulul Al Quran di Masjid Makis BUMN Ar-Rayyan, di Jakarta, Selasa (02/04/2024). Dalam sambutannya, Sekretaris Kementrian BUMN Rabin Indrajad Hattari mengatakan Tabligh Akbar dengan tema “Al Quran sebagai Petunjuk dalam Peningkatan Sosial dan Spiritual Well-Being” digelar untuk meningkatkan kesehatan mental dan spiritual di bulan Ramadhan. Tabligh Akbar yang merupakan bagian dari kegiatan Ramadhan Kementrian BUMN ini dihadiri Ahli Tafsir Al Quran Prof. Quraish Shihab. Selain menyalurkan bantuan untuk masyarakat Palestina melalui MER-C, pada kesempatan Tabligh Akbar ini Makis Kementrian BUMN juga memberikan bantuan kepada anak yatim-piatu, bantuan kaca mata serta bantuan kepada pegawai BUMN. “Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada jamaah Masjid Ar rayyan yang telah beramal dan berinfak semoga Allah perbaiki seluruh niat dan amal soleh yang telah diberikan, serta melipat gandakan rizki ibu bapak semua,” ujar Rabin.
Relawan MER-C, Faried Zanjabil Berbagi Cerita saat Saksikan Langsung Serangan Israel ke Jalur Gaza

Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Faried Zanjabil Al Ayubi hari Sabtu (30/3) membagikan ceritanya kepada peserta “Gemma Ramadhan bersama Shafwah Group”, saat menyakiskan langsung serangan Israel ke Jalur Gaza, Palestina. Ia mengatakan, sejak serangan Israel 7 Oktober lalu sudah tidak ada lagi tempat aman di Jalur Gaza. Mulai dari Gaza utara, tengah, Kota Gaza semua sudah hancur. Kini hanya tersisa Gaza selatan, yang terkahir juga terus mendapat serangan dari Israel. Bahkan pemerintah pendudukan Israel terus menyerukan serangan darat ke wilayah tersebut. Ia mengatakan, bersama dua relawan MER-C lainya Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldilla Kurniawan mereka melihat langsung saat roket Israel menghantam mobil operasional MER-C yang sedang terparkir di Rumah Sakit Indonesia. Serangan itu juga mengakibatkan satu orang relawan lokal MER-C meninggal dunia. “Tidak ada tempat aman di Gaza, karena bahkan rumah sakit yang tidak boleh diserang pun, mereka serang. Salah satunya Rumah Sakit Indonesia,” ujarnya. Ia menceritakan, saat terjadi pengepungan tentara Israel ke Rumah Sakit Indonesia yang merupakan tumpuan terkahir warga Gaza, ia dan dua relawan lainya berada di sana bersama ratusan pasien, tim medis serta puluhan ribu pengungsi. “Saat itu suasananya sangat kacau dan mencekam. Selama pengepungan, kami menyelamatkan diri ke basement Rumah Sakit. Puluhan ribu warga Gaza yang mengungsi di sana kemudian hanya tersisa ratusan saja karena keluar menyelamatkan diri,” kata Faried.Tentara Israel yang selama empat hari bertahan di tank-tanknya menembaki lantai dua dan tiga Rumah Sakit dan mengakibatkan 12 pasien meninggal dunia. Mereka juga memaksa untuk segera mengosongkan rumah sakit. “Mereka menggunakan alasan bahwa ada trowongan pejuang Palestina di bawah Rumah Sakit untuk bisa melakukan serangan, padahal tujuan sebenarnya adalah mengusir paksa warga Gaza. Mereka melakukan Genosida” ujarnya. Akhirnya Faried bersama dua relawan lainya, para pasien, tim medis serta warga Gaza yang masih bertahan terpaksa keluar dan mengungsi ke Gaza selatan. Israel kemudian berhasil memasuki Rumah sakit dan menjadikanya markas selama 18 hari. Lebih lanjut ia mengatakan, Israel tidak pandang bulu saat melakukan serangan. Justru mereka menargetkan perempuan dan anak-anak yang merupakan kunci dari regenerasi bangsa Palestina. Ada banyak cerita bagaimana biadabnya Israel saat menargetkan perempuan dan anak-anak, yang menjadi korban terbanyak dalam perang ini. Namun setelah semua yang ia lewati dan beberapa perang yang dialami, Faried mengatakan tetap ingin kembali lagi ke Jalur Gaza. Menurutnya, sejak pertama kali tiba, Jalur Gaza sudah seperti kampung halaman, tidak terasa sebagai tempat asing.
Shafwah Group Gandeng MER-C Gelar Gema Ramadhan 2024

Shafwah Group menggandeng Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dan sejumlah lembaga serta komunitas lainya menggelar Gema Ramadhan 2024, di Gedung D Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Sabtu (30/3/2024). Gema Ramadhan bersama Shafwah Group ini dimeriahkan dengan berbagai rangkaian acara yaitu talkshow, painting workshop, coloring competition for kids dengan tema “Bangun kembali Rumah Sakit Indonesia di Palestina”, mini bazar, live music charity for Gaza dan ifthar bersama. Talkshow bertajuk “Let’s Talk About Mindfulnes” menghadirkan tiga pembicara di antaranya Direktur Shafwah Holidays Muhammad Syafiq Helmi, Psikologi Klinis Marissa Meditania dan Founder of Kami Idea Istafiana CandariniRelawan MER-C Farid Zanjabil juga ikut memeriahkan acara dengan membagikan kisah inspiratifnya saat bertugas di Jalur Gaza dan menyaksikan langsung serangan Israel yang terjadi sejak 7 Oktober 2023. Farid mengatakan, selama bertugas menyalurkan bantuan masyarakat Indonesia yang diberikan melalui MER-C, banyak cerita mengharukan di mana warga Gaza, meski kekurangan dan sangat membutuhkan bantuan mereka tetap memikirkan saudaranya yang lain.Ia mengungkapkan, jika mendapatkan kesempatan lagi ia ingin kembali ke Jalur Gaza. Karena baginya Gaza sudah seperti kampung halaman. Dalam kesempatan ini, The Saba, salah satu merek modest wear Indonesia yang berkomitmen menyalurkan hasil penjualanya untuk membantu warga Palestina, menyerahkan donasi kepada MER-C sebesar Rp. 30.500.000.